Share

111. Part 20

last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-20 01:01:15

Dua kaki panjang menjuntai besar luar biasa dan ditumbuhi puluhan selaput pipih panjang bergelayutan tak ubahnya seperti akar pohon yang bergelantungan. Dua tangan demikian juga, tapi jari-jari pada tangan itu berkuku panjang melingkar-lingkar laksana seekor ular yang bergelung.

Sepasang mulut hanya merupakan sebuah garis besar tanpa bibir, hidung panjang menggelantung ke bawah tak seperti belalai gajah. Sedangkan sepasang mata tumbuh di balik dua buah benjolan besar yang menonjol ke l

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   227. Part 18

    "Ah, kurang ajar," Maki senopati.Secepat kilat dia coba jatuhkan diri. Tapi gerakan yang dilakukannya itu kalah cepat dengan sambaran lima cahaya yang berasal dari serangan si nenek."Akh.."Senopati keluarkan suara seperti tercekik. Mata mendelik, keris dalam genggaman terpental. Lima bagian tubuhnya berlubang besar dan menyemburkan darah kehitaman begitu lima cahaya maut menembusnya. Seakan tidak percaya dengan kenyataan yang dia alami.Senopati itu hanya bisa belalakkan mata."Kk... kau..." Katanya terputus-putus.Senopati tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena mulut yang dibuka lebih banyak menyemburkan darah. Tubuhnya lalu bergetar. Perlahan dia jatuh ambruk tak berkutik. Senopati meregang nyawa dengan mata melotot penasaran.Harimau Setan tersenyum dingin. Tanpa menghiraukan senopati dan keris yang tercampak di sebelah tubuhnya. Nenek itu kemudian melompat ke atas punggung kuda putih milik senopati."Sekarang aku yang

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   226. Part 17

    Gagak Panangkaran mendengus nafasnya memburu, wajah merah padam sedangkan sepasang mata tampak merah dilamun amarah. Dengan tangan terkepal gigi bergemeletukan dia membentak. "Perempuan terkutuk. Kaulah yang menjadi pangkal sebab dari semua kegilaanku. Kau habisi anak buahku dengan cara sekeji itu. Apakah kau pikir aku akan memberi ampun?!" Geram senopati meledak-ledak.Harimau Setan tersenyum dingin. Dengan sinis dia menjawab. "Siapa yang hendak minta ampun pada manusia keparat kaki tangan pencuri. Kau dan adipatimu itu sama saja. Tidak ada nilainya dimataku. Dan aku tidak punya waktu melayanimu lebih lama senopati. Lihat serangan!!" Teriak si nenek.Begitu si nenek berteriak, Gagak Panangkaran langsung dongakkan kepala menatap ke depan. Senopati ini tercengang saat melihat sosok si nenek mendadak raib, sementara dari arah depan senopati melihat sedikitnya tiga larik cahaya berbentuk kipas berwarna merah, biru dan hitam menderu menebar ke arahnya."Jahanam! ilm

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   225. Part 16

    Tak ayal lagi bahu, perut dan punggung Harimau Setan terkena satu bacokan dan dua tusukan. Darah terlihat menyembur dari tiga luka ditubuhnya. Sementara mata si nenek membelalak seolah tidak percaya dengan apa yang dialaminya."Kk..kalian...kalian ternyata sangat hebat..." Ucap nenek itu dengan tubuh terhuyung.Menyangka lawan dapat dilukai oleh perajuritnya. Senopati Gagak Panangkaran tertawa sinis "Hanya seperti itukah ilmu kesaktian yang kau miliki? Jika menghadapi anak buahku saja kau sudah tidak berdaya bagaimana kau bisa melawanku. Konon pula kau mau mengambil kembali senjatamu dari tangan adipati. Kau bisa menjadi potongan daging tak berbentuk.Ha ha ha!""Hi hi hi! Senopati lihat kemari pentang matamu lebar-lebar," Kata si nenek.Senopati katobkan mulut, dia menatap ke arah lawan. Dilihatnya Harimau Setan mengusap lukanya di tiga bagian. Luka itu lenyap seketika tak meninggalkan bekas terkecuali bagian pakaian yang robek di tiga bagian."Gil

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   224. Part 15

    "Lihat nenek aneh ini. Sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu seperti bulu Harimau. Pantas kuda kita jadi gelisah." Ujar salah seorang perajurit."Kuda kita menyangka dia harimau sungguhan, tidak tahunya cuma Harimau Setan!" Timpal perajurit lainnya. Terdengar suara tawa berderai.Sementara itu senopati tetap memperhatikan nenek di atas batu dengan tatapan curiga. "Melihat ciri-cirinya, aku yakin dialah orang yang biasa disebut Harimau Setan." Batin laki-laki itu.Dia pun lalu melompat turun dari atas kuda. Sambil menyeringai senopati itu berujar."Yang dicari susah ditemukan yang tidak diharap justru muncul sendiri. Ha... ha... ha."Melihat senopati tertawa terbahak-bahak, Harimau Setan keluarkan suara berdengus sekaligus ajukan pertanyaan."Apakah ada yang lucu senopati? Apa maksud ucapanmu?""Nenek renta tubuh berbulu seperti harimau. Bukankah kau orangnya yang bernama Marasati berjuluk Harimau Setan?""Kalau benar memangnya a

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   223. Part 14

    Berkat kegigihannya kehilangan tangan kiri bagi si nenek tidak menjadi halangan. Puluhan tahun dia melatih lengan baju kirinya menjadi senjata yang lebih ganas dan lebih berbahaya dari sebilah pedang. Kini si nenek menatap jauh ke arah kejauhan. Sayup-sayup dia mendengar suara kuda dipacu cepat menuju ke arahnya.Dia merasa heran, dan juga curiga."Ada serombongan orang berkuda datang kemari. Matahari baru saja terbit. Siapa mereka?" Pikir Harimau Setan.Sekilas orang tua ini menoleh. Dia menatap ke arah sebatang pohon menjulang tinggi. Penasaran ingin mengetahui siapa gerangan adanya para penunggang kuda tersebut. Tanpa membuang waktu Harimau Setan segera berkelebat ke arah pohon, lalu jejakkan kaki dan bersembunyi di balik kerimbunan cabang dan dedaunan.Dari atas ketinggian pohon orang tua Itu memusatkan perhatian ke arah suara iring-iringan rombongan berkuda.Kening si nenek berkerut tajam ketika melihat belasan laki-laki bersenjata berbagai je

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   222. Part 13

    "Perlu kiranya kau ketahui, untuk mencapai sesuatu dalam hidupku. cara dan selalu banyak jalan. Untuk mendapatkan yang besar, raih dulu yang kecil. Jalan hidup memang sangat kelam, penuh darah dan kekejian. Aku tak menyesal jika manusia sisa penghuni Lembah Bangkai itu kini datang menuntut balas. Yang aku sesalkan mengapa di antara mereka ada yang selamat.""Apapun yang telah gusti lakukan bersama para sahabat yang lain, saya selalu berada di pihak gusti""Aku sangat senang mendengarnya. Bersikap setialah padaku sampai akhir hayat. Dengan begitu kau bisa hidup enak tanpa menemui banyak kesulitan. Ada pun tentang senjata Cambuk Sakti Naga intan, aku tak akan pernah menyerahkan senjata itu pada Harimau Setan. Senjata itu sekarang sudah menjadi milikku.""Bagaimana Jika Harimau Setan dan pengikutnya yang liar itu datang kemari?" Tanya senopati.Suasananya tenang namun menyimpan rasa kekhawatiran. Adipati menyeringai."Kau takut?" Tanya adipati sambil

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   69. Part 7 (Dendam Nini Jonggrang)

    "Kenapa kau menyingkir seperti itu, Orang Tua Busuk? Bukankah kau katakan kau ingin memiliki benda ini?" cemooh Angon Luwak. Diacungkannya Cemeti Laut Selatan ke depan.Ki Ageng Sulut menggeram. Cukup sudah, tandasnya dalam hati. Dia tak bisa main-main lagi dengan pemuda tanggung yang dian

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   69. Part 6 (Dendam Nini Jonggrang)

    Dibangkitkannya kesiagaan yang telah terlatih selama mengarungi samudera berkarang tajam di sekitar Pulau Hantu. Pada puncaknya...."Haaaa!"Berbareng teriakan menggila seakan hendak mengoyak pita suara di kerongkongan sendiri, Angon Luwak membuat tiga gerakan dari jurus 'Dewa S

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   69. Part 1 (Dendam Nini Jonggrang)

    SEORANG pemuda berusia belasan merenung sendiri di sebentang pagi yang dikurung mendung. Mendung di angkasa sana, seakan bertakhta pula di wajahnya. Wajah tampan. Bergaris rahang jantan. Bermata sembilu. Berambut panjang kemerahan. Angin dingin berlarian. Pakaiannya diusili, bergeletaran kecil. J

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   67. Part 23 (Cemeti Laut Selatan)

    Angon Luwak benar-benar tiba di markas terakhir Laskar Lawa Merah malam itu. Dia mengendap-endap di antara semak-semak, mencari-cari tempat di mana Mayangseruni ditahan. Sebenarnya prajurit Demak yang ditemuinya di hutan waktu itu tidak memberitahukan padanya lokasi terakhir gerombolan perampok.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status