Masuk"Aku bukan sekadar Omega yang cacat. Aku adalah teka-teki yang akan menghancurkan tahtamu." Lyra hanyalah sebuah kesalahan. Omega tanpa aroma dan tanpa kemampuan untuk berubah menjadi serigala. Xander Blackwood, Alpha dari Puncak Utara yang terkenal dingin dan tanpa ampun, datang membawa aura kematian. Semua wanita menginginkan tatapannya, namun Xander hanya menginginkan kekuatan. Dalam satu tarikan napas, takdir mengejek mereka berdua. Xander membencinya. Bagi sang Alpha, Lyra adalah kelemahan. Lyra membencinya. Bagi sang Omega, Xander adalah penjara baru. Sebuah kekuatan kuno yang punah selama seribu tahun—kekuatan Silver Luna yang membuat setiap Alpha bertekuk lutut hanya dengan satu perintah suaranya. Dapatkah Xander menerima pasangan yang ia anggap sampah saat ia menyadari bahwa gadis itu adalah satu-satunya yang bisa menghancurkan kerajaannya? Satu ikatan yang dipaksakan. Satu rahasia yang terkubur. Satu perang yang akan mengubah sejarah serigala selamanya.
Lihat lebih banyak“Kau memang hanya anjing kampung!”
Kalimat sumbang yang berulang kali didengar seperti racun yang terus menggerogoti kewarasan Lyra Silvermane.
Malam ketika bulan purnama menggantung tinggi di langit seperti mata perak yang dingin, memperhatikan dunia manusia serigala dengan ketidakpedulian yang mutlak. Ada sosok yang seolah tak kasat mata, tidak dipedulikan.
Di balik dinding batu yang tebal, pesta perayaan bulan purnama sedang berlangsung megah. Suara musik gambus yang ritmis dan tawa para serigala kelas atas terdengar seperti ejekan.
“Hutan Pinecreek tidak pernah bersahabat dengan mereka yang tidak memiliki kekuatan!”
Kalimat lain yang tidak kalah menyakitkan masih terdengar sampai ke telinga Lyra meski tempat berdiri dengan kerumunan mereka cukup jauh.
Pinecreek, wilayah yang dijaga oleh Pakta Silvermane, bukan sekadar hutan melainkan penjara tanpa jeruji. Konon, di balik pepohonan pinus yang menjulang, terdapat lorong-lorong kuno yang menyimpan rahasia tentang asal-usul darah mereka.
Namun, bagi Lyra, rahasia itu tidaklah penting. Baginya, tempat itu tempat di mana serigala-serigala kuat berburu dan mereka yang lemah sepertinya hanyalah mangsa yang menunggu waktu untuk dihabisi.
Lyra teringat jelas pada hari-hari sebelum ia dibuang ke sini, saat ibunya masih hidup dan sering membisikkan dongeng tentang 'Silver Luna' yang konon akan membawa cahaya bagi mereka yang terpinggirkan.
Namun, dongeng itu kini terasa seperti bualan, yang membuat hatinya semakin perih.
Prang!
Suara benda jatuh membuat aula bising mendadak hening sepersekian detik. Lyra yang sedari tadi tertunduk, berdiri mematung sendiri ikut mendongak karena suara benda seperti kaca yang pecah.
Tatapan bertemu pandang dengan mata seorang wanita berpakaian sexy dengan senyum menyeringai. Karena terkejut Lyra kembali menunduk hingga terlihat pecahan botol anggur yang jatuh di lantai karena kecerobohan seorang pelayan.
"Hei, Omega tidak berguna! Cepat bersihkan tumpahan anggur ini sebelum Alpha kembali!" Suara merendahkan terdengar dari seorang wanita yang menatap jijik memberi perintah pada Lyra. Tangan wanita itu melempar serbet yang beberapa saat lalu dibawa seorang pelayan.
Selalu seperti itu, kekacauan yang disebabkan orang lain. Lyra yang selalu menjadi sasaran empuk penindasan.
Lyra menguatkan diri, menarik napas panjang, meski yang masuk ke paru-parunya bukanlah aroma hutan pinus yang segar, melainkan debu aula besar yang menyesakkan dan bau amis darah kering yang masih tertinggal di sudut-sudut pakaiannya.
Sebagai seorang Omega di Pakta Silvermane, hidupnya tidak lebih berharga daripada pelayan atau seekor kelinci hutan yang menunggu musim dingin.
"Maaf, Elena … segera selesai.” Lyra tidak bisa melawan, dia sendiri dengan tatapan banyak mata yang membuat seperti seekor tupai di tengah kerumunan pembunuh yang siap mencabik tanpa belas kasih.
Tubuh kurus itu mulai berjongkok, tangan yang ringkih meraih serbet dan mulai menggosok lantai marmer mengelap tumpahan anggur. Namun, gerakan terhenti seketika saat sebuah tendangan mendarat telak di tulang kering membuat Lyra tersungkur ke lantai marmer yang dingin.
Lyra meringis menahan sakit, dengan tertatih berusaha beringsut duduk. Kepala tertunduk menyembunyikan wajah yang semakin pucat, penindasan itu semakin sering terjadi. Tangan rapuh mengepal Lyra gemetar hanya bisa menggenggam ujung pakaian lusuh yang dikenakan.
"Maaf? Hanya itu yang bisa kau katakan?" Bentakan Elena memekakan telinga. Wanita itu marah tanpa sebab.
Elena, salah satu serigala kelas Beta yang merasa kedudukan lebih tinggi seolah menjadi arogan merupakan hak mutlak untuk memperlakukan Lyra seperti sampah
Lyra tidak mengaduh, mulut masih terbungkam, dia sudah belajar sejak kecil bahwa suara kesakitan hanya akan mengundang tendangan yang lebih keras.
"Bicaralah dengan lebih keras! Aku tidak dengar!” Kembali Elena membetak dengan besar kacak pinggang.
Lyra menelan ludah, menahan rasa sesak di dada yang bukan berasal dari luka fisik, melainkan dari kehancuran jiwanya sendiri.
"Saya ... saya akan segera menyelesaikannya.” Tubuh yang sangat rapuh seolah bisa diterbangkan angin.
Sudah beberapa hari bekerja paksa tanpa mendapat makanan cukup membuat tubuh Lyra semakin lemas. Tangan gemetar itu terangkat kembali, mencoba mengelap noda merah di lantai.
"Bagus. Ingat tempatmu!" Elena mencibir.
"Lihat dia!" Suara seorang pria dari ‘kasta pejuang’ terdengar. "Satu-satunya serigala di dunia ini yang bahkan tidak bisa mengeluarkan taringnya. Apakah kau yakin kau serigala, atau kau hanya anjing kampung yang tersesat di sini, Lyra?"
Kalimat sumbang itu disambut riuh tawa yang memenuhi aula. Ejekan itu menjadi pil pahit yang selalu Lyra telan tanpa air. Kepala gadis berambut panjang itu masih tertunduk. Mencoba lari pun tidak ada guna, mereka akan semakin bertindak keji.
Lyra menggigit bibir bawah, mencoba fokus pada noda anggur yang kini memudar. Dalam kesedihan tidak berujung, Lyra hanya mengingat sedikit kenangan bersama sang ibu, wanita yang selalu berbisik bahwa Lyra istimewa, bahwa darah di nadinya bukanlah darah serigala biasa.
Akan tetapi, ucapan sang ibu semakin lama semakin membuat Lyra juga merasa muak. Mungkin itu hanya kalimat untuk menenangkan dirinya saja.
Fakta yang ada, Lyra dikucilkan, menjadi ia hanyalah objek hinaan.
"Mungkin dia memang mutasi gagal," balas Elena sinis. "Benarkan, Lyra? Kau tidak bisa berubah karena kau sebenarnya manusia yang tersesat, kan?"
"Aku serigala," jawab Lyra pelan, matanya tetap menatap lantai.
Ekspresi menghina masih ditampilkan Elena. "Apa? Katakan lagi!"
Dia berkata bukan karena tidak mendengar, tetapi Elena sengaja membuat Lyra untuk semakin menjadi bahan lelucon.
"Aku serigala, Elena. Aku hanya ... belum bisa terbangun." Lyra mencengkeram serbet yang digunakan untuk mengelap anggur dengan kencang.
"Mimpi saja terus!" Elena menarik rambut Lyra agar mendongak. "Dengar, di Pakta Silvermane, serigala yang tidak bisa berubah adalah sampah. Dan sampah tidak punya hak untuk memiliki harga diri!"
Tiba-tiba, keheningan menyapu aula. Udara di ruangan itu terasa berat, seolah-olah oksigen ditarik paksa keluar.
Aroma cedarwood yang tajam dan dominan memenuhi ruangan, menekan indra penciuman setiap werewolf yang ada di sana.
Itu adalah aroma Alpha.
"Tundukkan kepala kalian!" perintah sang pengawal.
Pintu besar aula terbuka lebar. Xander, sang calon pemimpin agung pakta Blackwood, melangkah masuk. Sosoknya tinggi, dengan bahu lebar yang seolah mampu menahan beban seluruh pakta. Matanya yang sedingin es menyapu aula, dan setiap serigala yang dilewatinya segera menundukkan kepala sebagai tanda hormat.
Xander adalah perwujudan dari kekuatan brutal dan efisiensi tanpa ampun.
Lyra, yang masih bersimpuh di lantai, seolah menekankan posisinya. Dia dan noda di lantai seperti sama, sosok yang seharusnya tidak terlihat oleh sang Alpha.
Namun, tanpa sadar, saat Xander lewat, Lyra mengangkat wajahnya sedikit, hanya sepersekian detik untuk mencuri pandang. Dan pada saat itulah, sesuatu yang aneh terjadi.
Xander berhenti. Langkah kakinya yang berat terhenti tepat beberapa meter di depan Lyra. Aroma cedarwood yang dominan itu tiba-tiba bercampur dengan aroma lain, aroma lembut yang samar, seperti bunga musim semi yang tersembunyi di bawah salju yang mencair.
Kepala Xander menoleh dengan gerakan yang kaku, seolah-olah ada kekuatan yang menariknya untuk melihat ke bawah, ke arah Omega yang sedang berlutut dengan baju kotornya.
Mata biru baja Xander bertemu dengan mata cokelat pudar milik Lyra.
Untuk sesaat, dunia seakan berhenti. Tidak ada lagi suara bisikan para Beta, yang ada hanyalah tarikan magnetis yang sangat kuat di kedalaman jiwa mereka
Lyra merasakan serigala di dalam diri yang selama ini tertidur tiba-tiba melolong panjang, memanggil sesuatu yang tidak ia mengerti.
Sementara itu, di mata Xander, kilatan emas muncul, menggantikan warna biru dingin. Sebuah tanda bahwa sang serigala di dalam diri Alpha terbangun dan dia sedang menatap apa yang seharusnya menjadi miliknya.
“Mate,” kata itu bergema di benak Xander, sebuah kutukan dan anugerah yang tidak pernah ia harapkan.
Xander menggeram, sebuah suara rendah yang bergetar di lantai aula. Dia membuang muka dengan kasar, wajahnya yang angkuh menampakkan rasa jijik yang luar biasa, campuran antara keterkejutan dan penolakan mentah.
"Singkirkan sampah ini dari pandanganku!" perintah Xander dengan suara yang sedingin es, sebelum dia berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi.
Sementara Lyra masih bergeming, mencerna gejolak tubuh yang tidak mampu dikendalikan.
‘Ada apa denganku?’ Suara lirih, jantung berpacu kencang. Dia tidak tahu reaksi apa yang baru saja terjadi. Namun, satu hal yang pasti. ‘Aku seperti merasakan tanda bahaya yang tidak bisa diungkapkan.’
Bersambung….
Di luar kastil, angin kembali menderu, membawa aroma darah dan perak yang semakin pekat, menandakan bahwa babak baru dari saga Bulan yang terluka baru saja dimulai dari kegelapan yang paling dalam.Hawa dingin di ruang kerja Alpha terasa lebih menusuk daripada badai salju yang mengamuk di luar kastil. Peta besar yang terbentang di atas meja kini dipenuhi dengan pion-pion kayu berwarna hitam dan abu-abu, simbol dari pergerakan pasukan Aliansi yang mulai menutup jalur logistik ke Puncak Utara.Xander berdiri bersandar pada meja, kedua tangannya mengepal menahan geram. Di depannya, tiga orang tetua klan Blackwood berdiri dengan wajah kaku dan sorot mata penuh penghakiman."Ini kegilaan, Alpha Xander!" Tetua Vane, pria tua dengan janggut putih panjang dan jubah bulu tebal, memukul meja dengan tongkatnya. "Kau membawa kita ke ambang kehancuran demi seorang Omega cacat dari Silvermane? Aliansi tidak akan pernah mengampuni kita jika kita terus menyembunyikannya!"
Keheningan yang menyelimuti kamar Xander setelah badai reda terasa begitu rapuh, seolah ketukan sekecil apa pun pada pintu kayu ek yang tebal itu mampu meruntuhkan kedamaian yang baru saja mereka bangun dengan susah payah. Sinar matahari pagi yang pucat menerobos celah tirai beludru, memantulkan kilau perak samar pada garis-garis halus yang kini menghiasi punggung tangan Lyra.Lyra menatap tangannya sendiri, menelusuri guratan cahaya di bawah kulitnya dengan ujung jari yang masih bergetar. "Garis-garis ini, rasanya seperti mereka terus bergerak. Seperti ada sesuatu yang hidup di dalam nadiku dan mencoba mencakar jalan untuk keluar."Xander, yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil mengencangkan ikatan perban di bahunya, menghentikan gerakannya. Mata birunya menggelap saat menatap tangan Lyra. Ia meraih jemari gadis itu, menggenggamnya dengan kehangatan alami tubuh seorang Alpha."Segelnya mulai retak," kata Xander, suaranya berat dan rendah."L
Lembah Kematian kini benar-benar menjadi neraka yang membeku. Bau tajam mesiu dari senapan para Hunter menusuk hidung, bercampur dengan aroma amis darah yang mulai membeku di atas salju. Xander, dalam wujud serigala hitam raksasanya, terkapar tak berdaya. Salju di bawah tubuhnya berubah warna menjadi merah pekat. Peluru perak kaliber besar milik Arthur bukan sekadar logam biasa, itu dilapisi racun penghambat regenerasi yang membuat luka sang Alpha mengeluarkan uap hitam menyakitkan.Lyra berdiri tegak di depan tubuh Xander yang terluka, merentangkan tangannya lebar-lebar. "Jika kau ingin membawaku, kau harus melewati mayat Alpha-ku dulu. Dan aku jamin, kau tidak akan punya cukup peluru untuk itu.""Keberanian yang sia-sia," Arthur tersenyum dingin. "Pasukan! Fokus pada gadis itu. Gunakan jaring perak!"Kael muncul dari samping dengan pedang bersimbah darah di tangan. "Alpha! Kita harus mundur ke gerbang dalam! Kita terkepung!""Tidak ada mundur!" suara Ly
Dinding kastil Blackwood yang biasanya terlihat begitu kokoh kini terasa rapuh, seperti terbuat dari selembar kertas di hadapan badai yang sedang merayap mendekat. Bukan badai salju biasa, melainkan badai kebencian yang dibawa oleh ratusan serigala Silvermane dan sekutu gelap yang mereka seret dari kegelapan.Di atas menara pengawas tertinggi, Xander berdiri mematung. Matanya yang biru tajam menembus kabut tebal yang menyelimuti lembah di bawah sana. Lyra berdiri di sampingnya, terbungkus jubah bulu yang tebal di tubuhnya, merasakan getaran aneh di bawah telapak kakinya, sebuah detak jantung bumi yang seolah sedang ketakutan."Mereka sampai di perbatasan sungai es," suara Xander rendah, lebih mirip geraman serigala yang tertahan."Berapa banyak?" tanya Lyra, suaranya tetap tenang meski di dalam dada jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang."Terlalu banyak, ada sesuatu yang salah. Lihat cahaya biru di antara mereka."Lyra menyipitkan ma
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.