LOGINBocah Ontang Anting memperhatikan ke arah patung lebih seksama. Mata si kakek membeliak besar begitu menyadari apa yang dikatakan Pendekar Sinting. sang Patung sekarang memang telah menjelma menjadi mahluk yang hidup.
"Rajawali... Rajawali Emas sahabat pedang...! Ha ha ha! Dengan terjaganya mahluk itu dari tidurnya yang panjang, kau tidak usah khawatir. Dia pasti akan membantumu mengatasi segala kesulitan!" Kata Bocah Ontang Anting.
Ucapan tidak sadar yang tertontar dari mulut B
"Ha ha ha! Kau lihat sendiri rajawali itu sekarang memang hidup. Sapalah dia, kau boleh memanggilnya dengan Paman Langit. Rajawali Itu usianya sudah berabad-abad. Dia bernama Samudra Langit. Dia bisa menjadi sahabatmu. Bila kelak kau mengalami kesulitan, cukup kau sebut namanya. Dimanapun kau berada Paman Langit akan datang kepadamu!""Aku bicara soal pedang. Kulihat kakek tenang-tenang saja malah bicara soal kelebihan burung." Gerutu Pendekar Sinting.Bocah Ontang Anting tetap tersenyum."Ya. Dia mahluk yang tepat. Puluhan tahun aku dan Paman Langit menjaga rahasia tentang keselamatan Pedang Pusaka Istana Es. Dia yang melindungi pedang itu di tempat ini! Tidakkah kau ingin berterima kasih?" Kata Bocah Ontang Anting.Walau belum memahami maksud ucapan si kakek. Pendekar Sinting itu menuju ke arah burung raksasa. Tanpa berpikir panjang Pendekar Sinting rangkapkan dua tangan, meletakkannya di depan dada lalu tundukkan kepala sambil berucap."Paman La
Bocah Ontang Anting memperhatikan ke arah patung lebih seksama. Mata si kakek membeliak besar begitu menyadari apa yang dikatakan Pendekar Sinting. sang Patung sekarang memang telah menjelma menjadi mahluk yang hidup."Rajawali... Rajawali Emas sahabat pedang...! Ha ha ha! Dengan terjaganya mahluk itu dari tidurnya yang panjang, kau tidak usah khawatir. Dia pasti akan membantumu mengatasi segala kesulitan!" Kata Bocah Ontang Anting.Ucapan tidak sadar yang tertontar dari mulut Bocah ini tentu membuat kaget Untari dan Hyang Kelam. Karuan saja murid dan guru ini cepat palingkan kepala pusatkan perhatian pada sang patung di altar kedua. Tapi seperti ada sesuatu yang menghalangi pandangan Hyang Kelam.Di matanya patung rajawali emas tetap diam tak bergerak sama sekali tidak menunjukkan tanda tanda bahwa patung menjadi hidup. Ini sangat berbeda dengan penglihatan Untari. Dimata dara cantik itu ia sungguh menyaksikan patung rajawali menjadi hidup, mata berkedip, dada
Perasaan tidak tega di hati Untari untuk menciderai Angon Luwak. Tanpa disadari Untari sebenarnya telah terhanyut oleh suasana hatinya. Sementara itu Angon Luwak sendiri begitu berhasil menghindari sergapan Untari segera menghantam Hyang Kelam dengan pukulan Gelombang Badai Laut Merah.Segulung cahaya kuning berkilauan memerihkan mata menderu, menghantam Hyang Kelam dari arah samping. Membuat mahluk alam roh ini terpaksa batalkan serangan yang siap membabat putus leher Bocah Ontang Anting. Tangan diputar lalu dikibaskan ke arah cahaya kuning keemasan yang bergulung-gulung ke arahnya.Uhk...!"Bangsat kurang ajar!" Maki Hyang Kelam dengan tubuh terhuyung.Sementara kaki serasa lumpuh. Setelah lolos dari kematian, Bocah Ontang Anting melompat menjauh dari Hyang Kelam. Sementara Hyang Kelam sendiri balikkan badan menghadap ke arah Pendekar Sinting."Pukulan aneh. Membuat tubuh jejadianku seperti dikuliti. Seumur hidup aku belum pernah melihat
"sepertinya aku pernah melhatmu. Tapi aku lupa di mana..!""Paduka, kalau dia mengenalmu mengapa dia memukulku dengan cara pengecut seperti Itu!" Tukas Bocah Ontang Anting kesal.Kakek ini segera berdiri sambil mengusapi perutnya yang berdenyut sakit Angon Luwak tersenyum."Tunggu dulu kek. Aku memang pernah melihatnya di sebuah kedai di Kali Bayu Hurip. Tapi aku tidak mengenalnya dan diantara kami malah belum sempat berkenalan.""Pemuda gila. Benar kau pernah melihatku. Tak kusangka kita bertemu lagi dalam suasana yang tidak menyenangkan." Kata gadis itu ketus.Angon Luwak tersenyum. Menatap pada gadis murid Hyang Kelam dengan sorot matanya yang aneh membuat sang dara cantik cepat palingkan kepala memandang kejurusan lain."Ha ha ha! Dia tak menyukaimu Paduka. Melihat tampangmu saja dia tidak sudi. Apa yang hendak kau lakukan?""Aku tahu kek. Jangan hiraukan kedua tamu gelap itu. Mungkin aku harus mengambil Pedang Pusaka Istana Es se
Orang tua ini cepat jatuhkan diri rebah sama rata dengan tanah.Wuus! Wuus! Glaar!Lima cahaya menyerupai pedang dan deru angin hitam bergulung yang mengiringi kelima cahaya hanya menyambar, memapas rambut putih gimbal si kakek tapi tak melukainya.Kelima cahaya terus menderu dan siap menghantam Dewi Harum yang sedang berusaha meringkus bekas tawanannya. Beruntunglah Dewi Harum cepat menyadari bahaya yang mengancamnya. Dia segera menyingkir hindari serangan nyasar. Tapi anak buah Maha Sesat tak sempat menyelamatkan diri.Tiga orang tewas dengan tubuh terbabat putus oleh sambaran cahaya itu. Satunya lagi kehilangan tangan dan kaki. Sedangkan yang dua di sebelah kiri kepalanya menggelinding.Dewi Harum leletkan lidah. Menatap ke arah saudara angkatnya, dia melihat Angin Pesut sedang mengusapi bagian atas rambutnya yang hangus."Saudaraku kau tidak apa-apa?" Tanya Dewi Harum khawatir. Si kakek banting-banting kakinya sambil menggerung tak karua
Ketika pedang diputar sebat membentuk perisai diri terlihat kilatan cahaya hitam kecoklatan menderu bergulung-gulung disertai menebarnya bau harum menyengat.Pukulan Maha Sesat dan gulungan cahaya angin Laksana badai yang bersumber dari pedang di tangan Dewi Harum tak dapat dihindari bentrok di udara.Traat Buumm! Buum!Bukit Induk laksana diguncang selaksa gempa. Maha Sesat terjajar ke belakang. Wajahnya pucat pasi, dada berdenyut sakit namun dia tidak menderita cidera yang berarti. Hanya bagian ujung jubahnya saja yang robek besar dikobari api. Dengan cepat dia mematikan api yang membakar ujung jubah.Dengan sorot mata angker dia menatap ke depan. Dilihatnya Dewi Harum berusaha bangkit berdiri dengan bertumpu pada pedangnya yang mengepulkan asap. Gadis ini terhuyung, bentrokan yang terjadi membuat tubuhnya seperti terbakar. Sementara itu dari mulut dan hidungnya meneteskan darah.Melihat ini, Angin Pesut yang sempat tergontai akibat ledakan tadi
Bocah Ontang Anting menghela nafas kecewa.“Aku sudah menduga kau pasti bakal bicara seperti itu.""Orang tua kuharap jangan berkecil hati dulu. Kau tahu urusan yang lebih besar yang harus kita selesaikan malam empat belas hari bulan. Saat ini kau sendiri tahu kita sedang dala
SATU sosok tubuh bergerak cepat melesat laksana anak panah meninggalkan Lembah Tapa Rasa. Terpaut jarak yang cukup jauh. Di belakang berpakaian putih mengenakan mantel berbulu terus mengikuti satu sosok lainnya. Sosok kedua yang tertinggal di belakang berusaha menyusul orang yang berada di depan.
Bangunan pondok yang terbuat dari susunan tulang paus berguncang hebat. Puteri Pemalu terpaksa kerahkan tenaga dalam lindungi telinga dari pengaruh tawa si nenek. Sekujur tubuh yang merah dipenuhi urat-urat darah bersembulan berubah merah pekat.Puteri Pemalu cepat menyela dengan berkata.
Mendengar pertanyaan seperti itu Momok Laknat terdiam sesaat. Tapi kemudian dia segera berucap."Apa yang kucari? Aku hanya mencari kebenaran serta arti hidup yang sesungguhnya.""Hik hik hik. Kau sudah cukup umur jangan membuat malu diri sendiri. Bukannya aku tak bermalu, bukannya







