Partager

242. Part 10

last update Date de publication: 2026-08-05 01:01:24

Laki-laki yang usia sebenarnya lebih dari tujuh ratus tahun itu selalu membawa beberapa bumbung bambu berisi tuak keras dan harum. Rupanya tuak dalam bumbung-bunmbung yang tergantung disekeliling pinggang si perut gendut inilah yang tadi tercium oleh Penujum Aneh. Beberapa saat memperhatkan orang tua ini. Kiranya si kakek tidak mengenalnya. Tidak mengherankan Penujum Aneh melangkah maju hampiri orang tua itu. Sejarak dua tombak di depan orang tua itu Penujum Aneh buka mulut ajukan pertanyaan.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   243. Part 11

    "Hua ha ha. Aku sudah tahu. Dan aku juga tahu yang kaulakukan di makam Loh Seta. Bukankah karena kau ingin tahu siapa yang telah membunuhnya?" ucap laki-laki itu sambil meneguk tuaknya.Penujum Aneh terdiam belum sempat dia membuka mulut orang di depannya lanjutkan ucapan."Aku sudah melihat dengan kekuatan yang aku miliki. Kau baru saja kembali dari alam gaib. Dan dari alam yang tak mudah dimasuki oleh manusia itu bukankah kau mendengar suara deburan ombak, kau melihat dua peti mati, kawanan lebah. Kau juga melihat gadis-gadis yang dimabuk cinta. Tidak hanya itu. Aku berpikir kemungkinan kau juga melihat banyaknya perempuan muda yang hamil mendadak serta ratusan bayi yang baru terlahir ke dunia?" terang laki-laki itu.Mendengar suara petir di siang bolong si Penujum Aneh tentu tak akan seterkejut mendengar ucapan orang di depannya."Bagaimana kau bisa mengetahui segalanya? Bagaimana kau bisa melihat apa yang aku lihat. Siapa kau yang sebenarnya? Hidup ta

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   242. Part 10

    Laki-laki yang usia sebenarnya lebih dari tujuh ratus tahun itu selalu membawa beberapa bumbung bambu berisi tuak keras dan harum. Rupanya tuak dalam bumbung-bunmbung yang tergantung disekeliling pinggang si perut gendut inilah yang tadi tercium oleh Penujum Aneh. Beberapa saat memperhatkan orang tua ini. Kiranya si kakek tidak mengenalnya. Tidak mengherankan Penujum Aneh melangkah maju hampiri orang tua itu. Sejarak dua tombak di depan orang tua itu Penujum Aneh buka mulut ajukan pertanyaan."Seperti yang kukatakan. Aku tidak punya waktu untuk melayani manusia sepertimu. Lebih baik kau berterus terang mengapa kau muncul di tempat ini?"Si orang tua yang wajah serta penampilannya tak jauh berbeda dengan orang yang usianya lima puluh tahun bersikap acuh. Tanpa menghiraukan Penujum Aneh, dia angkat bumbung tuak yang berada di tangan kanan tinggi-tinggi. Setelah itu dia dongakkan kepala dan membuka mulut lebar-lebar. Kemudian tak ubahnya seperti orang yang kehausan dia tu

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   241. Part 9

    Tiba-tiba dia merasakan ada angin menderu dari arah depannya. Penujum Aneh terkesiap. Belum sempat dia melakukan sesuatu. Tubuhnya tersapu oleh hantaman angin dingin yang begitu keras.Bluk!Dalam kenyataannya Penujum Aneh memang jatuh tak jauh dari makam Loh Seta Karawuri. Pendupaan menyala yang ditusuk dengan tangan kanan hancur lebur menjadi kepingan.Sementara batu nisan yang di tusuknya dengan tangan kiri bertaburan diseluruh penjuru makam Loh Seta dalam keadaan menjadi bubuk. Terkejut melihat semua itu. Penujum Aneh cepat merayap bangkit.Sambil berdiri tegak mata si kakek memperhatikan sekelilingnya. Tak ada orang lain, tidak terlihat sesuatu ataupun tanda-tanda yang mencurigakan. Sang Penujum menghela nafas lega. Namun kelegaan yang dirasakannya tidak berlangsung lama.Tiba-tiba saja dia mendengar suara orang bersendawa selayaknya orang yang kekenyangan makan. Terkejut Penujum Aneth memutar tubuh balikkan badan menghadap ke arah darimana su

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   240. Part 8

    Walau tidak baru namun keadaannya masih bagus. Penujum Aneh jatuhkan diri, duduk diatas tikar pandan lalu letakan pendupaan membara yang dia bawa dari pondok. Setelah merapikan diri dengan duduk bersila. Perlahan namun pasti Penujum Aneh pejamkan matanya. Tanpa membuka mata dua tangan yang tadinya diletakkan diatas lutut tiba-tiba diangkat tinggi. Setelah itu kedua tangan di putar diatas kepala sebanyak tiga kali.Tangan di turunkan lalu diletakkan diatas pendupaan menyala. Tanpa menyentuh mulut pendupaan yang panas luar biasa sekali lagi mulutnya bergetar membaca mantra. Tak lama setelah untaian mantra-mantra sakti di baca.Sekujur tubuh Penujum Aneh bergetar hebat. Asap mengepul dari dalam pendupaan, lalu menebar ke seluruh penjuru makam mengikuti arah hembusan angin. Bersamaan dengan itu di kejauhan terdengar suara lolong dan raungan menggidikkan. Seakan sudah terbiasa mendengar suara-suara aneh menyeramkan seperti itu.Penujum Aneh bersikap acuh.Kini seluruh

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   239. Part 7

    Apa yang terjadi kemudian sungguh sulit dipercaya. Pangeran itu ternyata mampu terbang. Dia terbang melintasi lautan luas dengan diikuti ribuan kawanan lebah yang terus mengawalnya disepanjang perjalanan.Sementara itu setelah darahnya tersedot nyaris habis oleh lawan Ki Lara Saru Saru ternyata masih dapat bertahan hidup. Tapi dia tak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diri.Dia juga tak kuasa menutup luka di bagian dada karena tubuhnya dalam keadaan tertotok. Dengan suara lirih dan mata menatap kosong memandang kegelapan di langit kakek ini berucap."Celaka dunia. Aku tidak bisa mencegahnya. Ilmu kesaktian yang dia miliki sekarang jauh lebih hebat dibandingkan yang dulu. Siapa yang bisa menghentikan kejahatannya yang gila luar biasa?!"Sepi!Tak ada yang menjawab ucapan serta kekhawatiran yang dirasakan orang tua itu. Yang terdengar hanyalah suara deru angin disertai deburan ombak di kejauhan di bawah tebing karang yang runtuh. 

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   238. Part 6

    Ki Lara menggerung. Walau tubuhnya terasa membeku, napas sesak dan tubuh di sebelah dalam serasa remuk namun dia segera bangkit. Begitu bangkit dengan tubuh terhuyung si kakek diam-diam berucap."Pelita keramat dari alam arwah. Nyalakan dirimu!"Wuss!Mendengar perintah si kakek pelita keramat kembali menyala. Ternyata nyala api pada pelita begitu kecil. Walau tak melihat namun orang tua ini dapat mengetahui pelita di atas kepalanya tak dapat diharapkan terlalu banyak dalam membantunya.Tidaklah heran.Begitu dia melihat sang pangeran terus merangsak maju setelah berhasil dengan serangan pertama, Ki Lara cepat badan lalu menghantam lawan dengan pukulan Neraka Liang Lahat.Dua pukulan yang dilancarkan Ki Lara bukan serangan biasa. Pukulan sakti yang dilepaskannya sanggup menghancurkan gunung dan menghentikan gelombang raksasa di lautan. Bila manusia yang terkena pukulan maut tersebut tubuhnya dapat hancur lebur menjadi kepingan beku.W

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   69. Part 15 (Dendam Nini Jonggrang)

    Wukh! Dash!Benturan hebat terjadi di udara siang yang semakin bersinar garang. Antara ujung jari-jemari orang bercaping dengan tinju Angon Luwak."Aih!"Pekikan mencelat dari kerongkongan orang bertopeng. Pekikan asli yang tak lagi dibuat-buat. Tak lagi disamarkan demikian r

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   69. Part 13 (Dendam Nini Jonggrang)

    "Katakan pada gurumu, Dongdongka, bahwa urusan lama antara aku dengannya belum lagi tuntas. Kau sebagai muridnya, akan menerima pula ganjaran atas kesalahan yang telah dibuat gurumu terhadapku!"Meski berpantang untuk membiarkan rasa takut tumbuh dalam dirinya, tak urung Angon Luwak merind

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   69. Part 10 (Dendam Nini Jonggrang)

    Bersebelahan dengan alun-alun, tepatnya di sebelah Selatan, berdiri keraton. Tembok dan gapura keraton terlihat megah dan kokoh. Dua orang prajurit selalu tampak berjaga di kedua sisi gapura.Di sebelah barat alun-alun, berdiri satu bangunan megah, tempat penduduk muslim melaksanakan salat

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   69. Part 7 (Dendam Nini Jonggrang)

    "Kenapa kau menyingkir seperti itu, Orang Tua Busuk? Bukankah kau katakan kau ingin memiliki benda ini?" cemooh Angon Luwak. Diacungkannya Cemeti Laut Selatan ke depan.Ki Ageng Sulut menggeram. Cukup sudah, tandasnya dalam hati. Dia tak bisa main-main lagi dengan pemuda tanggung yang dian

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status