MasukBERLARI jauh meninggalkan pendataran bukit induk Maut Biru yang tengah mengalami cidera di bagian dalam akibat pukulan Puteri Pemalu akhirnya merasa perlu untuk melepas lelah. Apalagi dalam pelariannya Maut Biru membawa serta majikannya yang tak lain adalah Kupu Kupu Putih yang aslinya bernama Ni Ambar Sabanantang dan merupakan murid Penyihir Racun Utara.
Selama melarikan diri sambil memanggul Kupu Kupu Putih di bahu kanan. Beberapa kali Maut Biru yang telah kehilangan saudara tuanya M
"Siapa yang tertawa.Apa yang ditertawakan? Aku sedang tergesa-gesa.Tidak ada yang lucu. Hanya orang sinting yang tertawa tidak pada tempatnya," Membatin senopati dalam hati.Baru saja dia bicara seperti itu. Seakan mendengar apa yang dikatakan laki-laki itu, suara tawa mengikik tiba-tiba lenyap. Tapi ketika senopati kembali melangkah menuruni undakan tangga-tangga batu menuju ke kaki bukit.Anehnya tawa kembali terdengar seolah orang yang tertawa seperti mentertawai dirinya. Senopati yang mempunyai sifat tidak sabaran dan termasuk orang tinggi hati ini tentu saja merasa tersinggung. Dia tidak dapat memastikan apakah orang yang tertawa itu sengaja mempermainkannya. Yang pasti dia tidak suka dipermainkan seperti itu. Tidak mengherankan senopati pun kemudian berteriak."Siapa yang tertawa selagi orang berduka dan diliputi kegalauan adalah manusia yang sama sekali tidak punya budi tak punya otak!""Hik hik. hik Edan! Orang waras begini dia bilang tak punya ot
SETELAH hampir setengah malam penuh menunggang kuda putih bernama Cantrik Abimayu. Laki-laki gagah berpakaian bagus warna hitam membekal senjata berupa keris ini sampai di selatan gunung Kidul. Laki-laki berusia empat puluhan ini tak lain adalah senopati Gagak Panangkaran. Seperti telah dikisahkan dalam episode sebelumnya, Sang senopati sekaligus orang kepercayaan adipati ditugaskan untuk menghubungi beberapa tokoh sakti yang masih terhitung sahabat dekat adipati.Para sahabat itu diharapkan membantu pihak kadipaten untuk meringkus pembunuh haus darah yang telah melakukan serangkaian pembunuhan terhadap para pejabat kerabat adipati, para tumenggung juga beberapa orang penting lainnya.Gagak Panangkaran seperti telah diketahui memutuskan untuk pergi sendiri tanpa didampingi pasukan kadipaten. Kini setelah tiba di tepi pantai tak jauh dari bebukitan batu karang tempat dimana Windu Saketi atau yang juga dikenal dengan julukan si Tongkat Bala menetap, Gagak Panangkaran seg
Karuan saja ucapan Angon Luwak ini membuat kedua manusia kera seperti kebakaran jenggot. Ukuwudra melompat maju. Dengan sangat marah dia berteriak. "Pemuda sinting kurang ajar. Beraninya kau mencampuri urusan kami? Sekarang juga kau harus merasakan akibatnya!" Teriakan Ukuwudra disusul dengan tindakan sambil melompat maju.Lalu dengan mengandalkan jurus-jurus keranya Ukuwudra menyerang Angon Luwak. Diserang sedemikian rupa pemuda ini berkelit menghindar, lalu membalas serangan itu dengan jurus Badai Menggusur Gunung.Ketika Angon Luwak memutar dan mendorong kedua tangan ke arah Ukuwudra. Tiba-tiba terdengar suara menggemuruh seperti topan.Ukuwudra terkesima begitu melihat segulung angin menghantam tubuhnya. Secepat kilat dia jatuhkan diri. Serangan luput, Angon Luwak memutar tubuh dan menghantam kaki Ukuwudra dengan menggunakan kaki kiri. Tapi yang diserang telah bergulingan menjauh.Hentakan kaki Angon Luwak menimbulkan guncangan pada permukaan tanah. M
Ketika dua manusia berwajah kera melewati jalan setapak di Lor Ploso, Mereka merasa lega karena dalam perjalanan ternyata tidak ada hambatan atau rintangan berarti yang mereka temui.Kedua orang ini terus berlari. Ukuwudra yang membawa Mangir Ayu dalam panggulan berada di sebelah depan. Sedangkan Kara terus mengikuti tak jauh di belakangnya.Setelah melewati jalan berliku dan memasuki sebuah tikungan panjang. Di ujung tikungan tak jauh dari samping tebing terlihat sebuah gua besar menghadap ke sebuah lembah subur. Itulah guo Cerekan yang menjadi tempat tinggal mereka selama ini.Melihat tempat yang mereka tuju telah berada diambang mata. Kedua manusia kera ini pun mempercepat larinya. Tapi sejarak lima puluh tombak lagi mereka sampai di depan mulut gua.Tanpa pernah terduga Mangir Ayu yang berada di atas bahu Ukuwudra tiba-tiba tersadar dari pingsannya. Gadis cantik ini mula-mula mengeluh, tapi ketika kesadarannya mulai pulih dan dia merasa seperti sedang
Begitu tangan dikibaskan ke depan. Si Mata Bara melihat seolah-olah tangan lawan bertambah panjang dan tambah membesar. Lima jemari tangan yang berubah sebesar pisang ambon terus meluncur siap menjebol dadanya."ilmu setan!" Dengus Mata Bara.Dia menggeser kaki sambil miringkan tubuh. Serangan tangan besar luput dan lewat sejengkal di depan dada Si Mata Bara. Begitu tangan lawan lewat secepat kilat dia mencengkeram tangan itu.Tumenggung Dadung Kusuma yang tak menyangka bakal mendapat serangan seperti itu segera berusaha menarik tangan yang dicekal sekaligus tikamkan tombak di tangan kanannya.Usaha menarik tangan sekaligus membunuh lawan terlambat. Dengan tak terduga Mata Bara tiba-tiba kedipkan matanya ke arah tangan dalam cengkeramannya.Dua cahaya merah membara setajam mata pedang membersit dan siap menebas putus tangan sang tumenggung. Ketika tusukan tombak datang siap menembus perut, si Mata Bara segera melompat mundur ke belakang selamatkan
Namun dia segera batalkan serangan dan berusaha selamatkan diri."Pedang milik si rambut merah itu. Sungguh sebuah senjata aneh dan benar-benar gila!" Teriak Purudana pula.Segala teriakan dan seruan kaget kemudian berubah menjadi jerit dan pekik kesakitan. Satu persatu manusia singa hanya mampu delikkan mata sambil dekap dada masing-masing yang berlubang menganga di tembus pedang. Mereka tidak pernah melihat kapan Pedang Laut Selatan melukai mereka. Yang mereka sadari adalah darah mengucur deras dari luka di tubuh mereka."Mengapa bisa begini.. ?" Desis Kuruseta seolah tak percaya nasibnya berubah seburuk itu.. Laki-laki itu lalu ambruk. Dua temannya juga menyusul bertumbangan. Pedang Laut Selatan berputar diketinggian lalu kembali masuk ke dalam rangkanya.Slep! Angon Luwak tersenyum."Terima kasih kau telah membantu. Terima kasih pula kau telah menunjukan baktimu.” Ujar Angon Luwak ditujukan pada pedang."Hamba juga berterima kasih
Sampai akhirnya Dongdongka bangkit. "Begini saja...," ucapnya sambil melangkah masuk ke tengah ruang gubuk.Ki Kusumo menunggu kelanjutan ucapan Dongdongka. Dongdongka malah menjatuhkan pantat di lantai tanah. Bersila, melipat tangan didada, lalu memejamkan mata.Sia-sia Ki Ku
Orang satu ini rupanya tak begitu yakin pada kehadiran si pemuda. Tak yakin pada kemampuannya. Apalagi dapat menghadapi kakek kurus kering."Pergi dari sini, Adik Muda!" peringatnya keras.Pemuda berambut merah menoleh."Apa yang sesungguhnya telah terjadi, Kang!" tanyanya.
SEORANG pemuda berusia belasan merenung sendiri di sebentang pagi yang dikurung mendung. Mendung di angkasa sana, seakan bertakhta pula di wajahnya. Wajah tampan. Bergaris rahang jantan. Bermata sembilu. Berambut panjang kemerahan. Angin dingin berlarian. Pakaiannya diusili, bergeletaran kecil. J
Malam kala itu juga menjadi terang benderang. Warna keemasan menebar dalam jarak satu-dua tombak. Mengepung tubuh si pemuda tanggung.Kala yang sama, beberapa anak buah Dirgasura memekik nyaris berbarengan. Lalu tubuh-tubuh berjatuhan.Ada yang kehilangan kepala.Ada yang ter







