LOGINBERLARI jauh meninggalkan pendataran bukit induk Maut Biru yang tengah mengalami cidera di bagian dalam akibat pukulan Puteri Pemalu akhirnya merasa perlu untuk melepas lelah. Apalagi dalam pelariannya Maut Biru membawa serta majikannya yang tak lain adalah Kupu Kupu Putih yang aslinya bernama Ni Ambar Sabanantang dan merupakan murid Penyihir Racun Utara.
Selama melarikan diri sambil memanggul Kupu Kupu Putih di bahu kanan. Beberapa kali Maut Biru yang telah kehilangan saudara tuanya M
BERLARI jauh meninggalkan pendataran bukit induk Maut Biru yang tengah mengalami cidera di bagian dalam akibat pukulan Puteri Pemalu akhirnya merasa perlu untuk melepas lelah. Apalagi dalam pelariannya Maut Biru membawa serta majikannya yang tak lain adalah Kupu Kupu Putih yang aslinya bernama Ni Ambar Sabanantang dan merupakan murid Penyihir Racun Utara.Selama melarikan diri sambil memanggul Kupu Kupu Putih di bahu kanan. Beberapa kali Maut Biru yang telah kehilangan saudara tuanya Maut Merah dan Maut Hijau sengaja mengambil jalan sulit. Tindakan ini terpaksa dia lakukan karena khawatir ada musuh atau pihak-pihak tertentu yang mengamatinya.Kini setelah cukup lama berlari, laki-laki yang sekujur tubuh serta rambutnya berwarna serba biru itu memperlambat larinya. Di suatu tempat ketinggian tak jauh dari deretan pepohonan besar yang tertutup semak belukar Maut Biru hentikan langkah. Sambil memegang tongkat hitam bernama Geger Gaib milik sang majikan di tangan kiri dia
Tapi apa yang terjadi. Pedang tetap tak beranjak dari tempatnya menancap. Malah kini seolah mengejek orang tua itu sang pedang yang lentur meliuk, melenggang lenggok selayaknya orang yang menari.Penasaran, Bocah Ontang Anting datang mendekat sambil angsurkan rangka pedang ke arah senjata mustika itu.Tuiing!Pedang malah melenting berpindah tempat, lalu melompat turun naik tak ubahnya seperti anak kecil yang sedang bermain-main."Edan! Benar-benar Pedang Pusaka Istana Es! Sama seperti pewarisnya Paduka" Menggerutu si kakek sambil geleng-geleng kepala.Di luar tahu Bocah Ontang Anting. Pendekar Sinting telah berada di dalam ruangan itu. Ketika pertama kali masuk ke dalam ruangan Gua Empat Ruang Satu Pintu. Pemuda ini tertegun melihat Sang Samudra Langit telah bergeser jauh meninggalkan altar kedua. Kemudian dia juga melihat Pedang Pusaka Istana Es yang telah keluar dari tempat penyimpanannya.Pendekar Sinting menjadi heran saat mengetahui sa
"Pemuda itu bernama Angon Luwak. Tapi nama sebenarnya adalah Saka Buana, dia lebih dikenal dengan sebutan Pendekar Sinting, tapi gelar sebenarnya adalah Dewa dari Istana Es." Terang si kakek."Hm, apakah dia murid kakek aneh bernama Dedengkot Sinting?" Tanya suara itu."Betul. Dia juga murid Tabib Tangan Dewa dari Pulau Hantu." Bocah Ontang Anting menambahkan.Sunyi sejenak."Ternyata apa yang kau katakan tentang ciri-ciri pemuda itu sesuai dengan garis suratan nasib. Pemuda itu nampaknya memang berjodoh dengan Pedang Pusaka Istana Es..."Bocah Ontang Anting sambil senyum senyum cepat memotong."Ya, aku setuju. Orang gila pantasnya memang berpasangan dengan orang sinting.""Jangan suka menyela bila orang belum selesai bicara. Apa kau ingin aku menyumpal mulutmu hingga membuatmu tak mampu bicara seumur hidup atau kau ingin aku membuatmu sakit perut selama satu purnama?" Tanya suara tak berujud itu membuat Bocah Ontang Anting melengak k
Samudra Langit manggut-manggut mengiyakan."Tapi.... tua bangka sepertiku mana bisa menari."Dia menggaruk kepala sementara Sang Rajawali memperlihatkan sikap tidak suka mendengar ucapan Bocah Ontang Anting.Tak ingin mahluk besar itu menjadi murka. Dengan gerakan kaku terkesan seadanya mulailah Bocah Ontang Anting menari.Samudra Langit tampak berjingkrak-Jingkrak kegirangan melihat gerakan tarian si kakek yang terkesan ngawur dan asal-asalan ini. Bocah Ontang Anting diam-diam tidak dapat menahan geli di hati. Rasa geli ditahan agar tidak meledak menjadi tawa membuat perutnya mulas.Tanpa ampun setiap kali dia menggerakkan tubuh dari bagian bawah perut terdengar suara pret bertalu-talu.Bocah Ontang Anting terhuyung seperti orang mabuk. Dia mabuk dari bau kentutnya sendiri. Merasa kelelahan orang tua ini jatuhkan diri terduduk di lantai dingin dengan nafas megap-megap."Sudah! Aku tak sanggup meneruskan menari. Aku lelah dan cuma itu
"Kau masih tidak suka dengan kemurahan yang kuberikan?" Tanya Hyang Kelam.Suaranya serak memecah keheningan. Melihat sang guru telah bersikap biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka Untari segera melangkah maju dan berdiri tegak sejarak tiga tombak di depan Hyang Kelam.Mahluk alam roh bercelana selutut dan berpakaian selempang dari lempengan kulit pohon tersenyum. Dia menatap ke arah kotak dan berkata."Raja dari semua pedang telah berada di tanganku. Mendapatkan pedang ini membuatku merasa Jadi sepuluh tahun lebih muda. Kelak aku akan memberikan pedang ini padamu Untari!""Aku sudah punya kipas. Aku selalu menyukai senjata berupa kipas. Pedang Pusaka Istana Es sedikitpun aku tidak ingin memilikinya. Lagi pula pedang itu bukan milik guru, tapi senjata pusaka Istana Pulau Es."Mendengar ucapan Untari, wajah Hyang Kelam yang tertunduk terangkat ke atas. Dipandanginya gadis di depannya dengan perasaan heran."Kau tidak menyukai senjata curian. Sungguh diantara kita
Gadis ini bergegas melewati gurunya masuk ke dalam ruangan mendahului. Karena pernah beberapa kali diajak ke tempat ini tentu saja Untari tahu di bagian mana pelita terletak. Tak urung tengkuknya merinding saat gadis ini ingat dengan nama bangunan tua dan apa saja yang pernah terjadi di tempat itu."Rumah Kawin Tiga Hari Pemecah Perawan Satu Malam," Batin Untari.Nama itu membuat tengkuknya jadi merinding.Tapi segera menghalau segala pikiran buruk yang sempat hinggap di dalam kepalanya. Maka diraihnya pelita yang tergeletak di atas meja batu bundar. Belum lagi sempat gadis ini menyalakan pelita.Tiba-tiba dia mendengar suara benda diletakkan. Untari tertegun, jantungnya berdetak keras."Guru engkaukah itu!" Tanya gadis ini dengan suara bergetar.Tak ada jawaban.Namun dia mendengar suara dengus nafas mengengah. Untari berjingkrak mundur. Sementara sepasang mata jelalatan memperhatikan segenap penjuru ruangan yang gelap. Belum lagi hilang ras
Puteri Pemalu diam tidak menyahuti. Tapi dia tersenyum. Kemudian dia hentakkan kedua kakinya. Seketika itu juga Puteri Pemalu lenyap hilang raib seperti ditelan bumi. Dikejauhan Momok Laknat jadi gelisah khawatir Puteri Pemalu tidak mengikutinya. Sambil berlari Momok Laknat menoleh ke belekang. D
Sang Maha Sesat bangkit berdiri. Pipinya menggembung, rahang bergemeletukan. Tapi dia sangat terkejut ketika melihat ke depan Angin Pesut ternyata raib dari hadapannya.Penasaran Sang Maha Sesat dongakkan kepala ke atas. Rajawali raksasa dan si kakek tak terlihat lagi hilang lenyap di kege
"Pengacau tak tahu diuntung. Jangan harap kau dapat membebaskan para terhukum yang berada di tempat ini!" Teriak salah satu penjaga dengan beringas."Oh begitu. Kalian cuma cacing busuk. Perlu apa bicara!" Sahut Sang Maha Sesat dengan suara dingin.Enak saja dia memutar tubuh. Dua k
"Jangan lagi kau panggil adik. Aku bukan adikmu!" Pekik Dewi Harum jengkel.Mendengar ucapan gadis itu, Angin Pesut tersentak. Mata terbelalak menatap tak percaya sedangkan mulutnya ternganga."Celaka jagad! Kiamat dunia. Astaga. Apa yang baru saja adik katakan? Kau hendak memutuska







