Beranda / Romansa / Pengantin Pengganti Revano / Bab 1. Istri Pengganti Revano

Share

Pengantin Pengganti Revano
Pengantin Pengganti Revano
Penulis: Lia Lintang

Bab 1. Istri Pengganti Revano

Penulis: Lia Lintang
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-07 18:28:47

Matahari tertutup awan hitam, ketika seorang gadis cantik bernama Rania baru pulang kerja. Tubuhnya lemas, karena ia baru saja menyelesaikan dua operasi besar.

Ya. Profesinya sebagai seorang dokter memang lumayan menyita waktunya.

Hari ini menjelang sore. Bukan karena perubahan menuju senja, tetapi langit memang sedang tidak bersahabat. Hujan deras bercampur petir mengguyur pekarangan rumah saat Rania baru saja turun dari mobilnya.

Langkahnya bahkan lunglai, letihnya belum hilang.

Brak!

Tetapi ia dikejutkan dengan suara pertengkaran hebat di ruang tamu rumah keluarganya.

"Raline, berhenti! Dasar anak durhaka!" teriak ayah Rania.

Mata Rania terbelalak, saat menyadari kakaknya berlari melewatinya. Ya. Ternyata hari ini keluarga Revano datang, mereka memutuskan untuk membahas pernikahan yang mereka telah sepakati sejak lama.

"Aku, Revano Wongso. Memutuskan pernikahan ini batal. Itu artinya, kedepannya ... kerja sama Ravanta Capital dengan Tomy Goup dibatalkan," cetus seorang pria yang duduk di kursi roda.

Suaranya terdengar tegas dan lugas. Rania melihat ibunya menangis, sedangkan sang ayah, kondisinya lebih buruk.

Ia duduk bersimpuh seperti hilang harapan dan harga dirinya di lantai.

"Tunggu, Tuan. Maaf, kau ingin menikah?" Suara lembut Rania membuat seisi ruangan langsung menatap ke arahnya.

Tak terkecuali dengan Revano dan juga stafnya.

Revano mengamati wajah Rania. Tak lama, hanya beberapa detik saja. Lalu senyum getir seketika mengembang dari sudut bibirnya.

"Kenapa?" tanya Revano tak banyak bicara.

"Aku mau menggantikan kakakku. Mari kita menikah, dan lanjutkan kerja sama antara kedua belah pihak keluarga!" seru Rania.

Tak ada raut takut sedikitpun di wajahnya.

"Baik, mari kita mendaftarkan pernikahan ke kantor catatan sipil. Besok jam 07.00 pagi, aku tidak mau menarik ulur. Datanglah jika kau benar-benar serius!"

Mendadak suasana menjadi hening.

Rania pun tak banyak bicara, ia hanya mengangguk setuju, lalu pergi lagi.

***

Rania kembali ke kamarnya. Pakaian kerjanya masih melekat, sepatu putihnya berlumur tanah karena langkahnya terburu-buru tadi.

Ia menatap wajahnya di cermin. Terlihat lebih pucat, letih, tapi sorot matanya tetap terlihat tajam.

"Apa yang baru saja kulakukan?" bisiknya lirih.

Ia bahkan tak sempat memikirkan konsekuensi dari kalimat nekat yang meluncur begitu saja.

Menggantikan kakaknya di pelaminan bukanlah hal sepele.

Itu bukan hanya soal pernikahan, tetapi menyangkut harga diri keluarga, reputasi rumah sakit tempatnya bekerja, hingga masa depan yang mungkin tidak lagi sama.

Namun, di kepalanya hanya terngiang satu hal, wajah ayahnya yang hampir roboh kehilangan kehormatan di depan keluarga besar Wongso yang sombong itu.

**

Malam itu, hujan terus mengguyur. Rania belum bisa tidur. Pikirannya kacau.

Sesekali ia mendengar suara tangis ibunya di kamar sebelah, juga suara bentakan ayahnya yang masih marah besar pada Raline.

Sementara kakaknya itu entah menghilang ke mana. Tidak ada jejak, tidak ada kabar.

Di atas meja kerjanya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor tak dikenal.

["Besok jangan terlambat. Aku tidak suka orang yang tidak menepati janji. —R"]

Jantung Rania berdegup lebih cepat. Itu jelas dari Revano. Pria yang bahkan tadi ia tatap hanya dalam hitungan detik, sudah berhasil membuat seluruh tubuhnya dingin seperti es bercampur gigil.

Rania gelisah sepanjang malam.

Pagi pun akhirnya datang lebih cepat dari yang ia harapkan. Rania duduk di kursi rias, menatap gaun putih sederhana yang sudah disiapkan ibunya sejak dulu. Awalnya itu untuk kakaknya.

Tangannya gemetar saat menyentuh kain halus itu. Bukan karena takut pada pernikahan, melainkan karena ia sama sekali tidak mengenal pria yang akan menjadi suaminya.

"Rania ...," suara ibunya terdengar parau, penuh tangis yang dipendam semalaman.

"Kau yakin akan melakukannya?" tanyanya, lengkap dengan ekspresi cemas yang dihiasi kerutan di wajahnya.

Rania mengangkat wajahnya, menatap ibunya yang tampak lelah. Senyumnya samar, tapi tegas.

"Bu, kalau aku mundur ... apa kau rela melihat Ayah hancur begitu saja? Aku tidak bisa membiarkan kita dipermalukan."

Ibunya menutup mulut, menahan tangis, lalu memeluk putrinya erat.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.45

Di depan kantor catatan sipil, sebuah mobil hitam mewah sudah terparkir. Seorang sopir dengan setelan rapi membukakan pintu, memperlihatkan sosok pria yang semalam hanya sempat ia lihat sekilas.

Revano Wongso.

Wajahnya tegas, mata gelapnya menusuk, dan meski tubuhnya terkurung di kursi roda, aura yang ia pancarkan membuat semua orang di sekelilingnya otomatis menunduk.

Tatapannya langsung mengunci mata Rania.

"Hm," gumamnya pelan, seolah menilai. "Kau benar-benar datang."

Rania mengangguk, menatap lurus, berusaha tidak gentar.

Dan tepat di saat itulah, pintu mobil lain terbuka.

Seorang wanita cantik turun, mengenakan gaun mahal dengan senyum licik menghiasi wajahnya.

"Rania? Jadi kau yang berani menggantikan Raline?" katanya dengan nada mengejek.

Rania hanya diam membeku.

Ia mengenal wajah itu adalah Felia, wanita yang diam-diam pernah dikabarkan dekat dengan Revano.

Kini Rania berdiri tegak di depan gedung catatan sipil.

Jantungnya berdegup kencang, tetapi wajahnya tetap tenang.

Hujan semalam telah reda, tetapi udara pagi ini terasa berat, seolah-olah langit pun tahu ada badai lain yang akan segera datang.

Revano menatapnya sekilas, lalu memberi isyarat kepada asistennya untuk mendorong kursi rodanya masuk.

"Ikut aku," ujarnya singkat.

Rania menarik napas panjang. Ia melangkah mengikuti pria itu, berusaha menyingkirkan rasa gugup yang menyelusup ke dalam dadanya.

Namun, langkahnya terhenti ketika suara centil terdengar memotong keheningan.

"Tunggu sebentar!"

Felia, dengan gaun ketat berwarna merah marun yang mencolok, masuk ke aula catatan sipil tanpa peduli pada tatapan orang-orang.

Senyumnya manis, tapi itu adalah sarat racun.

Ia mendekat, menaruh tangan di bahu Revano, seolah menandai bahwa pria itu adalah miliknya.

"Revano, kau tidak serius, 'kan? Menikah dengan gadis pengganti ini?"

Semua orang di ruangan itu saling berbisik. Pegawai catatan sipil yang sudah siap dengan berkas-berkas pun terdiam, bingung menunggu kejelasan.

Rania mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya.

Sorot mata Felia menusuknya, seakan ingin mengusirnya bahkan sebelum prosesi dimulai.

Revano hanya mengangkat alis, ekspresinya semakin dingin.

"Felia, jangan membuat keributan."

Felia tertawa kecil, langkahnya makin mendekat.

"Keributan? Aku justru menyelamatkanmu. Semua orang tahu Raline adalah yang paling pantas mendampingimu, bukan perempuan ini—perempuan cadangan."

Kata-katanya menusuk seperti belati.

Rania menggertakkan gigi, tapi ia tetap berusaha tenang.

Ia menatap Felia dengan sorot mata tajam yang tak kalah menusuk.

"Aku mungkin cadangan, tapi hanya aku yang berani berdiri di sini. Dan hanya aku yang dipilih oleh Revano.

Ruangan mendadak hening. Semua pasang mata kini menatap ke arah Revano, seolah sedang menunggu jawaban.

Pria itu menyipitkan mata, seolah sedang menimbang.

Lalu senyum tipis mengembang di wajahnya, tetapi bukan senyum yang menenangkan. Lebih mirip tantangan.

"Benar. Dan siapa pun yang berdiri di hadapanku hari ini ... akan resmi menjadi istriku."

Felia membeku. Tatapannya berganti menjadi murka, tapi ia tidak bisa membantah di depan umum.

Rania, dengan napas bergetar tetapi mantap, melangkah ke meja pencatatan, duduk di sisi Revano. Tangannya sedikit gemetar saat menerima pena.

"Silakan tanda tangan di sini," ucap pegawai catatan sipil.

Rania menatap kertas itu. Hanya satu tanda tangan yang akan mengikatnya pada pria di sampingnya—dan pada takdir yang belum ia pahami.

Tangan Revano bergerak lebih dulu. Dengan tenang, ia menorehkan tanda tangan yang tegas di atas kertas.

Kini giliran Rania.

Namun sebelum ujung pena menyentuh kertas, Felia menepuk meja keras hingga semua orang terkejut.

"Jika kau menandatangani itu, Rania, kau akan menyesal seumur hidup!"

Rania membeku. Pena di tangannya bergetar. Tatapannya bertemu dengan Revano—pria itu masih memandangnya dengan sorot dingin, seolah menantang.

'Apakah kau benar-benar berani melangkah sejauh ini?'

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 152. Berdamai Dengan Waktu

    Langit pagi di pinggiran kota tampak bersih setelah hujan semalam. Cahaya matahari jatuh lembut di jendela RAJIA Coffee & Flower House, membuat kelopak-kelopak bunga di rak depan tampak berkilau seperti baru disiram harapan.Rania berdiri di balik etalase, menata mawar dan baby breath. Gerakannya pelan, teratur, seolah hidupnya kini mengikuti ritme yang ia pilih sendiri.Bel pintu berbunyi.Ting.Rania mendongak.Revano berdiri di sana.Bukan Revano yang dulu penuh kuasa, bukan pula yang mabuk dan berantakan. Ia tampak lebih kurus, rahangnya menegang, matanya menyimpan kelelahan yang tak sempat disembuhkan.Beberapa pelanggan melirik, tapi Rania tetap tenang.“Duduklah,” ucapnya singkat. “Aku buatkan kopi.”Revano sedikit terkejut.Ia sempat mengira akan diusir.Namun Rania justru bergerak ke mesin espresso tanpa drama, tanpa amarah.Aroma kopi memenuhi ruang.Revano duduk di meja dekat jendela. Tangannya saling mengait, gelisah.Rania meletakkan secangkir kopi di depannya.“Minum. Ka

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 151. Kehancuran Revano

    Hujan mengguyur kota malam itu, tapi Revano tidak peduli.Mobil sportnya melaju kencang, menembus lampu merah, menabrak genangan air, seolah ia sedang berlomba dengan sesuatu yang tidak bisa ia kejar seperti ketenangan.Di dashboard, botol minuman keras tergeletak setengah kosong.Tangannya gemetar saat memutar setir.Bukan karena mabuk sepenuhnya.Tapi karena kosong.Sejak Rania pergi, rumah besar itu berubah seperti museum: sunyi, dingin, dan penuh bayangan kenangan. Tidak ada suara langkah kecil, tidak ada aroma teh pagi, tidak ada perempuan yang dulu menunggunya pulang meski sering disakiti.Yang tersisa hanya gema pintu dan egonya sendiri.Maka Revano memilih tempat lain untuk hidup: malam.Lampu kelab menyala liar.Musik menghantam dada.Asap rokok, parfum mahal, tawa perempuan, dan denting gelas bercampur jadi satu.Revano masuk dengan jaket hitam, wajah tampan yang dulu selalu rapi kini terlihat lelah dan keras.“Rev!” teriak seorang bartender. “Biasanya kamu gak pernah muncul

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 150. Jalan Berbeda

    Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap lewat tirai tipis penginapan.Rania terbangun tanpa alarm.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa… ringan. Bukan karena masalah hilang, tapi karena ia berhenti melawannya dengan rasa takut.Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang masih basah oleh sisa hujan semalam.Hari ini bukan tentang Revano.Hari ini tentang dirinya sendiri.Rania meraih ponsel.Puluhan pesan dari Revano masih memenuhi layar. Ia tidak membuka satu pun. Ia hanya mematikan notifikasi nama itu.Bukan membenci.Tapi menjaga jarak agar ia tidak kembali runtuh.“Aku tidak bisa hidup sambil terus menoleh,” gumamnya.Ia mandi, mengenakan kemeja putih sederhana dan celana panjang krem. Rambutnya ia ikat rendah. Tidak ada riasan berlebihan. Hanya wajah Rania yang asli.Setelah itu, ia membuka laptop.Berkas-berkas kerja masih tersimpan rapi.Logo rumah sakit di sudut file.Nama Dr. Rania yang selama ini ia banggakan.Ia menatap layar lama.Pekerjaan

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 149. Kebebasan Untuk Rania

    Sore turun perlahan di rumah sakit. Langit di balik jendela berubah jingga pucat, tapi dada Rania justru terasa semakin gelap. Seharian ia bekerja sambil menahan getaran ponsel yang tak pernah benar-benar berhenti.Dua puluh tiga pesan.Tujuh panggilan tak terjawab.Semua dari Revano.Rania duduk di ruang ganti dokter, membuka ponselnya untuk pertama kali sejak siang.Isinya membuat napasnya tercekat.Revano:Kamu sengaja mempermalukanku di depan orang.Revano:Kamu pikir aku diam saja?Revano:Pulang sekarang. Kita bicara.Revano:Kalau tidak, aku yang datang lagi.Revano:Jangan paksa aku bersikap keras, Rania.Jari Rania bergetar.Ada ancaman di balik setiap kalimat.Ia menatap pantulan wajahnya di loker.Mata yang lelah.Tapi ada sesuatu yang baru: keberanian yang mulai tumbuh.Rania mengunci ponsel.“Aku tidak mau hidup seperti ini lagi,” bisiknya.Di parkiran rumah sakit, Rania baru saja membuka pintu mobil ketika sebuah bayangan menghadangnya.Revano.Ia berdiri tepat di depan

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 148. Berseteru Dengan Leonard

    Pagi di rumah dinas terasa lebih dingin dari biasanya. Rania duduk di meja makan tanpa benar-benar menyentuh sarapannya. Semalaman ia hampir tak tidur. Bayangan Revano yang berdiri terlalu dekat, tatapannya yang seolah ingin mengunci, masih mengendap di kepalanya.Ponselnya bergetar.Nama yang muncul kembali membuat dadanya mengeras.Revano.Rania menatap layar lama.Lalu… ia membiarkannya berdering.Satu panggilan tak dijawab.Dua.Tiga.Akhirnya berhenti.Namun pesan masuk menyusul.Revano:Kenapa tidak angkat?Revano:Kamu sudah bangun?Revano:Hari ini aku antar ke RS.Revano:Jangan ke mana-mana tanpa bilang aku.Rania menarik napas panjang.Alih-alih membalas, ia mematikan layar dan berdiri.“Hari ini aku mau tenang,” gumamnya.Ia mengambil tas, kunci mobil, dan pergi tanpa memberi kabar.Di rumah sakit, suasana seperti biasa: sibuk, ramai, penuh denyut kehidupan.Rania berjalan cepat menuju ruang dokter.Namun baru beberapa langkah, sebuah suara memanggilnya.“Dokter Rania.”Ia

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 147. Obsesi Dalam Ikatan

    Pagi datang tanpa benar-benar membawa segar.Rania terbangun sebelum alarm berbunyi. Dadanya terasa berat, seperti ada sisa mimpi yang menempel dan enggan pergi. Cahaya matahari menyelinap lewat tirai, membentuk garis tipis di lantai kamar.Ia duduk di tepi ranjang, mengusap wajah.Malam tadi, suara Revano masih terngiang di kepalanya.Aku takut kehilanganmu lagi.Kalimat itu seharusnya terdengar manis.Namun entah kenapa, di dada Rania, ia berubah menjadi tekanan.Rania meraih ponsel.Belum sempat membuka apa pun, layar sudah dipenuhi notifikasi.Satu.Dua.Lima.Delapan pesan masuk.Semua dari nama yang sama.Revano.Rania mengernyit.Ia membuka pesan pertama.Revano:Selamat pagi. Kamu sudah bangun?Belum sempat mencerna, ia membaca lanjutannya.Revano:Jangan lupa sarapan. Kamu sering pingsan kalau telat makan.Revano:Hari ini jadwalmu apa? Operasi atau poli?Revano:Kirim lokasi kalau sudah sampai rumah sakit.Revano:Aku cuma mau pastikan kamu aman.Rania menelan ludah.Ada mas

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status