Beranda / Romansa / Pengantin Pengganti Revano / Bab 2. Malam Pertama yang Mengejutkan

Share

Bab 2. Malam Pertama yang Mengejutkan

Penulis: Lia Lintang
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-07 18:31:11

Namun kenyataannya buku jemari Rania terus menari, tinta hitam meninggalkan jejak pernikahan.

Dan keduanya pun akhirnya sah menjadi sepasang suami istri.

Beberapa orang keluarga tampak bersalaman sebagai bentuk mengucapkan selamat pada sepasang pengantin. Dan beberapa yang lain hanya bergeming, lengkap dengan tatapan tak suka mereka.

Kemudian, akhirnya Revano membawa Rania pergi bersamanya.

***

Suasana kantor catatan sipil tadi pagi masih membekas di benak Rania.

Ia masih bisa mendengar suara Felia yang mengintervensi, tatapan sinis dari para tamu, hingga ekspresi dingin Revano yang sama sekali tak bergeming.

Namun pada akhirnya, ia menandatangani berkas itu. Kini, ia resmi menjadi Nyonya Revano Wongso.

Hari itu berlanjut dengan pesta pernikahan mewah di sebuah hotel bintang lima. Lampu kristal berkilauan, musik lembut mengalun, dan para tamu berbisik-bisik membicarakan betapa cantiknya pengantin baru itu.

Namun di balik semua kemewahan, dada Rania terasa sesak. Senyumnya dipaksakan, gerakannya kaku.

Di sampingnya, Revano duduk tenang dengan wajah tak terbaca. Sesekali ia melontarkan senyum tipis untuk menghormati tamu, tetapi tidak pernah benar-benar menoleh ke arah istrinya.

Seolah pernikahan ini hanyalah formalitas bisnis tidak lebih, tidak kurang. Sungguh, siapapun yang berada di posisi Rania pasti akan sedih rasanya.

'Aku melakukan ini bukan karena kamu, Kak Raline. Tapi aku melakukannya demi menjaga nama baik keluarga kita.' Batin Rania, diiringi bulir bening yang kemudian merembes membasahi pipinya.

Malam itu, setelah pesta usai, Rania dibawa ke kediaman pribadi Revano.

Rumah besar bergaya klasik itu berdiri megah, dengan halaman luas dan penjaga di setiap sudutnya.

Rania berjalan masuk dengan hati yang berdebar. Suasananya terlalu hening, terlalu asing.

“Mulai malam ini, kau tinggal di sini,” ucap Revano singkat sambil memutar roda kursinya masuk ke ruang tamu.

Ia lalu berhenti, menoleh sekilas.

“Ada aturan yang harus kau patuhi. Jangan mencampuri urusanku, jangan bertanya terlalu banyak. Dan ingat, pernikahan ini hanya akan berlangsung enam bulan. Setelah itu, kau bebas kembali ke hidupmu.”

Rania menelan ludah.

“Enam bulan?” tanyanya pelan, meski ia sudah menduga pernikahan ini tak normal.

Tapi tetap saja mendengar kata yang menyiratkan pernikahannya yang seharusnya sakral tapi dianggap sebagai permainan saja itu rasanya sangat tak adil baginya.

Revano menatapnya dingin. “Ya. Anggap saja kontrak. Jangan berharap lebih.”

Ucapan itu menampar Rania. Perasaannya bercampur antara marah, sedih, dan getir.

Ia teringat bagaimana ayahnya menangis kehilangan kehormatan, bagaimana ibunya memohon agar ia bertahan.

Ia melakukan semua ini demi keluarganya.

Tapi kenyataannya, ia seperti masuk ke dalam penjara.

Malam kian larut. Rania mengganti gaunnya dengan piyama sutra yang sudah disiapkan oleh pelayan rumah.

Rambutnya tergerai, wajahnya kini berganti polos tanpa riasan.

Ia berdiri ragu di depan pintu kamar utama, bertanya-tanya apakah ia harus masuk, atau justru sebaliknya?

“Masuklah.” Suara Revano terdengar dari dalam.

Dengan jantung berdebar, ia melangkah pelan.

Kamar itu luas, tetapi terasa dingin. Di sudut ruangan, Revano duduk di kursi roda dengan lampu meja yang menyinari setengah wajahnya.

Dan di situlah Rania untuk pertama kalinya benar-benar melihat sosok suaminya.

Bukan pria sempurna dari foto-foto pra-pernikahan.

Wajah Revano penuh bekas luka, sebagian kulitnya seperti terbakar, meninggalkan jejak kelam yang tak bisa disembunyikan.

Tubuhnya tegap, tetapi sepasang kakinya tampak kaku dan tak berfungsi normal.

Rania terhenyak. Napasnya tercekat.

Ia mengira rumor tentang Revano hanyalah gosip, tetapi kenyataan jauh lebih mengejutkan.

“Apa kau kecewa?” tanya Revano datar, tatapannya menembus seolah membaca isi hati Rania.

Rania terdiam. Ia ingin mengatakan “tidak”, tapi lidahnya kelu.

Revano tersenyum miring, terlihat getir.

“Semua wanita yang pernah mendekat padaku akhirnya lari. Kau mungkin akan sama saja. Hanya waktu yang akan membuktikan.”

Hening. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar beberapa detik setelahnya.

Rania mengepalkan tangannya, menahan campuran rasa iba, marah, dan takut.

Ia menatap Revano, mencoba menegakkan dirinya.

“Kalau aku sudah memilih masuk ke dalam pernikahan ini ... aku tidak akan lari.”

Revano menatapnya cukup lama, sebelum akhirnya menghela napas panjang.

“Lihat saja nanti, Rania.”

Dan malam itu, pernikahan mereka dimulai—dengan jarak, dengan rahasia, dan dengan perasaan asing yang sulit dijelaskan.

Namun, di balik dinginnya tatapan itu, Rania merasakan ada sesuatu yang tersembunyi jauh di dalam diri Revano.

Luka yang belum sembuh.

Dan ia tahu, kehidupannya tak akan pernah sama lagi.

Namun, beberapa menit berselang, suara ketukan pintu mengejutkan Rania. Tetapi tidak dengan Revano.

"Nona Rania, Anda dipanggil Nyonya besar," kata salah seorang pelayan setelah akhirnya diperbolehkan masuk oleh Revano.

Rania melirik sepintas pada suaminya, lalu akhirnya ia mengambil keputusan sepihak dengan anggukan kepala isyarat persetujuan.

"Aku permisi pergi dulu," pamit Rania kemudian ia menghilang dari pandangan Revano.

Bahkan perempuan itu tidak menunggu izin dari suaminya. Membuat Revano hanya tersenyum samar sembari menggeleng pelan.

Entah apa maksudnya itu.

Tak lama berselang, ketika Revano baru saja merebahkan tubuhnya di atas kasur, Rania sudah kembali dengan langkah tergesa-gesa.

Sikapnya membuat kening Revano berkerut, penasaran sekaligus terkejut.

"Nyonya besar memintaku tidur di kamar ini," ucap Rania, seraya mengunci pintu yang membuat bibir Revano terbuka lebar.

"Kau yakin akan tinggal di kamar ini denganku? Tidak takut?" tanyanya seolah tak percaya.

Rania tersenyum tipis, lalu ia menggeleng cepat.

"Aku sudah memutuskan, tenang saja, Tuan. Aku tidak akan melanggar batasan. Aku akan tidur di sofa," ketus Rania.

"Kau ... penakut rupanya," ejek Revano sambil menarik selimut.

Entah apa yang Rania pikirkan, ia langsung melangkah lebar dan menahan selimut yang nyaris ditarik Revano. Mata pria itupun akhirnya terbelalak.

"Kita buktikan siapa yang takut!" serunya sambil menatap lekat.

Rania langsung duduk di sisi ranjang seraya mulai mengikis jarak, membuat Revano tercekat menelan ludah di hadapannya.

"Jangan salahkan aku jika terjadi yang tidak diinginkan, Rania," decak Revano berusaha memperingati.

Tetapi sayangnya Rania tidak peduli. Ia justru menunjukkan sebuah botol lengkap dengan isinya. Lagi. Mata Revano dibuat terbelalak karena kaget olehnya.

"Jangan salah paham. Aku hanya ingin menjalankan tugasku sebagai seorang istri. Nyonya besar memintaku mengurut kakimu. Mulai malam ini aku akan melakukannya." Rania tersenyum senang sembari memutar tutup botol di genggamannya.

Sementara Revano, pemuda itu terlihat kesal tetapi hanya bisa pasrah dengan perlakuan istrinya.

Buku jemari Rania perlahan mulai bergerak menarik celana piyama milik Revano, membuat tangan pria yang biasanya selalu menampilkan ekspresi wajah datar itu langsung mencegahnya.

"Jangan berani-beraninya, Rania," sergah Revano dengan suara gemetar.

Rania memberanikan diri mengangkat wajahnya, mencoba menatap lekat wajah seram itu dari jarak yang dekat.

"Tenanglah, lagi pula profesiku adalah seorang dokter. Bagiku, sudah biasa menyentuh pasien tanpa melibatkan perasaan!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 152. Berdamai Dengan Waktu

    Langit pagi di pinggiran kota tampak bersih setelah hujan semalam. Cahaya matahari jatuh lembut di jendela RAJIA Coffee & Flower House, membuat kelopak-kelopak bunga di rak depan tampak berkilau seperti baru disiram harapan.Rania berdiri di balik etalase, menata mawar dan baby breath. Gerakannya pelan, teratur, seolah hidupnya kini mengikuti ritme yang ia pilih sendiri.Bel pintu berbunyi.Ting.Rania mendongak.Revano berdiri di sana.Bukan Revano yang dulu penuh kuasa, bukan pula yang mabuk dan berantakan. Ia tampak lebih kurus, rahangnya menegang, matanya menyimpan kelelahan yang tak sempat disembuhkan.Beberapa pelanggan melirik, tapi Rania tetap tenang.“Duduklah,” ucapnya singkat. “Aku buatkan kopi.”Revano sedikit terkejut.Ia sempat mengira akan diusir.Namun Rania justru bergerak ke mesin espresso tanpa drama, tanpa amarah.Aroma kopi memenuhi ruang.Revano duduk di meja dekat jendela. Tangannya saling mengait, gelisah.Rania meletakkan secangkir kopi di depannya.“Minum. Ka

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 151. Kehancuran Revano

    Hujan mengguyur kota malam itu, tapi Revano tidak peduli.Mobil sportnya melaju kencang, menembus lampu merah, menabrak genangan air, seolah ia sedang berlomba dengan sesuatu yang tidak bisa ia kejar seperti ketenangan.Di dashboard, botol minuman keras tergeletak setengah kosong.Tangannya gemetar saat memutar setir.Bukan karena mabuk sepenuhnya.Tapi karena kosong.Sejak Rania pergi, rumah besar itu berubah seperti museum: sunyi, dingin, dan penuh bayangan kenangan. Tidak ada suara langkah kecil, tidak ada aroma teh pagi, tidak ada perempuan yang dulu menunggunya pulang meski sering disakiti.Yang tersisa hanya gema pintu dan egonya sendiri.Maka Revano memilih tempat lain untuk hidup: malam.Lampu kelab menyala liar.Musik menghantam dada.Asap rokok, parfum mahal, tawa perempuan, dan denting gelas bercampur jadi satu.Revano masuk dengan jaket hitam, wajah tampan yang dulu selalu rapi kini terlihat lelah dan keras.“Rev!” teriak seorang bartender. “Biasanya kamu gak pernah muncul

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 150. Jalan Berbeda

    Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap lewat tirai tipis penginapan.Rania terbangun tanpa alarm.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa… ringan. Bukan karena masalah hilang, tapi karena ia berhenti melawannya dengan rasa takut.Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang masih basah oleh sisa hujan semalam.Hari ini bukan tentang Revano.Hari ini tentang dirinya sendiri.Rania meraih ponsel.Puluhan pesan dari Revano masih memenuhi layar. Ia tidak membuka satu pun. Ia hanya mematikan notifikasi nama itu.Bukan membenci.Tapi menjaga jarak agar ia tidak kembali runtuh.“Aku tidak bisa hidup sambil terus menoleh,” gumamnya.Ia mandi, mengenakan kemeja putih sederhana dan celana panjang krem. Rambutnya ia ikat rendah. Tidak ada riasan berlebihan. Hanya wajah Rania yang asli.Setelah itu, ia membuka laptop.Berkas-berkas kerja masih tersimpan rapi.Logo rumah sakit di sudut file.Nama Dr. Rania yang selama ini ia banggakan.Ia menatap layar lama.Pekerjaan

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 149. Kebebasan Untuk Rania

    Sore turun perlahan di rumah sakit. Langit di balik jendela berubah jingga pucat, tapi dada Rania justru terasa semakin gelap. Seharian ia bekerja sambil menahan getaran ponsel yang tak pernah benar-benar berhenti.Dua puluh tiga pesan.Tujuh panggilan tak terjawab.Semua dari Revano.Rania duduk di ruang ganti dokter, membuka ponselnya untuk pertama kali sejak siang.Isinya membuat napasnya tercekat.Revano:Kamu sengaja mempermalukanku di depan orang.Revano:Kamu pikir aku diam saja?Revano:Pulang sekarang. Kita bicara.Revano:Kalau tidak, aku yang datang lagi.Revano:Jangan paksa aku bersikap keras, Rania.Jari Rania bergetar.Ada ancaman di balik setiap kalimat.Ia menatap pantulan wajahnya di loker.Mata yang lelah.Tapi ada sesuatu yang baru: keberanian yang mulai tumbuh.Rania mengunci ponsel.“Aku tidak mau hidup seperti ini lagi,” bisiknya.Di parkiran rumah sakit, Rania baru saja membuka pintu mobil ketika sebuah bayangan menghadangnya.Revano.Ia berdiri tepat di depan

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 148. Berseteru Dengan Leonard

    Pagi di rumah dinas terasa lebih dingin dari biasanya. Rania duduk di meja makan tanpa benar-benar menyentuh sarapannya. Semalaman ia hampir tak tidur. Bayangan Revano yang berdiri terlalu dekat, tatapannya yang seolah ingin mengunci, masih mengendap di kepalanya.Ponselnya bergetar.Nama yang muncul kembali membuat dadanya mengeras.Revano.Rania menatap layar lama.Lalu… ia membiarkannya berdering.Satu panggilan tak dijawab.Dua.Tiga.Akhirnya berhenti.Namun pesan masuk menyusul.Revano:Kenapa tidak angkat?Revano:Kamu sudah bangun?Revano:Hari ini aku antar ke RS.Revano:Jangan ke mana-mana tanpa bilang aku.Rania menarik napas panjang.Alih-alih membalas, ia mematikan layar dan berdiri.“Hari ini aku mau tenang,” gumamnya.Ia mengambil tas, kunci mobil, dan pergi tanpa memberi kabar.Di rumah sakit, suasana seperti biasa: sibuk, ramai, penuh denyut kehidupan.Rania berjalan cepat menuju ruang dokter.Namun baru beberapa langkah, sebuah suara memanggilnya.“Dokter Rania.”Ia

  • Pengantin Pengganti Revano    Bab 147. Obsesi Dalam Ikatan

    Pagi datang tanpa benar-benar membawa segar.Rania terbangun sebelum alarm berbunyi. Dadanya terasa berat, seperti ada sisa mimpi yang menempel dan enggan pergi. Cahaya matahari menyelinap lewat tirai, membentuk garis tipis di lantai kamar.Ia duduk di tepi ranjang, mengusap wajah.Malam tadi, suara Revano masih terngiang di kepalanya.Aku takut kehilanganmu lagi.Kalimat itu seharusnya terdengar manis.Namun entah kenapa, di dada Rania, ia berubah menjadi tekanan.Rania meraih ponsel.Belum sempat membuka apa pun, layar sudah dipenuhi notifikasi.Satu.Dua.Lima.Delapan pesan masuk.Semua dari nama yang sama.Revano.Rania mengernyit.Ia membuka pesan pertama.Revano:Selamat pagi. Kamu sudah bangun?Belum sempat mencerna, ia membaca lanjutannya.Revano:Jangan lupa sarapan. Kamu sering pingsan kalau telat makan.Revano:Hari ini jadwalmu apa? Operasi atau poli?Revano:Kirim lokasi kalau sudah sampai rumah sakit.Revano:Aku cuma mau pastikan kamu aman.Rania menelan ludah.Ada mas

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status