로그인Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyinari koridor utama kediaman Nathaniel. Valen datang bersama empat orang rekannya yang mengenakan seragam teknisi pemeliharaan gedung. Mereka membawa tas peralatan besar, lengkap dengan detektor frekuensi dan kamera endoskopi kabel.
Evan berdiri di lantai atas, bersandar pada kruknya. Di bawah, Leo dan Marco sudah siaga.
"Kalian tahu apa yang harus dilakukan," ujar Evan dengan suara rendah namun tegas. "Jangan biarkan satu pelayan p
Alice mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba memfokuskan pandangan pada angka-angka nol yang berderet di layar ponsel Evan. Cahaya biru dari ponsel itu menerangi wajah mereka berdua di kegelapan kamar."Evan... ini tidak masuk akal," bisik Alice. "Angka ini... ini lebih besar dari seluruh aset operasional Elino yang pernah aku tahu."Evan meletakkan ponselnya kembali ke nakas dengan gerakan perlahan. Ia menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang, lalu menarik napas panjang. "Ternyata Papa Elino benar-benar seorang visioner. Dia tidak hanya menyimpan aset, dia menanamnya dalam investasi jangka panjang yang tidak bisa disentuh siapa pun, termasuk Edwin, selama sepuluh tahun terakhir. Dan sekarang, semuanya jatuh ke tangan Leo.""Apa yang harus kita lakukan dengan uang sebanyak itu?" tanya Alice, suaranya sedikit bergetar. "Kita sudah punya segalanya, Evan. Aku tidak ingin kekayaan ini membawa masalah baru."Evan menggenggam tangan Alice, memberikan ras
Evan masih memegang ponselnya dengan dahi berkerut. Kalimat Rico di seberang telepon tadi benar-benar di luar dugaannya. Sebuah ayunan kayu raksasa? Diukir dengan nama mereka? Dan dikirim dari alamat yang "mati"?"Evan, katakan padaku. Siapa yang mengirim benda sebesar itu ke pelabuhan?" desak Alice. Ia berdiri tepat di depan Evan, mencoba mengintip layar ponsel suaminya.Evan mengembuskan napas panjang, lalu menyerahkan ponselnya kepada Alice. "Rico baru saja mengirimkan foto label pengirimannya. Lihatlah."Alice menerima ponsel itu. Matanya menelusuri baris tulisan di layar. Nama pengirimnya adalah sebuah firma hukum di Swiss, namun di bawahnya tertera nama pribadi yang sangat mereka kenal."Selena?" bisik Alice. "Selena yang dulu bekerja untuk keluarga Smith?""Benar. Dia yang menghilang tak lama setelah keruntuhan Edwin. Banyak yang mengira dia sudah mati atau bersembunyi di tempat yang tidak terjangkau," ujar Evan. Ia berjalan menuju balkon, m
Evan menatap kotak kayu di tangannya. Teksturnya terasa halus, khas kayu jati yang telah dipoles selama puluhan tahun. Tidak ada gembok rumit, hanya sebuah pengait perak sederhana. Ia melirik Lavina yang masih berdiri di hadapannya dengan senyum lembut."Bawalah masuk. Alice harus melihatnya juga," bisik Lavina pelan. "Itu adalah barang yang sangat berharga bagi Grizelle, tapi bukan karena harganya."Evan mengangguk. Ia kembali ke dalam kamar, menutup pintu dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara. Alice sudah terbangun, ia duduk bersandar pada kepala ranjang sambil mengusap matanya yang masih mengantuk."Evan? Ada apa? Tadi itu Nenek?" tanya Alice."Iya. Dia menemukan kotak milik Ibuku di gudang bawah tanah yang baru dibersihkan," Evan duduk di tepi ranjang dan meletakkan kotak itu di antara mereka.Alice menatap kotak itu dengan rasa ingin tahu. "Kotak Ibu Grizelle? Apa isinya?""Nenek bilang ini sesuatu yang manis. Bukan rahasia atau
Evan menatap layar ponselnya sekali lagi. Jari-jarinya bergerak cepat di atas permukaan kaca, menghapus pesan itu secara permanen. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara malam yang dingin menenangkan pikirannya yang sempat bergejolak. Tidak mungkin. Semuanya sudah selesai. Edwin, Viktor, dan semua orang yang pernah mengancam hidup mereka sudah menjadi sejarah yang terkubur.Ia menyadari bahwa di dunia bisnis seperti yang dijalaninya, pesan-pesan gelap semacam itu sering kali hanyalah upaya dari pesaing bisnis rendahan yang ingin mengguncang ketenangannya."Evan? Kenapa lama sekali?" suara Alice memanggil dari dalam kamar.Evan menoleh, menyimpan ponselnya ke dalam saku, lalu melangkah masuk ke dalam kamar yang hangat. "Hanya memastikan semua pintu sudah terkunci, Sayang. Ayo tidur."Dua Bulan Kemudian.Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden kamar bayi yang kini dipenuhi dengan warna-warna cerah. Leo, yang kini sudah berusia d
Evan menatap layar interkom selama beberapa detik, lalu tangannya bergerak menekan tombol putus. Ia tidak menjawab instruksi penjaga gerbang. Ia justru berbalik dan menatap Alice yang masih berdiri di dekat balkon dengan wajah penuh tanda tanya."Evan? Kau tidak mau menerima dokumen itu?" tanya Alice.Evan berjalan mendekat, lalu menggenggam kedua tangan istrinya. "Alice, ingat apa yang kita janjikan di rumah pantai kemarin? Kita sudah selesai dengan masa lalu. Entah itu kekayaan Smith yang tertinggal, rahasia lama, atau apa pun itu... aku tidak peduli lagi.""Tapi bagaimana kalau itu penting untuk masa depan Leo?""Masa depan Leo sudah lebih dari cukup dengan apa yang kita miliki sekarang," jawab Evan mantap. "Aku tidak ingin ada satu pun kertas dari masa lalu yang masuk ke rumah ini lagi dan memicu kecemasanmu. Kita sudah menutup buku itu, Alice. Mari kita biarkan buku itu tetap tertutup."Evan mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat kepad
Evan segera menyambar ponselnya dari tangan Alice. Matanya memicing, membaca baris demi baris pesan yang masuk. Ketegangan yang sempat menyelimuti wajah Alice perlahan memudar saat melihat ekspresi Evan yang tidak menunjukkan kemarahan atau keterkejutan yang gelap. Evan justru mengembuskan napas panjang, lalu mengusap wajahnya yang masih basah."Evan? Apa itu benar? Apa yang dikatakan Departemen Kearsipan itu?" suara Alice terdengar mendesak.Evan menatap Alice, lalu menunjukkan layar ponselnya dengan lebih jelas. "Bukan Departemen Kearsipan, Alice. Ini dari 'Leo'—manajer proyek pembangunan di pelabuhan utara. Dia salah kirim pesan atau menggunakan kode proyek yang membingungkanmu."Alice membaca ulang pesan itu. Benar saja, nama pengirimnya adalah Leo, salah satu kepala teknisi kepercayaan Evan. Kalimatnya yang terpotong di notifikasi tadi memang terlihat mencurigakan, namun setelah dibuka secara lengkap, isinya adalah tentang arsip data tanah untuk pemba
Alice menarik napas panjang saat ia mencoba berdiri dari tempat tidur. Rasa nyeri di selangkangannya masih berdenyut, namun ia tidak ingin terlihat lemah di depan Evan. Ia mengambil piyama sutra barunya dari lemari dan memakainya perlahan. Evan, yang sudah mengenakan celana kain tanpa atasan, ber
Di ruang tamu yang luas, suasana terasa seperti pusat komando perang. Valen tidak lagi bekerja sendiri. Empat orang pria dengan laptop berspesifikasi tinggi duduk melingkar di meja panjang, jemari mereka bergerak serentah menciptakan harmoni ketikan yang bising."Jebol firewall penyedia la
Wajah Evan yang semula tegang saat melihat layar ponsel perlahan berubah. Ia menatap Alice yang berbaring di bawahnya dengan napas yang masih tersengal. Rambut Alice yang sedikit berantakan di atas bantal sutra, tatapan matanya yang sayu penuh gairah, serta belahan dadanya yang menyembul di balik
Zavian berdiri menjulang di depan tiga sosok yang bersimpuh di lantai marmer penthouse. Matanya sedingin es, menatap Selena yang tampak sangat rapuh. Rico berdiri di belakang Zavian dengan tangan terlipat, siap mengeksekusi perintah apa pun."Aku akan melepaskanmu, Selena," suara Zavian me







