LOGINDemi menyelamatkan kehormatan keluarga dan tuntutan penjara keluarga Evander. Naya dipaksa bibinya menggantikan Selena yang kabur di hati pernikahannya. Alice harus terikat kontrak dengan Evander, pria yang membencinya dan masih terobsesi pada calon istrinya yang menghilang. Evander memperlakukan Naya dengan kejam, menganggapnya tak lebih dari pengisi kekosongan. Tapi, ketika Evan mengetahui masalalu Naya. Ia mulai menunjukkan ketulusan, mungkinkah hati Evander yang beku perlahan melunak?
View MoreLampu kristal di aula Grand Gold Hotel itu bersinar terang, namun suasana di ruang rias pengantin terasa sedingin es. Zavian Nathaniel berdiri dengan tangan di saku celana kain mahalnya. Wajahnya merah padam, rahangnya mengeras menatap sepasang suami istri di depannya.
"Dua jam lagi acara dimulai, dan putri kalian menghilang?" suara Zavian rendah, namun penuh penekanan yang mengancam.
"Kami benar-benar minta maaf, Tuan Zavian. Kami sudah mencoba menghubungi Selena, tapi ponselnya mati," ucap Nino, ayah Selena dengan suara gemetar.
Zavian terkekeh sinis. "Maaf tidak akan membayar kerugian saya. Gedung ini, katering, dekorasi, hingga tamu-tamu kolega bisnis saya yang akan datang, nilainya miliaran rupiah. Nama keluarga Nathaniel tidak boleh jadi bahan tertawaan karena pengantin wanitanya kabur!"
Nura, ibu Selena, meremas sapu tangannya hingga kuku jarinya memutih. Ia menatap ke arah pintu, lalu beralih ke suaminya. Ketakutan akan utang dan tuntutan hukum membuat otaknya berputar cepat.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Seorang gadis dengan kaos lusuh dan celana jeans masuk membawa beberapa kotak suvenir. Ia adalah Naya, keponakan Nura yang selama ini membantu persiapan pernikahan.
"Bibi, ini suvenir tambahannya sudah datang," ujar Naya polos.
Vinie menatap Naya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Sebuah ide gila muncul di kepalanya. Ia langsung menghampiri Naya dan mencengkeram lengannya kuat-kuat.
"Naya, kamu harus bantu Bibi," bisik Vinie tajam.
"Bantu apa, Bi? Ini suvenirnya sudah Naya taruh di ..."
"Gantikan Selena. Pakai gaunnya sekarang!"
Mata Alice terbelalak. Ia tertawa canggung, mengira itu hanya lelucon stres. "Bibi bercanda, ya? Aku bukan Selena. Aku bahkan belum lulus pendaftaran ulang kuliah, Bi."
"Tidak ada waktu untuk kuliah!" potong Nura ketus. Ia menoleh pada Zavian. "Tuan Zavian. Ini Alice, eponakan saya. Dia masih muda, cantik, dan dia akan menggantikan Selena hari ini. Pernikahan tetap berjalan."
Zavian menyipitkan mata, menilai penampilan Naya. "Siapa saja, asal ada wanita di samping putraku di pelaminan nanti. Tapi ingat, jika ada masalah lagi, saya tidak akan segan menghancurkan kalian semua." Zavian keluar dari ruangan, membanting pintu dengan keras.
Naya mundur beberapa langkah, jantungnya berdegup kencang. "Tidak, Bi! Aku tidak mau! Aku sudah dapat beasiswa di Universitas Harvard. Minggu depan aku harus mulai orientasi. Aku Tidak kenal siapa itu Evander!"
"Naya, dengar!" Nura memegang kedua bahu Naya dengan kasar. "Selena kabur entah ke mana. Kalau kamu tidak mau melakukan ini, keluarga kita akan menanggung semuanya. Kami harus membayar miliaran ke keluarga Nathaniel. Dari mana kami punya uang sebanyak itu? Kamu mau lihat Bibi dan Paman masuk penjara?"
"Tapi ini hidupku, Bi! Kenapa aku yang harus tanggung jawab atas kesalahan Kak Selena?" air mata Alice mulai menggenang.
"Karena kamu berutang budi pada kami!" bentak Nura. "Siapa yang membiayai sekolahmu setelah orang tuamu meninggal? Kami! Sekarang saatnya kamu membalas semuanya. Pakai gaunnya, atau kamu keluar dari rumah ini tanpa membawa sepeser pun dan jangan harap bisa kuliah!"
Naya terdiam. Dunia seolah runtuh di bawah kakinya. Cita-citanya untuk menjadi arsitek, beasiswa yang ia perjuangkan dengan belajar sampai pagi, semuanya terasa menguap begitu saja.
Dua orang penata rias masuk secara paksa dan langsung mendudukkan Naya di kursi. Mereka mulai memoleskan makeup ke wajahnya yang pucat. Sementara, Naya terus berada di sana untuk memastikan bahwa Alice tidak kabur.
Naya hanya bisa menatap pantulan dirinya di cermin dengan pandangan kosong. 'Tidak! Ini mimpi buruk. Tiba-tiba saja hari ini aku menikah dengan seorang yang aku tidak kenal sama sekali,' batinnya.
Nura mendekati keponakannya, dia melihat Naya dari cermin, lalu sedikit membungkuk. "Alice ingat. Kamu harus menampilkan wajah bahagia di pelaminan nanti, jangan murung seperti ini."
Setelah mengatakan kalimat itu, Nura pergi dari ruangan tersebut. Dan Naya hanya bisa mendengkus kecil meratapi nasibnya.
*****
Satu jam kemudian, Naya sudah terbalut gaun pengantin berwarna putih yang sangat indah. Namun, bagi Naya, gaun itu terasa seperti baju tahanan. Cadar tipis menutupi sebagian wajahnya.
Pintu kamar terbuka. Seorang pria dengan setelan tuksedo hitam masuk. Dia tinggi, bahunya lebar, dan wajahnya sangat tampan namun datar tanpa ekspresi. Itulah Evander Nathaniel.
Evan menatap Naya melalui cermin. Ia berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang Alice. Aroma parfum maskulin yang kuat menusuk indra penciuman Naya
"Jadi, kau penggantinya?" suara Evan terdengar dingin, tanpa ada nada kasih sayang sedikit pun.
Naya memberanikan diri menatap mata pria itu melalui cermin. "Aku dipaksa. Aku tidak menginginkan ini."
Evan tersenyum miring, sebuah senyum meremehkan. Ia membungkuk, membisikkan sesuatu tepat di telinga Naya yang membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.
"Sama. Aku juga tidak peduli siapa yang berdiri di sana. Tapi jangan harap kehidupan pernikahan ini akan menjadi dongeng indah untukmu."
Naya meremas tangannya yang gemetar di balik gaun indahnya. "Aku hanya ingin melanjutkan pendidikanku. Setelah ini selesai, aku akan pergi."
Evan berdiri tegak kembali, memperbaiki letak dasinya dengan santai. Ia menatap pintu keluar, seolah-olah pernikahan ini hanyalah sebuah rapat bisnis yang membosankan.
"Pergi?" Evan menatap Naya agi, kali ini dengan tatapan yang lebih tajam dan mengintimidasi.
Ia membungkuk, mengapit kedua pipi Naya hingga bibir Alice mengerucut. Tatapannya tajam tertuju pada mata Naya. "Dengar, gadis kecil. Begitu kau mengucap janji di depan pendeta, kau bukan lagi milik dirimu sendiri. Kau adalah aset keluarga Nathaniel."
Naya menggeleng pelan. "Aku bukan barang. Aku punya janji dengan kampus. Aku akan tetap kuliah meski aku menikah denganmu."
Evan mengalihkan tangannya dari pipi Naya dengan kasar, hingga sang empunya tersentak. Ia berjalan menuju pintu, namun berhenti sejenak dan menoleh ke arah Alice dengan tatapan yang sangat dingin.
"Kamu pikir aku akan membiarkan istriku keluyuran di kampus seperti orang biasa?"
Naya berdiri dari kursinya, suaranya bergetar namun tegas. "Itu syaratku. Aku akan menggantikan Selena, asal kau tidak melarangku kuliah!"
Evan terdiam sejenak, lalu ia melangkah kembali mendekati Naya hingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Ia menarik cadar Naya sedikit ke atas, menatap langsung ke dalam mata gadis itu yang penuh ketakutan sekaligus keberanian.
"Kamu ingin tawar-menawar denganku di hari pernikahan kita?" tanya Evan dengan nada rendah yang berbahaya.
"Iya," jawab Naya nekat.
Evan meraih dagu Naya, memaksanya untuk terus menatapnya. Senyum tipis yang sulit diartikan muncul di bibirnya.
"Baik. Kau boleh kuliah, tapi ada satu syarat dariku yang tidak bisa kau tolak."
Naya menelan salivanya. "Apa syaratnya?"
Evan mendekatkan wajahnya ke wajah Naya hingga napas mereka bersentuhan. "Mulai malam ini, jangan pernah bermimpi untuk bisa keluar dari kamar pengantin kita sebelum aku mengizinkannya."
Dengan enggan, Alice merebahkan tubuhnya. Evan membantu membuka jubah mandi Alice dengan sangat perlahan. Begitu kain itu tersingkap, Evan memejamkan mata sejenak, menahan sesak di dadanya. Ada memar kebiruan di pangkal paha Alice, bekas cengkeraman tangannya yang terlalu kuat. Bagian intim Alice juga tampak kemerahan dan sedikit bengkak."Ya Tuhan. Apa yang sudah kulakukan padamu," bisik Evan."Kau melampiaskan dendammu pada orang yang salah," sahut Alice lirih.Evan mulai mengompres bagian yang memar dengan air hangat menggunakan handuk kecil. Gerakannya sangat lembut, seolah ia sedang menyentuh porselen yang paling rapuh di dunia."Ngh... pelan-pelan," rintih Alice saat handuk itu menyentuh kulitnya."Iya, maaf. Ini akan membantu mengurangi bengkaknya," ujar Evan. Ia mengoleskan salep pereda nyeri dengan ujung jarinya, sangat perlahan.Suasana kamar menjadi sunyi, hanya terdengar suara napas mereka berdua. Evan melakukan tugasnya dengan p
Di tempat kerjanya, Rico bergerak seperti bayangan. Ia tiba di Rumah Sakit Medika, tempat yang disebut-sebut Selena sebagai tempat pemeriksaan kehamilannya. Rico mengenakan setelan jas hitamnya yang rapi, memberikan kesan intimidasi yang halus saat ia melangkah masuk ke ruangan Direktur Rumah Sakit."Saya dari firma hukum Nathaniel," kata Rico sambil meletakkan kartu namanya di atas meja. "Kami ingin melakukan verifikasi atas rekam medis pasien bernama Selena Pramudya yang diperiksa pagi ini oleh Dr. Hermawan."Direktur rumah sakit itu tampak pucat. "Maaf, Tuan Rico, rekam medis adalah rahasia pasien. Kami tidak bisa memberikannya tanpa izin."Rico tersenyum dingin. Ia mengeluarkan sebuah tablet dan menunjukkan foto Dr. Hermawan yang sedang menerima amplop tebal dari seorang pria suruhan Edwin di sebuah kafe sejam yang lalu."Atau kami bisa membawa polisi ke sini untuk menyelidiki kasus penyuapan dan pemalsuan dokumen publik?" ancam Rico. "Pilihannya ada
Evan berdiri di balkon vila dengan napas yang masih menderu pelan. Tangannya mencengkeram ponsel begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Di layar, pesan dari Rico tentang klaim kehamilan Selena masih terpampang jelas."Rico, dengar baik-baik," suara Evan rendah namun penuh penekanan. "Selidiki rumah sakit itu sekarang juga. Cari dokter yang menangani Selena, periksa rekam medisnya, dan cari tahu siapa yang membayarnya untuk mengeluarkan surat itu.""Baik, Tuan Muda. Tapi, apakah Anda akan pulang hari ini? Pesawat bisa siap dalam satu jam," jawab Rico dari seberang telepon."Tidak," potong Evan cepat. Matanya menatap tajam ke arah laut lepas yang mulai diterangi cahaya fajar. "Aku tidak akan membiarkan wanita itu merusak liburanku bersama Alice. Lakukan tugasmu, kirimkan bukti itu padaku secepatnya. Jangan ganggu aku sampai kau punya bukti otentik bahwa itu bohong."Evan mematikan ponsel dan melemparnya ke kursi pantai. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Zavian meremas gagang telepon di ruang kerjanya hingga buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam dokumen digital yang dikirimkan Rico melalui tablet di atas mejanya. Nama yang tertera di kolom wali cadangan itu tertulis dengan jelas: Selena Pramudya."Bagaimana bisa nama Selena ada di sana, Rico?!" bentak Zavian melalui sambungan telepon."Sepertinya Edwin sudah memalsukan tanda tangan Elino bertahun-tahun yang lalu, Tuan," suara Rico terdengar tegang. "Dia memindahkan hak perwalian cadangan kepada anaknya sendiri, Selena, sebagai rencana darurat jika keluarga inti mereka kehilangan akses langsung. Jika terjadi sesuatu pada Alice saat persalinan, Selena yang akan memegang kendali penuh atas dana abadi itu."Zavian mendengus kasar, ia melemparkan tabletnya ke atas meja sofa. "Edwin benar-benar ular. Dia sudah menyiapkan lubang sejak lama. Pantas saja dia tampak pasrah saat aku pulangkan, ternyata dia masih memegang kartu ini.""Apa kita perlu memanggil E












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.