Mag-log in"Situs apa?" tanya Evan.
Valen berlutut di depan cermin, matanya tidak lepas dari layar tablet yang terhubung dengan modul mikroskopis tadi. Jemarinya menari lincah di atas layar, melacak arus data yang keluar dari perangkat itu. Keningnya berkerut dalam, menciptakan gurat kecemasan yang nyata.
"Tuan Muda, ada sesuatu yang tidak beres," ujar Valen dengan nada berat.
Evan melepaskan pelukannya dari Alice, melangkah mendekat ke arah Valen. "Apa maksudmu? Apany
Zavian duduk di kursi kayu di samping ranjang ibunya. Cahaya lampu kamar yang kuning redup membuat bayangan wajahnya terlihat lebih tajam dan lelah. Lavina masih menatapnya dengan pandangan menuntut, tangan tuanya tidak melepaskan cengkeraman pada lengan jas Zavian."Katakan, Zavian. Katakan yang sebenarnya sebelum jantungku berhenti berdetak karena sesak," desak Lavina dengan suara bergetar.Zavian menghela napas panjang, sebuah suara berat yang seolah membuang beban sepuluh tahun dari dadanya. Ia memajukan tubuhnya, berbisik sangat dekat dengan telinga ibunya."Memang benar, Ma. Banjir bandang itu memang terjadi secara alami. Lumpur itu nyata. Tapi Elino dan Shella... mereka seharusnya bisa keluar dari vila itu sebelum air mencapai atap," ujar Zavian lirih.Mata Lavina membelalak. "Jadi benar... pintu itu?""Pintu kamar utama mereka dikunci dari luar, Ma. Aku menemukannya saat aku menerjang masuk ke reruntuhan yang setengah terendam itu. Elino ti
Ruang tengah kediaman Nathaniel yang biasanya tenang mendadak pecah oleh suara pecahan keramik. Lily membeku melihat Lavina yang terkulai lemas di kursi rodanya. Wajah wanita tua itu memutih, napasnya yang tadi tersengal kini seolah menghilang."Nyonya! Nyonya Lavina! Bangun, Nyonya!" Lily berteriak sambil mengguncang bahu Lavina.Tidak ada respons. Mata Lavina terpejam rapat. Lily segera menekan tombol darurat di dinding yang terhubung ke pos penjagaan dalam."Tolong! Nyonya Besar pingsan! Cepat ke sini!" teriak Lily ke arah interkom.Dalam hitungan detik, dua pelayan pria dan seorang perawat pribadi berlari masuk. Mereka dengan cekatan mengangkat tubuh ringkih Lavina dari kursi roda dan membawanya menuju kamar utama di lantai bawah agar lebih cepat ditangani.Lily berdiri di tengah ruangan dengan tangan gemetar. Ia melirik layar televisi yang masih menyiarkan wajah Selena. Dengan cepat, ia menyambar gagang telepon kabel dan menekan nomor pribadi
Dengan enggan, Alice merebahkan tubuhnya. Evan membantu membuka jubah mandi Alice dengan sangat perlahan. Begitu kain itu tersingkap, Evan memejamkan mata sejenak, menahan sesak di dadanya. Ada memar kebiruan di pangkal paha Alice, bekas cengkeraman tangannya yang terlalu kuat. Bagian intim Alice juga tampak kemerahan dan sedikit bengkak."Ya Tuhan. Apa yang sudah kulakukan padamu," bisik Evan."Kau melampiaskan dendammu pada orang yang salah," sahut Alice lirih.Evan mulai mengompres bagian yang memar dengan air hangat menggunakan handuk kecil. Gerakannya sangat lembut, seolah ia sedang menyentuh porselen yang paling rapuh di dunia."Ngh... pelan-pelan," rintih Alice saat handuk itu menyentuh kulitnya."Iya, maaf. Ini akan membantu mengurangi bengkaknya," ujar Evan. Ia mengoleskan salep pereda nyeri dengan ujung jarinya, sangat perlahan.Suasana kamar menjadi sunyi, hanya terdengar suara napas mereka berdua. Evan melakukan tugasnya dengan p
Di tempat kerjanya, Rico bergerak seperti bayangan. Ia tiba di Rumah Sakit Medika, tempat yang disebut-sebut Selena sebagai tempat pemeriksaan kehamilannya. Rico mengenakan setelan jas hitamnya yang rapi, memberikan kesan intimidasi yang halus saat ia melangkah masuk ke ruangan Direktur Rumah Sakit."Saya dari firma hukum Nathaniel," kata Rico sambil meletakkan kartu namanya di atas meja. "Kami ingin melakukan verifikasi atas rekam medis pasien bernama Selena Pramudya yang diperiksa pagi ini oleh Dr. Hermawan."Direktur rumah sakit itu tampak pucat. "Maaf, Tuan Rico, rekam medis adalah rahasia pasien. Kami tidak bisa memberikannya tanpa izin."Rico tersenyum dingin. Ia mengeluarkan sebuah tablet dan menunjukkan foto Dr. Hermawan yang sedang menerima amplop tebal dari seorang pria suruhan Edwin di sebuah kafe sejam yang lalu."Atau kami bisa membawa polisi ke sini untuk menyelidiki kasus penyuapan dan pemalsuan dokumen publik?" ancam Rico. "Pilihannya ada
Evan berdiri di balkon vila dengan napas yang masih menderu pelan. Tangannya mencengkeram ponsel begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Di layar, pesan dari Rico tentang klaim kehamilan Selena masih terpampang jelas."Rico, dengar baik-baik," suara Evan rendah namun penuh penekanan. "Selidiki rumah sakit itu sekarang juga. Cari dokter yang menangani Selena, periksa rekam medisnya, dan cari tahu siapa yang membayarnya untuk mengeluarkan surat itu.""Baik, Tuan Muda. Tapi, apakah Anda akan pulang hari ini? Pesawat bisa siap dalam satu jam," jawab Rico dari seberang telepon."Tidak," potong Evan cepat. Matanya menatap tajam ke arah laut lepas yang mulai diterangi cahaya fajar. "Aku tidak akan membiarkan wanita itu merusak liburanku bersama Alice. Lakukan tugasmu, kirimkan bukti itu padaku secepatnya. Jangan ganggu aku sampai kau punya bukti otentik bahwa itu bohong."Evan mematikan ponsel dan melemparnya ke kursi pantai. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Zavian meremas gagang telepon di ruang kerjanya hingga buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam dokumen digital yang dikirimkan Rico melalui tablet di atas mejanya. Nama yang tertera di kolom wali cadangan itu tertulis dengan jelas: Selena Pramudya."Bagaimana bisa nama Selena ada di sana, Rico?!" bentak Zavian melalui sambungan telepon."Sepertinya Edwin sudah memalsukan tanda tangan Elino bertahun-tahun yang lalu, Tuan," suara Rico terdengar tegang. "Dia memindahkan hak perwalian cadangan kepada anaknya sendiri, Selena, sebagai rencana darurat jika keluarga inti mereka kehilangan akses langsung. Jika terjadi sesuatu pada Alice saat persalinan, Selena yang akan memegang kendali penuh atas dana abadi itu."Zavian mendengus kasar, ia melemparkan tabletnya ke atas meja sofa. "Edwin benar-benar ular. Dia sudah menyiapkan lubang sejak lama. Pantas saja dia tampak pasrah saat aku pulangkan, ternyata dia masih memegang kartu ini.""Apa kita perlu memanggil E







