分享

100. Putri Rajendra

作者: Blue Ice
last update publish date: 2026-06-19 23:29:30

Derit ban mobil Selina bergesek tajam dengan aspal halaman kediaman Castellvain. Begitu mesin dimatikan, ia segera turun dan mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan waspada. Beruntung, suasana rumah besar itu masih tampak tenang, sepenuhnya belum tersentuh oleh kaki tangan William.

Selina mengembuskan napas lega yang sempat tertahan di dada, lalu bergegas melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya yang tergesa-gesa membimbingnya langsung menuju ruang tamu utama, tempat sang ibu mertua
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Pengantin Pengganti untuk Tuan Zander   100. Putri Rajendra

    Derit ban mobil Selina bergesek tajam dengan aspal halaman kediaman Castellvain. Begitu mesin dimatikan, ia segera turun dan mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan waspada. Beruntung, suasana rumah besar itu masih tampak tenang, sepenuhnya belum tersentuh oleh kaki tangan William. Selina mengembuskan napas lega yang sempat tertahan di dada, lalu bergegas melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya yang tergesa-gesa membimbingnya langsung menuju ruang tamu utama, tempat sang ibu mertua biasa menghabiskan waktu paginya. "Selamat pagi, Ma!" sapa Selina dengan nada suara yang sengaja dibuat sebiasa mungkin demi menjaga situasi agar tidak memicu kepanikan. Sabrina Castellvain yang sedang menyesap teh hangatnya mendongak, lalu tersenyum teduh. "Pagi, Selina. Kamu kelihatan lelah sekali, Sayang. Ada apa?" Selina tidak langsung menjawab. Ia duduk di hadapan wanita paruh baya itu, lalu merogoh saku mantelnya untuk mengeluarkan sebuah amplop putih bersih. "Ada pesan penting dari Z

  • Pengantin Pengganti untuk Tuan Zander   99. Serangan Awal

    Matahari belum sepenuhnya terbit saat mobil kota yang dikendarai Selina membelah jalanan menuju pinggiran kota yang lain. Di kursi belakang, Aswin duduk dengan ketegangan yang kentara, sementara kursi rodanya terlipat rapi di bagasi. Selina sengaja membawa Aswin keluar dari persembunyian Dokter Natasya secara sembunyi-sembunyi demi satu tujuan: mengunjungi panti asuhan tempat adik-adik sepanti Aswin tinggal. Namun, begitu mobil berbelok ke arah gerbang panti, napas Aswin mendadak tercekat. Selina langsung menginjak rem dengan mendadak. Mata mereka terbelalak menatap pemandangan di depan sana. Halaman panti asuhan yang biasanya asri kini luluh lantas. Setengah bangunan utama panti sudah hancur, menyisakan puing-puing beton dan kayu yang berserakan. Dua unit alat berat berupa ekskavator masih menderu keras, merubuhkan sisa-sisa dinding bagian samping seolah tempat itu hanyalah seonggok sampah tak berharga. "Brengsek! Apa-apaan ini?!" Wajah Aswin memerah padam, urat-urat di lehernya

  • Pengantin Pengganti untuk Tuan Zander   98. Menuju Perang Akhir

    Sebuah mobil memasuki halaman, di balik jendela kaca besar yang terhubung langsung dengan ruang makan, Selina berdiri di sana sementara mengatur menu makan malam. Wajahnya langsung sumringah, menyadari siapa yang datang. "Mama sudah pulang!" Selina buru-buru melepas apronnya. Melangkah sedikit tergesa menuju pintu depan. Madam baru saja kembali dari kliniknya. Wanita paruh baya itu tampak lelah. Namun senyumnya merekah saat melihat Selina sudah menjemputnya di depan pintu. "Selamat datang, Ma!" sapa Selina seraya mengambil tas milik Madam. "Ahh ... Kau sudah di sini, sayang?" balas Madam tersenyum lembut. Ia memeluk singkat tubuh putrinya itu karena sudah beberapa hari tak melihat Selina. Mereka berjalan bersama menuju ruang tengah. Langkah Natasya seketika terhenti saat melihat seseorang lagi di rumah itu. "Aswin! Syukurlah kau sudah sadar. Aku khawatir saat Selina mengabari tentang kondisimu yang katanya semakin memburuk. Ku rasa ... sekarang kau sudah dalam tahap pem

  • Pengantin Pengganti untuk Tuan Zander   97. Bertemu Denganya

    "Berhenti!" Selina mengintruksikan ke Lumi yang memegang kemudi, lalu menoleh ke Aswin. "Kita turun di sini." Aswin terkesiap, menatap sekelilingnya yang penuh dengan jejeran mobil. Mereka baru saja keluar dari gedung Castellvain Group dikala matahari mulai tenggelam. Kening pria itu berkerut heran karena mobil berhenti di depan sebuah mall yang padat pengunjung. "Maaf Nona, bukankah kita akan menemui Tuan Zander?" tanya Aswin saat Selina dan Lumi membantunya untuk pindah ke mobil kota yang berukuran lebih kecil. "Kita tidak boleh lengah, Aswin. Paman William punya mata di mana-mana," ujar Selina menatap serius ke manik Aswin. Lalu ia menoleh ke Lumi, "Tolong keliling mall dulu ya sebelum pulang ke rumah," pintanya. "Siap Bos!" balas Lumi dengan sigap. Lalu Selina mulai menyalakan mesin mobil. Ia memacu mobil menuju arah pinggiran kota, melewati jalan-jalan tikus yang jarang dilalui kendaraan besar. Selama perjalanan, tak satu pun dari mereka berbicara. Aswin terus menata

  • Pengantin Pengganti untuk Tuan Zander   96. Pertarungan Sengit

    Ketukan pantofel di atas lantai marmer ruang rapat utama Castellvain Group terdengar seperti detak jam membosankan bagi William. Pria tua itu duduk di kursi samping meja oval besar, menyunggingkan senyum kemenangan saat melihat Selina masuk sendirian. Di belakangnya, jajaran direksi sudah memasang wajah skeptis.Pagi-pagi sekali Selina meminta untuk mengadakan rapat lagi. Para petinggi saham mendesah bosan. Berpikir terlalu banyak membuang waktu karena kemarin sudah rapat, namun hari ini malah diulangi lagi. Namun kali ini Selina hanya sendirian tanpa Lumi yang biasa mengekori. "Nona Selina," sapa William dengan nada merendahkan. "Mana sekretaris Anda itu? Apakah Anda yakin sanggup membaca laporan audit ini? Jika tidak, saya sarankan Anda segera menandatangani pengalihan proyek ke Mahesvara Group demi keselamatan aset kita." Selina tidak menjawab. Ia menarik kursi CEO di ujung meja, namun tetap berdiri. "Rapat belum dimulai, Paman. Kita masih menunggu satu orang lagi." "Siapa?

  • Pengantin Pengganti untuk Tuan Zander   95. Jangan Gegabah!

    " Sayang sekali Aswin..., Zander telah tiada. " Mata Aswin terbelalak dengan pernyataan yang baru saja dia dengar. Mendadak tenaganya hilang, seketika lutut Aswin lemas menghantam lantai. Suara gedebum tumpul membuat semua orang menoleh. "Aswin!" pekik Selina. Dokter dan perawat pun ikut terkejut. Mereka segera membantu Aswin yang masih pucat pasi karena syok berlebihan. "Ti-tidak mungkin! Itu tidak mungkin!" Aswin menggeleng keras. Satu tangannya yang tak patah menarik rambutnya dengan kasar. Kecelakaan itu..., dia sangat yakin telah meminimalisir cedera untuk Zander. Bahkan dia mengorbankan dirinya sendiri dengan membanting setir ke sisi kemudi agar dia yang terhantam pembatas jalan. Lantas, bagaimana bisa Zander yang meninggal dunia? Aswin menggeleng tak percaya. Dia merasa sangat gagal sebagai sekretaris dan pengawal Zander. "Aku yang membunuhnya! Aku membunuhnya!" racau Aswin mulai menampar dirinya sendiri. William yang menyaksikan kejadian itu diam-diam me

  • Pengantin Pengganti untuk Tuan Zander   94. Harus Berhadapan!

    Selina melangkah keluar dari ruangan rapat diikuti Lumi. Wanita itu tak lagi menoleh ke belakang, tempat para eksekutif yang dia tebak tengah menyeringai ke arahnya. Jebakan mereka sudah termakan umpannya. Tanpa bisa dihindari maupun ditolak. Untuk membuktikan kemampuannya dalam memimpin, Selina

  • Pengantin Pengganti untuk Tuan Zander   91. Dituduh Meniru

    Untuk menemukan informasi tambahan ternyata tak semudah yang Selina pikirkan. Isabella terlihat tertekan ketika disinggung tentang kecelakaan itu. Selina menghela napas berat, lalu berbalik menghadap Lumi, “Sudahlah…, lebih baik kita pulang dulu,” ajaknya.Lumi mendesah lelah, sebelum akhirnya men

  • Pengantin Pengganti untuk Tuan Zander   90. Menemui Saksi

    Selina turun dari mobil, diikuti Lumi di belakang. Mereka memasuki perkarangan yang nampak sangat bersih dengan berbagai jenis bunga aneka warna. Di sisi kanan halaman, ada sebuah spot khusus layaknya taman bermain mini dilengkapi berbagai fasilitas bermain.“Bukan main…, tempat ini bagus banget!”

  • Pengantin Pengganti untuk Tuan Zander   89. Aku terima Wasiat itu

    "Mana bisa seperti itu?" Suara William meninggi, membuat semua orang menoleh padanya. Tatapan semua orang membuat William seegra sadar bahwa telah kelepasan. Sabrina bahkan menatapnya dengan raut wajah tak senang serta curiga. William mengumpat dalam hati, lalu cepat-cepat berdehem untuk mencairka

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status