Compartir

Bab 3

Autor: Michelle
Harga diri Vincent membuatnya tidak mau bertanya apa sebenarnya yang terjadi padaku. Dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya membalikkan badan. Jarak di antara kami malam itu terasa seperti terbentang sepanjang satu kota.

Saat aku terbangun keesokan paginya, dia sudah pergi. Manajer rumah memberitahuku bahwa dia dipanggil pergi sebelum fajar. Dia meninggalkan sarapan di atas meja, lengkap dengan secarik catatan. [Ingat makan tepat waktu.]

Tidak lama kemudian, sebuah pesan masuk. [Gaunnya ada di rumah. Coba pakai dan kirimkan fotonya. Bagaimanapun, gaun itu memang dibuat untukmu. Kalau ukurannya nggak pas, akan aku suruh mereka perbaiki. Kalau kamu sudah nggak suka, akan aku pesankan desain terbaru dari Mirela.]

Aku sama sekali tidak berniat mencobanya. Aku mulai membereskan barang-barangku.

Di ruang kerja, aku memasukkan foto-foto kami yang berbingkai, buku-buku yang pernah kami baca bersama, serta tumpukan catatan dan kuitansi ke dalam kardus.

Sebuah buku jurnal terjatuh dari dalam laci. Itu adalah catatan-catatan lama dari masa-masa awal hubungan kami.

Halaman-halamannya sudah menguning. Aku duduk dan membolak-baliknya perlahan.

Pada akhirnya, aku menyisihkan jurnal itu. Aku memutuskan untuk menyimpannya.

Di atas meja konsol dekat sofa terdapat beberapa hadiah dari Vincent. Sebuah kalung khusus dari Keluarga Graves, beberapa perhiasan, serta sebuah jam tangan yang dia dapatkan dari pelelangan keluarga.

Biasanya, kursi yang paling sering dia duduki adalah kursi berlengan berbahan kulit di dekat pintu. Aku duduk di sana, membuka ponsel, mencari beberapa email, lalu mengirimkan barang-barang tersebut.

Setelah itu, aku menjadwalkan kurir untuk mengambilnya keesokan harinya.

Pukul enam sore, ponselku mengingatkanku tentang konser yang akan dimulai pukul delapan.

Aku sudah membeli tiketnya beberapa bulan lalu.

Sebuah band indie yang sedang tur dan terkenal karena selalu menyorot pasangan ke layar besar saat lagu terakhir mereka dimainkan.

Siapa pun yang tertangkap kamera biasanya diharapkan untuk berciuman.

Aku bahkan tidak repot-repot bertanya kepada Vincent apakah dia masih berniat datang. Dia mungkin sudah lupa.

Benar saja, sebelum pertunjukan dimulai, sebuah pesan darinya masuk. [Ada urusan keluarga malam ini. Jangan tunggu aku untuk makan malam.]

Aku membalasnya hanya dengan satu kata. [Oke.]

Tiket yang berhasil aku dapatkan berada di dekat lorong, agak ke sisi kanan. Aku tidak keberatan.

Penampilan band itu sangat bagus. Saat lagu terakhir dimainkan, kamera menyapu seluruh penonton lalu berhenti. Sorotan lampu jatuh tepat pada Vincent yang duduk di barisan depan.

Caroline duduk di sampingnya, kepalanya bersandar ke arah bahu Vincent.

Vokalis utama tertawa dan berkata, “Pasangan beruntung kita terlihat sangat serasi. Bagaimana kalau kita beri mereka waktu sebentar?”

Caroline tertawa dan mendongak untuk menyambut bibir Vincent.

Vincent membeku selama beberapa detik. Kemudian dia segera memalingkan kepalanya dan menoleh ke samping. Di tengah kerumunan penonton, matanya menemukan diriku.

Aku memasukkan ponsel ke dalam tas, berdiri, lalu berjalan menuju pintu keluar.

Dia menyusulku sampai ke koridor. Rambutnya sedikit berantakan, napasnya terdengar tidak teratur. “Kaira ….”

Ekspresinya tampak ragu. Mungkin karena aku tidak menangis ataupun marah.

“Itu bagian dari pertunjukan. Semua orang sedang melihat. Aku nggak mungkin begitu saja menolak ....”

Aku mengangguk. “Aku mengerti.”

Dia terdiam sejenak, lalu mengerutkan kening. “Kamu sedang menyindirku?”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Pengantin yang pergi Sebelum Cinta Terucap   Bab 11

    Dua tahun berlalu lagi. Aku kembali melihat Vincent di sebuah restoran di Romila.Restoran itu berada di ujung sebuah jalan sempit. Pencahayaannya temaram, dan jarak antar meja dibuat cukup jauh.Aku sebenarnya tidak berencana datang ke sana.Daniel yang memilih tempat itu. Saat itu, dia sudah menjadi suamiku.Katanya, makanan di sana enak. Cocok untuk mengakhiri hari yang panjang.Ketika aku masuk, Vincent sudah duduk di dekat jendela. Dia melihatku lebih dulu sebelum aku menyadarinya.Tangannya terhenti di udara. Kini dia sudah terlihat jauh lebih tua.Sebagian besar rambutnya telah memutih. Lengan kemejanya digulung hingga siku, memperlihatkan sebuah bekas luka panjang di pergelangan tangannya.Luka lama yang sudah sembuh, tetapi cukup dalam untuk meninggalkan bekas yang jelas.Dia tampak seperti seseorang yang berkali-kali dihantam kehidupan, lalu dengan susah payah bangkit kembali.Vincent berdiri dan berjalan menghampiriku. Namun, dia berhenti beberapa langkah dariku.Aku memperk

  • Pengantin yang pergi Sebelum Cinta Terucap   Bab 10

    Tiga tahun berlalu. Aku duduk di kamar di fasilitas penelitian, membolak-balik catatan kasus.Di luar, langit mulai gelap. Pada hari ketiga setelah aku pergi, aku sudah mencopot kartu SIM dari ponselku.Aku hanya menerima satu pesan dari Vincent. [Kamu di mana? Aku akan mencarimu.]Aku tidak membalasnya.Setelah itu, aku tidak pernah lagi melihat namanya muncul di ponselku. Aku pikir pada akhirnya dia akan berhenti, dan dia benar-benar berhenti.Belakangan, Teresa berhasil masuk ke program yang sama.Dia menceritakan apa yang diketahuinya tentang Vincent. Dia sudah menemukan makalahku. Dia tahu siapa sebenarnya K. L. Moreau.Dia mencari semua catatan perjalananku, riwayat penerbanganku, setiap tempat yang mungkin aku datangi.Aku tidak meninggalkan jejak apa pun. “Dia tahu tentang anak itu,” kata Teresa. “Laporan yang kamu kirim.”“Dia nggak pernah bilang kepada siapa pun. Tapi seseorang bilang kepadaku, hari itu dia mengurung dirinya di ruang kerja. Saat keluar, matanya merah.”Teresa

  • Pengantin yang pergi Sebelum Cinta Terucap   Bab 9

    Vincent menelepon Caroline. “Lima belas menit. Temui aku di ruang kerja.”Setelah itu, dia menutup telepon dan menyandarkan tubuhnya di kursi.Dia teringat senyum terakhir Kaira.Suatu malam, Karia pulang terlambat dari laboratorium sambil membawa sebuah jurnal. Dia duduk di tepi ranjang dan membolak-balik beberapa halaman. Dia tidak mengangkat wajah, tetapi sudut bibirnya sedikit terangkat.Saat itu, Vincent sedang sibuk memeriksa pesan-pesan di ponselnya. Dia tidak bertanya apa yang membuat Kaira tersenyum. Dia pikir mereka masih punya banyak waktu.Lima belas menit kemudian, Caroline tiba dengan gaun baru dan lipstik yang baru saja dipoles. Dia masuk ke ruang kerja sambil tersenyum. “Vincent, kamu cari aku ….”“Kamu mengirim video kepada Kaira,” potong Vincent. “Malam saat dia pergi.”Senyum Caroline langsung memudar. “Aku hanya ingin ….”“Kamu bilang, ‘Pada akhirnya, siapa yang akan menjadi nyonya?’” Vincent menatapnya tajam. “Apa yang kamu pikirkan saat mengirim video itu?”Caroli

  • Pengantin yang pergi Sebelum Cinta Terucap   Bab 8

    Keesokan paginya, Vincent menelepon Kaira. Tujuh kali dering. Tidak ada jawaban. Dia mencoba lagi. Tetap tidak ada.Vincent berdiri di dalam kamar dan mengirim pesan kepadanya. [Kamu sudah bangun? Aku akan menjemputmu.]Tidak ada balasan.Dia langsung berkendara menuju ke rumahnya. Rumah itu sunyi. Tirai masih tertutup rapat. Tidak ada aroma kopi yang biasanya menyambutnya. Sandal Kaira sudah tidak ada di rak sepatu.Vincent berjalan cepat menuju kamar. Pakaian-pakaiannya masih tersusun rapi di dalam lemari.Namun, sisi kamar milik Kaira sudah kosong. Meja riasnya bersih tanpa satu pun barang. Di dalam laci hanya tersisa beberapa berkas lama.Dia kemudian pergi ke ruang kerja. Di atas meja tergeletak sebuah jurnal usang.Vincent membukanya. Itu adalah jurnal dari tahun pertama hubungan mereka.Catatan terakhir ditulis dengan tinta yang masih tampak baru.[Vincent. Sampai di sini hubungan kita berakhir. Hari ini adalah tanggalnya.]Dia menelepon ponsel Kaira. Langsung masuk ke pesan sua

  • Pengantin yang pergi Sebelum Cinta Terucap   Bab 7

    Aku tidak yakin apakah dia mendengar ucapan kami sebelumnya. Aku menjawab dengan santai, “Sepupu Teresa. Ada masalah keluarga. Dia hanya sedang bercerita kepadaku.”Vincent mengembuskan napas lega yang terdengar jelas. Senyum perlahan muncul di matanya.Dia mengatakan bahwa dirinya sudah meluangkan waktu dua hari untuk mengajakku pergi ke pantai.Aku mengiyakan.“Kaira, aku mencintaimu. Kalau ada sesuatu yang mengganggumu, katakan padaku. Aku berjanji, mulai sekarang aku akan lebih banyak meluangkan waktu untukmu.”Aku mengangguk, persis seperti yang dia inginkan.…Keesokan paginya, dia kembali mengingkari janjinya.Sebuah pesan masuk. [Ada urusan keluarga yang mendadak. Maaf. Aku akan menebusnya lain kali.]Aku sudah menduganya, dan kali ini aku tidak merasa sakit hati.Janji-janjinya sudah lama kehilangan arti bagiku.Malam sebelumnya, aku sudah memesan tiket untuk pergi sendiri.Pantai itu begitu tenang. Aku duduk di kursi rotan di balkon sambil mendengarkan debur ombak.Rasanya ak

  • Pengantin yang pergi Sebelum Cinta Terucap   Bab 6

    Di gerbang kampus, Vincent mengambil sebuah kotak beludru kecil dari bagasi dan menyerahkannya kepadaku. Di dalamnya terdapat seuntai kalung mutiara. Model vintage. Kalung milik ibunya.“Aku tahu kamu masih kesal. Maaf soal gaunnya. Kalau kamu merasa nggak nyaman, aku akan pesankan gaun yang lain untukmu. Dan soal kalung ini, kalau kamu nggak mau lagi karena Caroline sudah pakai, aku bisa minta mereka mendesainnya ulang. Apa pun yang kamu inginkan.”Aku menatap kalung mutiara itu. Sangat indah. Tapi tetap bukan itu yang aku inginkan.Aku menutup kotaknya lalu mengembalikannya kepadanya.“Untuk gaunnya, terserah kamu. Dan soal kalung ini, jangan dipikirkan. Aku harus pergi.”Dia menangkap pergelangan tanganku. “Kaira, sebenarnya ada apa denganmu?”Aku menarik tanganku perlahan. “Nanti akan aku beritahu.”…Di ruang kerja Profesor Helena, dia menyerahkan cetakan ulang jurnal penelitianku.“Makalah ini akan membuat namamu dikenal. Kamu seharusnya bangga.” Dia terdiam sejenak. “Tapi instit

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status