Compartir

Bab 2

Autor: Michelle
Vincent berdiri di sana selama beberapa saat sebelum akhirnya pergi.

Malam itu, dia tiba-tiba muncul di laboratorium tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Di tangannya ada sebuah kotak kecil.

Di dalamnya terdapat sepotong tiramisu.

Aku alergi terhadap kafein. Satu gigitan saja bisa membuat jantungku berdebar kencang dan kulitku dipenuhi biduran.

Sampai sekarang, dia masih saja tidak ingat bahwa tiramisu adalah makanan favorit Caroline, bukan aku.

“Aku pikir kamu mungkin lupa makan karena terlalu sibuk bekerja.” Dia menyodorkan kotak itu kepadaku.

Dia sedang berusaha berdamai denganku. Aku tidak punya alasan untuk menolaknya. Aku pun tersenyum dan berkata, “Terima kasih.”

Vincent tampak terkejut karena aku tidak mengatakan apa-apa lagi.

Dalam perjalanan pulang, dia bertanya, “Kaira, kamu marah sama aku?”

Aku sedang memikirkan data yang harus aku serahkan kepada Teresa, jadi pikiranku sedikit melayang dan hampir tidak mendengar ucapannya. “Maaf, tadi aku sedang melamun. Kamu bilang apa?”

Nada suaraku pasti terdengar sangat dingin, karena Vincent menginjak rem dan menoleh kepadaku. “Kamu masih kesal soal gaun itu?”

“Apa?” Aku berkedip. “Nggak. Kenapa kamu berpikir begitu?”

Dia menatapku selama beberapa detik, lalu kembali mengalihkan pandangan ke jalan. “Kaira, dulu kamu nggak pernah setenang ini.”

Dia benar. Semuanya berubah setahun lalu, ketika Caroline kembali dari luar negeri. Kami terus-menerus bertengkar karena masalahnya. Vincent selalu mengatakan bahwa Caroline hanyalah seseorang yang diasuh oleh keluarganya, sementara aku dianggap terlalu berlebihan.

Pertengkaran terburuk terjadi ketika dia kehilangan kesabaran dan berkata, “Kaira, bisa nggak sekali saja kamu bersikap masuk akal? Aku mengurus bisnis keluarga sepanjang hari. Beban yang aku pikul sudah cukup banyak. Kamu akan menikah denganku. Kamu akan menjadi nyonya Keluarga Graves. Aku pikir kamu akan menjadi orang yang paling memahamiku. Aku nggak punya tenaga untuk terus menghadapi kecemburuanmu yang nggak masuk akal. Caroline sudah seperti keluarga sendiri. Kenapa kamu selalu memperbesar segalanya?”

Kami tidak berbicara selama sebulan. Aku yang akhirnya meminta maaf terlebih dahulu.

Sejak saat itu, hubungan kami mulai perlahan mendingin.

Semua pertengkaran yang terjadi selama setahun terakhir sedikit demi sedikit mengikis hubungan yang dulu kami miliki.

Sekarang, aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi. Tidak ada rasa kehilangan. Tidak ada rasa sakit.

Aku menatapnya dan tersenyum. “Vincent, dulu aku memang masih kekanak-kanakan. Itu nggak akan terjadi lagi.”

Malam itu, ketika Vincent sedang mandi, aku membuka ponsel dan melihat unggahan terbaru Caroline. Sembilan foto dirinya mengenakan gaunku, dengan lengannya melingkar di lengan Vincent. Keterangan fotonya berbunyi, [Bersama orang yang aku cintai.]

Teman-teman kami saling memberikan tanda suka. Seseorang bahkan berkomentar, [Apa itu Vincent?] Caroline membalasnya dengan emoji tersenyum.

Aku ikut menyukai unggahan itu, lalu mengunci ponsel dan berbaring untuk tidur.

Namun baru saja aku memejamkan mata, kasur di sampingku langsung ambles.

Vincent menarikku mendekat, napas hangatnya menyentuh telingaku.

“Kaira ....”

Aku bergeser menjauh dan menahan tangannya. “Vincent, aku lelah malam ini. Jangan malam ini.”

Aku belum pernah menolaknya sebelumnya. Setiap kali kami bertengkar, beginilah cara kami berdamai. Vincent sangat pandai membuat permintaan maaf terasa seperti sebuah bentuk pengabdian.

Dia akan berlutut di sisi ranjang, menggenggam pergelangan kakiku, lalu mengecup perlahan telapak kakiku, seolah-olah penghormatan itu bisa menghapus semua kesalahan yang telah dilakukannya.

Setelah itu, dia akan menarikku ke dalam pelukannya, mengecup ujung jariku satu per satu, lalu membisikkan kata-kata lembut di kulitku sampai akhirnya aku yang luluh terlebih dahulu.

Namun sekarang, dengan kepergianku yang sudah semakin dekat, aku tidak ingin lagi berpura-pura.

Tubuh Vincent seketika menegang.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Pengantin yang pergi Sebelum Cinta Terucap   Bab 11

    Dua tahun berlalu lagi. Aku kembali melihat Vincent di sebuah restoran di Romila.Restoran itu berada di ujung sebuah jalan sempit. Pencahayaannya temaram, dan jarak antar meja dibuat cukup jauh.Aku sebenarnya tidak berencana datang ke sana.Daniel yang memilih tempat itu. Saat itu, dia sudah menjadi suamiku.Katanya, makanan di sana enak. Cocok untuk mengakhiri hari yang panjang.Ketika aku masuk, Vincent sudah duduk di dekat jendela. Dia melihatku lebih dulu sebelum aku menyadarinya.Tangannya terhenti di udara. Kini dia sudah terlihat jauh lebih tua.Sebagian besar rambutnya telah memutih. Lengan kemejanya digulung hingga siku, memperlihatkan sebuah bekas luka panjang di pergelangan tangannya.Luka lama yang sudah sembuh, tetapi cukup dalam untuk meninggalkan bekas yang jelas.Dia tampak seperti seseorang yang berkali-kali dihantam kehidupan, lalu dengan susah payah bangkit kembali.Vincent berdiri dan berjalan menghampiriku. Namun, dia berhenti beberapa langkah dariku.Aku memperk

  • Pengantin yang pergi Sebelum Cinta Terucap   Bab 10

    Tiga tahun berlalu. Aku duduk di kamar di fasilitas penelitian, membolak-balik catatan kasus.Di luar, langit mulai gelap. Pada hari ketiga setelah aku pergi, aku sudah mencopot kartu SIM dari ponselku.Aku hanya menerima satu pesan dari Vincent. [Kamu di mana? Aku akan mencarimu.]Aku tidak membalasnya.Setelah itu, aku tidak pernah lagi melihat namanya muncul di ponselku. Aku pikir pada akhirnya dia akan berhenti, dan dia benar-benar berhenti.Belakangan, Teresa berhasil masuk ke program yang sama.Dia menceritakan apa yang diketahuinya tentang Vincent. Dia sudah menemukan makalahku. Dia tahu siapa sebenarnya K. L. Moreau.Dia mencari semua catatan perjalananku, riwayat penerbanganku, setiap tempat yang mungkin aku datangi.Aku tidak meninggalkan jejak apa pun. “Dia tahu tentang anak itu,” kata Teresa. “Laporan yang kamu kirim.”“Dia nggak pernah bilang kepada siapa pun. Tapi seseorang bilang kepadaku, hari itu dia mengurung dirinya di ruang kerja. Saat keluar, matanya merah.”Teresa

  • Pengantin yang pergi Sebelum Cinta Terucap   Bab 9

    Vincent menelepon Caroline. “Lima belas menit. Temui aku di ruang kerja.”Setelah itu, dia menutup telepon dan menyandarkan tubuhnya di kursi.Dia teringat senyum terakhir Kaira.Suatu malam, Karia pulang terlambat dari laboratorium sambil membawa sebuah jurnal. Dia duduk di tepi ranjang dan membolak-balik beberapa halaman. Dia tidak mengangkat wajah, tetapi sudut bibirnya sedikit terangkat.Saat itu, Vincent sedang sibuk memeriksa pesan-pesan di ponselnya. Dia tidak bertanya apa yang membuat Kaira tersenyum. Dia pikir mereka masih punya banyak waktu.Lima belas menit kemudian, Caroline tiba dengan gaun baru dan lipstik yang baru saja dipoles. Dia masuk ke ruang kerja sambil tersenyum. “Vincent, kamu cari aku ….”“Kamu mengirim video kepada Kaira,” potong Vincent. “Malam saat dia pergi.”Senyum Caroline langsung memudar. “Aku hanya ingin ….”“Kamu bilang, ‘Pada akhirnya, siapa yang akan menjadi nyonya?’” Vincent menatapnya tajam. “Apa yang kamu pikirkan saat mengirim video itu?”Caroli

  • Pengantin yang pergi Sebelum Cinta Terucap   Bab 8

    Keesokan paginya, Vincent menelepon Kaira. Tujuh kali dering. Tidak ada jawaban. Dia mencoba lagi. Tetap tidak ada.Vincent berdiri di dalam kamar dan mengirim pesan kepadanya. [Kamu sudah bangun? Aku akan menjemputmu.]Tidak ada balasan.Dia langsung berkendara menuju ke rumahnya. Rumah itu sunyi. Tirai masih tertutup rapat. Tidak ada aroma kopi yang biasanya menyambutnya. Sandal Kaira sudah tidak ada di rak sepatu.Vincent berjalan cepat menuju kamar. Pakaian-pakaiannya masih tersusun rapi di dalam lemari.Namun, sisi kamar milik Kaira sudah kosong. Meja riasnya bersih tanpa satu pun barang. Di dalam laci hanya tersisa beberapa berkas lama.Dia kemudian pergi ke ruang kerja. Di atas meja tergeletak sebuah jurnal usang.Vincent membukanya. Itu adalah jurnal dari tahun pertama hubungan mereka.Catatan terakhir ditulis dengan tinta yang masih tampak baru.[Vincent. Sampai di sini hubungan kita berakhir. Hari ini adalah tanggalnya.]Dia menelepon ponsel Kaira. Langsung masuk ke pesan sua

  • Pengantin yang pergi Sebelum Cinta Terucap   Bab 7

    Aku tidak yakin apakah dia mendengar ucapan kami sebelumnya. Aku menjawab dengan santai, “Sepupu Teresa. Ada masalah keluarga. Dia hanya sedang bercerita kepadaku.”Vincent mengembuskan napas lega yang terdengar jelas. Senyum perlahan muncul di matanya.Dia mengatakan bahwa dirinya sudah meluangkan waktu dua hari untuk mengajakku pergi ke pantai.Aku mengiyakan.“Kaira, aku mencintaimu. Kalau ada sesuatu yang mengganggumu, katakan padaku. Aku berjanji, mulai sekarang aku akan lebih banyak meluangkan waktu untukmu.”Aku mengangguk, persis seperti yang dia inginkan.…Keesokan paginya, dia kembali mengingkari janjinya.Sebuah pesan masuk. [Ada urusan keluarga yang mendadak. Maaf. Aku akan menebusnya lain kali.]Aku sudah menduganya, dan kali ini aku tidak merasa sakit hati.Janji-janjinya sudah lama kehilangan arti bagiku.Malam sebelumnya, aku sudah memesan tiket untuk pergi sendiri.Pantai itu begitu tenang. Aku duduk di kursi rotan di balkon sambil mendengarkan debur ombak.Rasanya ak

  • Pengantin yang pergi Sebelum Cinta Terucap   Bab 6

    Di gerbang kampus, Vincent mengambil sebuah kotak beludru kecil dari bagasi dan menyerahkannya kepadaku. Di dalamnya terdapat seuntai kalung mutiara. Model vintage. Kalung milik ibunya.“Aku tahu kamu masih kesal. Maaf soal gaunnya. Kalau kamu merasa nggak nyaman, aku akan pesankan gaun yang lain untukmu. Dan soal kalung ini, kalau kamu nggak mau lagi karena Caroline sudah pakai, aku bisa minta mereka mendesainnya ulang. Apa pun yang kamu inginkan.”Aku menatap kalung mutiara itu. Sangat indah. Tapi tetap bukan itu yang aku inginkan.Aku menutup kotaknya lalu mengembalikannya kepadanya.“Untuk gaunnya, terserah kamu. Dan soal kalung ini, jangan dipikirkan. Aku harus pergi.”Dia menangkap pergelangan tanganku. “Kaira, sebenarnya ada apa denganmu?”Aku menarik tanganku perlahan. “Nanti akan aku beritahu.”…Di ruang kerja Profesor Helena, dia menyerahkan cetakan ulang jurnal penelitianku.“Makalah ini akan membuat namamu dikenal. Kamu seharusnya bangga.” Dia terdiam sejenak. “Tapi instit

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status