Short
Putri yang Mereka Biarkan Mati

Putri yang Mereka Biarkan Mati

By:  FinnCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
7Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Bella Basuki sekarat. Leukemia mieloid akut stadium tiga. Dokter keluarga kabari aku lewat telepon, satu-satunya harapan adalah transplantasi sumsum tulang. Dibutuhkan donor yang benar-benar cocok. Dan saudara kembar identik punya tingkat kecocokan hingga sembilan puluh sembilan persen. Aku remas lembar hasil diagnosis itu. Di bagian paling atas tertulis namaku: Gemma Basuki. Namun suara dokter bergetar saat dia berulang kali minta maaf. Terjadi kesalahan administrasi. Yang sakit bukan aku. Melainkan saudara kembarku Bella. Dan obatnya adalah aku. Aku harus segera pulang. Hujan menghantam jendela taksi tanpa henti. Sepanjang perjalanan, aku terus bayangkan gimana semuanya akan terjadi. Ayah akan letakkan cerutunya. Ibu akan terkejut. Lalu aku akan jelaskan kekeliruan itu. Nama di laporan itu memang namaku, tetapi hasil pemeriksaan darah adalah milik Bianca. Aku masih bisa perbaiki semuanya sebelum terlambat. HP-ku tiba-tiba menyala. Grup keluarga. Sebuah pesan singkat dari Ayah muncul di layar. [Gemma divonis penyakit terminal. Bianca nggak boleh jadi pendonor. Ini keputusan keluarga.] Darahku seketika membeku. Mereka sudah lihat berkas yang salah kirim. Mereka kira akulah yang lagi sekarat dan mereka pilih biarkan aku mati. Saat aku dorong pintu rumah hingga terbuka dan lihat sosok Ayah berdiri di sana, aku langsung rasakan hawa di sekelilingku berubah. Seolah suhu ruangan mendadak turun drastis. Seakan seluruh dunia membeku di sekitarku. Mataku mulai terasa panas. Air mata menggenang, nggak mampu kutahan lagi. "Ayah," ucapku lirih, berusaha jaga suaraku agar nggak pecah. "Aku mau tanya sesuatu." Dia angkat kepala dari cerutunya dengan raut kesal. "Kalau yang sedang sekarat itu Bianca," bisikku. "Apa Ayah akan minta aku donorkan sumsum tulangku untuk selamatkan dia?" Ruangan itu langsung sunyi. Ayah perlahan letakkan cerutunya. Keheningan panjang penuhi udara. "Aku nggak akan lakukan itu," jawabnya akhirnya. "Tentu saja nggak. Keluarga kita punya cukup sumber daya. Kita akan cari pendonor lain. Kita nggak akan pernah minta kamu ambil risiko sebesar itu." Senyum tipis terukir di bibirku. Senyum kecil yang pahit. "Bagus," kataku pelan. "Itu jawaban ayah sendiri, jangan nyesal nanti."

View More

Chapter 1

Bab 1

Aula pesta dipenuhi kehangatan cahaya dan riuh tawa ketika aku dorong pintu kayunya yang berat.

Lampu kristal berkilauan di langit-langit. Asap cerutu ayah melayang perlahan penuhi udara. Mereka sedang pesta, rayakan penetapan Bella sebagai pewaris resmi Keluarga Basuki, sekaligus pengambilalihan seluruh operasi pesisir Pantai Timur yang akan dimulai hari Senin nanti.

Kedatanganku seolah buat suhu ruangan turun drastis. Ibu berdiri di meja utama sambil pegang gelas sampanye. Senyumnya langsung retak saat lihat aku.

"Gemma?"

Dia letakkan gelasnya, lalu tepuk pelan bahuku yang basah kuyup, seringan orang yang sedang singkirkan debu dari jaket.

"Kamu basah banget. Kenapa nggak kasih kabar dulu sebelum datang?"

Kemudian tatapannya jatuh pada map yang aku peluk erat di dada. Pupil matanya langsung membesar.

"Ibu." Suaraku bergetar, sementara air hujan terus menetes basahi karpet Persia di bawah kakiku. "Aku bawa hasil laboratorium. Aku mau ...."

Ayah perlahan letakkan pemotong cerutu peraknya. Pelan. Disengaja. Kuku Ibu cengkeram lenganku, tarik aku menjauh ke sudut ruangan yang lebih gelap.

"Jangan malam ini," desisnya tajam. "Lihat situasinya, Gemma. Ini malam penting bagi Bella. Jangan berani-berani hancurin."

Aku terpaku.

"Cukup." Suara Ayah potong dari meja utama.

"Kita sudah baca laporan itu, Gemma. Keluarga sudah ambil keputusan."

Dia sedikit condongkan tubuh. Nada suaranya begitu rendah, namun terasa seperti vonis kematian.

"Bella nggak akan jalani prosedur pengambilan sumsum tulang."

Tubuhnya berdiri tegak bak dinding hitam yang nggak tergoyahkan. Dia bahkan nggak lirik berkas di tanganku.

Sepasang mata abu-abunya yang dingin menyapuku, penuh rasa lelah dan jijik.

"Kamu terobos masuk ke sini," katanya pelan. "Di depan para sepupu dan rekan bisnis keluarga, hanya untuk minta agar Bella dibius dan diambil sumsum tulangnya demi selamatkan hidupmu?"

Dia mendekat sedikit lagi.

"Apa kamu ngerti seberapa besar dampak operasi itu? Hari Senin Bella akan ambil alih jalur pelayaran senilai 480 triliun. Dia nggak boleh ada dalam kondisi lemah."

Rasa dingin merayap masuk hingga ke tulangku. Mereka memang sudah tahu. Mereka baca laporan yang salah. Mereka kira akulah yang menderita leukemia dan mereka pilih berpesta sambil tanda tangani hukuman matiku.

"Ayah." Aku mendongak, gigi-gigiku bergemeletuk tahan dingin. "Laporan itu salah. Aku bisa jelaskan …."

"Aku nggak tertarik dengan sandiwara," potongnya dingin.

"Kalau kamu butuh biaya pengobatan, minta saja ke Martin. Jangan korbankan adikmu."

Martin Cilando.

Aku noleh ke arah pria yang berdiri di dekat perapian. Tunanganku. Pewaris sindikat Cilando. Pria yang saat berusia enam belas tahun, pernah berlutut di hadapanku dan bersumpah akan lindungi aku seumur hidup.

Dia jalan hampiri kita, namun pandangannya bahkan nggak tertuju ke aku. Mata itu lebih dulu cari Bella yang duduk di meja utama kenakan gaun sutra warna sampanye, secantik boneka porselen di bawah cahaya lampu.

Barulah kemudian dia menatapku.

"Gemma," ucapnya lembut, dengan nada yang biasa digunakan untuk tenangkan seekor anjing yang ketakutan. "Ayahmu benar. Hari Senin Bella akan ambil alih pelabuhan. Nilai asetnya capai 480 triliun. Dia nggak boleh lewatkan upacara itu."

"Dia saudara kembarku." Suaraku nyaris pecah. "Kalau dia donorkan sumsum tulangnya, dia bisa selamatkan aku."

"Setelah itu dia butuh tiga bulan masa pemulihan?" Dia jongkok di depanku, lalu cengkeram daguku.

Sentuhannya sedingin es.

"Tiga bulan dalam kondisi lemah sementara para sepupu mulai incar kekuasaannya? Jangan egois."

Aku hanya menatapnya. Perutku terasa mual. Aku palingkan wajah dari mereka semua, lalu memandang Bella.

Dia masih duduk anggun di ujung meja. Gaun sutra warna sampanyenya pantulkan cahaya dengan indah. Wajahnya tujuh puluh persen sama denganku. Namun sejak kecil seratus persen kasih sayang keluarga selalu jadi miliknya.

"Bella." Suaraku hampir tenggelam oleh suara hujan di luar. "Kamu tahu apa yang mereka minta kamu lakukan demi aku. Dan kamu benar-benar bilang … apa pun yang terjadi … kamu nggak akan lakukan itu?"

Bella lebih dulu melirik Ibu, hadiahkan senyum lembut yang selalu mampu tenangkan siapa pun. Barulah dia noleh ke aku. Tatapannya tenang dan dingin.

"Nggak sama sekali."

"Pemeriksaan fisik untuk penetapanku sebagai pewaris tinggal tiga hari lagi. Aku harus ada dalam kondisi sempurna."

Dagunya terangkat angkuh.

"Aku nggak akan hancurkan masa depanku hanya karena kamu."

Aku pejamkan mata. Yang aku rasakan bukan amarah, melainkan sensasi jatuh.

"Tentu saja," bisikku lirih. "Warisanmu jauh lebih penting."

Dan saat itulah kesabaran ayah akhirnya benar-benar habis.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status