LOGINSahabat kecil suamiku mengidap penyakit parah. Demi agar dia bisa merasakan kehangatan keluarga dan tidak meninggalkan rasa penyesalan nantinya, suamiku memberikan kalungku kepadanya dan pergi bersamanya di hari ulang tahunku. Anakku bahkan diangkat jadi anak angkatnya. Dia bilang, “Dian, Lisa sudah mau meninggal, mengalah saja padanya.” Setiap kali aku meminta waktu dan perhatian mereka, anakku akan membantu ayahnya bicara. “Bu, bukankah ibu selalu mengajarkanku agar berjiwa besar? Tante Lisa sudah mau meninggal, kenapa Ibu terus mengganggunya?” Lama kelamaan, aku tidak lagi meminta apapun dari mereka. Suatu malam, aku mendengar pembicaraan putraku dengan ayahnya, “Tante Lisa sangat lembut dan anggun! Alangkah bagusnya jika Ibu bisa seperti dia!” Harris tertawa dan dengan lembut mengusap kepala putra kami. “Meski ibumu agak keras, tapi semua ini dilakukan demi kebaikanmu. Kalau kamu begitu menyukai Tante Lisa, biar dia menjadi Ibu angkatmu saja, oke?” Ternyata, anak yang kulahirkan dengan susah payah tidak menyukaiku. Aku menundukkan kepalaku, lalu diam-diam menutup pintu kamar dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Karena mereka berdua tidak menyukaiku, jadi aku diam-diam pergi meninggalkan mereka.
View MorePagod galing sa biyahe si Felix mula sa pakikipagusap sa mga bagong ka merge sa bago niyang business at hindi pa rin nawawala ang inis ibya sa biyanan sa ginawa nito ng lingid sa knayang kaalaman.Bagamat sinabi ng kanyang asawa na wala itong kinalaman sa naging hakbang ng ama ay hindi niya ito pinaniwalaan.
Kaya kahit sana maaari na siyang umuwi sa ikalawang araw ay mas pinili ni Felix na umuwi sa ikatlo at magpalipas sa kanyang suites sa isang hotel na pagaari din naman niya. Kinabukasan pagpasok niya sa opisina ay nakatawag ng pansin sa kanya ang isang folder na nakapatong sa kanyang lamesa. Ikinagulat at ikinakuyom ng mga kamao ni Felix nang makita ulit ang folder na nasa ibabaw ng table sa kanyang opisina. Sa pagkakatanda niya, matagal na ito doon. Naging abala siya nang sobra nitong nakaraang buwan kaya hindi niya pinagtuunan ng pansin. Pagbuklat niya ay divorce paper iyon mula sa asawa ngunit ang ikinakunot ng noo ni Felix ay ang dahilan o ground ng diborsyo na nakakabilog pa ng pulang ballpen. “What? Ako? May deperensya at hindi magampanan ang pagiging asawa. What the fuck is this?” saad niya nang makita ang dokumentong isinumete ng kanyang asawa. Gigil na nilamukos ni Felix ang divorce paper at saka galit na lumabas ng opisina at sumakay ng kanyang kotse, galit na galit na pinasibad ang sasakyan upang harapin ang asawa. How long has it been that he suffering. Iniisip ba talaga ng babaeng iyon na ganun lamang kadali ang matakasan ang kasalana nito. Eto pa ngayon ang may ganang humingi ng diborsiyo mataspos nilang gawign impiyerno ang buhay ko. Matapos nila akong itali sa kasal na ito. "Hindi.. Hindi niya papayag. Hinding hindi siya papayag na basta na lamang takasan ng babaeng iyon ang lahat ng kanyang galit. Hindi niya hahayaang maging masaya ang babaeng iyon lalong lalo na ang pamilya nito" gigil na sabi ni Felix. Ipinikit ni Felix ang mga mata at napatingala sa kesame ng kanyang opisina. Hindi niya maipaliwanag na maliban sa galit ay mas matindi ang kirot ng dibdib niya. Hindi matanggap ng ego niya na iiwan siya ng babae. Sa pagpikit na iyon nng mga mata ni Felix ay nakita niya ang larawan ni Yuna. Magaganda ang mga ngiti ng babae at malalantik ang pilik ng nakakaakit na mga mata. Ang isang malalim na dimples nito sa kaliwang pisngi ay nageenganyo ng nakakapanabik na gabi. Pero kinilabutan si Felix at napakuyom lalo ang mga kamao dahil ang kaninang nakakaakit na ngiti ay naging nakakasuklam na halakhak. Isang nakakapatid ng katinuang tawa ng isang babaeng bitbit ang maleta habang iniiwan ang isang lalaking kamukha niya. "Hindi...!! Hindi maari. Hind maaari….! " sigaw niFelix ng idilat na ang mga mata. ________ Samantala... Bitbit naman ang kanyang ilang personal na kagamitan ay nilisan ni Yuna ng umagang iyon ang mansion ng mga Altamirano. Balak subukan ni Yuna ang magsimula ulit ng mag-isa. Pero hindi pa man nakakalayo sa lugar ng dating asawa ay isang sasakyang itim ang huminto sa gilid niya. Nagulat siya nang biglang may humatak sa kanya at ipinasok siya sa loob ng kotse. Hindi na ikinagulat ni Yuna na si Felix ang humablot sa kanya at pinauoo siya sa tabi ng driver seat. “Ayon sa papeles na nakarating sa akin, ako raw ay walang silbi sa kama. Pwes gusto kong alamin kung totoo nga iyan at ikaw lamang ang gusto kong makaalam ng mga bagay tungkol dyan. Handa ka na bang patunayan sa korte na wala akong silbi sa kama?" nakangising sabi ni Felix na ikinakilabot ni Yuna. Mahigit isang linggo na rin nang ilatag niya ang divorce paper nila. Ibig bang sabihin ay ngayon lang ito nabasa ni Felix? Naisip ni Yuna. Matapos niyang umalis ng mansyon gamit ang konting pera ay sinikap ni Yuna na magsimula ulit. Naging interior designer siya sa isang housing firm at naging kilala sa larangang iyon. Ngayon ay halos ‘di mabilang ang lalaking nagpaparamdam at umaaligid-aligid sa kanya, bagay na lubha naman ikinagalit iyon ni Felix.Seketika itu, wajah Harris berubah menjadi pusat pasi.Henry merasa sangat emosional, dia melangkah maju dan menarik putriku, “Kamu anak siapa! Lihat dengan jelas siapa ibumu? Ini adalah ibuku!”Putriku langsung menghambur ke dalam pelukanku dan dengan erat merangkul pundakku dengan kedua tangannya. “Ibu, siapa mereka?Aku segera menepis tangan Henry dan dengan lembut menenangkan putriku yang ketakutan, tanpa menyadari bahwa Henry telah jatuh ke lantai. “Jangan takut sayang, mereka adalah kenalan Ibu.”Setelah mendengar ucapanku, putriku pun menyapa mereka dengan suaranya yang lucu, “Halo Paman, halo Kakak.”Henry duduk di lantai dengan linglung, melihatku dengan sabar membujuk putriku, wajahnya jadi merah padam karena marah.“Ibu mendorongku demi anak orang lain! Dulu, di mata ibu hanya ada aku! Ini semua salahmu!” ucapnya sambil menunjuk putriku.“Dasar pencuri! Beraninya kamu mencuri ibuku!”Aku mengerutkan kening, memeluk putriku dalam dekapanku dan memperhatikan Henry dengan wasp
Saat aku merenungkan hal ini, Harris melangkah maju dan menarikku ke dalam pelukannya.“Dian, kamu sudah pulang! Aku tahu, kamu pasti nggak tega meninggalkanku dan Henry! Baguslah kalau kamu sudah pulang, keluarga kita bisa ….”Sebelum dia menyelesaikan ucapannya, aku mendorongnya dan dengan dingin berkata, “Pak Harris, kamu sudah salah paham. Aku adalah dokter psikolog yang akan menangani kasus anakmu. Hubunganku denganmu hanyalah hubungan seorang dokter dan keluarga pasien.”“Anakku?”Mata Harris memancarkan keputusasaan, sama seperti Henry yang menatapku dengan putus asa. Saat ini, matanya sudah sangat memerah.“Dian, kamu bahkan tidak menginginkan anakmu lagi? Aku selalu bilang padanya, setelah emosimu reda, kamu pasti akan kembali. Kalau kamu pulang, semuanya akan baik-baik saja.”Aku tertegun sejenak, tanpa sadar aku menoleh ke arah Henry.Benar saja, kondisinya semakin memburuk setelah Harris muncul dan mendengar percakapan kami.Aku mengerutkan keningku dan menarik Harris kelua
Sekarang, aku sudah sampai di negara asing dan memulai hidup baru.Sebelum hamil, aku mengambil mata kuliah ilmu psikologi. Di lingkungan baru ini, aku memilih untuk melanjutkan studi akademis yang sempat aku tinggalkan karena keluargaku.Hanya di kampus, aku baru benar-benar merasa seperti kembali ke masa lima tahun yang lalu.Waktu itu, aku belum kenal dengan bos mafia Harris dan juga belum melahirkan Henry.Aku hanya mencintai diriku sendiri, nilaiku juga sangat baik. Aku juga bisa melakukan apapun yang aku inginkan.Di lingkungan baru yang bebas dan indah ini, aku perlahan-lahan melupakan masa laluku dan menjadi psikolog anak setempat.Akhirnya, aku juga memiliki keluarga baru, seorang suami yang mencintaiku dan seorang putri yang berumur tiga tahun.Aku kira, aku sudah sepenuhnya melupakan masa lalu.Namun tidak disangka, lima tahun kemudian, aku bertemu lagi dengan Harris dan Henry.Seorang rekan seprofesiku mengundang aku untuk menangani sebuah kasus sulit, aku kembali ke kota y
Karena masih kecil, Henry sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi saat ini.Mendengar aku sudah tidak menginginkannya, dia langsung meraung dan menangis ketakutan.“Tidak! Di mana Ibu? Aku mau Ibu!”Tangisannya membuat Harris yang sudah tertekan menjadi semakin bingung.Biasanya, Harris hanya menemani anak bermain. Dia sama sekali tidak pernah menjaga Henry seharian penuh.Harris terpaksa menggendong Henry hingga tertidur di pelukannya setelah lelah menangis. Saat tengah malam, Henry tiba-tiba terbangun dan menangis mencari ibu lagi. Untuk menenangkan Henry, Harris pun langsung memeluk dan menepuk punggung Henry. “Tidak apa-apa, ibu pasti akan pulang. Dia sangat mencintai kita berdua, dia pasti akan pulang.”Namun, Henry sama sekali tidak mendengarkannya.Air matanya membasahi pipinya, dia menangis tidak terkendali.“Aku mau ibu! Aku mau ibu!”Melihat putranya yang biasanya cerdas dan pengertian berubah menjadi monster kecil yang rewel dan terus menangis serta tidak mau makan da






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.