MasukLeon tidak bergeming. Di tengah kekacauan, ia tetap berdiri tegak dengan aura predator yang tak goyah, meski darah merembes dari luka di pahanya. Ia menjatuhkan senapannya dengan dentang logam yang dingin di atas lantai beton."Kamu ingin kartunya? Ada padaku," suara Leon datar, tanpa emosi, seperti seorang algojo yang sedang membacakan vonis. "Ambil, dan biarkan dia pergi. Kamu hanya menginginkan data itu, Victor. Jangan biarkan obsesimu menghambat bisnismu."Victor tertawa terbahak-bahak, sebuah suara serak yang penuh kegilaan. "Ayah memang menginginkan datanya, Leon. Tapi Ayah jauh lebih ingin melihatmu hancur berkeping-keping. Kamu adalah kegagalan terbaik yang pernah Ayah ciptakan!"Saat Victor terdistraksi oleh euforia kemarahannya, Leon melakukan gerakan yang tidak terduga. Bukan serangan langsung, melainkan sebuah manuver taktis yang sudah ia siapkan sejak menginjakkan kaki di tempat terkutuk itu. Ia melempar sebuah granat—bukan ke arah Victor, melainkan ke arah tangki gas rak
Layar monitor itu berkedip-kedip, menampilkan deretan koordinat GPS yang bergerak mendekat. Leon menggeram. Ia tidak punya waktu untuk drama romansa yang menyesakkan ini. Adrenalin di tubuhnya mulai menurun, dan rasa sakit di pahanya berdenyut seperti dihantam palu godam."Victor tahu tempat ini," bisik Leon, lebih kepada dirinya sendiri. Ia menatap Elena yang masih tampak terguncang. "Dia tidak akan mengirim orang bayaran biasa. Dia membawa unit nya -Antrian.""Siapa mereka?" tanya Elena, suaranya bergetar saat ia melihat Leon mulai mengisi ulang peluru ke dalam senapan serbu HK416."Psikopat berbayar yang tidak akan berhenti sebelum kepala kita ada di atas meja makan ayahnya," sahut Leon dingin. Ia melemparkan sebuah rompi taktis ke arah Elena. "Pakai ini. Jangan tanya kenapa. Dan ambil pistol ini. Jika ada yang mendekat dan dia bukan aku, tembak kepalanya."Suara mesin kendaraan berat mulai terdengar dari kejauhan, membelah kesunyian hutan jati. Bukan hanya satu, tapi setidaknya e
Suara dengung helikopter di atas kepala mereka terasa seperti ribuan lebah yang mengamuk, memekakkan telinga dan mengaburkan pandangan. Leon terkapar di lumpur, darah merembes dari paha dan hidungnya yang patah, sementara Elena berdiri di atasnya dengan napas memburu. Keheningan yang sempat tercipta setelah letusan pistol Leon kini pecah oleh tawa dingin dari pria di helikopter."Sangat dramatis!" teriak suara dari pengeras suara itu. "Tapi kesabaran saya ada batasnya. Habisi mereka!"Laras senapan mesin dari pintu helikopter mulai berputar. Namun, tepat sebelum maut menghujani mereka, Leon—yang seharusnya sudah tak berdaya—melakukan gerakan yang mustahil bagi pria dengan luka tembak di paha. Dengan satu sentakan tangan kirinya, ia menarik kaki Elena hingga wanita itu jatuh tersungkur di atas tubuhnya."Diam atau kita berdua mati!" bisik Leon di telinga Elena. Suaranya bukan lagi suara pria yang sekarat. Itu adalah suara predator yang sedang menghitung langkah.Tratatatatata!Rentetan
Rafe terjatuh dari lantai atas, bahunya tertembak, tapi ia masih terus menembak dengan pistol cadangannya. Rumah Padang itu mulai terbakar di bagian belakang. Api menjilat dinding-dinding kayu tua yang kering, menciptakan pemandangan yang megah sekaligus mengerikan di tengah sawah yang gelap.Leon menarik Elena menuju pintu belakang. Di luar, sawah-sawah membentang luas tanpa perlindungan. Mereka harus berlari di antara pematang dalam gelap sementara peluru-peluru terus mengejar dari belakang."Cepat!" Leon mendorong Elena agar berlari lebih dulu.Suara ledakan besar kembali terdengar dari arah rumah. Bangunan bersejarah itu kini menjadi bola api raksasa. Elena menoleh sekilas dan melihat Leon berdiri di belakangnya, membelakangi api, menembaki dua SUV yang mencoba mengejar mereka melalui jalan tanah."Leon, ayo!" Elena berteriak.Leon baru saja hendak berlari saat sebuah peluru sniper menghantam paha kanannya. Ia terjatuh di atas lumpur sawah yang dingin."Leon!" Elena berlari kembal
"T-tidak bisa terbaca."Elena mulai meremas kertas tersebut dan membuangnya, aura wajahnya agak berbeda.Entah karena apa?Kertas itu masih tergeletak di atas lantai kayu yang kasar, nampak tidak berbahaya di bawah cahaya temaram lampu minyak. Elena mundur selangkah, lalu dua langkah. Ruangan yang tadinya terasa seperti tempat perlindungan yang hangat, tiba-tiba berubah menjadi penjara yang menyesakkan. Aroma kayu tua dan rempah kering kini tercium seperti bau busuk pengkhianatan.Leon, yang masih duduk di tepi ranjang dengan kemeja terbuka dan luka-luka yang mengerikan, menyipitkan mata. "Kamu tidak datang untuk menyelamatkan Ayah. Kamu datang untuk mendapatkan kartu ini. Dan kamu menggunakan ku... kamu menggunakan ku agar Ayah keluar dari persembunyiannya!"Leon terdiam. Ia tidak membantah, tapi wajahnya kembali mengeras menjadi topeng dingin yang tak terbaca. "Dunia ini tidak sesederhana itu, Elena. Ada harga yang harus dibayar untuk keamananmu.""Keamananku atau obsesimu?" Elena
Pintu terbanting terbuka.Sesosok bayangan masuk dengan napas tersengal. Bahunya miring ke satu sisi, bajunya yang semula berwarna abu-abu kini basah oleh noda gelap yang hampir hitam di bawah cahaya kemerahan."Leon!" Elena menjerit pelan, suaranya tertahan di tenggorokan.Leon tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Elena dengan mata yang tampak lebih gelap dari biasanya, mata yang telah melihat neraka dan membawa sedikit darinya pulang. Ia terhuyung, dan Elena segera menangkapnya. Bau mesiu, keringat, dan aroma tembaga yang tajam dari darah segera memenuhi indra penciuman Elena."Kita harus pergi," geram Leon, suaranya parau. "Rafe, kunci jalur belakang. Mereka sudah di gerbang depan.""Tuan, Anda terluka parah," Rafe memperingatkan."Jalankan saja!" bentak Leon.Rafe mengangguk singkat dan menghilang ke kegelapan lorong. Leon menyandarkan seluruh berat tubuhnya pada Elena. Elena bisa merasakan detak jantung Leon yang tidak beraturan melalui kemeja tipisnya.Kendaraan mel







