MasukPernikahan seharusnya menjadi sesuatu yang sangat berharga diantara dua insan manusia. Sayangnya hal ini tidak berlaku bagi Laila Azzahra. Laki-laki yang ia cintai dan baru menjalani bahtera rumah tangga selama tiga tahun, ternyata berselingkuh dengan teman kantornya. Tidak hanya itu, bahkan sang suami selalu memperlakukannya dengan kasar dan hina. Tak terbayang, rasa sakit dan perih yang harus Laila tanggung setiap hari sejak dirinya memutuskan untuk bercerai. Di usia yang masih terbilang muda, Laila harus menanggung beban sebagai seorang single parent. Sesayang apapun Laila pada suaminya ternyata tidak menjamin bahwa dia orang yang tepat, yang bisa dipertahankan. Dapatkan Laila kembali bahagia, setelah penghianatan yang terjadi membuatnya trauma??
Lihat lebih banyak"Laila!" teriak sang mertua dengan lantang. Entah sedang apa dia, sampai-sampai seisi rumah geger dibuatnya.
"Laila! Kamu sedang apa sih? Dari tadi di panggil-panggil, ga denger apa!" teriak ibu mertuanya lagi. "Iya Bu, Sebentar" sahut Laila dari dalam kamar. Saat ini Laila sedang menyusui buah hatinya yang baru saja lahir duam minggu yang lalu. Tidak bisa dibayangkan dua minggu ini waktunya seperti tidak ada habisnya. Tidak ada jeda atau hanya sekedar duduk dengan santai. Semua yang dilakukannya tidak ada gunanya bagi mereka. Di mata keluarga suami, sebagai musibah. Tapi hal itu tidak dipedulikannya, karena sekarang ini Laila sedang fokus mengurus bayinya sendirian. Jika ia memberontak, pasti semuanya akan kacau. Apalagi ancamnya sangat kejam, yaitu perceraian. "Dasar menantu tidak berguna! Mencuci baju saja tidak becus! Di dapur masih berantakan, disini banyak debu. Masa perkejaan seperti ini saja tidak bisa!" teriak mertuanya lagi. Dan hal itu terdengar jelas di telinga Laila. "Ya Tuhan, kenapa dia tidak bisa mengerti dengan keadaanku yang sekarang ini? Bukankah dia juga pernah merasakan bagaimana repotnya menjadi seorang ibu yang sedang menyusui?" kata Laila dalam hatinya. Dengan terpaksa Laila menidurkan bayinya terlebih dahulu, meski ASI yang ia berikan kurang, tapi ia berhasil membuat bayinya tenang dan tertidur. "Maaf Bu. Tadi aku sedang mencuci baju, Arsyila menangis." kata Laila tergopoh-gopoh menghampiri ibu mertuanya. Ya, nama anak Laila adalah Adiva Arsyila Savina. Ia memberi nama itu agar menjadi anak lembut, cerdas dan membawa keberkahan seperti namanya. "Halah alasan! Biang aja kamu malas!" sentak mertuanya. Daripada harus membalas perkataan yang menyakitkan itu, Laila lebih baik segera menuntaskan cuciannya. Lebih cepat lebih baik, mumpung Arsyila masih dalam keadaan tertidur nyenyak. "Kamu itu jadi perempuan harus sigap, Laila. Masih untung suamimu jarang pulang. Coba kalau dia setiap hari pulang, dia pasti risih kalau ternyata pekerjaan rumah ini masih terlihat berantakan. Mikir dong Laila, jangan mau enaknya doang. Lama-lama aku muak kalau keterusan tinggal bersama kamu, darahku tinggi bisa" naik lagi." gerutu mertuanya. "Iya Bu" kata Laila pelan. Hanya itu yang bisa Laila lontarkan. Laila sudah kebal dengan semua perkataan, hinaan, ataupun ejekan ibu mertua yang selalu menusuk ke dalam hatinya. Semua perkataan mertuanya sudah menjadi asumsi sehari-hari. Jadi tidak heran jika hatinya sudah keras layaknya batu dan tidak mudah untuk mencair. Menangis, ya itulah yang saat ini ia lakukan. Air matanya tak bisa dihentikan walau hatinya sudah kebal. Tidak bisa dibayangkan jika Laila terkena baby blues syndrome, pasti hidupnya kacau sekali. "Laila!" teriak ibu mertuanya lagi. Lagi-lagi dia berteriak seperti di dalam hutan. Padahal, tanpa teriakan pun telinga Laila masih bisa mendengar jelas dan dan masih normal. Laila yang saat ini hampir menyelesaikan rutinitasnya mencuci baju, langsung tercekat. "Iya Bu" kata Laila pelan. Ia langsung menghampiri ibu mertuanya. " Kamu masak apa gak? Kenapa sarapannya hanya telor ceplok? Kamu sengaja ya biar ibu tidak makan?" bentak ibu mertuanya. Dia memang sedikit tidak suka dengan telor ceplok. Tapi apa daya, di lemari es hanya ada itu saja, tidak ada sayuran maupun daging yang bisa dimasak. "Maaf Bu. Untuk sementara sarapannya hanya itu. Di lemari es tidak ada sayuran maupun daging, jadi aku buatkan telor ceplok dulu." Laila menyakinkan mertuanya. "Kenapa tidak bilang dari tadi sih? Harusnya dari kemarin-kemarin kamu ngasih tahu ibu, kalau begini siapa yang sudi makan dengan telor ceplok? Melihatnya saja bikin mual!" kata ibu mertuanya yang terlihat kesal sekali. Laila hanya bisa diam dan mengalah. Semua yang ia lakukan di matanya salah terus, hal kecil diurusi semua. Bahkan masak telor ceplok saja dipermasalahkan. Daripada kena amarahnya terus, lebih baik Laila segera membereskan pekerjaan yang belum terselesaikan, takut Arsyila bangun dari tidurnya. "Dasar menantu tidak berguna! Aku benar-benar menyesal merestui pernikahan anakku dengan wanita sepertimu. Awas saja, akan aku adukan nanti kalau Dito sudah pulang!" katanya sambil melengos pergi. Laila pun tersentak mendengar ucapan ibu mertuanya yang seperti itu. Dia benar-benar sudah menganggap Laila seperti sampah. Harusnya ia sadar dari awal, jika ibu mertuanya tidak menyukainya. Tapi apa daya, Laila masih sangat mencintai suaminya. Dan pada akhirnya, Laila menangis lagi. Entah keberapa kalinya ia menangis hanya karena ucapan yang tidak berfaedah itu. Kesal, marah, jengkel, dan muak menjadi satu. Tidak ada yang membela ataupun sekedar perhatian, karena di rumah itu hanya ada Laila dan ibu mertuanya saja. Andai ada salah satu anaknya di sini, mungkin perlakuan ibu mertua tidak sekasar itu. Tapi apakah mereka akan memihak pada Laila? Jika tak ada pihak yang membelanya pasti konflik ini akan berkepanjangan. Dan hal itu akan cukup sulit menjalani hubungan antara Laila dan mertua kedepannya. "Apa aku harus bertahan? Tapi bagaimana dengan Arsyila?" batin Laila yang begitu rapuh. Disaat yang bersamaan, tiba-tiba seseorang tetangga menghampiri ibu mertuanya. Seperti biasa pagi-pagi ini mereka sudah bergosip ria tanpa memikirkan dosa. Apalagi, yang mereka bicarakan tentang keburukan Laila. "Sabar Bu. Jangan marah-marah terus. Nanti cepat tua." kata tetangga itu sembari menyengir. "Bagaimana mau sabar? Dia bikin aku kesal terus setiap hari." jawab mertua Laila dengan ketus. Tentu saja hal ini terdengar oleh Laila, tapi apa mau dikata, semua yang mereka bicarakan sudah kebal di telinganya. ^^^ Kali ini, pekerjaan rumah sudah terselesaikan, kecuali masak. Ya bagimana bisa Laila masak, sementara persediaan bahan makanan sudah habis. Andai ia pegang uang, Laila pasti akan membelinya tanpa harus meminta pada sang mertua. "Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Hidupku serba salah kalau di depan ibu mertua." cicitnya. "Minta uang salah, gak minta uang pun pasti disalahkan juga." Mengingat waktu dulu, sebelum ibu mertuanya berubah sikap, Laila melihat sang suami memberikan uang gajinya pada ibunya. Sedangkan untuknya sama sekali tidak ada. Padahal Laila istrinya, tapi haknya malah tidak ia dapatkan setelah melahirkan anaknya. Apa yang salah pada dirinya? Laila benar-benar kebingungan. Ketika sedang bingung-bingungnya, tiba-tiba saja suara ketukan pintu terdengar jelas di telinganya. Tanpa ragu, Laila pun langsung membuka pintu tanpa mengira siapa yang sudah datang. Akan tetapi, betapa terkejutnya saat pintu itu terbuka dengan lebar. Darahnya seakan berhenti mengalir di dalam tubuh Laila, ketika dua bola matanya menatap dengan tajam. "Kamu..." Laila diam mematung dengan pandangan lurus ke depan. Ia terlihat syok karena yang datang adalah suaminya sendiri. Namun, ia melihat suaminya berdiri tegak di ambang pintu sembari menggandeng tangan seorang perempuan cantik yang membuat hatinya merasa kacau sekali. "Siapa perempuan ini? Kenapa mereka bergandengan tangan?" Kata Laila dalam hatinya."Laila!" teriak seorang wanita dengan lantang.Ya, dia adalah bu Arini, tetangga yang sering ikutan mengkritik saat mantan mertuanya sedang memarahi Laila.Laila langsung terperangah kaget melihat bu Arini sedang menuju menghampiri dirinya."Kamu ngapain ada di sini?" tanya bu Arini dengan sorot mata yang tajam."Sa—"Belum juga Laila selesai bicara, bu Arini langsung menyelanya, "Dan siapa laki-laki ini? Kok kamu keluar rumah sendirian sih. Bukannya suami kamu sedang berada di luar kota?""Maaf bu Arini, saya dan Dito sudah—"Lagi-lagi bu Arini menyela ucapan Laila dengan kasar, "Kamu selingkuh sama Dito ya? Ya ampun, kamu tega benar jadi perempuan. Harusnya kamu sadar diri dong, Laila, kamu itu kalau tidak dinikahi Dito, gak mungkin bisa hidup enak. Gembel kogh tidak tahu diuntung.""Astaghfirullah. Aku tidak selingkuh, bu Arini. Aku memang gembel, tapi aku punya perasaan. Bu Arini jangan lihat aku dari satu sisi saja dong." kata Laila sedikit emosi."Lah, memang kenyataannya begitu
Atas dorongan dari sang ibu, mau tidak mau, Dito pun mengucapkan talak tiga kepada Laila. Dan hal ini membuat Arimbi sangat senang. Sementara Laila, hatinya hancur dan berantakan. Rasa cinta yang ia berikan untuk suaminya, kini dibalas dengan rasa perih yang membatin."Terima kasih, karena selama ini sudah mau menampung orang gembel sepertiku. Semoga kalian bisa berbahagia tanpa adanya aku. Dan satu hal yang harus kamu ingat, Mas. Anakmu sampai kapan pun memiliki ikatan dengan kita walupun pernikahan kita sudah berakhir. Mantan suami atau istri memang ada, tetapi mantan anak itu tidak ada. Aku harap kamu paham dengan perkataanku ini!" kata Laila yang berusaha tegar.Dito hanya bisa diam. Sementara, Arimbi terlihat kegirangan karena untuk menyingkirkan Laila begitu mudah dan cepat. Tapi, melihat Laila sedang berkemas, ia mulai berpikir bagaimana nantinya kalau Laila tidak ada, siapa yang akan menggantikan peran Laila untuk membersihkan rumah?"Tu-tunggu! Kalau dia pergi, nanti siapa ya
Suara kicauan burung kian terdengar, tepat ketika sang fajar menyapa. Saat itu, Laila sedang menjemur pakaian. Penampilannya sangat semrawut. Mata sembab dan seolah tidak punya rasa semangat lagi.Ya bagaimana tidak, semalam itu Laila menolak membersikan kamar untuk seorang perempuan yang tidak tahu malu itu. Sang mertua tentu saja marah besar karena apa yang ia inginkan tidak dituruti oleh Laila. Dan suaminya juga tidak tinggal diam, ia memukul dengan kencang sampai-sampai Laila terjatuh, demi membela perempuan itu daripada istrinya sendiri. Pertengkaran sengit di antara mereka berakhir saat suara tangisan Arsyila terdengar begitu jelas. Sehingga, apa yang akan terjadi, Laila sudah tidak mau memperdulikannya lagi."Lama-lama, luka batinku semakin rusak, Mas. Dan aku tidak yakin, apa bisa aku bertahan lebih lama lagi untuk berada di rumah ini? Cacian ibu aku terima, tapi kalau sudah menyangkut soal perempuan, rasanya aku tidak bisa menerimanya." batin Laila. Baginya, masalah yang suda
Dito terlihat kesal karena Laila tak kunjung mempersilakan dirinya masuk."Ngapain kamu bengong di sini? Minggir! Persilakan masuk kek, apa kek, dasar lemot. Kurang kerjaan aja." sentak Dito, suaminya."Ma-maaf mas. Tapi siapa dia? Kok aku baru melihatnya." kata Laila yang tak bisa lepas menatap wanita itu.Ya, tentu saja matanya tak bisa berkedip, karena wanita itu sangat cantik dan juga seksi. Laila pun tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan wanita itu. Apalagi penampilannya sangat sepadan dengan tubuhnya yang molek."Apa pedulimu? Lebih baik urus saja penampilan mu itu. Sudah kotor, bau lagi. Gak bisa apa dandan sedikit kalau suami sudah pulang!" kata Dito yang begitu nyelekit di ulu hati Laila."Apa hubungannya dengan semua itu? Toh aku hanya menanyakan siapa wanita itu, bukan penampilannya. Ini benar-benar tidak nyambung. Aku nanya ke arah kanan, dia jawab ke arah kiri, dasar laki-laki." kata Laila dalam hatinya lagi."Sabar dong sayang, mungkin dia syok lihat kita datang bersa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.