MasukArka melingkarkan tangannya di pinggang Lia, menarik wanita itu agar merapat sepenuhnya ke dadanya yang bidang. "Itu karena mereka tahu siapa penguasa langit malam ini, Lia. Kamu telah menunjukkan kepada mereka bahwa kecantikanmu hanyalah selubung bagi kecerdasan yang mematikan. Kamu bukan lagi sekadar partner, kamu adalah ratu di sisiku." Arka membenamkan wajahnya di ceruk leher Lia, menghirup aroma parfum mawar yang bercampur dengan aroma alami kulit Lia yang selalu membuatnya kehilangan kewarasan.Lia mendongakkan kepalanya, memberikan akses lebih luas bagi bibir Arka untuk menjelajahi kulit lehernya yang sensitif. "Ahhh ... Arka ... Hmmm ... Ssshhh ...," rintih Lia pelan saat merasakan kecupan-kecupan basah dan gigitan kecil Arka yang memberikan kejutan listrik ke seluruh sarafnya. Ia memutar tubuhnya dalam dekapan Arka, melingkarkan lengannya di leher pria itu, menatap mata Arka yang kini sudah sepenuhnya gelap oleh gairah yang tak tertahankan. "Malam ini ... aku ingin merasa b
Arka menangkap jemari Lia dan mengecupnya pelan tanpa melepaskan pandangan dari jalanan. "Dan karena itu, aku punya sesuatu untukmu malam ini. Sebuah hadiah karena telah menjadi ratu yang begitu tangguh. Kita tidak akan pulang ke rumah biasa malam ini.""Oh ya? Lalu kita ke mana, Tuan Dirgantara?" tanya Lia dengan nada menggoda, matanya berkilat penuh rasa penasaran."Ke tempat yang paling pribadi bagiku. Tempat yang hanya diketahui oleh segelintir orang di dunia ini. Puncak dari segalanya yang telah kubangun," jawab Arka penuh rahasia.Mobil terus melaju hingga mereka sampai di sebuah persimpangan besar. Lampu lalu lintas berubah menjadi merah darah, memaksa Arka menghentikan laju kendaraannya tepat di garis depan. Di bawah bayang-bayang lampu kota yang berkedip, Arka memutar tubuhnya menghadap Lia. Ketegangan yang tadinya bersifat profesional kini berubah menjadi tarikan magnetis yang sangat erotis. Arka menatap bibir Lia dengan lapar, seolah-olah kemenangan mereka malam ini men
Lia masuk ke dalam mobil dan menyandarkan punggungnya pada jok kulit yang nyaman. "Dia memohon, Arka. Dia berlutut di kakiku dan menangis seperti anak kecil. Dia bahkan menawarkan kunci brankas Swiss milik Surya." Lia menoleh ke arah Arka, matanya berkilat penuh gairah akan kekuasaan. "Aku katakan padanya bahwa nasibnya ada di tanganmu. Aku menyebutmu sebagai 'calon suamiku'."Arka menaikkan sebelah alisnya, ia masuk ke kursi pengemudi dan menatap Lia dengan intensitas yang dalam. "Calon suami? Itu sebutan yang sangat berani, Lia. Tapi aku menyukainya. Itu menunjukkan kepada dunia bahwa kau adalah milikku, dan siapa pun yang berurusan denganmu, berurusan dengan seluruh kekuatanku."Arka menjalankan mobilnya, meninggalkan gedung itu menuju malam yang semakin larut. "Dia akan memberikan kuncinya besok. Dan setelah itu, Surya tidak akan punya tempat lagi untuk bersembunyi. Kamu melakukannya dengan sangat baik, Ratu. Intimidasi yang sangat cantik."Lia menggenggam tangan Arka, merasaka
Gelas kristal di atas meja marmer itu tampak bergetar pelan, bukan karena getaran mesin gedung, melainkan karena tangan Hendrawan yang kini tak lagi mampu menahan gejolak ketakutan yang menjalar hingga ke sumsum tulangnya. Suasana di restoran Le Sommet yang tadinya terasa eksklusif dan tenang, kini berubah menjadi ruang interogasi yang menyesakkan bagi pria paruh baya itu. Cahaya lampu kota Jakarta yang gemerlap di balik dinding kaca seolah-olah menjadi saksi bisu atas runtuhnya sebuah imperium kebohongan yang telah ia bangun dengan tetesan keringat rakyat dan kelicikan korporasi selama belasan tahun. Hendrawan menatap tablet di depannya seolah-olah benda tipis itu adalah bom waktu yang siap meledakkan seluruh hidupnya, reputasinya, dan masa depan keluarganya.Lia masih berdiri dengan keanggunan seorang dewi kematian, jemarinya yang lentik merapikan tali tas tangannya dengan gerakan yang sangat santai, sangat kontras dengan kehancuran mental yang sedang dialami lawan bicaranya. Ia m
Lampu kristal yang menggantung di langit-langit restoran privat Le Sommet memantulkan cahaya keemasan yang redup, menciptakan suasana mewah namun penuh dengan rahasia yang menyesakkan. Restoran ini terletak di lantai lima puluh sebuah gedung pencakar langit di jantung Jakarta, tempat di mana hanya segelintir orang dengan pengaruh besar yang bisa memesan meja. Lia Sanjaya duduk dengan tenang di salah satu kursi beludru berwarna biru tua, jari-jarinya yang lentik memutar gelas kristal berisi cairan bening dengan gerakan yang sangat halus. Ia mengenakan gaun sutra berwarna hitam dengan potongan leher yang elegan namun tetap memberikan kesan otoritas yang kuat. Malam ini, ia bukan hanya seorang CEO yang sedang menghadiri makan malam bisnis; ia adalah seorang pemburu yang telah menyiapkan jaring laba-laba paling indah untuk mangsanya.Hendrawan, pria yang selama puluhan tahun menjadi tangan kanan finansial bagi Paman Surya, duduk di hadapannya dengan senyum yang dipaksakan. Hendrawan ada
Aroma kulit jok mobil yang mewah dan sisa-sisa aroma maskulin Arka masih menggantung di udara kabin yang kedap suara, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus menyesakkan setelah badai gairah yang baru saja mereda. Lia menyandarkan kepalanya pada bahu tegap Arka, membiarkan jemari pria itu membelai lembut rambutnya yang sedikit berantakan. Napas mereka yang tadinya memburu kini mulai berangsur normal, meski denyut nadi Lia masih terasa berdetak kencang di ujung jari-jarinya. Di kegelapan parkiran bawah tanah yang sunyi, dunia seolah berhenti berputar hanya untuk mereka berdua. Namun, bagi Lia, kepuasan fisik hanyalah bahan bakar untuk ambisinya yang jauh lebih besar. Di balik matanya yang sayu karena kelelahan yang nikmat, pikirannya sudah melesat jauh melampaui dinding gedung Dirgantara Group, menyusuri lorong-lorong gelap kekuasaan yang masih dikuasai oleh bayang-bayang masa lalunya."Kamu sudah tenang, Sayang?" bisik Arka, suaranya serak namun penuh dengan nada kepemilikan yang
Langkah kaki Arka yang menghantam lantai marmer koridor lantai atas mansion itu terdengar seperti suara guntur yang mendahului badai besar. Ia tidak lagi menggunakan sisa-sisa kesopanan yang biasanya ia tunjukkan di depan para pelayan. Tangan kanannya mencengkeram pergelangan tangan Lia Sanjaya de
Kegelapan di dalam ruang kendali keamanan pribadi Arka Dirgantara terasa begitu pekat, hanya menyisakan pendar biru pucat dari deretan layar monitor yang menempel di dinding. Ruangan ini adalah jantung dari sistem pengawasan mansion, sebuah tempat yang biasanya hanya dimasuki oleh tim keamanan eli
Pintu kamar itu terkunci dengan bunyi klik yang bergema seperti vonis mati bagi kewarasan di dalam ruangan yang luas itu. Arka tidak melepaskan tatapannya dari Lia, matanya gelap, hampir hitam sepenuhnya karena pupil yang melebar akibat adrenalin dan gairah yang sudah meluap melampaui bendungan lo
Kesunyian di koridor lantai lima puluh Dirgantara Group terasa jauh lebih tegang dibandingkan pagi sebelumnya. Arka Dirgantara berjalan dengan langkah yang lebar dan kaku, masing-masing hentakan sepatu kulitnya di atas lantai granit seolah-olah mengumumkan pada seluruh gedung bahwa sang penguasa s







