Home / Romansa / Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku / Bab 79. Sang Rival Muncul.

Share

Bab 79. Sang Rival Muncul.

Author: Ucing Ucay
last update publish date: 2026-02-21 09:04:01

​Suasana di dalam Grand Ballroom pasca-pengusiran keluarga Sanjaya berubah menjadi sebuah ekosistem yang aneh—campuran antara pemujaan terhadap kekuasaan Arka Dirgantara dan ketakutan yang disembunyikan di balik senyum-senyum diplomatis para tamu undangan. Musik orkestra yang kembali mengalun lembut seolah-olah berusaha menghapus gema teriakan histeris Bibi Rina dan langkah kaki Surya Sanjaya yang terseret. Di tengah pusaran perhatian itu, Lia Sanjaya berdiri tegak, merasakan berat gaun sutra h
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 177. Dokumen Pemerasan. 

    ​Udara di dalam ruangan kerja Arka mendadak terasa tipis, seolah-olah oksigen telah disedot habis oleh kehadiran sosok wanita yang pernah menjadi bagian paling kelam dalam sejarah hidupnya. Arka tidak bergerak sedikit pun dari kursi kebesarannya. Punggungnya tegak, tangannya bertaut di atas meja mahoni yang mengilap, sementara matanya yang sehitam jelaga menatap lurus ke arah Elena. Di balik dinding pemisah, Lia menahan napas. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu liar, kontras dengan kesunyian mematikan yang menyelimuti ruangan sebelah. Keheningan itu bukanlah tanda kedamaian, melainkan jeda sebelum badai besar meluluhlantakkan segalanya.​Elena melepaskan tawa kecil yang terdengar sangat merdu namun berbisa. Ia menyilangkan kaki jenjangnya, membiarkan belahan gaun merahnya tersingkap sedikit, sebuah upaya penggoda yang sama sekali tidak membuahkan hasil pada Arka yang tampak seperti patung es. Dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh perhitungan, Elena merogoh t

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 176. Tamu Tak Diundang. 

    ​Pagi itu, atmosfer di lantai utama gedung Dirgantara Group terasa jauh lebih intens dari biasanya. Kesibukan yang luar biasa menyelimuti setiap sudut ruangan, di mana para staf berlarian dengan berkas di tangan dan telepon yang tidak berhenti berdering. Di tengah pusaran aktivitas itu, Lia berdiri dengan anggun di depan meja panjang ruang rapat utama, matanya menatap tajam ke arah layar proyeksi yang menampilkan grafik fluktuasi saham dan rencana pengembangan proyek baru yang sedang ia pimpin. Sebagai wanita yang kini memegang kendali atas salah satu divisi strategis di bawah pengawasan langsung Arka Dirgantara, Lia tidak lagi hanya dikenal sebagai asisten atau jaminan utang, melainkan sebagai otak di balik manuver-manuver bisnis yang mulai disegani oleh para kompetitor. Rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan garis lehernya yang jenjang, sementara blazer hitam yang pas di tubuhnya memberikan kesan profesional sekaligus intimidatif. Namun, di balik ketenangan yang ia tunjukkan, ada

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 175. (++) Malam yang Tak Terlupakan. 

    ​Arka melingkarkan tangannya di pinggang Lia, menarik wanita itu agar merapat sepenuhnya ke dadanya yang bidang. "Itu karena mereka tahu siapa penguasa langit malam ini, Lia. Kamu telah menunjukkan kepada mereka bahwa kecantikanmu hanyalah selubung bagi kecerdasan yang mematikan. Kamu bukan lagi sekadar partner, kamu adalah ratu di sisiku." Arka membenamkan wajahnya di ceruk leher Lia, menghirup aroma parfum mawar yang bercampur dengan aroma alami kulit Lia yang selalu membuatnya kehilangan kewarasan.​Lia mendongakkan kepalanya, memberikan akses lebih luas bagi bibir Arka untuk menjelajahi kulit lehernya yang sensitif. "Ahhh ... Arka ... Hmmm ... Ssshhh ...," rintih Lia pelan saat merasakan kecupan-kecupan basah dan gigitan kecil Arka yang memberikan kejutan listrik ke seluruh sarafnya. Ia memutar tubuhnya dalam dekapan Arka, melingkarkan lengannya di leher pria itu, menatap mata Arka yang kini sudah sepenuhnya gelap oleh gairah yang tak tertahankan. "Malam ini ... aku ingin merasa b

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 174. Klakson Mobil Belakang. 

    ​Arka menangkap jemari Lia dan mengecupnya pelan tanpa melepaskan pandangan dari jalanan. "Dan karena itu, aku punya sesuatu untukmu malam ini. Sebuah hadiah karena telah menjadi ratu yang begitu tangguh. Kita tidak akan pulang ke rumah biasa malam ini."​"Oh ya? Lalu kita ke mana, Tuan Dirgantara?" tanya Lia dengan nada menggoda, matanya berkilat penuh rasa penasaran.​"Ke tempat yang paling pribadi bagiku. Tempat yang hanya diketahui oleh segelintir orang di dunia ini. Puncak dari segalanya yang telah kubangun," jawab Arka penuh rahasia.​Mobil terus melaju hingga mereka sampai di sebuah persimpangan besar. Lampu lalu lintas berubah menjadi merah darah, memaksa Arka menghentikan laju kendaraannya tepat di garis depan. Di bawah bayang-bayang lampu kota yang berkedip, Arka memutar tubuhnya menghadap Lia. Ketegangan yang tadinya bersifat profesional kini berubah menjadi tarikan magnetis yang sangat erotis. Arka menatap bibir Lia dengan lapar, seolah-olah kemenangan mereka malam ini men

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 173. Hadiah di Penthouse. 

    Lia masuk ke dalam mobil dan menyandarkan punggungnya pada jok kulit yang nyaman. "Dia memohon, Arka. Dia berlutut di kakiku dan menangis seperti anak kecil. Dia bahkan menawarkan kunci brankas Swiss milik Surya." Lia menoleh ke arah Arka, matanya berkilat penuh gairah akan kekuasaan. "Aku katakan padanya bahwa nasibnya ada di tanganmu. Aku menyebutmu sebagai 'calon suamiku'."​Arka menaikkan sebelah alisnya, ia masuk ke kursi pengemudi dan menatap Lia dengan intensitas yang dalam. "Calon suami? Itu sebutan yang sangat berani, Lia. Tapi aku menyukainya. Itu menunjukkan kepada dunia bahwa kau adalah milikku, dan siapa pun yang berurusan denganmu, berurusan dengan seluruh kekuatanku."​Arka menjalankan mobilnya, meninggalkan gedung itu menuju malam yang semakin larut. "Dia akan memberikan kuncinya besok. Dan setelah itu, Surya tidak akan punya tempat lagi untuk bersembunyi. Kamu melakukannya dengan sangat baik, Ratu. Intimidasi yang sangat cantik."​Lia menggenggam tangan Arka, merasaka

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 172. Kehancuran Sang Kolega. 

    ​Gelas kristal di atas meja marmer itu tampak bergetar pelan, bukan karena getaran mesin gedung, melainkan karena tangan Hendrawan yang kini tak lagi mampu menahan gejolak ketakutan yang menjalar hingga ke sumsum tulangnya. Suasana di restoran Le Sommet yang tadinya terasa eksklusif dan tenang, kini berubah menjadi ruang interogasi yang menyesakkan bagi pria paruh baya itu. Cahaya lampu kota Jakarta yang gemerlap di balik dinding kaca seolah-olah menjadi saksi bisu atas runtuhnya sebuah imperium kebohongan yang telah ia bangun dengan tetesan keringat rakyat dan kelicikan korporasi selama belasan tahun. Hendrawan menatap tablet di depannya seolah-olah benda tipis itu adalah bom waktu yang siap meledakkan seluruh hidupnya, reputasinya, dan masa depan keluarganya.​Lia masih berdiri dengan keanggunan seorang dewi kematian, jemarinya yang lentik merapikan tali tas tangannya dengan gerakan yang sangat santai, sangat kontras dengan kehancuran mental yang sedang dialami lawan bicaranya. Ia m

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 119. Badai di Kamar.

    ​Langkah kaki Arka yang menghantam lantai marmer koridor lantai atas mansion itu terdengar seperti suara guntur yang mendahului badai besar. Ia tidak lagi menggunakan sisa-sisa kesopanan yang biasanya ia tunjukkan di depan para pelayan. Tangan kanannya mencengkeram pergelangan tangan Lia Sanjaya de

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 116. Pantauan CCTV. 

    ​Kegelapan di dalam ruang kendali keamanan pribadi Arka Dirgantara terasa begitu pekat, hanya menyisakan pendar biru pucat dari deretan layar monitor yang menempel di dinding. Ruangan ini adalah jantung dari sistem pengawasan mansion, sebuah tempat yang biasanya hanya dimasuki oleh tim keamanan eli

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 110. (++) Pelampiasan Frustasi. 

    ​Pintu kamar itu terkunci dengan bunyi klik yang bergema seperti vonis mati bagi kewarasan di dalam ruangan yang luas itu. Arka tidak melepaskan tatapannya dari Lia, matanya gelap, hampir hitam sepenuhnya karena pupil yang melebar akibat adrenalin dan gairah yang sudah meluap melampaui bendungan lo

  • Penguasa Dingin Itu Terobsesi Padaku   Bab 108. Jebakan Lift. 

    ​Kesunyian di koridor lantai lima puluh Dirgantara Group terasa jauh lebih tegang dibandingkan pagi sebelumnya. Arka Dirgantara berjalan dengan langkah yang lebar dan kaku, masing-masing hentakan sepatu kulitnya di atas lantai granit seolah-olah mengumumkan pada seluruh gedung bahwa sang penguasa s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status