LOGINFigo melemparkan sebuah dokumen di hadapan Sora. “Kita akan bercerai enam bulan lagi. Aku nggak akan berubah pikiran,” ucapnya, dingin. Sora menatap dokumen itu tenang. “Baik. Aku juga ingin semuanya segera berakhir.” Sora lelah dengan pernikahan ini. Selama hampir lima tahun menjadi istri Figo, Sora hanya hidup dalam bayang-bayang kebencian pria itu. Tidak ada cinta. Tidak ada kehangatan. Di mata Figo, Sora hanyalah perempuan licik yang mengacaukan hidupnya. Namun, ketika perceraian di depan mata, Figo tiba-tiba berubah.
View More‘Ma, Papa nggak sayang aku, ya?’
‘Kenapa, kok, Shopie nanyanya gitu? Papa sayang, kok, sama Shopie.’
‘Tapi kenapa Papa nggak pernah jemput aku sekolah? Papa juga nggak pernah menginap di rumah kita.’
Sora memejamkan mata ketika percakapannya dengan Shopie tadi pagi kembali terngiang di telinganya.
Gadis sekecil itu sudah mulai mempertanyakan hal-hal yang bahkan orang dewasa pun sering tidak sanggup menjawab.
Dada Sora terasa sesak. Karena dia tahu jawaban sebenarnya terlalu menyakitkan untuk diucapkan pada anak seusia Shopie.
BRAK!!!
Seseorang tiba-tiba membuka pintu ruangan Sora dengan keras, tanpa permisi.
Sora terhenyak. Sontak dia membuka kelopak matanya dan terkejut kala mendapati siapa yang baru saja memasuki ruangannya itu.
Seorang pria jangkung dengan tubuh tegap yang dibalut jas hitam, berjalan menghampiri Sora.
Manik mata abu-abunya menyorot Sora dengan dingin.
Dia berhenti di depan meja Sora lalu setengah melemparkan sebuah dokumen ke atas meja.
“Enam bulan lagi kita akan bercerai. Aku nggak akan berubah pikiran,” ucap Figo dengan suara dingin.
Sora menurunkan pandangannya pada dokumen tersebut. Terdiam. Itu dokumen kontrak pernikahan yang mereka tandatangani empat setengah tahun lalu.
“Kamu jauh-jauh datang ke kantorku cuma untuk mengingatkan aku tentang hal ini?” Sora menatap Figo dengan tatapan datar. Dia lupa, entah kapan terakhir kali Figo datang ke kantornya. Mungkin dua tahun lalu? Itupun karena Figo terpaksa datang untuk menjemput Shopie yang akan dia bawa ke rumah orang tuanya.
“Aku cuma mengingatkan.” Figo menjejalkan satu tangan ke saku celananya. “Bisa jadi kamu lupa dengan perceraian kita, karena terlalu menikmati peran sebagai istri sahku.”
Sora tersenyum getir, samar.
Bagaimana mungkin dia menikmati peran sebagai istri sahnya, jika yang dia dapatkan selama ini hanya pengabaian dan luka?
“Baik. Pastikan kamu sudah menyiapkan berkas-berkas untuk diserahkan ke pengadilan.” Sora tetap berbicara dengan tenang. “Aku juga ingin semuanya segera berakhir.”
Karena itu yang Figo inginkan. Sora tidak akan menahan pria itu lagi dalam pernikahan ini. Dan Sora tidak ingin lagi jadi penghalang hubungan Figo dengan Ivara, mantan kekasihnya yang telah kembali.
Figo mengerutkan keningnya melihat reaksi Sora. Dulu, wanita itu selalu menangis dan meminta maaf ketika Figo membahas perceraian dan melemparkan kata-kata tajam padanya.
Namun entah sejak kapan Sora menjadi setenang itu ketika berhadapan dengannya. Sora bukan lagi wanita yang dulu, yang selalu menunduk dan meminta maaf.
Sekarang wanita itu terlihat asing. Tenang dan dingin.
“Jangan khawatir soal itu.” Rahang Figo berkedut, tanpa melepaskan tatapan dingin yang diselimuti kebencian, dari Sora. “Aku sudah menyiapkannya dari jauh-jauh hari. Perceraian kita akan berjalan sesuai kontrak. Tidak akan mundur satu hari pun.”
Sora kembali terdiam sejenak. Lalu mengangguk singkat. “Bagus.”
“Soal hak asuh Shopie, dia–”
“Shopie akan ikut bersamaku,” sela Sora cepat.
Figo mengangguk samar. Putri mereka yang berusia tiga setengah tahun itu memang dekat dengan Sora, jadi Figo tidak akan menahannya.
Figo tidak pernah merasa ingin berlama-lama berhadapan dengan Sora, jadi ketika urusannya sudah selesai, Figo langsung berbalik pergi dari hadapan Sora tanpa berkata apa-apa lagi.
Sora tercenung menatap punggung pria itu yang perlahan menjauh.
“Aku ada satu permintaan,” ucap Sora tiba-tiba, yang membuat langkah kaki Figo seketika terhenti.
Satu alis Figo terangkat. Dengan enggan dia kembali berbalik menghadap Sora.
Sora menghela napas pelan sejenak, sebelum kembali berkata, “Sebelum kita bercerai bisakah kamu meluangkan sedikit waktumu untuk Shopie?”
Figo seketika terdiam.
Selama ini Sora tidak pernah menuntut apapun dari Figo. Ketika Figo bilang bahwa dia tidak suka melihat Sora setiap hari di rumahnya, maka dengan sabar Sora keluar dari rumah pria itu dan tinggal di apartemennya. Sendirian.
Ketika Figo tidak pernah hadir selama kehamilannya, bahkan tidak menemaninya saat melahirkan, Sora sama sekali tidak mempermasalahkannya. Dia tetap mengurus putri mereka dengan baik seorang diri.
Sora tidak pernah berisik.
Karena Sora tahu bahwa sejak awal, Figo membencinya. Dan selama empat setengah tahun mereka menikah, Sora belajar untuk hidup dengan kebencian itu.
Tetapi hari ini, demi Sophie, Sora rela mengajukan sebuah permintaan. Dan mungkin itu permintaan pertama sekaligus terakhirnya untuk Figo.
Sora ingin agar putrinya dekat dengan ayah kandungnya.
“Kamu nggak perlu menemui Sophie setiap hari kalau itu mengganggu kesibukanmu,” tambah Sora lagi ketika Figo tak kunjung menanggapi ucapannya. “Temui dia saja kalau kamu punya waktu. Tapi jangan terlalu mengabaikannya.”
“Mengabaikannya?” Figo menatap Sora dengan mata disipitkan “Kamu berpikir selama ini aku mengabaikannya?”
Sora tersenyum kecut melihat Figo yang tersinggung karena ucapannya. “Ya, kamu mengabaikannya. Itu fakta yang nggak bisa kamu sangkal, Figo.”
Rahang Figo seketika berubah mengeras. Sorot matanya semakin gelap.
Sora tahu kata-katanya barusan berhasil membuat harga diri Figo terluka. Tapi Sora tidak berniat untuk menarik kembali ucapannya.
“Bisa dihitung jari berapa kali kamu menemui Shopie dalam setahun.” Sora kembali bicara dengan tenang. “Shopie anakmu kalau-kalau kamu lupa. Dia juga butuh perhatian dari ayah kandungnya sendiri, Figo. Jadi….”
Sora menatap wajah Figo yang semakin mengeras. “Pertimbangkan permintaanku baik-baik. Ini permintaan pertama sekaligus terakhir dariku.”
***
Sora tersenyum menatap kalender di hadapannya. Tanggal hari ini sengaja dia lingkari dengan tinta warna merah.Karena hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang ke-18.Tanpa sadar mata Sora sudah berkaca-kaca. Dia tidak menyangka akan sampai di titik ini. Dulu dia pikir, pernikahannya akan kandas di usia yang ke-5. Namun ternyata takdir berkata lain.Pernikahan yang dulu bagai neraka bagi Sora, kini justru sebaliknya. Sora merasa begitu bahagia dan bersyukur memiliki Figo serta ketiga anak mereka dalam hidupnya.“Tapi kenapa sampai sekarang dia belum mengucapkan apa-apa?” gumam Sora seraya meletakkan kembali kalender duduk itu ke atas meja. “Masa dia lupa?”Padahal setiap tahun selama 12 tahun terakhir, Figo tidak pernah melupakan anniversary mereka. Bahkan seringnya Figo yang lebih dulu ingat dengan tanggal itu.Namun hari ini pria itu sama sekali belum membahasnya. Padahal Sora sangat menantikan hari ini sejak lama.Pada saat yang sama ponsel Sora berdering. Dia buru-buru men
Figo dan Sora sengaja mengambil cuti hari itu untuk menemani Caspian yang menjadi salah satu peserta perlombaan renang tingkat nasional.Sejak pagi area kolam renang sudah dipenuhi peserta, orang tua, pelatih serta para pendukung yang datang dari berbagai daerah.Suasana semakin riuh ketika nama Caspian Denver Wiranegara dipanggil untuk bersiap di ruang tunggu atlet.“Papa! Mama!” Caspian melambaikan tangannya dari kejauhan.Sora langsung tersenyum lebar. “Semangat, Sayang!”Caspian mengangguk penuh keyakinan. “Aku pasti menang!”Figo mengangkat ibu jarinya seraya tersenyum pada Caspian. Sebelum akhirnya Caspian menghampiri pelatih.“Aku nggak nyangka, anak yang dulu sering hilang itu sekarang jadi atlet dan semakin besar.” Sora menatap putranya dengan mata berbinar.“Juga semakin keras kepala,” timpal Figo seraya merangkul bahu Sora.Sora langsung mendelik. “Mirip kamu.”“Jangan lupa. Kamu juga keras kepala, Sayang.”“Baiklah. Aku mengakui kalau aku juga keras kepala. Tapi kamu lebih
Figo turun dari mobil, lalu menurunkan kacamata hitam yang sejak tadi membingkai wajahnya.Beberapa anak SMA yang ada di area parkir tampak terpesona melihat Figo. Mereka saling berbisik malu-malu dan tertawa.“Shopie, papa kamu datang!”“Astaga, papa kamu ganteng banget!”“Kok bisa ada om-om seganteng itu?”“Shopie, kalau aku punya papa seganteng papa kamu, udah aku pamerin setiap hari.”Shopie yang sudah terbiasa mendengar ayahnya dipuji berlebihan, hanya memutar bola matanya malas.“Kalian jangan lebay deh.” Shopie geleng-geleng kepala. “Ini saran aja, sih. Jangan kagum sama Papa, atau kalian akan kecewa.”“Kenapa memangnya? Papa kamu galak?”“Nggak, sih.” Shopie menggeleng pelan. “Kalian bakal kecewa karena Papa udah bucin akut sama Mama. Jadi Papa nggak bakal peduli sama cewek-cewek yang kagum sama dia.”“Whoaa! Aku iri banget sama mama kamu.”“Di kehidupan lain, aku berharap bisa menjadi mama kamu.”Shopie tertawa kecil. Saking bucinnya, Shopie sampai jengah melihat mama dan pap
Shopie tersipu-sipu saat Zev datang dan menyerahkan seikat bunga serta cheesecake kesukaannya. Tapi dia berusaha menyembunyikan pipinya yang merah dari Zev.Shopie tidak mau Zev tahu mengenai perasaannya yang menyukai cowok itu. Toh, belum tentu juga Zev menyukainya.Kalau Zev tahu Shopie suka padanya tapi ternyata Zev tidak memiliki perasaan yang sama dengannya, ugh! mau ditaruh di mana mukanya?“Makasih ya, Zev, udah jenguk aku. Kamu nggak les memangnya?”“Lesnya satu jam lagi, sih. Sengaja aku geser jamnya biar aku bisa jenguk kamu dulu.” Zev duduk di single sofa di samping Shopie yang duduk di sofa panjang.Figo tidak mengizinkan Zev masuk ke kamar anak gadisnya. Jadi, Figo yang menyuruh Shopie agar menemui Zev di ruang keluarga.“Masih demam?”“Udah mendingan.”Refleks Zev menjulurkan tangan kanannya ke kening Shopie untuk mengecek suhu tubuhnya.Namun, deheman keras dari Figo yang duduk tak jauh dari mereka, membuat Zev menarik kembali tangannya dengan cepat.Shopie langsung men
“Tolong jaga baik-baik flashdisk ini buat aku,” ucap Figo, “kamu satu-satunya orang yang aku percaya. Jangan sampai datanya bocor. Karena nasib keluargaku ada di sana.”Sora tertegun seraya menatap benda kecil berwarna hitam polos di telapak tangannya itu. Lalu perlahan jari-jarinya mengepal, mengg
Figo mengempaskan dirinya di kursi dan mengembuskan napas kasar setibanya dia di ruangannya. Kemudian melonggarkan simpul dasinya yang terasa mencekik leher.Figo tak pernah menemukan ketenangan setelah bertemu dengan Sora. Wanita itu selalu punya seribu cara untuk melawannya dan membuatnya kehilang
Sora mengerutkan kening, merasa bingung kenapa Figo tiba-tiba membahas kehidupan pribadinya. Padahal pria itu paling anti terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Sora.Sora lalu menatap Figo dingin. “Kalau kamu datang ke sini cuma untuk mengawasi siapa yang berdiri di dekatku,” ujarnya tena
Sora melangkah masuk ke ruangan kerjanya. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat ruang kosong di depan meja.Kedatangan Figo kemarin ke ruangannya masih menyisakan sesak di dalam dada Sora.Deringan ponsel yang berbunyi nyaring mengeluarkan Sora dari keterdiamannya.Seulas senyum kecil terl












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore