MasukBradford berkata dengan nada datar, "Coba kamu lihat, apa dia kelihatan seperti orang yang punya penyakit jantung? Kamu menekannya sampai seperti ini, membuatnya begitu emosional, tapi bukankah dia tetap berdiri baik-baik saja di sana?"Yahya mendadak tertegun, menatap Divya dengan ekspresi terkejut. Bahkan Divya sendiri baru tersadar akan hal ini.Dia tidak boleh mengalami gejolak emosi yang hebat karena penyakit jantungnya. Jika tidak, pasti akan menyebabkan napas menjadi pendek, suplai darah tidak mencukupi, lalu syok hingga pingsan.Sekarang, meskipun hatinya diliputi kesedihan, dia tetap berdiri dengan stabil dan tubuhnya sama sekali tidak merasakan ketidaknyamanan apa pun.Saat ini, Divya tak bisa menahan diri untuk teringat pada perkataan Bradford saat mereka makan di lantai atas sebelumnya. Mungkinkah ... penyakit jantungnya benar-benar telah disembuhkan oleh Bradford?Memikirkan hal itu, dengan perasaan campur aduk antara terkejut, gembira, dan ragu, Divya menatap Bradford dan
"Kurang ajar, kamu benar-benar berani memukulku?" Yahya menutupi wajahnya sambil menatap Bradford dengan tak percaya, marah, dan kaget."Orang tak berperikemanusiaan sepertimu bahkan lebih rendah dari binatang. Kenapa aku nggak boleh memukulmu?" tanya Bradford dengan dingin. "Istri sahmu sakit parah, pilihan pertamamu justru cerai. Nggak punya sedikit pun rasa tanggung jawab dan komitmen. Kamu sama sekali nggak pantas disebut manusia!"Di sekitar mereka, cukup banyak orang yang menonton. Saat itu, mereka pun ikut bersuara."Benar! Istrinya sakit, dia langsung minta cerai. Sekarang malah mau merampas anak dari tangan mantan istrinya. Masih pantaskah dia disebut manusia?""Nggak tanggung jawab sekali. Sekalipun anak diserahkan kepadanya, pasti nggak akan dia rawat dengan baik. Bisa jadi suatu hari anaknya sakit, dia malah tega membuangnya."Yahya murka, berteriak ke arah orang-orang di sekitarnya, "Ini urusan keluargaku sendiri! Kalian semua diam!"Setelah itu, dia menoleh ke Divya, meng
"Kalau begitu, kamu justru lebih gagal lagi. Anakmu sekarang lebih memilih berdiri di belakangku daripada menghadapimu. Dengan kondisi seperti ini, kamu masih punya muka untuk muncul di sini?"Bradford mendengus dingin, menggenggam tangan Hasna, lalu berucap, "Hasna, jangan takut. Selama kamu nggak ingin ikut dengannya, aku nggak akan membiarkan dia membawamu pergi!"Meskipun tidak tahu pasti alasan Divya bercerai dengan pria ini, Bradford bisa melihat dengan jelas bahwa Hasna tidak menyukainya. Selain itu, pria ini punya temperamen buruk. Jelas bukan sosok ayah yang baik."Terima kasih, Paman." Hasna mengangguk kecil, lalu berkata, "Dia jahat. Dia menyakiti Mama. Dia nggak mau aku dan Mama.""Hasna, omong kosong apa yang kamu katakan? Apa semua ini diajarkan oleh Divya?" Pria itu marah dan membentak, "Di mana Divya? Dia di mana sekarang?"Begitu pertanyaan itu selesai dilontarkan, Divya keluar dari restoran dan berkata dengan suara berat, "Yahya, apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan
"Tak kusangka Kak Divya ternyata seorang guru juga. Maaf lho kalau aku lancang." Setelah mengetahui profesi Divya, Bradford langsung berkata demikian sambil tersenyum lebar."Ah, apaan sih? Kalau benar-benar dibandingkan, kamu yang belajar kedokteran dan menyelamatkan orang justru jauh lebih layak dihormati." Divya tertawa geli, lalu balik memuji Bradford.Tak lama kemudian, dia mengemudikan mobil ke sebuah rumah makan yang terletak di samping objek wisata yang sangat terkenal di Kota Jiramo."Seratus Rasa ini adalah rumah makan tua berusia ratusan tahun di Jiramo. Di sini kamu bisa mencicipi hidangan paling khas Jiramo. Dari lantai atas, kamu juga bisa bersandar di pagar dan memandang ke kejauhan, menikmati seluruh keindahan Jiramo."Divya memperkenalkannya sekilas kepada Bradford, lalu mengajaknya masuk ke Seratus Rasa.Karena belum jam makan siang, meskipun ada cukup banyak tamu di dalam, masih tersedia tempat duduk kosong. Divya meminta satu ruang privat di lantai tiga. Mereka bert
"Tapi ...." Divya mengkhawatirkan keselamatan Bradford dan masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi Bradford tersenyum dan menyela ucapannya, menyuruhnya agar tenang.Divya pun hanya bisa memberi tahu Bradford nomor tempat parkir mobilnya, lalu berbisik, "Setelah aku pergi, aku akan telepon polisi. Kamu tahan mereka dulu.""Nggak apa-apa, nggak perlu telepon polisi. Cepat bawa anakmu pergi dulu." Bradford menggeleng, menghentikan niat Divya untuk melapor ke polisi.Divya takut sesuatu terjadi pada Hasna, sehingga dia hanya bisa pergi lebih dulu. Setiap beberapa langkah, dia akan menoleh dengan khawatir."Bocah, kamu sudah menyinggung Pak Saguna, masih ingin pergi? Hari ini, bersiaplah masuk rumah sakit!" Begitu Divya pergi, salah satu orang yang dibawa Saguna langsung mengambil langkah besar ke depan Bradford, berniat bertindak.Bradford berkata, "Tenang dulu. Di sini penuh kamera pengawas. Kita ke sana saja, ke sudut yang nggak ada kameranya.""Heh, bocah ini lumayan teliti juga. Ayo!"
Selama perjalanan, Aulia kerap mendatangi sisi Bradford, entah disengaja atau tidak. Dia melayani dengan penuh perhatian.Para penumpang lain juga tahu bahwa Aulia memang memiliki keperluan dengan Bradford, sehingga tidak merasa ada perlakuan istimewa.Bukankah yang lain juga sama? Dalam kurun waktu tersebut, sudah ada beberapa penumpang yang secara aktif mendatangi Bradford, dengan sopan meminta nomor kontaknya.Walaupun saat ini keluarga mereka belum mengalami penyakit besar atau musibah, siapa yang bisa menjamin bahwa diri mereka atau keluarga mereka tidak akan tertimpa hal buruk di masa depan?Jika suatu hari mereka sendiri atau kerabat mereka mengidap penyakit yang sulit disembuhkan, satu kontak Bradford mungkin saja menjadi penolong nyawa.Bradford tidak punya waktu untuk menerima begitu banyak pasien. Lagi pula, dia selalu memiliki aturan tersendiri dalam mengobati orang. Karena itu, dia langsung memberikan nomor telepon Ismawan, tabib kekaisaran nomor satu di Kota Kyora.Dia me







