Share

Bab 02

Author: @doumbojoe
last update Last Updated: 2026-03-03 08:00:44

Rumah itu hanya memiliki satu lantai. Tiga kamar dan dua kamar mandi berdiri sederhana di dalamnya. Keluarga itu memiliki satu mobil dan satu motor milik Donggala. Tidak ada asisten rumah tangga. Semua pekerjaan rumah diurus oleh Ayana seorang diri.

Setelah mengepel lantai yang ternodai darahnya sendiri hingga bersih, Ayana kini duduk di atas sofa ruang tamu. Di depannya, kotak medis tergeletak dalam keadaan berantakan akibat dilempar Donggala sebelumnya. Tutupnya terbuka, isinya berserakan, namun tidak ada yang peduli untuk merapikannya selain dirinya.

"Haih, kenapa tubuhku seperti ini ya? Padahal aku gadis sehat, yang tidak sakit-sakitan," ucap Ayana pelan pada dirinya sendiri.

Akhir-akhir ini ia merasakan perubahan besar pada tubuhnya. Tubuhnya semakin kurus. Rambutnya semakin sering rontok. Matanya terlihat cekung. Nafasnya pendek. Bahkan nafsu makannya menurun drastis. Setiap hari terasa semakin berat.

"Hoeeeekkk."

Tiba-tiba rasa mual menyerang. Ayana segera berlari ke kamar mandi. Ia membungkuk di depan kloset, mengeluarkan seluruh isi perutnya. Cairan kuning kental keluar dari mulutnya, terasa pahit hingga membuat lidahnya mengkerut.

"Kamu hamil?"

Suara sarkas terdengar dari ambang pintu tepat saat Ayana selesai memuntahkan isi perutnya.

Tanpa perlu menebak lama, Ayana tahu siapa pemilik suara itu. Bukan keluarga. Bukan pula saudara. Dia adalah sahabatnya. Atau lebih tepatnya, mantan sahabatnya.

Ayana mengusap sisa cairan di sudut mulutnya dengan kasar. Ia berdiri tegak lalu membalikkan badan, menatap gadis itu dengan tatapan bengis.

"Apa-apaan tatapan mu itu, Ayana?" tanya gadis itu mengejek. "Cerita sama aku, siapa yang hamilin kamu? Eh, pantasan ya, selama ini nggak pernah makan di kantin lagi, selalu mual-mual ketika belajar. Jangan-jangan...."

Ia menghentikan ucapannya. Namun tanpa dilanjutkan pun, Ayana tahu ke mana arah perkataan itu.

"Emang kenapa kalau aku hamil? Masalah buat kamu?" tanya Ayana sinis.

Ia menyingkirkan bahu gadis di depannya lalu melangkah melewatinya begitu saja.

"Dasar belagu," ucap gadis itu ketus.

Ayana kini berada di kamarnya. Lebih tepatnya, gudang yang tak terpakai. Dulu ia sekamar dengan Ayuna. Namun entah sejak kapan Ayuna mengatakan tidak ingin sekamar dengannya. Tanpa banyak bicara, Ayana dipindahkan ke gudang.

Ruangan itu apek dan sumpek. Kecil, pengap, dan membuat sesak. Hanya ada kasur busa tipis yang hampir rata dengan lantai dan selimut usang yang penuh tambalan.

Ayana merebahkan tubuhnya. Karena terlalu lelah, akhirnya ia tertidur. Tidur yang terlihat begitu damai, seolah membuat siapa pun enggan membangunkannya.

----

Pagi menyapa. Mentari menyinari bumi dengan cahaya keemasan. Di halaman rumah, di atas ranting pohon, burung-burung berkicau saling bersahutan.

Setelah membereskan rumah hingga bersih, Ayana keluar dari kamarnya dengan seragam yang sudah lengkap. Seragam itu kusam, namun tetap terlihat rapi karena Ayana rajin merawatnya.

"Sudah siap kamu, Ayana? Makanan sudah dimasak semua?" tanya Nilam yang ternyata sudah pulang semalam dari rumah sakit, mengantar putri kesayangan mereka.

"Sudah, Bunda," jawab Ayana singkat.

"Hmm, kamu boleh berangkat sekarang," ucap Nilam tanpa menawari Ayana makanan.

Ayana terdiam sejenak. Lalu ia melangkah keluar rumah tanpa menjawab.

Ayuna menatap kepergian kembarannya dalam diam. Pagi ini ia tampak berbeda. Biasanya ia akan terus berkicau hingga membuat orang-orang memarahi Ayana. Namun kali ini ia hanya diam seperti patung.

Ayana berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Membutuhkan waktu hampir empat puluh menit untuk menempuh perjalanan itu.

Di meja makan, Ayuna tersenyum manja.

"Bunda, kakak kenapa ya? Akhir-akhir ini aku lihat dia semakin diam," ucap Ayuna.

"Ngapain dipikirin. Cepat sarapan. Sebentar lagi kita berangkat bareng," sela Donggala.

"Baik, Kak. Kakak memang terbaik," ucap Ayuna sambil mengacungkan dua jempolnya.

Donggala terkekeh. Senyuman haru muncul di wajah kedua orang tua mereka. Keluarga itu terlihat bahagia, kontras dengan Ayana yang saat ini sedang berjalan seorang diri.

Wajahnya pucat. Tubuhnya gemetaran. Langkahnya pendek. Pandangannya kabur.

"Aah, capek banget aku," gumamnya pelan sambil berhenti sejenak.

Mobil dan motor melewati Ayana begitu saja. Setelah merasa cukup beristirahat, ia kembali melangkah menuju sekolah.

Setibanya di sana, tatapan menusuk dari murid-murid lain langsung mengarah padanya.

Ayana merasa canggung. Namun ia berusaha mengabaikannya.

"Serius? Tubuh kurus seperti itu karena hamil?"

"Iya, kamu nggak lihat forum sekolah? Katanya Ayana hamil."

"Hamil? Serius kamu?"

"Aku serius. Kasihan sekali Ayuna punya kembaran gatal seperti dia. Ih amit-amit."

Hamil? pikir Ayana.

Tangannya mengepal lemah.

"Sepertinya aku tahu sumber berita ini," gumamnya pelan.

Ia melangkah mantap menuju kelas. Setibanya di sana, Ayuna dan Brilian sedang bercanda gurau.

"Ayana... Kamu beneran hamil?" tanya Ayuna tanpa mengindahkan tatapan tajam dari Ayana.

Ayana maju mendekati Brilian. Tanpa aba-aba, ia mengangkat tangannya.

Plaaak!

"Berani sekali kamu mengatakan aku hamil? Sejak kapan dan siapa yang menghamiliku, Brilian?" tanya Ayana dengan nafas tersengal.

Hanya dengan menampar Brilian saja, tenaganya terasa terkuras habis.

Brilian menatap Ayana dengan remeh. Ia mendekat, mempersempit jarak di antara mereka.

"Kalau bukan hamil apa, Ayana? Kamu mual-mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan. Apa menurutmu ada hal lain yang lebih tepat dari apa yang kamu rasakan selain hamil?" tanya Brilian pelan, nyaris tak terdengar oleh orang lain.

Tubuh Ayana gemetaran. Ia menatap Brilian yang sedikit lebih tinggi darinya.

"Kenapa kamu tegas seperti ini padaku, Brilian? Aku salah apa sama kamu?" tanya Ayana dengan mata memerah.

Brilian menunduk sedikit, mendekatkan mulutnya ke telinga Ayana.

"Tega? Kamu yang tega padaku, Ayana. Sejak kecil aku selalu menjadi sahabat baikmu. Nyatanya kamu hanya serigala berbulu domba," bisiknya.

Ayana terpaku. Ia bertanya-tanya kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga membuat sahabatnya berubah seperti ini. Sekilas ia melirik ke arah Ayuna. Senyum miring tersungging di bibir kembarannya itu.

Ayuna mendekat, menjauhkan Brilian dari Ayana.

"Ayana! Apa-apaan kamu? Kenapa kamu memukul Brilian? Dia salah apa sama kamu?" tanya Ayuna, membela Brilian dan menyudutkan Ayana.

Brilian memasang wajah kasihan. Ia berpura-pura meneteskan air mata.

"Tidak apa-apa, Ayuna. Memang itu salahku. Aku kan hanya menebak, bukan menuduh dia," ucap Brilian.

Ayuna menatap Brilian dengan iba lalu memeluknya dari samping.

"Kamu tega sama Brilian, Ayana. Hizk..." Air mata Ayuna mulai menetes.

Ayana tercengang. Brilian pun tampak terkejut dalam pelukan Ayuna.

Apa-apaan ini, kenapa dia malah menangis? batin Brilian heran.

Bersamaan dengan itu, derap langkah kaki terdengar dari luar kelas. Donggala bersama teman-temannya datang.

Braaakh!

"Ayana!" pekik Donggala lantang sambil menendang pintu hingga mengeluarkan suara keras.

Ayana tersenyum tipis. Kini ia sadar, air mata Ayuna bukan tanpa sebab.

Tanpa mendengar penjelasan Ayana, Donggala langsung mencekal batang lehernya.

"Apa yang kamu lakukan, Ayana? Hamil? Sama siapa kamu hamil, hah!" bentaknya.

"Aku nggak hamil," elak Ayana.

Namun Donggala justru semakin menekan kepala Ayana ke atas meja.

"Katakan siapa yang menghamilimu, sialan!" sentaknya lagi.

"Aku nggak hamil, Kak. Beneran," ucap Ayana terbata-bata.

Donggala tidak mendengar. Ia menyeret Ayana keluar kelas. Semua murid hanya menonton tanpa membantu.

Ayana diseret ke kolam ikan. Kepalanya hampir dimasukkan ke dalam kolam, namun ia menahannya sekuat tenaga dengan kedua tangan.

"Dasar cewek sialan! Hamil sama siapa kamu, Ayana! Brengsek!" umpat Donggala.

Ia belum berhenti. Donggala melepaskan cekalan di leher Ayana lalu menjambak rambutnya hingga Ayana meringis kesakitan.

"Katakan atau kamu..." ancam Donggala, sengaja menggantung ucapannya.

"Bunuh saja aku..." suara lirih keluar dari mulut Ayana.

Donggala menegang. Cengkeramannya terlepas, menyisakan banyak rambut rontok di tangannya. Ia menatap segenggam rambut itu dengan terkejut.

Sebelum ia kembali bersuara, seorang guru berkacamata bulat datang menghentikan kejadian itu.

"Ada apa ini?" tanya guru tersebut.

Semua murid berkumpul di satu titik, menonton dengan antusias.

Donggala melepaskan genggamannya. Rambut itu jatuh ke tanah. Guru memicingkan mata.

"Kenapa dengan adikmu, Donggala?" tanyanya.

"Tidak apa-apa, Bu. Hanya memberikan pelajaran kecil," jawab Donggala santai.

Guru itu mengangguk pelan lalu menatap Ayana lurus.

"Kamu ikut ibu ke ruang BK," ucapnya.

Ia berbalik. Ayana dengan wajah pucat mengikuti perlahan di belakangnya.

Bisik-bisik murid kembali terdengar. Mencibir dan mencaci tanpa henti.

Ayuna dan Brilian menatap kepergian Ayana dengan pikiran masing-masing.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 05

    "Apa maksud Anda, Dok?" Tiba-tiba Donggala telah berdiri tepat di hadapan dokter yang baru saja membacakan hasil otopsi. Nafasnya memburu, matanya memerah, dan rahangnya mengeras menahan gejolak di dalam dada. Dokter itu menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya terlihat lelah dan jelas menunjukkan kekesalan karena harus menjawab pertanyaan yang sama berulang kali. "Gadis atas nama Ayana Shahab telah meninggal dunia karena kanker stadium akhir. Anda siapanya? Apakah kakak dari gadis ini?" tanya dokter itu dengan nada profesional, meskipun ketegangan terasa di udara. Degh. Donggala terdiam. Tubuhnya terasa luruh, seakan tulangnya tak lagi mampu menopang beban yang tiba-tiba menghantam kesadarannya. Tatapannya kosong, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ingatan datang menyerbu tanpa ampun. Rambut Ayana yang rontok di tangannya. Tatapan lelah yang tak pernah ia pahami. Wajah pucat yang selalu ia abaikan. Mengapa ia tidak menyadarinya? Mengapa ia tidak pernah b

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 04

    Tangisan Brilian semakin keras. Tubuhnya bergetar dalam pelukan kedua orang tuanya. Biantara Grambel dan Rahayu saling berpandangan dengan wajah penuh kecemasan. Pelukan mereka semakin erat, tetapi tangisan putri mereka belum juga mereda. "Ayah... Hizk... Ayana, Ayah... Hizk..." ucap Brilian sesenggukan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar tidak jelas karena tangis yang menyesakkan. "Iya, Ayana kenapa, Nak? Dia melakukan kekerasan padamu?" tanya Biantara dengan suara yang berusaha tenang, meskipun hatinya diliputi kekhawatiran. Brilian menggeleng kuat. Bukan itu maksudnya. "Bunda... Hizk... Ayana... Ayana di belakang aku..." ucapnya dengan suara serak. Mata Biantara dan Rahayu perlahan menoleh ke belakang tanpa melepaskan pelukan dari tubuh putri mereka. Begitu melihat pemandangan itu, kedua mata mereka terbelalak. "Ayana..." suara Rahayu terdengar lirih dan gemetar. Perlahan ia melepaskan pelukannya dari Brilian lalu mendekati tubuh Ayana yang tergeletak. Ia berlut

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 03

    Di dalam ruangan BK, Ayana duduk di kursi yang terasa lebih dingin dari biasanya. Beberapa guru telah berkumpul di ruangan itu. Tatapan mereka lurus, tegas, dan seolah sudah memiliki kesimpulan sendiri sebelum mendengar penjelasan apa pun darinya. Di atas meja, tersedia sebuah tespek dan sebuah wadah plastik kecil untuk menampung air seni. Salah satu guru mengambil wadah itu lalu menyerahkannya kepada Ayana. "Bawa ini ke dalam kamar mandi. Tampung pipismu ke dalam wadah ini," ucap guru itu dengan suara datar tanpa emosi. Ayana tertegun sejenak. Dadanya terasa sesak. Rupanya tidak ada yang benar-benar mempercayai ucapannya. Tidak ada yang mau mendengar penjelasan darinya. Dengan gerakan pelan dan langkah yang terasa berat, Ayana masuk ke dalam kamar mandi yang berada di sudut ruangan BK. Pintu tertutup perlahan di belakangnya. Tangannya gemetar saat menampung air seni yang akan dijadikan bahan tes tersebut. Beberapa menit kemudian, Ayana keluar kembali. Wajahnya pucat. Tang

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 02

    Rumah itu hanya memiliki satu lantai. Tiga kamar dan dua kamar mandi berdiri sederhana di dalamnya. Keluarga itu memiliki satu mobil dan satu motor milik Donggala. Tidak ada asisten rumah tangga. Semua pekerjaan rumah diurus oleh Ayana seorang diri. Setelah mengepel lantai yang ternodai darahnya sendiri hingga bersih, Ayana kini duduk di atas sofa ruang tamu. Di depannya, kotak medis tergeletak dalam keadaan berantakan akibat dilempar Donggala sebelumnya. Tutupnya terbuka, isinya berserakan, namun tidak ada yang peduli untuk merapikannya selain dirinya. "Haih, kenapa tubuhku seperti ini ya? Padahal aku gadis sehat, yang tidak sakit-sakitan," ucap Ayana pelan pada dirinya sendiri. Akhir-akhir ini ia merasakan perubahan besar pada tubuhnya. Tubuhnya semakin kurus. Rambutnya semakin sering rontok. Matanya terlihat cekung. Nafasnya pendek. Bahkan nafsu makannya menurun drastis. Setiap hari terasa semakin berat. "Hoeeeekkk." Tiba-tiba rasa mual menyerang. Ayana segera berlari ke kamar

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab : 01

    Tap. Tap. Tap. Sepasang kaki kurus kering menapaki setiap anak tangga itu dengan susah payah. Langkahnya pelan, berat, seolah tiap pijakan menguras sisa tenaga yang ia miliki. Nafasnya tersengal, dadanya naik turun menahan lelah yang tak pernah benar-benar pergi dari hidupnya. Begitu tiba di lantai dasar, gadis itu berhenti sejenak. Ia memejamkan mata, lalu menghela nafas lega, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menghadapi hari yang entah akan seperti apa. Baru saja ia menarik nafas, tiba-tiba dari arah depan, sepasang mata menatapnya dengan sangat tajam. Tatapan itu penuh kebencian yang sudah terlalu sering ia lihat. Plaaak! Suara tamparan itu menggema di ruangan luas berlantai marmer dingin. Wajah gadis itu tertoleh ke samping. Tubuhnya hampir limbung, namun ia bertahan. Darah perlahan mengalir dari sudut bibirnya, menetes tipis ke dagu. "Bunda... Apa lagi salah ku kali ini?" tanya Ayana dengan suara gemetar. Matanya berkaca-kaca, namun ia berusaha menahannya agar tidak ja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status