로그인Rumah itu hanya memiliki satu lantai. Tiga kamar dan dua kamar mandi berdiri sederhana di dalamnya. Keluarga itu memiliki satu mobil dan satu motor milik Donggala. Tidak ada asisten rumah tangga. Semua pekerjaan rumah diurus oleh Ayana seorang diri.
Setelah mengepel lantai yang ternodai darahnya sendiri hingga bersih, Ayana kini duduk di atas sofa ruang tamu. Di depannya, kotak medis tergeletak dalam keadaan berantakan akibat dilempar Donggala sebelumnya. Tutupnya terbuka, isinya berserakan, namun tidak ada yang peduli untuk merapikannya selain dirinya. "Haih, kenapa tubuhku seperti ini ya? Padahal aku gadis sehat, yang tidak sakit-sakitan," ucap Ayana pelan pada dirinya sendiri. Akhir-akhir ini ia merasakan perubahan besar pada tubuhnya. Tubuhnya semakin kurus. Rambutnya semakin sering rontok. Matanya terlihat cekung. Nafasnya pendek. Bahkan nafsu makannya menurun drastis. Setiap hari terasa semakin berat. "Hoeeeekkk." Tiba-tiba rasa mual menyerang. Ayana segera berlari ke kamar mandi. Ia membungkuk di depan kloset, mengeluarkan seluruh isi perutnya. Cairan kuning kental keluar dari mulutnya, terasa pahit hingga membuat lidahnya mengkerut. "Kamu hamil?" Suara sarkas terdengar dari ambang pintu tepat saat Ayana selesai memuntahkan isi perutnya. Tanpa perlu menebak lama, Ayana tahu siapa pemilik suara itu. Bukan keluarga. Bukan pula saudara. Dia adalah sahabatnya. Atau lebih tepatnya, mantan sahabatnya. Ayana mengusap sisa cairan di sudut mulutnya dengan kasar. Ia berdiri tegak lalu membalikkan badan, menatap gadis itu dengan tatapan bengis. "Apa-apaan tatapan mu itu, Ayana?" tanya gadis itu mengejek. "Cerita sama aku, siapa yang hamilin kamu? Eh, pantasan ya, selama ini nggak pernah makan di kantin lagi, selalu mual-mual ketika belajar. Jangan-jangan...." Ia menghentikan ucapannya. Namun tanpa dilanjutkan pun, Ayana tahu ke mana arah perkataan itu. "Emang kenapa kalau aku hamil? Masalah buat kamu?" tanya Ayana sinis. Ia menyingkirkan bahu gadis di depannya lalu melangkah melewatinya begitu saja. "Dasar belagu," ucap gadis itu ketus. Ayana kini berada di kamarnya. Lebih tepatnya, gudang yang tak terpakai. Dulu ia sekamar dengan Ayuna. Namun entah sejak kapan Ayuna mengatakan tidak ingin sekamar dengannya. Tanpa banyak bicara, Ayana dipindahkan ke gudang. Ruangan itu apek dan sumpek. Kecil, pengap, dan membuat sesak. Hanya ada kasur busa tipis yang hampir rata dengan lantai dan selimut usang yang penuh tambalan. Ayana merebahkan tubuhnya. Karena terlalu lelah, akhirnya ia tertidur. Tidur yang terlihat begitu damai, seolah membuat siapa pun enggan membangunkannya. ---- Pagi menyapa. Mentari menyinari bumi dengan cahaya keemasan. Di halaman rumah, di atas ranting pohon, burung-burung berkicau saling bersahutan. Setelah membereskan rumah hingga bersih, Ayana keluar dari kamarnya dengan seragam yang sudah lengkap. Seragam itu kusam, namun tetap terlihat rapi karena Ayana rajin merawatnya. "Sudah siap kamu, Ayana? Makanan sudah dimasak semua?" tanya Nilam yang ternyata sudah pulang semalam dari rumah sakit, mengantar putri kesayangan mereka. "Sudah, Bunda," jawab Ayana singkat. "Hmm, kamu boleh berangkat sekarang," ucap Nilam tanpa menawari Ayana makanan. Ayana terdiam sejenak. Lalu ia melangkah keluar rumah tanpa menjawab. Ayuna menatap kepergian kembarannya dalam diam. Pagi ini ia tampak berbeda. Biasanya ia akan terus berkicau hingga membuat orang-orang memarahi Ayana. Namun kali ini ia hanya diam seperti patung. Ayana berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Membutuhkan waktu hampir empat puluh menit untuk menempuh perjalanan itu. Di meja makan, Ayuna tersenyum manja. "Bunda, kakak kenapa ya? Akhir-akhir ini aku lihat dia semakin diam," ucap Ayuna. "Ngapain dipikirin. Cepat sarapan. Sebentar lagi kita berangkat bareng," sela Donggala. "Baik, Kak. Kakak memang terbaik," ucap Ayuna sambil mengacungkan dua jempolnya. Donggala terkekeh. Senyuman haru muncul di wajah kedua orang tua mereka. Keluarga itu terlihat bahagia, kontras dengan Ayana yang saat ini sedang berjalan seorang diri. Wajahnya pucat. Tubuhnya gemetaran. Langkahnya pendek. Pandangannya kabur. "Aah, capek banget aku," gumamnya pelan sambil berhenti sejenak. Mobil dan motor melewati Ayana begitu saja. Setelah merasa cukup beristirahat, ia kembali melangkah menuju sekolah. Setibanya di sana, tatapan menusuk dari murid-murid lain langsung mengarah padanya. Ayana merasa canggung. Namun ia berusaha mengabaikannya. "Serius? Tubuh kurus seperti itu karena hamil?" "Iya, kamu nggak lihat forum sekolah? Katanya Ayana hamil." "Hamil? Serius kamu?" "Aku serius. Kasihan sekali Ayuna punya kembaran gatal seperti dia. Ih amit-amit." Hamil? pikir Ayana. Tangannya mengepal lemah. "Sepertinya aku tahu sumber berita ini," gumamnya pelan. Ia melangkah mantap menuju kelas. Setibanya di sana, Ayuna dan Brilian sedang bercanda gurau. "Ayana... Kamu beneran hamil?" tanya Ayuna tanpa mengindahkan tatapan tajam dari Ayana. Ayana maju mendekati Brilian. Tanpa aba-aba, ia mengangkat tangannya. Plaaak! "Berani sekali kamu mengatakan aku hamil? Sejak kapan dan siapa yang menghamiliku, Brilian?" tanya Ayana dengan nafas tersengal. Hanya dengan menampar Brilian saja, tenaganya terasa terkuras habis. Brilian menatap Ayana dengan remeh. Ia mendekat, mempersempit jarak di antara mereka. "Kalau bukan hamil apa, Ayana? Kamu mual-mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan. Apa menurutmu ada hal lain yang lebih tepat dari apa yang kamu rasakan selain hamil?" tanya Brilian pelan, nyaris tak terdengar oleh orang lain. Tubuh Ayana gemetaran. Ia menatap Brilian yang sedikit lebih tinggi darinya. "Kenapa kamu tegas seperti ini padaku, Brilian? Aku salah apa sama kamu?" tanya Ayana dengan mata memerah. Brilian menunduk sedikit, mendekatkan mulutnya ke telinga Ayana. "Tega? Kamu yang tega padaku, Ayana. Sejak kecil aku selalu menjadi sahabat baikmu. Nyatanya kamu hanya serigala berbulu domba," bisiknya. Ayana terpaku. Ia bertanya-tanya kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga membuat sahabatnya berubah seperti ini. Sekilas ia melirik ke arah Ayuna. Senyum miring tersungging di bibir kembarannya itu. Ayuna mendekat, menjauhkan Brilian dari Ayana. "Ayana! Apa-apaan kamu? Kenapa kamu memukul Brilian? Dia salah apa sama kamu?" tanya Ayuna, membela Brilian dan menyudutkan Ayana. Brilian memasang wajah kasihan. Ia berpura-pura meneteskan air mata. "Tidak apa-apa, Ayuna. Memang itu salahku. Aku kan hanya menebak, bukan menuduh dia," ucap Brilian. Ayuna menatap Brilian dengan iba lalu memeluknya dari samping. "Kamu tega sama Brilian, Ayana. Hizk..." Air mata Ayuna mulai menetes. Ayana tercengang. Brilian pun tampak terkejut dalam pelukan Ayuna. Apa-apaan ini, kenapa dia malah menangis? batin Brilian heran. Bersamaan dengan itu, derap langkah kaki terdengar dari luar kelas. Donggala bersama teman-temannya datang. Braaakh! "Ayana!" pekik Donggala lantang sambil menendang pintu hingga mengeluarkan suara keras. Ayana tersenyum tipis. Kini ia sadar, air mata Ayuna bukan tanpa sebab. Tanpa mendengar penjelasan Ayana, Donggala langsung mencekal batang lehernya. "Apa yang kamu lakukan, Ayana? Hamil? Sama siapa kamu hamil, hah!" bentaknya. "Aku nggak hamil," elak Ayana. Namun Donggala justru semakin menekan kepala Ayana ke atas meja. "Katakan siapa yang menghamilimu, sialan!" sentaknya lagi. "Aku nggak hamil, Kak. Beneran," ucap Ayana terbata-bata. Donggala tidak mendengar. Ia menyeret Ayana keluar kelas. Semua murid hanya menonton tanpa membantu. Ayana diseret ke kolam ikan. Kepalanya hampir dimasukkan ke dalam kolam, namun ia menahannya sekuat tenaga dengan kedua tangan. "Dasar cewek sialan! Hamil sama siapa kamu, Ayana! Brengsek!" umpat Donggala. Ia belum berhenti. Donggala melepaskan cekalan di leher Ayana lalu menjambak rambutnya hingga Ayana meringis kesakitan. "Katakan atau kamu..." ancam Donggala, sengaja menggantung ucapannya. "Bunuh saja aku..." suara lirih keluar dari mulut Ayana. Donggala menegang. Cengkeramannya terlepas, menyisakan banyak rambut rontok di tangannya. Ia menatap segenggam rambut itu dengan terkejut. Sebelum ia kembali bersuara, seorang guru berkacamata bulat datang menghentikan kejadian itu. "Ada apa ini?" tanya guru tersebut. Semua murid berkumpul di satu titik, menonton dengan antusias. Donggala melepaskan genggamannya. Rambut itu jatuh ke tanah. Guru memicingkan mata. "Kenapa dengan adikmu, Donggala?" tanyanya. "Tidak apa-apa, Bu. Hanya memberikan pelajaran kecil," jawab Donggala santai. Guru itu mengangguk pelan lalu menatap Ayana lurus. "Kamu ikut ibu ke ruang BK," ucapnya. Ia berbalik. Ayana dengan wajah pucat mengikuti perlahan di belakangnya. Bisik-bisik murid kembali terdengar. Mencibir dan mencaci tanpa henti. Ayuna dan Brilian menatap kepergian Ayana dengan pikiran masing-masing.Di sisi lain, Arthur berhasil menyusul mobil yang sebelumnya menabrak mereka.Mobil tanpa plat itu melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya yang mulai sepi. Namun, baru beberapa saat melarikan diri, sosok Arthur tiba-tiba sudah berdiri tepat di depan mobil tersebut.Tatapan matanya dingin.Perlahan, Arthur mengangkat salah satu tangannya ke atas.Detik berikutnya—Braaaakkkh!!!Kap mobil bagian depan langsung penyok seketika. Suara benturan keras menggema di sekitar jalan. Mesin mobil itu mendadak mati total, lalu asap tebal mulai keluar dari bagian depan kendaraan."Uhuk! Uhuk! Uhuk!"Orang-orang yang berada di dalam mobil langsung terbatuk-batuk akibat asap yang semakin memenuhi ruangan sempit itu."Pintunya! Cepat buka pintunya!""Kenapa nggak bisa dibuka?!"Mereka mulai panik.Tangan mereka terus menarik gagang pintu dengan kasar, tetapi tetap saja pintu mobil itu tidak bisa terbuka.Mereka benar-benar terperangkap di dalam.Asap semakin tebal.Oksigen perlahan menipis.Wajah-
Brilian duduk santai di kursinya yang berada tepat di belakang kursi milik Ayuna. Begitu melihat Ayuna masuk ke dalam kelas, senyum jahil langsung terukir di bibirnya. Tatapannya mengikuti setiap langkah gadis itu. Perlahan, tangan Brilian bergerak menyentuh kursi di depannya.Ayuna yang sama sekali tidak menyadari dirinya akan dijahili, langsung duduk begitu saja.Braaaakkhh!!!Brrruukkh!!!Tubuh Ayuna langsung terjatuh ke lantai."Akh..." ringis Ayuna pelan sambil menahan sakit. Rasa nyeri langsung menjalar di tubuhnya akibat jatuh yang cukup keras itu. Sementara itu, Brilian hanya menyunggingkan senyum kecil. Wajahnya tampak puas, seolah kejadian tadi hanyalah permulaan.Suasana kelas yang sebelumnya ramai perlahan berubah. Bisik-bisik para murid mulai menghilang, berganti dengan keheningan yang menegangkan. Semua orang menahan napas. Sudah lama kelas itu tidak dipenuhi keributan seperti ini."Lo gila, hah!" bentak Ayuna. Ia langsung berdiri dan menatap Brilian dengan sorot mata ta
Tidak jauh berbeda dengan kondisi Ayuna, Brilian juga langsung dibawa ke rumah sakit oleh kedua orang tuanya.Gadis itu masih berada dalam keadaan tidak sadarkan diri ketika dibaringkan di atas ranjang pasien. Beberapa dokter dan perawat segera melakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisinya.Suasana di dalam ruangan terasa tegang.Rahayu berdiri di samping ranjang dengan wajah penuh kecemasan, sedangkan Biantara terus memperhatikan proses pemeriksaan tanpa berkedip.Beberapa saat kemudian, dokter yang menangani Brilian akhirnya menutup hasil pemeriksaan dan menatap kedua orang tua gadis itu."Pasien hanya mengalami syok dan terlalu terkejut," ucap dokter tersebut dengan suara tenang. "Karena itulah pasien sampai pingsan.""Syukurlah..." Rahayu langsung menghela napas lega.Tangannya terulur perlahan, mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.Biantara yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara."Apa yang perlu kami perhatikan, Dok?" tanyanya serius.Dokter itu terdiam ses
"Aku cuma nganterin sampai di sini," ucap Ayna sambil menunjuk pintu ruang kepala sekolah. Arthur menganggukkan kepala pelan, tanda mengerti dengan ucapan gadis itu. "Baik," jawabnya singkat. Beberapa detik kemudian, Arthur kembali menatap Ayna. "Kamu boleh pergi. Terima kasih," ucapnya tenang. Ayna mengangguk pelan. "Iya." Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia langsung membalikkan badan. Langkahnya perlahan menjauh dari pintu ruang kepala sekolah, meninggalkan Arthur yang masih berdiri di sana. Ayna melangkah masuk ke dalam kelasnya dengan tenang. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, namun sosok Ayuna masih belum terlihat. Bangku gadis itu kosong. Seperti biasanya. Ayna menarik kursinya perlahan, lalu duduk tanpa banyak bicara. "Belum masuk lagi?" gumam salah satu murid pelan. "Sepertinya iya," jawab yang lain sambil mengangkat bahu. Ayna tidak menanggapi percakapan itu. Ia hanya diam, menopang dagunya sambil menatap ke arah jendela kelas. --- Di rumah sak
Tidak membutuhkan waktu lama, Ayna sudah rapi dengan seragam lengkapnya. Rambutnya tertata, penampilannya bersih dan anggun. Ia melangkah keluar dari kamar, lalu menuruni setiap anak tangga dengan langkah teratur.Suara tapak kakinya terdengar hingga ke ruang makan.Tarina menoleh, lalu tersenyum saat melihat putrinya turun dari tangga."Kenapa tidak menggunakan lift saja, sayang?" tanya Tarina dengan nada lembut.Ayna membalas dengan senyuman. Ia tetap melangkah menuruni tangga hingga mencapai lantai bawah."Aku ingin sehat, Mom. Naik liftnya jangan dulu," jawab Ayna ringan.Tarina mengangguk pelan, masih tersenyum. "Baiklah. Bagus juga kalau begitu."Di meja makan, Logan, Gabriel, dan Michael sudah duduk dengan santai. Begitu melihat Ayna, ketiganya langsung menyapa."Pagi, Princess," ucap Logan."Pagi," sambung Gabriel dengan senyum hangat."Pagi juga," tambah Michael, menatap adiknya penuh keakraban.Ayna tersenyum lebar."Pagi, abang-abang," jawabnya ceria.Ia kemudian mengalihka
"Tolong... tolong aku... pergi! Jangan mendekat!" suara Ayuna dari dalam kamar kembali terdengar. Suaranya panik dan bergetar, membuat suasana di depan pintu yang tertutup itu semakin tegang. "Dobrak pintu!" perintah Rafael tegas. "Tapi, Ayah... di bawah sana..." Donggala mencoba berbicara, namun ucapannya terhenti saat melihat tatapan ayahnya yang jauh lebih tajam dari sebelumnya. "Baik, Ayah," ucap Donggala akhirnya. Ia mundur selangkah, lalu mengumpulkan tenaga. Bugh! Bugh! Braaaakkkhhh! Pintu kamar itu akhirnya jebol. Daun pintu terhentak keras ke dalam. Di dalam kamar, Ayuna terlihat meringkuk di lantai. Tubuhnya gemetar hebat, wajahnya pucat, dan napasnya tidak teratur. "Ayuna..." panggil Rafael pelan. Ia berlari mendekat, lalu berlutut di samping putrinya. "Kamu kenapa, Ayuna?" "Ayana, Ayah... Ayana... hizk... hizk... dia datang... dia datang, Ayah!" ucap Ayuna terbata. Kepalanya masih tersembunyi di antara kedua lututnya. Rafael terdiam sejenak. Ia menat







