로그인Di dalam ruangan BK, Ayana duduk di kursi yang terasa lebih dingin dari biasanya. Beberapa guru telah berkumpul di ruangan itu. Tatapan mereka lurus, tegas, dan seolah sudah memiliki kesimpulan sendiri sebelum mendengar penjelasan apa pun darinya.
Di atas meja, tersedia sebuah tespek dan sebuah wadah plastik kecil untuk menampung air seni. Salah satu guru mengambil wadah itu lalu menyerahkannya kepada Ayana. "Bawa ini ke dalam kamar mandi. Tampung pipismu ke dalam wadah ini," ucap guru itu dengan suara datar tanpa emosi. Ayana tertegun sejenak. Dadanya terasa sesak. Rupanya tidak ada yang benar-benar mempercayai ucapannya. Tidak ada yang mau mendengar penjelasan darinya. Dengan gerakan pelan dan langkah yang terasa berat, Ayana masuk ke dalam kamar mandi yang berada di sudut ruangan BK. Pintu tertutup perlahan di belakangnya. Tangannya gemetar saat menampung air seni yang akan dijadikan bahan tes tersebut. Beberapa menit kemudian, Ayana keluar kembali. Wajahnya pucat. Tangannya memegang wadah yang sudah terisi. Salah satu guru maju mendekat. Ia menatap isi gelas itu dengan tatapan selidik. "Kamu nggak mencampurkannya dengan air, kan?" tanyanya dengan nada menuduh. "Tidak," jawab Ayana singkat tanpa mengangkat wajahnya. "Bagus. Masukkan tespeknya," ucap guru itu lalu menyuruh salah satu rekan sesama profesinya untuk melakukan tes. Ujung tespek dimasukkan ke dalam wadah berisi air seni tersebut. Semua guru memperhatikan dengan serius. Suasana ruangan menjadi hening. Hanya detak jam dinding yang terdengar pelan. Beberapa saat kemudian, hasilnya terlihat jelas. Ayana terbukti tidak hamil. "Kamu nggak hamil. Keluarlah," ucap guru berkacamata itu singkat. Ayana berdiri perlahan. Ada rasa lega yang mengalir dalam dadanya. Setidaknya satu tuduhan besar itu terbantahkan. Ia melangkah keluar dari ruangan BK dengan perasaan campur aduk. Lega karena dirinya tidak hamil, namun tetap terluka karena tak satu pun mempercayainya sejak awal. Setelah keluar dari ruang BK, kabar mengenai tuduhan bahwa dirinya hamil rupanya telah lebih dulu sampai ke telinga orang tua di rumah. Siapa lagi jika bukan Donggala yang mengadu. Ayana dijemput dari sekolah tanpa banyak bicara. Tidak ada pertanyaan, tidak ada kesempatan untuk menjelaskan. Begitu tiba di rumah, ia langsung diseret menuju ruangan gelap yang sudah sangat familiar baginya. Pintu ditutup keras, lalu terdengar suara kunci diputar dari luar. "Aku tidak hamil, Bunda! Ayah! Tolong aku!" teriak Ayana lantang sambil menggedor pintu yang telah tertutup rapat. Di luar pintu, Nilam dan Rafael saling menatap. Tidak ada sedikit pun kepercayaan di wajah mereka. "Diam! Kamu mempermalukan nama keluarga kita. Diam di situ dan renungkan kesalahanmu," ucap Rafael dengan suara datar tanpa emosi. "Benar-benar anak sialan. Salah apa sih mama sampai melahirkan anak modelan kamu? Bikin malu saja," sahut Nilam tanpa rasa bersalah. Setelah melontarkan hinaan itu, Nilam menggandeng suaminya menjauh dari pintu. Di dalam ruangan yang gelap dan pengap itu, Ayana mulai merasakan nafasnya semakin pendek. Rasa mual datang kembali, lebih kuat dari sebelumnya. Ia muntah tanpa henti. Tubuhnya gemetaran hebat hingga akhirnya ia ambruk di atas lantai dingin yang kotor. Waktu terus berjalan. Jam pulang sekolah telah lewat. Donggala dan Ayuna tiba di rumah dengan wajah ceria seolah tidak terjadi apa-apa. "Ayana mana, Bun?" tanya Donggala. "Biasa," jawab Nilam singkat. Donggala terdiam. Ia menatap ibunya lurus. "Kenapa mama menguncinya di sana?" tanyanya lagi. "Biar dia tahu di mana dan kesalahan apa yang dia perbuat," jawab Nilam enteng. Donggala terkesiap. Ada sesuatu yang menekan dadanya. "Bunda..." ucapnya pelan, penuh rasa bersalah. "Ayana nggak hamil, Bunda," lanjutnya dengan suara lebih lirih. "Nggak hamil?" tanya Nilam terkejut. "Benar, Bunda. Ayana nggak hamil kok." Kali ini bukan Donggala yang menjawab, melainkan Ayuna yang sejak tadi diam mengamati percakapan mereka. Ia tidak suka pembicaraan itu. Tidak suka ketika perhatian mulai mengarah pada Ayana. Padahal Ayana adalah kembarannya sendiri. Namun entah sejak kapan, kebencian itu tumbuh dalam dirinya. Tanpa disadari siapa pun, tangannya mengepal diam-diam. "Ya sudah, syukurlah kalau begitu. Dia nggak malu-maluin nama keluarga kita," ucap Nilam tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Kamu istirahatlah, Sayang. Tubuhmu nggak kuat kalau berdiri lama seperti ini," ucap Nilam dengan suara yang berubah lembut saat menatap Ayuna. Tangannya melambai kecil. Ayuna mendekat. Nilam menyambutnya dengan usapan hangat di rambut. Donggala menatap pemandangan itu dengan senyum tipis, seolah lupa bahwa ada seorang adik lain yang sedang membutuhkan pertolongan. "Makasih ya, Bunda. Bunda memang sangat baik pada Ayuna," ucap Ayuna lembut. Nilam terkekeh pelan. "Kamu bisa saja. Istirahat sana. Jangan kelelahan. Bunda nggak mau kamu masuk rumah sakit lagi." "Baik, Bunda. Makasih ya. Ummmuuuaaach," ucap Ayuna sambil mencium pipi Nilam sebelum masuk ke kamarnya. Langkahnya ringan. Begitu tiba di kamar, Ayuna tersenyum lebar. Ia merasa sangat bahagia hari ini. Namun tak lama kemudian, dadanya terasa semakin sesak. Nafasnya tertahan. Rasa sakit itu datang mendadak dan luar biasa. Dalam keadaan itu, ia menjatuhkan gelas di atas meja hingga pecah, sebagai tanda agar seseorang datang. Benar saja. Donggala masuk dengan wajah panik. "Ayuna!" teriaknya. Nilam dan Rafael ikut datang dengan wajah penuh kekhawatiran. "Pergi! Pergi siapkan mobil, Pah!" teriak Nilam dengan air mata yang sudah menetes. Rafael segera keluar menyiapkan mobil. Donggala menggendong Ayuna, sementara Nilam mengambilkan pakaian untuk dibawa ke rumah sakit. Mereka pergi tergesa-gesa, bahkan lupa menutup pintu rumah. Tidak lama setelah kepergian mereka, Brilian datang membawa kantong plastik di tangannya. Niatnya ingin meminta maaf pada Ayana. Namun ketika melihat rumah sepi, ia ragu untuk masuk. Entah mengapa, sesuatu mendorongnya untuk melangkah ke dalam. Langkahnya terhenti di depan pintu ruangan belakang. Kunci tergantung di lubang kunci. Dengan rasa penasaran, Brilian membukanya perlahan. Bau menyengat langsung menyeruak. Bau muntah, bau pengap, dan bau tak sedap lainnya bercampur menjadi satu. Ia menahan nafas, melangkah masuk beberapa langkah. Karena gelap, ia menyalakan senter dari ponselnya. Cahaya itu menyorot ke arah sosok yang tergeletak di lantai. Braaakh! Ponsel Brilian terjatuh. Ia ikut terhuyung hingga terduduk. Tubuhnya gemetaran tak terkendali. Ia merangkak mendekat, meraih kepala Ayana, mencoba memastikan apakah ia masih hidup. "Aaaakhhh!" teriak Brilian histeris. Sopir yang mengantarnya segera masuk ke dalam rumah. "Nona! Anda di mana?" tanya sopir itu panik. Brilian berusaha menenangkan dirinya. "Aku... aku di sini, Pak..." sahutnya dengan suara gemetar. "Ya ampun, Nona. Ngapain anda ke sini?" tanya sopir itu. "Pak... tolong telepon Ayah sama Bunda... aku takut," ucap Brilian terbata. Sopir itu segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi tuannya. "Hallo, Tuan. Maaf saya mengganggu. Nona Brilian sedang syok, Tuan. Saya disuruh menelpon anda. Apa anda dan Nyonya bisa datang? Nona muda membutuhkan anda berdua," ucapnya hormat. ["Baik, kamu tunggu di sana. Di rumahnya Rafael bukan?"] "Benar, Tuan. Di rumah Tuan Rafael. Hanya saja saat ini penghuni rumah tidak ada. Anda ke sini saja, Tuan. Nona butuh anda," lanjut sopir itu. ["Hmm, ya sudah. Saya dan istri akan segera ke sana."] Sambungan telepon terputus. "Nona, Tuan dan Nyonya akan segera tiba. Apakah anda ingin berpindah tempat?" tanya sopir itu lembut. Brilian hanya menggeleng tanpa menatapnya. Tubuhnya masih gemetar. Matanya terpaku pada Ayana yang tergeletak tidak jauh darinya. Tak lama kemudian, mobil orang tua Brilian tiba di depan rumah Rafael. Kedua orang tua paruh baya itu turun dengan tergesa. "Nolan! Apa yang terjadi pada putriku? Apa sahabatnya membuatnya takut?" tanya ibu Brilian dengan suara khawatir. Nolan menuntun mereka masuk ke ruangan paling belakang yang lebih pantas disebut gudang. Begitu melihat keadaan di dalam, mata mereka membola. Mereka segera mendekat dan memeluk Brilian dengan penuh kasih. "Nak... kenapa kamu berada di sini? Apa orang rumah ini yang menguncimu?" tanya ibu Brilian. "Iya, Nak. Ceritakan pada Ayah. Siapa yang melakukan hal ini padamu?" tanya ayah Brilian penuh kekhawatiran. Brilian tidak menjawab, ia masih terisak dalam pelukan Ayah sama Bundanya.Di sisi lain, Arthur berhasil menyusul mobil yang sebelumnya menabrak mereka.Mobil tanpa plat itu melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya yang mulai sepi. Namun, baru beberapa saat melarikan diri, sosok Arthur tiba-tiba sudah berdiri tepat di depan mobil tersebut.Tatapan matanya dingin.Perlahan, Arthur mengangkat salah satu tangannya ke atas.Detik berikutnya—Braaaakkkh!!!Kap mobil bagian depan langsung penyok seketika. Suara benturan keras menggema di sekitar jalan. Mesin mobil itu mendadak mati total, lalu asap tebal mulai keluar dari bagian depan kendaraan."Uhuk! Uhuk! Uhuk!"Orang-orang yang berada di dalam mobil langsung terbatuk-batuk akibat asap yang semakin memenuhi ruangan sempit itu."Pintunya! Cepat buka pintunya!""Kenapa nggak bisa dibuka?!"Mereka mulai panik.Tangan mereka terus menarik gagang pintu dengan kasar, tetapi tetap saja pintu mobil itu tidak bisa terbuka.Mereka benar-benar terperangkap di dalam.Asap semakin tebal.Oksigen perlahan menipis.Wajah-
Brilian duduk santai di kursinya yang berada tepat di belakang kursi milik Ayuna. Begitu melihat Ayuna masuk ke dalam kelas, senyum jahil langsung terukir di bibirnya. Tatapannya mengikuti setiap langkah gadis itu. Perlahan, tangan Brilian bergerak menyentuh kursi di depannya.Ayuna yang sama sekali tidak menyadari dirinya akan dijahili, langsung duduk begitu saja.Braaaakkhh!!!Brrruukkh!!!Tubuh Ayuna langsung terjatuh ke lantai."Akh..." ringis Ayuna pelan sambil menahan sakit. Rasa nyeri langsung menjalar di tubuhnya akibat jatuh yang cukup keras itu. Sementara itu, Brilian hanya menyunggingkan senyum kecil. Wajahnya tampak puas, seolah kejadian tadi hanyalah permulaan.Suasana kelas yang sebelumnya ramai perlahan berubah. Bisik-bisik para murid mulai menghilang, berganti dengan keheningan yang menegangkan. Semua orang menahan napas. Sudah lama kelas itu tidak dipenuhi keributan seperti ini."Lo gila, hah!" bentak Ayuna. Ia langsung berdiri dan menatap Brilian dengan sorot mata ta
Tidak jauh berbeda dengan kondisi Ayuna, Brilian juga langsung dibawa ke rumah sakit oleh kedua orang tuanya.Gadis itu masih berada dalam keadaan tidak sadarkan diri ketika dibaringkan di atas ranjang pasien. Beberapa dokter dan perawat segera melakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisinya.Suasana di dalam ruangan terasa tegang.Rahayu berdiri di samping ranjang dengan wajah penuh kecemasan, sedangkan Biantara terus memperhatikan proses pemeriksaan tanpa berkedip.Beberapa saat kemudian, dokter yang menangani Brilian akhirnya menutup hasil pemeriksaan dan menatap kedua orang tua gadis itu."Pasien hanya mengalami syok dan terlalu terkejut," ucap dokter tersebut dengan suara tenang. "Karena itulah pasien sampai pingsan.""Syukurlah..." Rahayu langsung menghela napas lega.Tangannya terulur perlahan, mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.Biantara yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara."Apa yang perlu kami perhatikan, Dok?" tanyanya serius.Dokter itu terdiam ses
"Aku cuma nganterin sampai di sini," ucap Ayna sambil menunjuk pintu ruang kepala sekolah. Arthur menganggukkan kepala pelan, tanda mengerti dengan ucapan gadis itu. "Baik," jawabnya singkat. Beberapa detik kemudian, Arthur kembali menatap Ayna. "Kamu boleh pergi. Terima kasih," ucapnya tenang. Ayna mengangguk pelan. "Iya." Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia langsung membalikkan badan. Langkahnya perlahan menjauh dari pintu ruang kepala sekolah, meninggalkan Arthur yang masih berdiri di sana. Ayna melangkah masuk ke dalam kelasnya dengan tenang. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, namun sosok Ayuna masih belum terlihat. Bangku gadis itu kosong. Seperti biasanya. Ayna menarik kursinya perlahan, lalu duduk tanpa banyak bicara. "Belum masuk lagi?" gumam salah satu murid pelan. "Sepertinya iya," jawab yang lain sambil mengangkat bahu. Ayna tidak menanggapi percakapan itu. Ia hanya diam, menopang dagunya sambil menatap ke arah jendela kelas. --- Di rumah sak
Tidak membutuhkan waktu lama, Ayna sudah rapi dengan seragam lengkapnya. Rambutnya tertata, penampilannya bersih dan anggun. Ia melangkah keluar dari kamar, lalu menuruni setiap anak tangga dengan langkah teratur.Suara tapak kakinya terdengar hingga ke ruang makan.Tarina menoleh, lalu tersenyum saat melihat putrinya turun dari tangga."Kenapa tidak menggunakan lift saja, sayang?" tanya Tarina dengan nada lembut.Ayna membalas dengan senyuman. Ia tetap melangkah menuruni tangga hingga mencapai lantai bawah."Aku ingin sehat, Mom. Naik liftnya jangan dulu," jawab Ayna ringan.Tarina mengangguk pelan, masih tersenyum. "Baiklah. Bagus juga kalau begitu."Di meja makan, Logan, Gabriel, dan Michael sudah duduk dengan santai. Begitu melihat Ayna, ketiganya langsung menyapa."Pagi, Princess," ucap Logan."Pagi," sambung Gabriel dengan senyum hangat."Pagi juga," tambah Michael, menatap adiknya penuh keakraban.Ayna tersenyum lebar."Pagi, abang-abang," jawabnya ceria.Ia kemudian mengalihka
"Tolong... tolong aku... pergi! Jangan mendekat!" suara Ayuna dari dalam kamar kembali terdengar. Suaranya panik dan bergetar, membuat suasana di depan pintu yang tertutup itu semakin tegang. "Dobrak pintu!" perintah Rafael tegas. "Tapi, Ayah... di bawah sana..." Donggala mencoba berbicara, namun ucapannya terhenti saat melihat tatapan ayahnya yang jauh lebih tajam dari sebelumnya. "Baik, Ayah," ucap Donggala akhirnya. Ia mundur selangkah, lalu mengumpulkan tenaga. Bugh! Bugh! Braaaakkkhhh! Pintu kamar itu akhirnya jebol. Daun pintu terhentak keras ke dalam. Di dalam kamar, Ayuna terlihat meringkuk di lantai. Tubuhnya gemetar hebat, wajahnya pucat, dan napasnya tidak teratur. "Ayuna..." panggil Rafael pelan. Ia berlari mendekat, lalu berlutut di samping putrinya. "Kamu kenapa, Ayuna?" "Ayana, Ayah... Ayana... hizk... hizk... dia datang... dia datang, Ayah!" ucap Ayuna terbata. Kepalanya masih tersembunyi di antara kedua lututnya. Rafael terdiam sejenak. Ia menat







