Share

Bab 03

Author: @doumbojoe
last update Last Updated: 2026-03-04 05:43:14

Di dalam ruangan BK, Ayana duduk di kursi yang terasa lebih dingin dari biasanya. Beberapa guru telah berkumpul di ruangan itu. Tatapan mereka lurus, tegas, dan seolah sudah memiliki kesimpulan sendiri sebelum mendengar penjelasan apa pun darinya.

Di atas meja, tersedia sebuah tespek dan sebuah wadah plastik kecil untuk menampung air seni.

Salah satu guru mengambil wadah itu lalu menyerahkannya kepada Ayana.

"Bawa ini ke dalam kamar mandi. Tampung pipismu ke dalam wadah ini," ucap guru itu dengan suara datar tanpa emosi.

Ayana tertegun sejenak. Dadanya terasa sesak. Rupanya tidak ada yang benar-benar mempercayai ucapannya. Tidak ada yang mau mendengar penjelasan darinya.

Dengan gerakan pelan dan langkah yang terasa berat, Ayana masuk ke dalam kamar mandi yang berada di sudut ruangan BK. Pintu tertutup perlahan di belakangnya. Tangannya gemetar saat menampung air seni yang akan dijadikan bahan tes tersebut.

Beberapa menit kemudian, Ayana keluar kembali. Wajahnya pucat. Tangannya memegang wadah yang sudah terisi.

Salah satu guru maju mendekat. Ia menatap isi gelas itu dengan tatapan selidik.

"Kamu nggak mencampurkannya dengan air, kan?" tanyanya dengan nada menuduh.

"Tidak," jawab Ayana singkat tanpa mengangkat wajahnya.

"Bagus. Masukkan tespeknya," ucap guru itu lalu menyuruh salah satu rekan sesama profesinya untuk melakukan tes.

Ujung tespek dimasukkan ke dalam wadah berisi air seni tersebut. Semua guru memperhatikan dengan serius. Suasana ruangan menjadi hening. Hanya detak jam dinding yang terdengar pelan.

Beberapa saat kemudian, hasilnya terlihat jelas.

Ayana terbukti tidak hamil.

"Kamu nggak hamil. Keluarlah," ucap guru berkacamata itu singkat.

Ayana berdiri perlahan. Ada rasa lega yang mengalir dalam dadanya. Setidaknya satu tuduhan besar itu terbantahkan.

Ia melangkah keluar dari ruangan BK dengan perasaan campur aduk. Lega karena dirinya tidak hamil, namun tetap terluka karena tak satu pun mempercayainya sejak awal.

Setelah keluar dari ruang BK, kabar mengenai tuduhan bahwa dirinya hamil rupanya telah lebih dulu sampai ke telinga orang tua di rumah. Siapa lagi jika bukan Donggala yang mengadu.

Ayana dijemput dari sekolah tanpa banyak bicara. Tidak ada pertanyaan, tidak ada kesempatan untuk menjelaskan. Begitu tiba di rumah, ia langsung diseret menuju ruangan gelap yang sudah sangat familiar baginya. Pintu ditutup keras, lalu terdengar suara kunci diputar dari luar.

"Aku tidak hamil, Bunda! Ayah! Tolong aku!" teriak Ayana lantang sambil menggedor pintu yang telah tertutup rapat.

Di luar pintu, Nilam dan Rafael saling menatap. Tidak ada sedikit pun kepercayaan di wajah mereka.

"Diam! Kamu mempermalukan nama keluarga kita. Diam di situ dan renungkan kesalahanmu," ucap Rafael dengan suara datar tanpa emosi.

"Benar-benar anak sialan. Salah apa sih mama sampai melahirkan anak modelan kamu? Bikin malu saja," sahut Nilam tanpa rasa bersalah.

Setelah melontarkan hinaan itu, Nilam menggandeng suaminya menjauh dari pintu.

Di dalam ruangan yang gelap dan pengap itu, Ayana mulai merasakan nafasnya semakin pendek. Rasa mual datang kembali, lebih kuat dari sebelumnya. Ia muntah tanpa henti. Tubuhnya gemetaran hebat hingga akhirnya ia ambruk di atas lantai dingin yang kotor.

Waktu terus berjalan. Jam pulang sekolah telah lewat. Donggala dan Ayuna tiba di rumah dengan wajah ceria seolah tidak terjadi apa-apa.

"Ayana mana, Bun?" tanya Donggala.

"Biasa," jawab Nilam singkat.

Donggala terdiam. Ia menatap ibunya lurus.

"Kenapa mama menguncinya di sana?" tanyanya lagi.

"Biar dia tahu di mana dan kesalahan apa yang dia perbuat," jawab Nilam enteng.

Donggala terkesiap. Ada sesuatu yang menekan dadanya.

"Bunda..." ucapnya pelan, penuh rasa bersalah. "Ayana nggak hamil, Bunda," lanjutnya dengan suara lebih lirih.

"Nggak hamil?" tanya Nilam terkejut.

"Benar, Bunda. Ayana nggak hamil kok."

Kali ini bukan Donggala yang menjawab, melainkan Ayuna yang sejak tadi diam mengamati percakapan mereka.

Ia tidak suka pembicaraan itu. Tidak suka ketika perhatian mulai mengarah pada Ayana. Padahal Ayana adalah kembarannya sendiri. Namun entah sejak kapan, kebencian itu tumbuh dalam dirinya. Tanpa disadari siapa pun, tangannya mengepal diam-diam.

"Ya sudah, syukurlah kalau begitu. Dia nggak malu-maluin nama keluarga kita," ucap Nilam tanpa merasa bersalah sedikit pun.

"Kamu istirahatlah, Sayang. Tubuhmu nggak kuat kalau berdiri lama seperti ini," ucap Nilam dengan suara yang berubah lembut saat menatap Ayuna.

Tangannya melambai kecil. Ayuna mendekat. Nilam menyambutnya dengan usapan hangat di rambut.

Donggala menatap pemandangan itu dengan senyum tipis, seolah lupa bahwa ada seorang adik lain yang sedang membutuhkan pertolongan.

"Makasih ya, Bunda. Bunda memang sangat baik pada Ayuna," ucap Ayuna lembut.

Nilam terkekeh pelan. "Kamu bisa saja. Istirahat sana. Jangan kelelahan. Bunda nggak mau kamu masuk rumah sakit lagi."

"Baik, Bunda. Makasih ya. Ummmuuuaaach," ucap Ayuna sambil mencium pipi Nilam sebelum masuk ke kamarnya.

Langkahnya ringan. Begitu tiba di kamar, Ayuna tersenyum lebar. Ia merasa sangat bahagia hari ini.

Namun tak lama kemudian, dadanya terasa semakin sesak. Nafasnya tertahan. Rasa sakit itu datang mendadak dan luar biasa. Dalam keadaan itu, ia menjatuhkan gelas di atas meja hingga pecah, sebagai tanda agar seseorang datang.

Benar saja. Donggala masuk dengan wajah panik.

"Ayuna!" teriaknya.

Nilam dan Rafael ikut datang dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Pergi! Pergi siapkan mobil, Pah!" teriak Nilam dengan air mata yang sudah menetes.

Rafael segera keluar menyiapkan mobil. Donggala menggendong Ayuna, sementara Nilam mengambilkan pakaian untuk dibawa ke rumah sakit.

Mereka pergi tergesa-gesa, bahkan lupa menutup pintu rumah.

Tidak lama setelah kepergian mereka, Brilian datang membawa kantong plastik di tangannya. Niatnya ingin meminta maaf pada Ayana.

Namun ketika melihat rumah sepi, ia ragu untuk masuk. Entah mengapa, sesuatu mendorongnya untuk melangkah ke dalam.

Langkahnya terhenti di depan pintu ruangan belakang. Kunci tergantung di lubang kunci.

Dengan rasa penasaran, Brilian membukanya perlahan.

Bau menyengat langsung menyeruak. Bau muntah, bau pengap, dan bau tak sedap lainnya bercampur menjadi satu. Ia menahan nafas, melangkah masuk beberapa langkah.

Karena gelap, ia menyalakan senter dari ponselnya. Cahaya itu menyorot ke arah sosok yang tergeletak di lantai.

Braaakh!

Ponsel Brilian terjatuh. Ia ikut terhuyung hingga terduduk. Tubuhnya gemetaran tak terkendali.

Ia merangkak mendekat, meraih kepala Ayana, mencoba memastikan apakah ia masih hidup.

"Aaaakhhh!" teriak Brilian histeris.

Sopir yang mengantarnya segera masuk ke dalam rumah.

"Nona! Anda di mana?" tanya sopir itu panik.

Brilian berusaha menenangkan dirinya. "Aku... aku di sini, Pak..." sahutnya dengan suara gemetar.

"Ya ampun, Nona. Ngapain anda ke sini?" tanya sopir itu.

"Pak... tolong telepon Ayah sama Bunda... aku takut," ucap Brilian terbata.

Sopir itu segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi tuannya.

"Hallo, Tuan. Maaf saya mengganggu. Nona Brilian sedang syok, Tuan. Saya disuruh menelpon anda. Apa anda dan Nyonya bisa datang? Nona muda membutuhkan anda berdua," ucapnya hormat.

["Baik, kamu tunggu di sana. Di rumahnya Rafael bukan?"]

"Benar, Tuan. Di rumah Tuan Rafael. Hanya saja saat ini penghuni rumah tidak ada. Anda ke sini saja, Tuan. Nona butuh anda," lanjut sopir itu.

["Hmm, ya sudah. Saya dan istri akan segera ke sana."]

Sambungan telepon terputus.

"Nona, Tuan dan Nyonya akan segera tiba. Apakah anda ingin berpindah tempat?" tanya sopir itu lembut.

Brilian hanya menggeleng tanpa menatapnya. Tubuhnya masih gemetar. Matanya terpaku pada Ayana yang tergeletak tidak jauh darinya.

Tak lama kemudian, mobil orang tua Brilian tiba di depan rumah Rafael. Kedua orang tua paruh baya itu turun dengan tergesa.

"Nolan! Apa yang terjadi pada putriku? Apa sahabatnya membuatnya takut?" tanya ibu Brilian dengan suara khawatir.

Nolan menuntun mereka masuk ke ruangan paling belakang yang lebih pantas disebut gudang.

Begitu melihat keadaan di dalam, mata mereka membola. Mereka segera mendekat dan memeluk Brilian dengan penuh kasih.

"Nak... kenapa kamu berada di sini? Apa orang rumah ini yang menguncimu?" tanya ibu Brilian.

"Iya, Nak. Ceritakan pada Ayah. Siapa yang melakukan hal ini padamu?" tanya ayah Brilian penuh kekhawatiran.

Brilian tidak menjawab, ia masih terisak dalam pelukan Ayah sama Bundanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 05

    "Apa maksud Anda, Dok?" Tiba-tiba Donggala telah berdiri tepat di hadapan dokter yang baru saja membacakan hasil otopsi. Nafasnya memburu, matanya memerah, dan rahangnya mengeras menahan gejolak di dalam dada. Dokter itu menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya terlihat lelah dan jelas menunjukkan kekesalan karena harus menjawab pertanyaan yang sama berulang kali. "Gadis atas nama Ayana Shahab telah meninggal dunia karena kanker stadium akhir. Anda siapanya? Apakah kakak dari gadis ini?" tanya dokter itu dengan nada profesional, meskipun ketegangan terasa di udara. Degh. Donggala terdiam. Tubuhnya terasa luruh, seakan tulangnya tak lagi mampu menopang beban yang tiba-tiba menghantam kesadarannya. Tatapannya kosong, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ingatan datang menyerbu tanpa ampun. Rambut Ayana yang rontok di tangannya. Tatapan lelah yang tak pernah ia pahami. Wajah pucat yang selalu ia abaikan. Mengapa ia tidak menyadarinya? Mengapa ia tidak pernah b

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 04

    Tangisan Brilian semakin keras. Tubuhnya bergetar dalam pelukan kedua orang tuanya. Biantara Grambel dan Rahayu saling berpandangan dengan wajah penuh kecemasan. Pelukan mereka semakin erat, tetapi tangisan putri mereka belum juga mereda. "Ayah... Hizk... Ayana, Ayah... Hizk..." ucap Brilian sesenggukan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar tidak jelas karena tangis yang menyesakkan. "Iya, Ayana kenapa, Nak? Dia melakukan kekerasan padamu?" tanya Biantara dengan suara yang berusaha tenang, meskipun hatinya diliputi kekhawatiran. Brilian menggeleng kuat. Bukan itu maksudnya. "Bunda... Hizk... Ayana... Ayana di belakang aku..." ucapnya dengan suara serak. Mata Biantara dan Rahayu perlahan menoleh ke belakang tanpa melepaskan pelukan dari tubuh putri mereka. Begitu melihat pemandangan itu, kedua mata mereka terbelalak. "Ayana..." suara Rahayu terdengar lirih dan gemetar. Perlahan ia melepaskan pelukannya dari Brilian lalu mendekati tubuh Ayana yang tergeletak. Ia berlut

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 03

    Di dalam ruangan BK, Ayana duduk di kursi yang terasa lebih dingin dari biasanya. Beberapa guru telah berkumpul di ruangan itu. Tatapan mereka lurus, tegas, dan seolah sudah memiliki kesimpulan sendiri sebelum mendengar penjelasan apa pun darinya. Di atas meja, tersedia sebuah tespek dan sebuah wadah plastik kecil untuk menampung air seni. Salah satu guru mengambil wadah itu lalu menyerahkannya kepada Ayana. "Bawa ini ke dalam kamar mandi. Tampung pipismu ke dalam wadah ini," ucap guru itu dengan suara datar tanpa emosi. Ayana tertegun sejenak. Dadanya terasa sesak. Rupanya tidak ada yang benar-benar mempercayai ucapannya. Tidak ada yang mau mendengar penjelasan darinya. Dengan gerakan pelan dan langkah yang terasa berat, Ayana masuk ke dalam kamar mandi yang berada di sudut ruangan BK. Pintu tertutup perlahan di belakangnya. Tangannya gemetar saat menampung air seni yang akan dijadikan bahan tes tersebut. Beberapa menit kemudian, Ayana keluar kembali. Wajahnya pucat. Tang

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 02

    Rumah itu hanya memiliki satu lantai. Tiga kamar dan dua kamar mandi berdiri sederhana di dalamnya. Keluarga itu memiliki satu mobil dan satu motor milik Donggala. Tidak ada asisten rumah tangga. Semua pekerjaan rumah diurus oleh Ayana seorang diri. Setelah mengepel lantai yang ternodai darahnya sendiri hingga bersih, Ayana kini duduk di atas sofa ruang tamu. Di depannya, kotak medis tergeletak dalam keadaan berantakan akibat dilempar Donggala sebelumnya. Tutupnya terbuka, isinya berserakan, namun tidak ada yang peduli untuk merapikannya selain dirinya. "Haih, kenapa tubuhku seperti ini ya? Padahal aku gadis sehat, yang tidak sakit-sakitan," ucap Ayana pelan pada dirinya sendiri. Akhir-akhir ini ia merasakan perubahan besar pada tubuhnya. Tubuhnya semakin kurus. Rambutnya semakin sering rontok. Matanya terlihat cekung. Nafasnya pendek. Bahkan nafsu makannya menurun drastis. Setiap hari terasa semakin berat. "Hoeeeekkk." Tiba-tiba rasa mual menyerang. Ayana segera berlari ke kamar

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab : 01

    Tap. Tap. Tap. Sepasang kaki kurus kering menapaki setiap anak tangga itu dengan susah payah. Langkahnya pelan, berat, seolah tiap pijakan menguras sisa tenaga yang ia miliki. Nafasnya tersengal, dadanya naik turun menahan lelah yang tak pernah benar-benar pergi dari hidupnya. Begitu tiba di lantai dasar, gadis itu berhenti sejenak. Ia memejamkan mata, lalu menghela nafas lega, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menghadapi hari yang entah akan seperti apa. Baru saja ia menarik nafas, tiba-tiba dari arah depan, sepasang mata menatapnya dengan sangat tajam. Tatapan itu penuh kebencian yang sudah terlalu sering ia lihat. Plaaak! Suara tamparan itu menggema di ruangan luas berlantai marmer dingin. Wajah gadis itu tertoleh ke samping. Tubuhnya hampir limbung, namun ia bertahan. Darah perlahan mengalir dari sudut bibirnya, menetes tipis ke dagu. "Bunda... Apa lagi salah ku kali ini?" tanya Ayana dengan suara gemetar. Matanya berkaca-kaca, namun ia berusaha menahannya agar tidak ja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status