LOGINAyana dibenci oleh kembaran dan orang tuanya sendiri. Tanpa ia sangka, orang tuanya juga tega untuk mengurungnya seorang diri. Di tengah-tengah kesengsaraannya, Ayana menutup mata dan mengharapkan kematian. Namun, tiba-tiba ia terbangun di tempat yang berbeda.
View MoreTap.
Tap. Tap. Sepasang kaki kurus kering menapaki setiap anak tangga itu dengan susah payah. Langkahnya pelan, berat, seolah tiap pijakan menguras sisa tenaga yang ia miliki. Nafasnya tersengal, dadanya naik turun menahan lelah yang tak pernah benar-benar pergi dari hidupnya. Begitu tiba di lantai dasar, gadis itu berhenti sejenak. Ia memejamkan mata, lalu menghela nafas lega, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menghadapi hari yang entah akan seperti apa. Baru saja ia menarik nafas, tiba-tiba dari arah depan, sepasang mata menatapnya dengan sangat tajam. Tatapan itu penuh kebencian yang sudah terlalu sering ia lihat. Plaaak! Suara tamparan itu menggema di ruangan luas berlantai marmer dingin. Wajah gadis itu tertoleh ke samping. Tubuhnya hampir limbung, namun ia bertahan. Darah perlahan mengalir dari sudut bibirnya, menetes tipis ke dagu. "Bunda... Apa lagi salah ku kali ini?" tanya Ayana dengan suara gemetar. Matanya berkaca-kaca, namun ia berusaha menahannya agar tidak jatuh. "Kamu bertanya salah mu apa? Sini kamu! Sini!" bentak wanita itu, menarik tangan Ayana dengan kasar tanpa sedikit pun rasa iba. Tubuh kurus itu tak memiliki tenaga untuk memberontak. Kedua kakinya berusaha melangkah cepat mengimbangi tarikan kasar yang membuat pergelangan tangannya terasa perih. Brukh! Tubuh Ayana dihempaskan di atas marmer dingin. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, namun ia hanya menggigit bibir, menahan erangan. "Tatap Ayuna! Tatap adikmu! Apa yang kamu lakukan pada nya, hah?" wanita itu kembali berteriak dengan nada kasar yang menusuk. Ayana menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Perlahan ia mendongakkan kepala, menatap gadis yang merupakan kembarannya itu. Wajah yang begitu mirip dengannya, namun nasib mereka berbeda sejauh langit dan bumi. Di dalam hatinya, suara itu berteriak tanpa mampu keluar. "Ayuna, drama apa lagi yang kamu mainkan, Ayuna? Apa kamu tidak capek? Aku capek, Ayuna." Tubuhnya semakin lama semakin bergetar, entah karena dingin lantai marmer atau karena hatinya yang sudah terlalu lama terluka. "Bunda... Aku... Aku takut. Ayana berdarah, Bunda. Aku takut darah," ucap Ayuna dengan suara yang dibuat seolah ia benar-benar ketakutan. Ia terduduk manis di sofa empuk, kedua tangannya memeluk bantal kecil di pangkuannya. "Lap darah mu, Ayana!" bentak wanita itu lagi, suaranya keras dan penuh perintah. Ayana pasrah. Ia benar-benar tidak mampu meladeni sandiwara yang diciptakan oleh adik kembar dan ibunya sendiri. Dengan tangan gemetar, ia hendak menyentuh sudut bibirnya. Wanita itu mendengus kesal melihat gerakan Ayana yang dianggapnya lambat. Dengan gerakan kasar, ia menarik ujung baju Ayana lalu menggunakannya untuk mengelap darah di wajah gadis itu tanpa peduli rasa sakit yang ditimbulkan. "Sudah sayang, darahnya sudah tidak ada. Kamu jangan kepikiran, nanti kamu sakit lagi," ucap wanita itu berubah lembut dalam sekejap, penuh perhatian kepada Ayuna. Ayana hanya menunduk. Di dalam hatinya, pertanyaan itu kembali muncul, menghantui setiap detik kehidupannya. "Apa aku bukan anak kalian, Bunda?" Ia tidak pernah berani mengucapkannya secara langsung. "Pelayan!" panggil wanita itu lantang. Suaranya begitu keras hingga terdengar sampai ke luar rumah. Seorang pelayan segera datang dengan langkah tergesa, menundukkan kepala dengan hormat. "Seret wanita sialan ini ke kamarnya. Kunci dari luar. Jangan bawakan makanan dan minuman untuknya sampai dia sadar dia salah apa," perintah wanita itu tanpa ragu. Pelayan itu hanyalah seorang pelayan. Ia tidak berani menolak perintah majikannya. Dengan langkah ragu ia mendekat ke arah Ayana. Tangannya terulur pelan, membantu gadis itu berdiri dengan hati-hati, takut menambah rasa sakit yang sudah jelas terlihat di tubuh kurus itu. Ayana tersenyum tipis. Sudut matanya melirik pelayan di sampingnya dengan tatapan menilai, bukan marah, bukan juga benci. "Nona, maafkan saya. Saya tidak bisa membantu anda," ucap pelayan itu sendu, suaranya hampir bergetar. "Tidak apa-apa. Keluarlah. Lakukan apa yang diperintahkan. Jangan sampai kamu terlihat bersama ku, atau kamu akan menanggung akibatnya," ucap Ayana pelan namun tegas. Pelayan itu tertegun. Entah harus menangis atau tersenyum pahit, ia tidak mengerti bagaimana gadis muda di depannya ini bisa tetap memikirkan orang lain di tengah penderitaannya sendiri. "Kalau begitu, saya permisi dulu, Nona," ucapnya lirih. Ia keluar dari kamar Ayana, mematikan lampu, lalu mengunci pintu dari luar sesuai perintah majikannya. Kamar itu gelap gulita. Tidak ada cahaya yang menemani. Ayana terbaring di lantai, menatap langit-langit kamar yang tak terlihat jelas dalam kegelapan. Tatapannya kosong. Pikirannya perlahan menerawang ke beberapa tahun silam, ke masa di mana semuanya belum seburuk ini, atau mungkin ia hanya terlalu kecil untuk menyadarinya. "Ayah... Bunda... Aku tidak pernah meminta untuk kalian lahirkan ke dunia ini. Jika... Jika aku lahir hanya untuk seperti ini, lebih baik aku pergi saja," ucap Ayana dengan suara pelan yang hampir tak terdengar. Hari demi hari terus berlalu. Tiga hari kemudian, Ayana merasa tubuhnya mulai membaik. Lemah, tetapi masih mampu berdiri. Pagi ini, seperti biasa, ia akan berangkat sekolah. Seragam lusuh melekat di tubuhnya. Tas yang sudah robek ia sandang di bahu. Sepatu yang warnanya memudar ia kenakan tanpa keluhan. Penampilannya jauh dari kata layak jika dibandingkan dengan status keluarganya yang terpandang. Ia melangkah ke ruang tengah. "Cih, mau kemana lagi anak gembel itu, mengotori mata aku saja," ucap Ayuna sinis. Ia duduk santai di kursi empuk seraya merapikan kukunya, seolah keberadaan Ayana tak lebih dari debu yang mengganggu. Ayana berhenti tepat di hadapan Ayuna. Ia menatap kaki kembarannya yang sengaja menjulur menghalangi jalan. "Permisi, bisakah kamu menyingkirkan kakimu, Ayuna?" tanya Ayana tenang, meski hatinya kembali terasa sesak. Ayuna mendongak perlahan. Tatapannya tajam, penuh ejekan yang tidak lagi ia sembunyikan. Bibirnya terangkat membentuk senyum sinis saat kedua matanya mengunci pandangan Ayana. "Kenapa? Nggak lihat ada jalan masih lebar di samping mu?" ucap Ayuna ketus, nada suaranya merendahkan. Ayana menarik nafas dalam-dalam. Ia menahan diri, menelan setiap kata yang sebenarnya ingin keluar. Tanpa menjawab, ia memilih melangkahi kaki Ayuna yang sengaja menjulur menghalangi jalan. Namun, tepat saat Ayana melangkah, Ayuna yang sudah diliputi rasa geram tiba-tiba mengangkat kakinya lebih tinggi. Gerakan itu membuat keseimbangan Ayana hilang. "Aaaakhhh!" "Aaakhhhh!!" Dua suara teriakan terdengar bersamaan. Yang satu murni karena rasa sakit saat tubuh menghantam lantai marmer yang keras. Yang satunya lagi terdengar berlebihan, penuh drama yang dibuat-buat. "Ayuna!!" Seorang wanita paruh baya berteriak panik. Ia berlari menghampiri putrinya yang terjatuh. Nilam Puspita, ibu dari si kembar itu, wajahnya langsung memucat melihat Ayuna terduduk di lantai. "Apa yang kamu lakukan, Ayana!" pekik Nilam dengan suara menggelegar. Suaranya begitu keras hingga menggema ke seluruh ruangan rumah besar itu. Pintu kamar terbuka hampir bersamaan. Rafael dan Donggala keluar dari kamar masing-masing, wajah mereka dipenuhi kepanikan. "Mah, ada apa?" tanya Rafael pada sang istri, langkahnya cepat mendekat. Nilam yang sedang membopong Ayuna menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, seolah-olah bencana besar baru saja terjadi. "Pah, salah apa Ayuna, Pah? Sejak lahir dia selalu sakitan. Bukankah kita lebih perhatian pada Ayuna itu hal yang wajar?" tanya Nilam lirih namun sarat tekanan. "Benar, tapi ada apa?" tanya Rafael, yang bahkan tidak menyadari bahwa anak kembar yang satunya lagi sedang merintih kesakitan di lantai. Darah mulai menetes perlahan ke atas marmer putih. Tetes demi tetes membentuk noda merah yang kontras, namun tidak ada satu pun yang benar-benar memperhatikannya. "Ayah, lihat itu," ucap Donggala, pemuda berusia delapan belas tahun, anak pertama keluarga itu. Rafael refleks menoleh ke arah yang ditunjuk Donggala. Ia memicingkan mata, berusaha memastikan apa yang dilihatnya. "Apa yang kamu..." ucapnya terhenti. Matanya terbelalak saat melihat cairan merah yang menetes ke lantai. "Kamu terluka?" tanyanya pada Ayana. Ayana tidak menjawab. Ia hanya menunduk, satu tangannya menahan dahinya yang terasa perih dan basah. "Donggala! Ambil kotak medis, cepat!" perintah Rafael tegas. Ayuna yang melihat kepanikan di wajah ayahnya mengepalkan tangannya diam-diam. Sorot matanya berubah. "Bunda... Sakit... Sakit sekali," ucap Ayuna merintih pelan, suaranya terdengar lemah dan bergetar. Nilam terkejut. Ia segera menatap wajah Ayuna lebih dekat. Wajah itu tampak pucat, entah karena benar-benar sakit atau karena sandiwara yang terlalu sempurna. "Pah! Cepat, Pah! Biarkan saja anak sialan itu, nggak akan mati juga. Papah! Ayuna, Pah!" teriak Nilam melengking. Rafael terlihat bimbang sesaat. Namun pada akhirnya ia mengalihkan perhatiannya dari Ayana dan berfokus pada Ayuna. Dengan gerakan cepat, ia mengangkat tubuh Ayuna ke dalam gendongannya lalu bergegas menuju mobil. Tak lama kemudian, mobil itu melaju cepat membelah jalan yang sedikit ramai, meninggalkan halaman rumah dengan suara mesin yang meraung. Di dalam rumah, Ayana masih tergeletak di atas marmer. Matanya terpejam, tubuhnya terasa dingin. Ini sudah biasa, bukan? Bukankah memang selalu seperti ini? pikirnya dalam diam. Tak lama, Donggala datang membawa kotak medis di tangannya. Braaakh! Kotak itu dijatuhkan begitu saja di dekat tubuh Ayana. "Urus sendiri lukamu, Ayana. Dasar menyebalkan!" ucap Donggala dingin. Setelah mengatakan itu, ia berbalik pergi tanpa menoleh lagi. Tak lama kemudian suara motor terdengar dari luar rumah. Donggala melajukan motornya dengan kecepatan sedang, berharap bisa menyusul mobil ayahnya yang sudah lebih dulu pergi.Di gerbang sekolah, Ayna masih terlihat sedang menunggu. Gadis itu terus menatap ke arah jalan raya dengan harapan mobil Daddy-nya segera terlihat.Namun, waktu terus berjalan. Mobil yang ditunggu tak kunjung datang."Neng, kenapa nggak ditelepon saja?" satpam yang menjaga gerbang itu merasa kasihan melihat gadis tersebut.Ayna bahkan baru teringat bahwa ia memiliki handphone. Tanpa membuang banyak waktu, ia langsung menelepon Daddy-nya.Namun, walaupun beberapa kali ia berusaha menelepon, panggilan itu sama sekali tidak tersambung. Bahkan, suara operator mengatakan bahwa nomor tersebut tidak bisa menerima panggilan."Daddy kenapa ya?" tanya Ayna lirih. Ia menatap handphone-nya dengan tatapan datar. Berbagai spekulasi mulai muncul di kepalanya.Hingga, handphone-nya berdering. Nama kakak pertamanya langsung terpampang jelas di layar."Hallo, Abang... Abang di mana?" tanya Ayna cepat.["Kamu masih di sana, Princes?"]Suara Logan terdengar dari seberang telepon."Benar, Bang. Aku di ger
Jam menunjukkan pukul dua siang. Seluruh murid Aurora Summit telah bergegas pulang ke rumah masing-masing.Saat ini, Ayna sedang berdiri di depan gerbang, ditemani oleh satpam yang berjaga di pos."Neng, kenapa nggak pulang sekarang?" tanya satpam itu dengan rasa ingin tahu, sekadar membuka percakapan dengan gadis tersebut.Ayna menoleh pelan. Raut wajahnya tampak murung."Paman satpam. Daddy belum datang. Katanya mau menjemput, tapi sampai sekarang belum datang," ucap Ayna lirih. Suaranya terdengar menyedihkan, sekelebat bayangan masa lalu menyerang ingatannya dengan ganas.Sebenarnya ia bisa saja pulang sendiri, namun ia tidak melakukannya karena berpikir Daddy-nya benar-benar akan datang."Mungkin sebentar lagi, Nona," ucap satpam itu.Ayna mengangguk. Ia berharap di mana pun Daddynya berada, mereka selalu berada dalam lindungan Tuhan.Pemuda itu mendekat, memangkas jarak hingga lebih dekat dengan Imanuel."Tuan Zuank," ucap pemuda itu.Ia menatap Imanuel dengan tenang, namun wibaw
Gedung Aurora Summit Iringan mobil dengan tanda khas keluarga Artha masuk ke dalam gerbang sekolah itu. Semua murid yang telah hadir menatap keramaian itu dengan rasa ingin tahu. "Bukankah itu tanda dari keluarga Artha?" "Sepertinya begitu. Menurutmu, apakah itu murid baru?" "Mungkin, tumben banget nggak ada pemberitahuan dari forum keluarga Artha." "Iya, biasanya masalah sekecil apa pun transparan." "Kalian nggak ingat kalau keluarga Artha memiliki anak gadis yang disembunyikan? Tidak diketahui oleh umum?" "Gotcha! Aku baru ingat! Apa dia adalah anak gadisnya?" "Mana?" "Eh, bukankah itu anak kelas dua ya? Si... si apa sih kemarin yang masuk BK? Ah, si Ayna." "Masa iya, Ayna anak mereka? Kok lebih mirip ke Ayuna ya?" "Baru mau aku bicarakan, ternyata pemikiran kita sama." Di mobil yang paling pertama, dengan tanda keluarga Artha yang paling mencolok, Ayna turun dengan kedua pipi mengembung. "Ayna tidak mau tahu ya, Dad... nanti Ayna mau pulang sendiri," ucapny
Di tempat parkir rumah sakit jiwa, sebuah mobil hitam baru saja masuk. Pintu terbuka, Rafael terlihat gagah. Di tangannya, ia membawa dokumen. Rafael menatap Nilam yang tertidur sejenak, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah sakit jiwa itu. Tidak lama setelah itu, Rafael pun keluar. Ia sudah mengurus dokumentasi dan juga membayar untuk beberapa tahun ke depannya. Di belakang Rafael, para suster dengan pakaian khusus datang untuk menjemput pasien. Pintu mobil terbuka, Nilam sudah bangun. Nilam menatap suaminya dengan tatapan kosong. Tidak ada senyuman, tidak ada tangisan. Ekspresinya seperti biasa, seolah tak punya semangat hidup. "Bawalah dia. Jika suatu saat dia sudah sembuh, tolong hubungi saya," ucap Rafael. Para suster itu menganggukkan kepala serentak. Dengan pelan, mereka meraih tangan Nilam, kemudian mengeluarkannya dari mobil dengan perlahan. Nilam dikeluarkan, pintu mobil kembali tertutup. Tanpa basa-basi, Rafael masuk ke dalam mobil dan segera melaju pergi dari
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.