Share

Bab 09

Author: @doumbojoe
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-17 15:52:51

Gedung Aurora Summit berdiri megah dengan arsitektur modern yang menjulang tinggi. Halaman sekolah yang luas dipenuhi oleh para siswa yang berjalan tergesa menuju kelas masing-masing sebelum gerbang benar-benar ditutup.

Ayna berhasil masuk beberapa saat sebelum gerbang tertutup.

Sebagai murid pindahan, ia tidak bisa langsung menuju kelas. Ia harus terlebih dahulu melapor kepada kepala sekolah untuk menyelesaikan administrasi serta penempatan kelasnya.

Dengan langkah santai namun mantap, Ayna
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 18

    Ayna sudah berada di kantin. Ia duduk dengan tenang sambil menikmati makanan siangnya. Semangkuk rawon terhidang di depannya, uap hangatnya masih mengepul pelan.Ia menyendok makanan itu, lalu memasukkannya ke dalam mulut."Enak... enak banget," ucap Ayna dengan senyum tipis setelah beberapa suapan.Ia tampak menikmati setiap rasa yang masuk ke dalam mulutnya, seolah tidak ada beban sedikit pun dalam pikirannya.Namun, tanpa Ayna sadari, tingkahnya diperhatikan oleh sepasang mata dari kejauhan. Tatapan itu penuh selidik, seolah sedang mencoba mengenali seseorang yang telah lama hilang."Ayana... itu... itu kamu, Ayana?" ucap Donggala tanpa sadar.Ucapan itu membuat teman-teman di sekitarnya langsung menoleh."Lo kenapa, Don?" tanya salah satu temannya dengan alis terangkat."Itu... adik gue," ucap Donggala singkat.Tanpa menunggu lebih lama, Donggala bangkit dari duduknya dan langsung berjalan menuju meja Ayna.Ayna yang masih fokus pada makanannya tidak menyadari kehadiran Donggala.

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 17

    Semua orang di dalam kelas itu menertawakan kepergian Ayuna. Gelak tawa memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang riuh. Ada kepuasan tersendiri yang tersirat di wajah mereka, seolah kepergian Ayuna menjadi hiburan singkat di pagi itu.Griyane melangkah mendekati meja Ayna. Dengan sikap percaya diri, ia berdiri di samping meja tersebut dan menatap Ayna dari atas ke bawah."Lo pasti terkejut dengan tingkah dia, kan? Tenang saja. Dia tidak akan bisa melakukan apa pun pada lo," ucap Griyane, nadanya terdengar seperti sedang menenangkan.Ayna mendongakkan kepalanya perlahan, menatap Griyane dengan ekspresi datar. Gadis di hadapannya itu terlihat sombong dan angkuh. Namun, di balik sikapnya, ia adalah satu dari sedikit orang yang dulu tidak pernah ikut membully atau merundungnya."Ya, gue tahu," jawab Ayna singkat dan cuek. Baginya, tidak ada alasan untuk menjalin kedekatan dengan gadis di depannya.Griyane tidak langsung pergi. Ia justru menatap Ayna lebih lama. Matanya menyipit, seolah s

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 16

    Flashback on. Semalam, Ayuna tidak bisa tidur. Ia duduk di dekat balkon rumahnya, sehingga pemandangan malam itu dapat ia lihat dengan jelas. Bunda Nilam berteriak histeris, memanggil nama Ayana yang berdiri di depannya. Sosok itu melambaikan tangan ke arah Nilam. Ayuna menyaksikan kejadian itu dalam diam. Tubuhnya membeku dalam sekejap. "Tidak... tidak mungkin, dia sudah mati," gumam Ayuna lirih. Kedua tangannya menutup mulutnya. Matanya menatap dengan penuh ketidakpercayaan. Kakinya perlahan mundur hingga tubuhnya menabrak jendela kaca di belakangnya. Bersamaan dengan itu, sosok jelmaan Ayana menatapnya dengan tajam. Dalam satu kedipan, sosok itu menghilang begitu saja. Tidak lama kemudian, teriakan Nilam kembali terdengar, membuat seluruh penghuni rumah keluar dari kamar mereka. Flashback off. "Hei, apa yang kamu pikirkan, Ayuna?" tanya Donggala pada adiknya dengan heran. Sejak tadi, makanan di atas piringnya hanya diaduk tanpa dimakan. Ayuna tersentak. Seketika

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 14

    Ayna terpaku. Ia terkejut dengan suara abangnya yang menggelegar itu. Saking terkejutnya, sendok yang berada di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.Triinggg...Tak!"Princess, are you oke?" tanya Michael dengan nada panik dan khawatir.Ayna membeku. Ia membiarkan tubuhnya dibalik dan diputar beberapa kali oleh Michael."Ada apa ini, Michael? Kenapa kamu melakukan hal itu pada adikmu?" tanya Tarina yang datang diikuti oleh suaminya, Imanuel.Awalnya mereka menunggu di meja makan seperti biasa. Namun, mendengar teriakan putra mereka, akhirnya mereka datang karena merasa penasaran."Mom, Dad... lihatlah princess. Dia masuk ke dapur, berdiri di depan kompor. Aku khawatir," ucap Michael.Ayna menunduk. Ia ditatap oleh lima pasang mata seperti seseorang yang tengah melakukan kesalahan."Tenang... jangan takut." Tarina mendekat, meraih kedua tangan Ayna. "Kenapa kamu berada di sini, hmm? Kamu tahu kan ini bahaya?" ucap Tarina dengan suara lembut penuh keibuan.Ayna semakin menundukkan ke

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 13

    Setelah kepergian Ayana, keadaan Nilam semakin memburuk. Ia berteriak histeris hingga membuat seluruh penghuni rumah terbangun. Tidak hanya itu, bahkan para tetangga pun merasa tidur mereka terusik."Ada apa, Nilam?" tanya Rafael dengan suara kesal yang tertahan."Aaaakkkhhh... Hizk... Hizk... Ayana... Ayana... Bunda menyesal, sayang... Hizk... Bunda menyesal," ucap Nilam dengan suara parau. Wajah dan rambutnya terlihat berantakan, air matanya mengalir deras seperti air sungai.Rafael yang kelelahan karena bekerja di luar, segera mendekat. Ia mengangkat tangannya tinggi, lalu kemudian...Plaaakkk!!!"Sampai kapan kamu seperti ini, Nilam? Sampai kapan, hah? Tidak capek kamu, hah?" ucap Rafael dengan nada marah.Wajah Nilam tertoleh. Darah mengalir pelan dari sudut bibirnya. Bukannya marah ataupun tersinggung, Nilam malah terkekeh pelan."Hahahaha... Ayana... Ayana sayang... kembalilah pada Bunda, Nak," ucapnya seraya menangis tanpa menghiraukan keberadaan Rafael dan lainnya.Rafael mem

  • Penyesalan Yang Datang Terlambat   Bab 12

    Dengan tangan yang gemetar, Rosima meletakkan nampan berisi teko dan gelas air minum di hadapan Rafael. "Silakan minum, Tuan. Saya ke belakang dulu," ucap Rosima. Rafael mengangguk, membiarkan Rosima pergi. Ia menuangkan air minum ke dalam gelas, lalu menenggaknya hingga habis. Setelah itu, ia kembali ke dalam kamarnya. Dari luar pintu, ia sudah mendengar isakan tangisan istrinya yang tak berhenti. Rafael menarik napas dalam-dalam. Sebenarnya ia juga menyesal, tetapi tanggung jawabnya terlalu besar untuk menyesal terlalu larut. [Ceklek] Rafael membuka pintu. Sosok Nilam yang memunggungi ranjang terlihat jelas. Tubuhnya membungkuk, dengan foto Ayana yang berada dalam dekapannya. "Sayang... apakah di kehidupanmu hanya penyesalan saja?" tanya Rafael sambil mendekat, berusaha menenangkan tangisan istrinya dengan pelukan dari belakang. Nilam tak mendengar. Tubuhnya masih bergetar. "Aku juga menyesal memperlakukan Ayana seperti itu, tapi apakah itu membuat kamu lalai, Nilam?" tanya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status