ANMELDENDengan tangan yang gemetar, Rosima meletakkan nampan berisi teko dan gelas air minum di hadapan Rafael. "Silakan minum, Tuan. Saya ke belakang dulu," ucap Rosima. Rafael mengangguk, membiarkan Rosima pergi. Ia menuangkan air minum ke dalam gelas, lalu menenggaknya hingga habis. Setelah itu, ia kembali ke dalam kamarnya. Dari luar pintu, ia sudah mendengar isakan tangisan istrinya yang tak berhenti. Rafael menarik napas dalam-dalam. Sebenarnya ia juga menyesal, tetapi tanggung jawabnya terlalu besar untuk menyesal terlalu larut. [Ceklek] Rafael membuka pintu. Sosok Nilam yang memunggungi ranjang terlihat jelas. Tubuhnya membungkuk, dengan foto Ayana yang berada dalam dekapannya. "Sayang... apakah di kehidupanmu hanya penyesalan saja?" tanya Rafael sambil mendekat, berusaha menenangkan tangisan istrinya dengan pelukan dari belakang. Nilam tak mendengar. Tubuhnya masih bergetar. "Aku juga menyesal memperlakukan Ayana seperti itu, tapi apakah itu membuat kamu lalai, Nilam?" tanya
Stella menatap kedua mata Ayna dengan tatapan menyelidik. Ia seolah mencari sesuatu yang tersembunyi di balik sorot mata itu. Ayna yang merasa dirinya ditatap begitu intens, segera menghentikan gerakannya pada gelas yang ia pegang. "Ada apa, Stella? Apakah pertanyaan gue salah?" tanya Ayna sambil tersenyum tipis. Stella terdiam. Ia tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Bagaimanapun, ia termasuk salah satu orang yang telah membully Ayana sebelum gadis itu meninggal. Stella menarik napas pelan, lalu kembali mengatur ekspresi wajahnya. Senyum tipis ia tampilkan, menutupi kegelisahan yang sempat muncul. "Sebaiknya lo lupakan saja pertanyaan itu," ucap Stella santai, seolah apa yang pernah ia lakukan dahulu adalah hal yang biasa. Ayna menganggukkan kepalanya pelan. Namun, tatapannya berubah tajam ketika kembali menatap Stella. "Lo nggak berani jawab, karena lo bagian dari pembully itu, bukan?" tanya Ayna. Pertanyaan itu membuat Stella tertohok. Raut wajah Stella berubah. I
"Perkenalkan, namaku Ayna Zanette Putri Artha," ucap Ayna dengan suara lembut, ceria, dan terdengar menyenangkan. "Hallo, Ayna. Namaku Stella Cornelia," sahut gadis yang duduk di meja terdepan sambil melambaikan tangan. Kebetulan kursi di sampingnya kosong. Ayna menganggukkan kepalanya pelan sebagai balasan. "Hallo, Ayna. Namaku Griyane Polusta. Kalau kamu melihat butik Griyane di sepanjang jalan, kamu harus tahu itu adalah milik keluargaku," ucap murid yang duduk di samping meja itu dengan nada sombong. Sekali lagi, Ayna hanya mengangguk pelan. Ia tidak memiliki alasan untuk meladeni ucapan murid-murid itu. "Tunda dulu perkenalannya, lanjutkan pelajaran kalian. Jangan sampai tertunda," ucap Bu Ayu dengan senyum tipis. Setelah mengatakan itu, ia membalikkan badannya tanpa mengatakan apa pun kepada guru yang sedang mengajar di kelas itu. Ayna menatap kepergian Bu Ayu dengan tatapan yang sulit diartikan. Beberapa detik kemudian, senyum smirk tersungging di bibirnya. "Baik, kamu
Gedung Aurora Summit berdiri megah dengan arsitektur modern yang menjulang tinggi. Halaman sekolah yang luas dipenuhi oleh para siswa yang berjalan tergesa menuju kelas masing-masing sebelum gerbang benar-benar ditutup. Ayna berhasil masuk beberapa saat sebelum gerbang tertutup. Sebagai murid pindahan, ia tidak bisa langsung menuju kelas. Ia harus terlebih dahulu melapor kepada kepala sekolah untuk menyelesaikan administrasi serta penempatan kelasnya. Dengan langkah santai namun mantap, Ayna berjalan menuju kantor kepala sekolah. Setibanya di depan pintu ruangan itu, ia mengetuk pelan lalu membuka pintunya. "Permisi..." ucap Ayna dengan suara sopan. Kepala sekolah yang memang sudah diberi kabar sebelumnya tentang kedatangan murid pindahan segera menoleh ke arah pintu. Begitu melihat Ayna berdiri di sana, ia langsung menyambut gadis itu dengan ramah. "Silakan duduk, Nona," ucap kepala sekolah itu sambil menunjuk kursi di depan mejanya. Ayna mengangguk pelan lalu duduk dengan t
Tarina duduk di sisi ranjang, tepat di dekat Ayana. Tatapannya begitu teduh, dipenuhi kehangatan yang selama ini tidak pernah Ayana rasakan sepanjang hidupnya. Wanita itu menatap wajah gadis di hadapannya dengan penuh kasih sayang, seolah takut jika ia berkedip terlalu lama maka putrinya akan menghilang lagi. "Nama kamu Ayna Zanette Putri Artha, Sayang. Itu nama yang sangat kamu suka," ucap Tarina dengan suara lembut. Ayana terdiam. Ada perasaan aneh yang menyesakkan dadanya. Ia ingin menolak kenyataan bahwa namanya telah berhenti menjadi Ayna yang tak ia kenali ini. Ia ingin menyangkal semuanya. Namun ia juga sadar akan satu hal yang tidak bisa ia bantah. Tubuh aslinya sudah mati. dan terperangkap pada tubuh orang yang nama panggilannya mirip dengan nama dirinya sendiri. Karena itulah, pada akhirnya ia hanya menundukkan kepalanya dalam diam. "Jangan terlalu memaksakan diri. Masih banyak waktu untuk mengingatnya, Sayang," ucap Tarina lagi dengan nada menenangkan. Ima
Di luar ruangan perawatan, keluarga Artha menunggu dengan penuh kecemasan. Wajah mereka pucat seperti kertas putih yang belum tersentuh tinta. Tidak ada satu pun yang benar-benar tenang. Setiap detik terasa begitu panjang bagi mereka. Ceklek. Pintu ruangan terbuka perlahan. Imanuel dan istrinya berjalan lebih dulu. Mereka segera berdiri di hadapan Dokter Max yang baru saja menutup pintu ruang rawat. "Bagaimana keadaan Princess, Dok?" tanya Imanuel dengan nada khawatir yang sulit disembunyikan. "Bagaimana keadaan putriku, Dok?" tanya Tarina, istri Imanuel, dengan suara yang ikut bergetar. Dokter Max menarik napas panjang. Wajahnya terlihat serius. Ia kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Sayangnya, gelengan itu langsung disalahartikan oleh semua orang yang menunggu di sana. Tarina langsung menangis histeris. Tubuhnya gemetar hebat. Sementara Imanuel hanya diam dengan air mata yang tertahan di pelupuk matanya. Tiga putra mereka pun tidak mampu menahan diri lagi. Mereka menangi







