Share

bab 8 Nyaris Ternoda

Malam ini Mas Agi menginap di rumah temannya, katanya ada keperluan penting. Meski merasa was-was tapi aku tak bisa melarangnya. Saat makan malam Mas Adil menyuruhku tidur di kamar bersama Yani dan dia tidur di tengah rumah. Tapi istrinya menolak mentah-mentah. Siapa yang tahan berdepat dengan ipar kembar cerewet itu. Mereka selalu punya banyak alasan untuk memenangkan perdebatan, hingga akhirnya Mas Adil mengalah.

Malam ini hujan lebat mengguyur bumi. Suasana rumah sangat sepi. Kurapatkan selimut pada tubuh anakku lalu mengecup pipinya. Aku beranjak ke kamar mandi saat merasa kantung kemih penuh.

Saat membuka pintu kamar mandi jantungku nyaris melompat mendapati Mas Doni berdiri menghalangi jalan dengan seringai jahatnya. Aku mundur selangkah. Lelaki tak ada akhlak pun ikut maju. Meski gemetar tapi aku harus tenang. Suami Yuni itu hendak membekap mulutku, aku menghindar. Aku tak mungkin mengadu tenaga, sudah pasti kalah. Dia semakin penasaran dan beringas dan berhasil membekap mulutku saat aku hendak berteriak.

Aku terus berusaha melepaskan diri dari bekapannya, dadaku sesak oleh bekapan juga rasa takut. Suara hujan di luar menyamarkan suara kami, aku berteriak pun belum tentu ada yang mendengar. Hatiku terus meminta pertolongan pada Allah saat lelaki itu berusaha menyudutkanku ke dapur.

Beberapa saat kemudian ia agak kewalahan karena aku terus memberontak. Sesaat matanya lengah dan cekalannya ditanganku sedikit mengendor. Aku melihat peluang lalu menyarangkan tendangan pada alat pusakanya. Spontan lelaki itu menjerit kesakitan dan makin beringas tapi kembali melolong saat tendangan selanjutnya kuayunkan.

Rupanya hujan sudah reda dan teriakan Mas Doni membangunkan seisi rumah. Yuni murka melihat suaminya membungkuk kesakitan sambil memegang barang pusakanya, sementara di depannya tanpa sadar aku masih memasang kuda-kuda.

“Apa yang kamu lakukan pada Mas Doni?” teriak Yuni.

“Wanita itu merayuku dan saat kutolak dia menendang pedangku,” lelaki taka da akhlak itu memfitnahku membuat semua orang melotot tak percaya. Dia pasti takut ketahuan belangnya.

Kontan saja Yuni menyerangku sambil mengumpat.

“Fitnah, itu fitnah. Aku tak pernah menggodanya justru dia yang ingin berbuat kurang ajar padaku.”

“Mas Doni yang gagah dan ganteng tak mungkin tertarik sama kamu yang kucel dan buruk rupa,” sergahnya.

Yuni dibantu Yani sibuk menghujatku hingga mengabaikan suaminya yang kesakitan.

“Secepatnya kamu keluar dari rumah ini, muak aku lihat muka kamu yang sok polos itu!” Yuni menunjuk mukaku. Percuma aku membela diri bagaimana pun dia lebih membela suaminya.

Untung Mas Adil segera datang mendinginkan suasana yang memanas. Dia juga terlihat iba padaku yang bersimbah air mata sambil menekuk lutut di pojok dapur. Untunglah anakku tetap tertidur pulas.

Pagi hari saat Mas Agi pulang ipar kembar langsung mengadu. Mas Agi mendatangiku yang tengah menyuapi Mama. Beberapa saat tadi kami berdua bertangisan. Mama terlihat sangat sedih saat aku menceritakan kejadian sebenarnya. Wajah merah padam Mas Agis segera mengendur saat mendengar pembelaan dari Mama. Dia pasti tahu istrinya tak mungkin berbuat keji seperti itu.

“Lala, kamu segera urus keperluan buat jadi TKW dan tepati janji kamu untuk menyewakan perawat untuk Mama.” Yani berkata dengan wajah tak ramah saat aku memasak di dapur.

“Tadinya aku ingin kamu keluar sekarang juga dari rumah ini, tapi keenakan di kamu,” Yuni menimpali dengan bibir terangkat sebelah. Sinis.

“Aku pasti tepati janjiku.”

Ternyata benar dibalik sebuah ujian selalu ada hikmahnya. Aku harus segera keluar dari rumah ini, harus!

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Louisa Janis
bagus yang kena STROKE yang kembar itu manusia tidak ada gunanya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status