Lala menjadi TKW meninggalkan balitanya karena suaminya tak memberi nafkah setelah di-PHK. Dia pun mendapat perlakuan zalim dari ipar kembarnya. Saat Lala jadi TKW, suaminya nikah lagi dengan bosnya. Dan akhirnya mereka pun cerai. Di Arab Lala menjadi perawat seorang perempuan sepuh yang baik hati. Seorang saudara majikannya tertarik dengan ketulusan hati Lala dan ingin menikahinya. Namun sayang dia memiliki istri. Apakah akhirnya mereka akan bersatu?
View MoreCarolina's POV:
After an unsuccessful job hunt, I returned home and found my mother, Lilian Edmond, at the front door. "You useless girl! You are 26 years old, yet you have no job or boyfriend. You cannot continue to eat in this house with us. Go back!" my mother yelled, standing by the door. "Mom," I said, standing in front of her. Mom was a 48-year-old woman of average height, with fair skin, blonde hair, and a curvaceous body. She wore a blue dress, while I was dressed in a faded yellow top, an old brown flared skirt, and a pair of black shoes. I held my old, worn-out black bag and stood silently in front of her. "Carolina, you are not entering this house today. You better go back and look for a job. If you do not find one, then do not come home again. If your father and I had known that sending you to the university was a waste, we wouldn't have wasted our money and saved it for your younger siblings. How do you expect us to continue to feed a grown woman like you in this house? If you do not want to work, then remain outside!" My mother went back into the house, slamming the door in my face. I stood outside speechless, looking at the closed door. I had graduated with a first-class degree in business management, but so far, I had not been able to secure a good job. The city was tough, and finding a job as a graduate was challenging. Well, my parents had five children, and I was the eldest sibling, having two younger sisters and two younger brothers. I was a 26-year-old woman, yet I had nothing serious going on in my life. I turned to walk back to the road, knowing that my mother shouldered all our family responsibilities, as my father was just a deadbeat who didn't truly care. He came home to eat, and we might not see him for days. As I stood by the roadside, I peered at the busy road, thinking of what to do next. The time was after 8 pm on a Friday evening, and I had been to every agency shop in the area to apply for a job. Shutting my blue eyes, I reached for my phone in my black bag to contact my best friend, Lucy Campbell. Lucy worked in a club, and I was sure she could help me get money to take care of my bills for the weekend. "Hello, Lucy," I said, once she picked up her phone. "Carolina. What's wrong?" Lucy asked, her voice barely above a whisper, as I noticed she was at work. "I'm homeless. Can I come and stay at your place?" I asked, knowing she lived alone, and I was trying to fight back my sobs. Lucy and I had met during one of my frequent job hunts, and we had become close since then, as she was a graduate too. "Why? What happened with your family again? Your mom threw you out? This is 8 pm. How can she send you away at night?" Lucy asked, sounding annoyed, and I tried not to sob. "I can't blame her. The economic situation is too hard, and my Mom is trying her best. I need to get a job. If I can find any job for tonight, I don't mind doing it," I told her, sobbing at last. "It's alright, Caro. Actually, I'm at work now. Can you come to The Blues Club? It's the biggest club and hotel in town. I'll try to speak to my boss to employ you. But you must quit speaking formal vocabulary and speak like a local like me. That way, my boss can employ you and take you seriously. Also, you must be friendly with the male clients. You'll have to endure their touch and how they interact with you," Lucy said. "Really? I must do all this if I want to get the job. Will it involve kissing or get intimate?" I asked, my heart pounding. "No. What's wrong with you, Carolina? You'll just have to put on a smiling face. Well, you know that you're a pretty woman, so some of the men might want to ask you out," she said, and I thought about it. "I don't have any problem with that. What matters is that I earn money, even if it means selling my body. I feel like a failure right now," I told Lucy as I sobbed. "It's okay, Caro. You're not a failure. Where are you? Start coming over. Do you have your transport fare, or should I lend you some money? Beside I don't have money to give you right now. My sister's wedding is next month, and I need to make preparations for it," Lucy said. "Alright. I'll pay you back. Please, help me, Lucy. You're the only best friend I have," I told her, and she laughed over the phone with her contagious laughter. "Don't mention that. I'm sure I'm not your only friend. Anyway, I'll send the money to you. Get here quickly," Lucy gave me a final ultimatum, and she knew how I had been trying to get a job with no success. I sighed, pacing about the road, and I got a message alert of 5,000 from Lucy, and I smiled. The money was more than I needed, but I knew I had to pay Lucy back. Looking ahead at the road, I hailed a taxi and told the driver, "To The Blues Clubhouse." The taxi driver looked at me from head to toe. "Are you sure you're going to the club dressed like this?" He eyed me suspiciously, and I frowned. "Why? I'm going there to meet a friend of mine," I told him, and he shrugged. "Get into the car. That's not my problem. But your bill is 1,500," the taxi driver said as I pulled the car door and entered the backseat. "Why? Isn't it 500?" I asked him, and his eyes darkened. "You can trek. Why get on a taxi?" he said to me coldly, and I frowned. "It's fine. Take me to the club," I told him, and he nodded and started the car, driving off to The Blues Club.“Aku enggak butuh tanah seluas ini, ya Habibi. Aku tahu uangmu tak berseri. Tapi jangan hamburkan untuk sesuatu yang sia-sia.” Suamiku mengusap-usap tanganku yang memegang lengannya.“Kalau aku tetap mau membelinya, gimana?” senyumnya dengan alis dinaik-turunkan untuk menggodaku.Ah, kadang-kadang sultan Arab ini nyebelin juga. Eh, tapi masa mau dibeliin tanah sepuluh hektar dibilang nyebelin. Tapi buat apa tanah seluas itu coba? Siapa yang mau ngurus?Aku menyimpan nomor ponsel yang tertera atas perintah suamiku tercinta sambil cemberut. Dia malah tertawa sambil mengecup bibirku dan membuat mataku melotot. Kan malu kalau ada orang yang melihat.“Bagaimana menurutmu bila di tempat ini kita bangun sebuah pesantren? Anak-anak akan belajar di sini dengan fasilitas yang baik tanpa dipungut bayaran sepeser pun?”Aku menatap matanya lekat. Itu adalah impian selintasku dulu sekali yang bahkan tak pernah berani kukatakan pada siapa pun. Impian yang muncul saat membaca tentang pesantren tahfidz
Setelah walimah kami memutuskan tinggal di rumah baru kami dengan status visa suami sebagai wisatawan. Setelah masa berlaku bisa hampir habis baru akan kami pikirkan rencana selanjutnya, apakah memperpanjang visa suami atau kami kembali ke kota Madinah. Beliau tak perlu khawatir dengan bisnisnya karena punya beberapa orang kepercayaan. Ada orang yang khusus mengelola hotel, juga ada yang khusus mengelola kebun kurma. Istilahnya mungkin bisnis jalan tapi ownernya jalan-jalan. Ibu, Lina dan Yusril senang sekali bisa berkumpul setiap hari setelah berpisah sekian lama. Rumah kami sekarang selalu hangat dengan kasih sayang dan gelak tawa.“Ucil senang sekali sekarang Ucil bisa main sama Bubu tiap hari. Sama Baba juga Ucil suka main kuda-kudaan.”Anakku selalu riang gembira. Berpindah-pindah dari pangkuanku, ke pangkuan ayah sambungnya, lalu ke pangkuan Ibu, juga ke pangkuan Lina. Dia seolah sedang memuaskan dirinya bermain bersama semua orang yang menyayanginya. Setiap waktu salat dia aka
Menjelang Ashar tamu masih berdatangan satu-satu. Tapi kami sudah terlalu lelah dan pamit masuk ke rumah untuk beristirahat. Di tenda luar dan ruang tamu masih ada Ibu dan Uwa yang bisa mewakili kami menerima tamu. Kecuali tamu spesial maka kami akan menemuinya sebentar.Saat masuk kamar mataku membola melihat ke arah tempat tidur kami. Besar sekali ukuran kasur ini. Lalu tiba-tiba aku menyadari sesuatu, suamiku yang berbadan lebih tinggi dari orang Indonesia pasti merasa tak nyaman saat tidur di kasurku. aku merasa bersalah tetapi dia tak protes. Subhanallah, manisnya suamiku."Ekhem, sudah tak sabar menunggu malam, ya Habibati? Lihat kasur terus." Sebuah suara dengan nada menggoda berbisik di telingaku membuat wajahku memerah. "Apaan sih, enggak kok. Aku hanya baru sadar kasur di kamarku kecil banget buatmu. Maaf ya, Habibi, aku kurang peka." Suamiku hanya tersenyum. Dia memang selalu tidur lebih akhir dan bangun lebih awal sehingga aku tak menyadarinya."Mari kubantu melepas baju
Akhirnya tiba juga hari ini. Menjadi ratu sehari dalam pernikahan kedua. Kami duduk di pelaminan yang didekorasi indah di halaman rumah kami yang luas. Aku mengenakan gaun pengantin putih cantik yang dikirim memakai cargo dari Arab sana. Suamiku yang gagah terlihat makin memesona dalam balutan baju pengantin warna putih senada dengan gaunku. Aku di-make up minimalis saja. Ibu dan Wak Endo duduk mendampingi kami. Yusril bergabung bersama kami sebentar tapi kemudian bosan dan memilih main bersama sepupunya."Istriku cantik sekali, Masya Allah. Inginnya kusembunyikan saja di kamar," komentar suamiku saat melihatku selesai didandani."Aku juga malu sekali buat duduk di pelaminan. Betul katamu, sebaiknya aku ngumpet di kamar.""Haha aku bercanda, ya Habibati. Kita harus tetap duduk untuk menyalami tamu. Seperti adat di sini. Lagi pula kelihatannya tamu-tamu di sini sopan-sopan pakaian dan perilakunya."Panggung hiburan berdiri kokoh di sebelah kanan gerbang. Siapa pun boleh ikut berpartisi
Hari ini merupakan salah satu hari paling bahagia dalam hidup Ibuku, dan melihat kebahagiaan beliau adalah salah satu kebahagiaan terbesarku. Sebenarnya aku malu bila harus dipajang lagi di pelaminan sebagai mempelai. Tetapi Ibu ingin berbagi kebahagiaan kami dengan seluruh warga kampung dan kerabat kami, maka aku pun memenuhi keinginannya dengan mengadakan walimah yang meriah untuk ukuran kami.Dua hari sebelum hari-H Alhamdulillah rumah baru kami sudah selesai dibangun dan siap digunakan untuk resepsi. Masjid kampung kami pun meski belum selesai dibangun tapi sudah nampak bangunan utuhnya yang megah. Sehingga kami tidak terlalu merasa bersalah bila memiliki rumah megah tapi masjid diabaikan.Kami memilih tidak memakai jasa catering, dan memberikan kesempatan pada para tetangga untuk berpartisifasi. Para tetangga pun dengan senang hati berkumpul di dapur Ibu untuk membantu memasak. Kue-kue tradisional yang lezat-lezat memenuhi ruang keluarga rumah kontrakan Ibu sejak malam. Sementara
Entah berapa lama aku terjebak di sini hingga tiba-tiba semua orang terdiam dan melihat ke arah yang sama. Aku yang tengah menunduk jadi bingung dan ikut melihat arah tatapan mereka.“Masya Allah Nabi Yusuf lewat.”“Masya Allah ada malaikat di kampung kita.”"Lihat punggungnya, jangan-jangan dia punya sayap."Pria macho dengan wajah ganteng itu kaget sebentar saat melihat gerombolan ibu-ibu, tapi kemudian dengan tenang melewati mereka. Tanpa memandang dan tanpa senyum hanya mengucapkan assalamualaikum dengan suara tegas penuh kharisma. Di Arab sana pasti tak pernah ditemuinya gerombolan ibu-ibu nangkring sore-sore. Aku geleng-geleng kepala saat para ABG putri diam-diam mengambil foto Mister Halim.Menjelang Jum'atan aku sudah siap berangkat bersama Lina menuju rumah mantan mertua. Mengantarkan kartu undangan sebagai alasanku untuk bersilaturahim dengan beliau. Sebenarnya aku kangen sekali dengan mantan mertua yang baik hati itu. Tapi hati selalu bimbang setiap mengingat kemungkinan aka
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments