Beranda / Romansa / Perginya istri Rahasia Ceo / Bab 30. Memutuskan hubungan kerjasama.

Share

Bab 30. Memutuskan hubungan kerjasama.

Penulis: V3yach
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-19 14:34:10

Keesokan harinya, suasana di ruang rapat utama Mahendra Group terasa tegang. Para direktur, investor, dan penasihat hukum duduk di kursi masing-masing, memperhatikan Arvino Mahendra yang berdiri tegak di ujung meja panjang. Tatapannya tajam, namun kini tidak lagi dingin, melainkan tegas dan penuh ketenangan yang tak tergoyahkan.

Di hadapannya, berkas-berkas kerja sama antara Mahendra Group dan Andjani Corporation, perusahaan milik keluarga Cassandra, tersusun rapi. Kontrak bernilai miliaran rupiah yang selama ini menjadi inti kekuatan dua konglomerat besar itu kini siap ia batalkan dengan satu tanda tangan.

“Apakah Anda yakin ingin membatalkan semua kerja sama, Pak Arvino?” tanya salah satu penasihat hukum dengan nada hati-hati. “Konsekuensinya akan besar. Media akan bertanya, dan investor bisa panik.”

Arvino menatapnya dalam. “Saya sudah siap dengan semua risikonya. Tidak ada kerja sama yang layak dipertahankan jika di dalamnya hanya ada kebohongan dan manipulasi.”

Dia mengambil
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 108. Jatuh Cinta.

    Keesokan paginya, Zahra turun ke lobi hotel lebih awal. Ia mengenakan setelan kerja sederhana dan mengikat rambutnya dengan rapi. Wajahnya tampak tenang, meskipun masih ada sisa kelelahan di matanya.Ia duduk di sofa dan membuka agenda kerjanya. “Fokus,” gumamnya pada diri sendiri.“Selamat pagi.” Suara itu membuat Zahra menoleh dengan cepat.Kayden berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan kemeja abu-abu dan jas hitam. Rambutnya tertata rapi, dan wajahnya terlihat segar meskipun jelas kurang tidur.“Selamat pagi, Pak Kayden,” jawab Zahra dengan sedikit gugup.Kayden mengangguk. “Bagaimana, apakah kamu tidur cukup semalam?”Zahra terdiam sejenak. “Cukup.”Kayden menatapnya sejenak, seolah bisa melihat kebohongan kecil itu, tetapi ia tidak memaksa.“Daniel masih menyiapkan berkas,” kata Kayden. “Kita punya waktu untuk sarapan sebentar.”“Da - Daniel?” tanya Zahra terkejut.“Hemm, Daniel. Saya yang meminta dia datang agar kamu ada yang membantu,” jelas Kayden menjawab rasa penasaran

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 107 . Air mata yang akhirnya jatuh.

    Lampu di kamar hotel menyala redup. Zahra duduk di tepi ranjang, masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat makan malam tadi. Sepatu haknya tergeletak di lantai, sementara tas kerjanya diletakkan sembarangan di kursi.Sunyi ... begitu sunyi hingga detak jantungnya sendiri terdengar jelas.Zahra memeluk lututnya, dagunya bersandar di sana. Pandangannya kosong menatap karpet, tetapi pikirannya dipenuhi berbagai pikiran.“Kenapa selalu seperti ini …” gumamnya pelan.Bayangan wajah Livia kembali muncul di benaknya. Tatapan merendahkan. Kata-kata yang menyakitkan. Tuduhan yang sama seperti bertahun-tahun lalu.Kenangan itu datang tanpa diundang.“Kamu sok polos, Zahra!”“Jangan berpura-pura suci!”“Kalau kamu tidak genit, mana mungkin cowokku dekat sama kamu?!”Zahra kecil berdiri di lorong sekolah, tasnya ditarik, hijabnya hampir terlepas. Ia hanya diam. Selalu diam.“Jawab dong! Jangan cuma pasang muka kasihan!”Dan kenyataannya, ia hanya bisa menunduk.Hingga ingatan itu menghilang

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 107. Kepercayaan.

    Kayden mengangkat tangannya. “Saya belum selesai.”Dia menatap Zahra. “Lihat saya.”Zahra mengangkat wajahnya, air mata menggantung tetapi tidak jatuh.“Saya percaya padamu,” kata Kayden dengan tenang namun tegas.Seketika, seluruh ruangan menjadi hening.“Apa?” Livia spontan berseru.Kayden melanjutkan, suaranya terdengar jelas di seluruh ruangan. “Karena kebohongan selalu rapuh. Dan kejujuran tidak perlu berteriak.”Pelayan itu mundur selangkah. “Tuan, saya ...”“Keamanan,” panggil Kayden singkat.Dua petugas mendekat.“Antar pria ini keluar,” perintah Kayden. “Dan catat bahwa dia tidak pernah bekerja di acara perusahaan saya lagi.”Pelayan itu panik. “Nyonya Livia ...”Livia membelalak. “Jangan sebut nama saya!”Kayden menoleh tajam padanya. “Terlambat.”Livia terdiam, Zahra menutup mata sejenak. Napasnya bergetar.Kayden mendekat, suaranya direndahkan. “Kamu kuat. Dan kamu tidak sendiri.”Zahra menatapnya, matanya basah. “Terima kasih … karena sudah percaya.”Kayden mengangguk. “S

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 105. Fitnah.

    Di sudut ruangan, Livia berdiri sambil memegang segelas wine. Senyumnya bukan lagi senyum biasa, melainkan senyum seseorang yang hatinya terbakar.“Berani sekali dia,” gumamnya pelan. “Merasa menang.”Matanya mengikuti Zahra yang kembali duduk tenang di meja. Kayden masih berdiri di dekatnya, berbincang sebentar sebelum kembali ke kelompok CEO lainnya. Pemandangan itu menyakitkan harga diri Livia.“Baiklah ... Jika cara lama tidak berhasil,” bisiknya, “kita akan gunakan cara yang lebih licik.”Livia melirik seorang pelayan pria yang berdiri tidak jauh dari dapur. Wajahnya polos, seragamnya rapi, tampak gugup menghadapi tamu-tamu kelas atas. Lalu Livia melangkah mendekat.“Kamu,” panggilnya lembut. “Sebentar.”Pelayan itu menoleh. “Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?”Livia tersenyum ramah, namun senyumnya berbahaya. “Aku butuh sedikit bantuan. Kamu ingin tip besar, kan?”Pelayan itu ragu. “Tergantung ... bantuannya apa.”“Tenang,” ujar Livia pelan. “Kamu hanya perlu mengatakan satu hal.

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 204. Benalu.

    Malam itu, di dalam sebuah ruangan yang cukup mewah, lampu kristal menggantung di langit-langit ruang makan hotel. Percakapan para eksekutif perusahaan terdengar diselingi tawa ringan dan nada formal. Kayden berdiri tidak jauh dari meja utama, dikelilingi beberapa CEO yang sedang mendiskusikan peluang kerja sama lebih lanjut.Di sisi lain ruangan, Zahra duduk sendirian. Punggungnya tegak, tangannya rapi di atas meja. Ia tidak merasa kecil di tengah kemewahan itu; ia hanya memilih untuk tetap tenang. Malam ini, ia hadir sebagai seorang profesional, bukan sekadar hiasan.“Zahra?” Sebuah suara perempuan menyela pikirannya.Zahra menoleh. Seketika dadanya terasa tegang, seorang wanita berdiri di depannya dengan gaun berkilau mencolok, riasan tebal, dan senyum miring yang terasa menusuk. Wajah itu sangat dikenalnya.“Livia …” Zahra menyebut nama itu pelan.“Oh, syukurlah kamu masih ingat?” Livia terkekeh. “Kupikir kamu sudah melupakan orang-orang yang kamu injak demi naik kelas.”Zahra ber

  • Perginya istri Rahasia Ceo    Bab 103. Menjadi pusat perhatian.

    Setelah beberapa jam perjalanan, Kayden dan Zahra akhirnya tiba di kota tujuan, dan mobil berhenti tepat di depan hotel berbintang tempat mereka akan menginap sementara. Kayden turun lebih dulu, melirik bangunan tinggi itu sejenak, lalu menoleh ke Zahra yang masih duduk ragu di dalam mobil.“Kita istirahat sebentar,” ujarnya singkat. “Sekarang kamu ganti pakaian, setelah itu meeting akan dimulai dalam dua jam.”Zahra mengangguk. “Baik, Pak.”Mereka masuk ke lobi tanpa banyak bicara. Resepsionis menyambut dengan profesional. Kayden menyebutkan nama dan dua kamar yang telah dipesan terpisah.“Satu lantai, kamar berseberangan,” jelas resepsionis.Kayden mengangguk. “Bagus.”Zahra menangkap penekanan pada kata itu. (Bagus) Seolah Kayden ingin memastikan batasan tetap jelas.Di depan lift, Zahra akhirnya berbicara.“Pak, terima kasih sudah … mengatur semuanya.”“Itu sudah tugas saya,” jawab Kayden datar.Lift terbuka. Mereka masuk. Keheningan kembali mengisi ruang sempit itu.“Meeting hari

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status