LOGINAula SMA Nusantara terasa sesak oleh ratusan siswa baru yang berjejer rapi di kursi-kursi plastik biru. Pendingin ruangan belum sepenuhnya terasa, sehingga aroma seragam baru, parfum ringan, dan keringat bercampur menjadi satu. Di panggung depan, spanduk besar bertuliskan “Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah SMA Nusantara Tangerang” membentang lebar, dihiasi logo sekolah di tengahnya.
El duduk di deretan tengah, bersama beberapa teman seruangannya. Pandangannya sesekali berkeliling, mencari sosok yang tadi sempat duduk di sebelahnya di lapangan. Tiara.
“Perhatian kepada seluruh siswa baru,” terdengar suara dari pengeras, “acara selanjutnya adalah Pengenalan Tata Tertib Sekolah yang akan disampaikan langsung oleh Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Ibu Ratna Pramudita.”
Seisi aula bertepuk tangan sopan ketika seorang wanita berusia sekitar 40-an naik ke panggung. Rambutnya dikonde rapi, ekspresinya ramah namun tegas. Ibu Ratna mengambil mikrofon dan tersenyum, “Selamat pagi, anak-anakku sekalian.”
“Selamat pagi, Bu…” jawab siswa-siswa serentak namun lesu.
“Wah, suaranya pelan sekali. Coba sekali lagi, SELAMAT PAGI!”
Tawa ringan terdengar di seluruh aula. El tersenyum kecil, sedikit merasa lebih tenang.
Bu Ratna kemudian mulai menjelaskan isi tata tertib, aturan seragam, jam masuk, larangan memainkan HP selama jam pelajaran, dan sebagainya. Suaranya terdengar tenang tapi penuh wibawa. Namun di tengah penjelasannya, nada suaranya berubah sedikit.
“Oh iya, tadi pagi Ibu sempat dapat laporan dari guru piket,” katanya sambil tersenyum geli. “Katanya ada yang hampir telat ya? Hmm… siapa tuh, yang baru hari pertama sudah nyaris ditutup gerbangnya?”
Aula langsung hening.
“Ibu mau tau, siapa yang hampir telat? Ayo, angkat tangan. Jangan malu. Ibu nggak akan marah kok,” kata Bu Ratna sambil menyapu pandangannya ke seluruh aula.
Tak ada satu pun tangan yang terangkat.
El menunduk. Dalam benaknya, ia berpikir keras, Kalau gue diem aja, mungkin nggak ketahuan… tapi, ya, gimana… Wakasek pasti udah tau dari guru piket.
Dan akhirnya, pelan-pelan, tangan kanan El terangkat ke udara.
Seluruh aula langsung menoleh ke arahnya.
El berdiri, lututnya sedikit gemetar. Ia berjalan ke depan panggung sambil menunduk, menahan malu. Namun dalam keramaian itu, Tiara yang duduk di barisan depan kanan menatapnya tanpa berkedip. Ada rasa kagum yang tiba-tiba tumbuh dalam dirinya.
“Namamu siapa, Nak?”
“Baik, El. Ibu mau tanya, kenapa hampir telat di hari pertama? Padahal baru MPLS loh,” tanya Bu Ratna sambil menahan senyum.
El sempat berpikir sejenak, lalu menjawab dengan suara jujur, “Jalanan macet banget, Bu. Tapi… saya juga memang kurang siap dari rumah. Jadi ya, itu salah saya sendiri.”
Beberapa guru yang duduk di barisan depan saling melirik dan tersenyum.
El tersenyum malu. “Saya pikir, Bu… kalau kesalahan nggak berani kita akui, nanti kita malah merasa nggak bersalah. Dan itu bisa kebawa terus.”
Seketika suasana aula berubah hening.
Bu Ratna tertawa kecil. “Wah, keren juga jawabannya. Nah, anak-anak, kalian dengar kan? Kejujuran itu bukan tentang siapa yang salah, tapi siapa yang berani mengakui. El, kamu kasih contoh bagus banget buat teman-temanmu.”
“Terima kasih, Bu…” jawab El lirih.
Setelah itu, Bu Ratna mempersilakan El kembali ke tempat duduk. Saat El berjalan melewati barisan, beberapa siswa menepuk bahunya sambil tersenyum. Tapi satu tatapan terasa paling menenangkan, Tiara.
Bu Ratna melanjutkan pembicaraan, tapi fokus El sudah tak sepenuhnya di sana.
Hingga akhirnya, dari pengeras suara, suara panitia OSIS kembali terdengar:
El bergumam pelan, menatap Tiara dari jauh.
Senyum kecil terbit di wajah El.
Namun sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, suara mikrofon kembali menggelegar dari depan aula.
El langsung tertegun.
Apa lagi ini?
Pulang sekolah biasanya menjadi waktu paling ringan untuk El.Biasanya, Rafa bercanda receh, Faqih ribut sendiri, Tiara cerita hal-hal kecil yang entah kenapa selalu menarik.Tapi hari itu… semuanya terasa patah ritmenya.Bahkan langkah kaki mereka pun tidak kompak seperti dulu.Kenzo berjalan di sisi Tiara.Mereka bicara soal hal-hal yang El tidak tahu.Lomba lama yang El tidak pernah dengar.Cerita masa SD yang El tidak pernah ada di dalamnya.Untuk pertama kalinya, El merasa seperti tamu dalam lingkaran yang seharusnya miliknya.Faqih ngeh duluan.Ia coba narik El ke tengah obrolan.“Eh, El punya cerita juga nih! Dia—”“El,” potong Kenzo halus sambil menatap, “lo dulu ikut ekskul apa?”Pertanyaan sederhana.Normal.Nggak salah apa-apa.Tapi entah kenapa… El merasa seperti lagi diuji.“Futsal,” jawab El singkat.“Oh, pemain futsal ya.” Kenzo tersenyum. “Pantes tinggi.”Tiara mengangguk setuju. “Iya, dari awal juga keliatan banget El bakal cocok main futsal.”Dan itu aneh.Karena bia
Pagi itu terasa… berbeda.Bukan karena matahari lebih terang atau angin lebih sejuk.Tapi karena satu hal: mimpi itu.Mimpi yang semalam membuat dada El terasa aneh — campuran hangat, gugup, dan rasa takut yang sulit dijelaskan.Kalimat itu masih menggema di kepalanya:“Besok semuanya akan mulai berubah.”El mengucek mata di depan cermin kamar. Rambutnya masih acak-acakan, tapi moralnya turun naik.Ia mencoba menepis mimpi itu, berkata ke dirinya sendiri:“Ah… cuma mimpi. Nggak usah dipikirin.”Tapi tetap saja dadanya berat.Setelah sarapan dan diantar Ayah seperti biasanya, El tiba di sekolah dengan langkah sedikit lambat. Hari ini adalah hari pertama pelajaran dimulai — hari dimana kelas mulai lebih serius.Dan ketika ia melangkah ke gerbang sekolah, seluruh suasana tampak berjalan seperti biasa: murid-murid tertawa, suara langkah tergesa, aroma kertas baru dan seragam yang baru dicuci, dan pengumuman OSIS yang menggema.Tapi di antara semua itu, El merasa sesuatu… kosong.Karena ti
Malam menurunkan tirainya perlahan.Lampu meja belajar di kamar El menyala redup, menyoroti buku-buku yang sudah lama tak disentuh. Suara jangkrir terdengar dari balik jendela yang setengah terbuka, membawa udara dingin yang mengigit kulit. Di layar ponselnya, obrolan grup mereka berempat masih terbuka, namun tak satu pun kata baru muncul. Sunyi—seolah masing-masing sedang memikirkan hal yang sama, tapi memilih diam.El menyandarkan punggungnya pada kursi, menatap langit-langit putih kamarnya yang mulai berbayang karena lampu. “Lo jatuh cinta, kan?” Kalimat Rafa terputar ulang di kepalanya, seperti kaset rusak yang tak mau berhenti.Ia menghela napas pelan. “Cinta?” gumamnya.Tangan kirinya tanpa sadar meraih ponsel, membuka galeri, dan menemukan satu foto: Tiara sedang tertawa—diambil tanpa sepengetahuannya saat mereka berempat nongkrong sore itu. Entah kenapa, setiap kali melihat foto itu, dadanya terasa hangat... tapi juga berat.“Apa mungkin Rafa bener?” bisiknya lirih.Ia memejam
Di sekolah, suasananya sedikit berbeda dari MPLS.Para siswa mulai memakai seragam lengkap, membawa buku pelajaran, dan duduk di kelas dengan wajah-wajah baru yang mulai saling mengenal lebih dekat.Tiara terlihat sudah duduk di bangku baris kedua dekat jendela — tempat yang sama seperti saat MPLS. Rambutnya dikuncir rapi, wajahnya tampak cerah.El masuk ke kelas, dan begitu matanya bertemu dengan Tiara, senyum kecil itu muncul lagi.Rafa, yang duduk di belakang, langsung nyeletuk.“Waduhhh, pagi-pagi udah senyum-senyuman. Gua aja belum sarapan, tapi udah kenyang liat beginian.”Faqih ngakak di sebelahnya. “Hahaha, ini mah bukan MPLS lagi, tapi MCSS — Masa Cinta Saat Sekolah.”Tiara hanya menunduk sambil tertawa kecil, sedangkan El pura-pura fokus membuka buku, padahal mukanya udah merah setengah mati.Jam pelajaran berjalan cepat, tapi suasana di kelas itu nggak pernah sepi.Faqih beberapa kali kena tegur karena ngelawak waktu guru lagi jelasin pelajaran.Rafa juga sempat ketiduran l
Pagi itu terasa lain.Cahaya matahari masuk lewat celah tirai, menembus kamar El yang biasanya masih gelap di jam segini. Tapi kali ini, ia sudah duduk di tepi ranjang, tersenyum kecil sambil memandangi layar ponselnya yang kosong — seolah menunggu notifikasi baru yang mungkin datang.Hatinya entah kenapa ringan.Tidak ada hal besar yang terjadi… hanya sisa perasaan hangat dari percakapan malam tadi. Tapi cukup untuk membuat paginya terasa penuh semangat.Saat keluar dari kamar, aroma nasi goreng buatan ibunya langsung menyambut. Di meja makan, ayahnya sedang menyeduh kopi sambil membuka koran. Begitu melihat El keluar dengan wajah cerah, senyum sang ayah langsung muncul.“Heh, kenapa nih pagi-pagi senyum-senyum sendiri?” godanya sambil menatap anak semata wayangnya.El refleks tertawa kecil, berusaha menahan ekspresinya.“Enggaa Yah, biasa aja. Hari ini hari pertama belajar biasa, jadi semangat aja mungkin.”“Oh gitu ya…” ayahnya mengangguk, lalu dengan nada menggoda menambahkan,“Kir
Malam itu terasa berbeda.Meski lelah, dan jam sudah menunjukkan pukul 21.48, entah kenapa El tetap belum merasakan ngantuk. Ia berbaring di ranjang, lampu kamarnya sudah diredupkan, hanya cahaya layar ponsel yang memantul di matanya.Tangannya menggenggam ponsel erat—seolah menunggu sesuatu yang bahkan ia sendiri tak bisa jelaskan.Dan seolah semesta mengerti, notifikasi muncul di layar.Tiara 🕊️:“El, udah tidur?”El tersenyum kecil, mengetik pelan.“Belum. Kirain lo yang duluan tidur.”Balasan datang cepat.“Katanya boleh chat lagi, jadi yaaa... gue chat deh hehe.”El tertawa kecil tanpa suara.“Hehehe iya iya, bener juga. Lagi ngapain?”“Baru selesai nyusun buku pelajaran buat besok. Rasanya aneh ya, besok udah m







