Home / Romansa / Perjalanan Cinta dan Harapan / BAB 4 - Langkah Pertama

Share

BAB 4 - Langkah Pertama

Author: Kahfi Riza
last update Last Updated: 2025-10-31 08:26:04

Suasana aula mulai sepi. Satu per satu siswa baru beranjak keluar, mengikuti arahan panitia OSIS yang sudah menunggu di luar. Namun El tetap duduk di kursinya, sesuai instruksi yang baru saja disampaikan lewat pengeras suara. Beberapa siswa yang lewat menatapnya penasaran, ada juga yang sempat berbisik, “Eh, itu yang tadi maju, kan?”

El hanya tersenyum kecil, mencoba bersikap biasa meski jantungnya masih berdebar sejak tadi. Tak lama kemudian, Bu Ratna muncul dari arah panggung, langkahnya tenang, membawa map berwarna cokelat.

“Ah, ini dia si jujur kita,” ucapnya sambil tersenyum hangat.

El berdiri cepat. “Iya, Bu… ada yang mau Ibu sampaikan?”

Bu Ratna terkekeh pelan. “Hehe, santai aja, El. Ibu cuma mau bilang, kamu keren. Biasanya kalau Ibu tanya begitu, nggak ada yang mau ngaku. Eh, kamu malah langsung angkat tangan. Hebat, lho. Padahal sebenernya Ibu nggak mengarah ke kamu tadi.”

El menatap heran. “Lho? Serius, Bu?”

“Iya,” jawab Bu Ratna sambil tertawa kecil. “Tapi kamu ngaku duluan, jadi Ibu kira kamu yang dimaksud guru piket.”

El mengusap tengkuknya yang terasa hangat. “Hehehe… ya, gimana ya Bu, saya kira memang saya yang dimaksud.”

“Iya, dan justru dari situ Ibu bisa lihat kamu anaknya berani. Itu hal yang langka, El. Terus pertahanin ya,” ujar Bu Ratna sambil menepuk bahunya ringan.

Sebelum El sempat menjawab, terdengar suara ceria dari arah pintu.

Bagas langsung tertawa keras. “Wihhh, keren bro! Jarang banget loh anak baru berani ngaku. Biasanya sih pura-pura lupa jam sekolah, hahaha.”

El tersipu, menunduk. “Aduh, jangan dibahas terus dong, Kak.”

Bu Ratna tersenyum melihat interaksi mereka. “Kalian udah kenal sebelumnya?”

“Belum, Bu,” jawab Bagas cepat. “Tapi tadi pas pagi, saya yang ngarahin dia ke kelasnya. Ingat banget, ruang 7 lantai 3 kan, bro?”

El mengangguk. “Iya, bener.”

“Kalau gitu, kenalan dulu deh,” kata Bu Ratna sambil tersenyum.

Bagas mengulurkan tangan. “Oke, nama lengkap gue Bagaskara Pradipta, tapi panggil aja Bagas. Ketua OSIS periode ini, hehe.”

El menjabat tangannya dengan senyum malu. “Zarael Narendra. Panggil aja El.”

“Siapp, El. Dan santai aja ya, nggak usah ‘Kak-Kak’-an segala. Kayaknya kita seumuran juga, gue kelas 11.”

El terkekeh kecil. “Oke, noted.”

Suasana terasa hangat dan akrab seketika.

Lalu Bu Ratna mengambil sesuatu dari map yang ia bawa. Sebuah buku berwarna biru muda dengan tulisan “Langkah Awal yang Baik” di sampulnya.

“Nih, El,” katanya sambil menyerahkan buku itu. “Sebagai apresiasi dari Ibu. Karena kejujuran sekecil apa pun, pantas untuk dihargai.”

El menatap buku itu dengan mata sedikit membesar. “Serius, Bu? Buat saya?”

Bu Ratna mengangguk. “Iya. Tapi jangan jadi beban ya, anggap aja hadiah kecil.”

“Wah, makasih banyak, Bu… beneran nggak nyangka saya dikasih beginian.”

Bagas menepuk bahunya. “Cocok tuh, bro. Jadi anak baru tapi udah dapet hadiah dari Wakasek. Mantap, hahaha.”

El hanya tertawa kecil, sementara Bu Ratna berkata lembut, “Sekarang kamu boleh lanjut ikut MPLS lagi, ya. Di luar anak-anak sudah mulai sesi pengenalan lingkungan sekolah. Biar Bagas aja yang nganterin kamu.”

“Oke, Bu.”

El membungkuk sopan sebelum keluar ruangan bersama Bagas.

Koridor sekolah terasa riuh. Ratusan siswa baru berjalan berkelompok, sebagian menenteng catatan, sebagian lagi sibuk memotret gedung sekolah dengan ponsel yang diam-diam mereka bawa.

Udara siang mulai terasa panas, tapi semangat para siswa belum padam.

“Jadi, lo dari SMP mana, El?” tanya Bagas sambil berjalan santai di sampingnya.

“SMP Nusantara juga, tapi cabang Tangerang Selatan. Lo sendiri dari mana?”

“Dari sini, bro. Anak asli Nusantara, hahaha. Jadi udah hapal seluk-beluknya. Lo nanti ikut kelompok 3 ya, di situ yang lagi jalan ke taman belakang.”

El mengangguk. Mereka berdua akhirnya bergabung dengan rombongan siswa lain yang dipandu OSIS perempuan bernama Kak Dita. Di sana, suasana terasa lebih santai, mereka sedang berkeliling melihat taman sekolah, ruang UKS, dan laboratorium.

Namun di tengah keramaian itu, mata El tiba-tiba menangkap sosok yang familiar, Tiara.

Ia berjalan di barisan depan. Sinar mataharinya memantul di rambut hitamnya yang terurai lembut.

Entah kenapa, El merasa dadanya bergetar lagi, sama seperti di tangga pagi tadi.

Sementara Tiara, tanpa menoleh, tahu bahwa seseorang memperhatikannya. Ia berpura-pura mendengarkan penjelasan Kak Dita, tapi matanya sesekali melirik ke arah belakang, memastikan dugaannya benar.

Dan benar saja. El berada beberapa langkah di belakangnya, sedang berbicara dengan Bagas sambil sesekali tersenyum.

Dia anak yang tadi maju ke depan… yang jujur itu, pikir Tiara sambil menunduk sedikit.

Untuk pertama kalinya, bibirnya membentuk senyum samar tipis, tapi nyata.

Rombongan berhenti di depan gedung laboratorium. Kak Dita memberi instruksi untuk beristirahat sejenak di halaman. Para siswa duduk di bawah pohon flamboyan besar. El menaruh tasnya, lalu menatap ke arah depan, Tiara sedang duduk beberapa meter darinya, membuka botol minum dan mengusap keringat di leher.

Bagas tiba-tiba menepuk bahunya.

“Bro, lo kenapa ngelamun?”

El tersentak. “Nggak, cuma liat taman doang.”

“Hahaha, taman ya? Atau yang di taman?” goda Bagas sambil menaikkan alis.

El hanya bisa terdiam menahan malu.

Sementara itu, Tiara yang mendengar sedikit percakapan itu melirik ke arah mereka sebentar, lalu buru-buru berpaling lagi. Pipinya bersemu ringan tanpa alasan jelas.

Hari semakin siang. Sesi pengenalan lingkungan akhirnya berakhir di depan lapangan utama. Semua siswa diarahkan kembali ke aula untuk kegiatan penutupan hari pertama MPLS.

El menatap buku biru di tangannya, hadiah dari Bu Ratna.

Ia tersenyum tipis, lalu memandang Tiara yang berjalan beberapa meter di depannya.

Aneh… baru sehari, tapi gue udah ngerasa ada yang berubah.

Dan tanpa ia sadari, Tiara menoleh sebentar, hanya sepersekian detik menatap El yang memandangnya dari jauh.

Langit mulai memerah di ufuk barat, menandai sore pertama di SMA Nusantara.

Dan mungkin, juga awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pertemuan tak sengaja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjalanan Cinta dan Harapan   BAB 17 - Retakan yang Tak Terlihat

    Pulang sekolah biasanya menjadi waktu paling ringan untuk El.Biasanya, Rafa bercanda receh, Faqih ribut sendiri, Tiara cerita hal-hal kecil yang entah kenapa selalu menarik.Tapi hari itu… semuanya terasa patah ritmenya.Bahkan langkah kaki mereka pun tidak kompak seperti dulu.Kenzo berjalan di sisi Tiara.Mereka bicara soal hal-hal yang El tidak tahu.Lomba lama yang El tidak pernah dengar.Cerita masa SD yang El tidak pernah ada di dalamnya.Untuk pertama kalinya, El merasa seperti tamu dalam lingkaran yang seharusnya miliknya.Faqih ngeh duluan.Ia coba narik El ke tengah obrolan.“Eh, El punya cerita juga nih! Dia—”“El,” potong Kenzo halus sambil menatap, “lo dulu ikut ekskul apa?”Pertanyaan sederhana.Normal.Nggak salah apa-apa.Tapi entah kenapa… El merasa seperti lagi diuji.“Futsal,” jawab El singkat.“Oh, pemain futsal ya.” Kenzo tersenyum. “Pantes tinggi.”Tiara mengangguk setuju. “Iya, dari awal juga keliatan banget El bakal cocok main futsal.”Dan itu aneh.Karena bia

  • Perjalanan Cinta dan Harapan   BAB 16 - Yang Datang Tanpa Diduga

    Pagi itu terasa… berbeda.Bukan karena matahari lebih terang atau angin lebih sejuk.Tapi karena satu hal: mimpi itu.Mimpi yang semalam membuat dada El terasa aneh — campuran hangat, gugup, dan rasa takut yang sulit dijelaskan.Kalimat itu masih menggema di kepalanya:“Besok semuanya akan mulai berubah.”El mengucek mata di depan cermin kamar. Rambutnya masih acak-acakan, tapi moralnya turun naik.Ia mencoba menepis mimpi itu, berkata ke dirinya sendiri:“Ah… cuma mimpi. Nggak usah dipikirin.”Tapi tetap saja dadanya berat.Setelah sarapan dan diantar Ayah seperti biasanya, El tiba di sekolah dengan langkah sedikit lambat. Hari ini adalah hari pertama pelajaran dimulai — hari dimana kelas mulai lebih serius.Dan ketika ia melangkah ke gerbang sekolah, seluruh suasana tampak berjalan seperti biasa: murid-murid tertawa, suara langkah tergesa, aroma kertas baru dan seragam yang baru dicuci, dan pengumuman OSIS yang menggema.Tapi di antara semua itu, El merasa sesuatu… kosong.Karena ti

  • Perjalanan Cinta dan Harapan   BAB 15 - Pertanda Malam Itu

    Malam menurunkan tirainya perlahan.Lampu meja belajar di kamar El menyala redup, menyoroti buku-buku yang sudah lama tak disentuh. Suara jangkrir terdengar dari balik jendela yang setengah terbuka, membawa udara dingin yang mengigit kulit. Di layar ponselnya, obrolan grup mereka berempat masih terbuka, namun tak satu pun kata baru muncul. Sunyi—seolah masing-masing sedang memikirkan hal yang sama, tapi memilih diam.El menyandarkan punggungnya pada kursi, menatap langit-langit putih kamarnya yang mulai berbayang karena lampu. “Lo jatuh cinta, kan?” Kalimat Rafa terputar ulang di kepalanya, seperti kaset rusak yang tak mau berhenti.Ia menghela napas pelan. “Cinta?” gumamnya.Tangan kirinya tanpa sadar meraih ponsel, membuka galeri, dan menemukan satu foto: Tiara sedang tertawa—diambil tanpa sepengetahuannya saat mereka berempat nongkrong sore itu. Entah kenapa, setiap kali melihat foto itu, dadanya terasa hangat... tapi juga berat.“Apa mungkin Rafa bener?” bisiknya lirih.Ia memejam

  • Perjalanan Cinta dan Harapan   BAB 14 - Empat Cangkir Cerita

    Di sekolah, suasananya sedikit berbeda dari MPLS.Para siswa mulai memakai seragam lengkap, membawa buku pelajaran, dan duduk di kelas dengan wajah-wajah baru yang mulai saling mengenal lebih dekat.Tiara terlihat sudah duduk di bangku baris kedua dekat jendela — tempat yang sama seperti saat MPLS. Rambutnya dikuncir rapi, wajahnya tampak cerah.El masuk ke kelas, dan begitu matanya bertemu dengan Tiara, senyum kecil itu muncul lagi.Rafa, yang duduk di belakang, langsung nyeletuk.“Waduhhh, pagi-pagi udah senyum-senyuman. Gua aja belum sarapan, tapi udah kenyang liat beginian.”Faqih ngakak di sebelahnya. “Hahaha, ini mah bukan MPLS lagi, tapi MCSS — Masa Cinta Saat Sekolah.”Tiara hanya menunduk sambil tertawa kecil, sedangkan El pura-pura fokus membuka buku, padahal mukanya udah merah setengah mati.Jam pelajaran berjalan cepat, tapi suasana di kelas itu nggak pernah sepi.Faqih beberapa kali kena tegur karena ngelawak waktu guru lagi jelasin pelajaran.Rafa juga sempat ketiduran l

  • Perjalanan Cinta dan Harapan   BAB 13 - Hari yang Berbeda

    Pagi itu terasa lain.Cahaya matahari masuk lewat celah tirai, menembus kamar El yang biasanya masih gelap di jam segini. Tapi kali ini, ia sudah duduk di tepi ranjang, tersenyum kecil sambil memandangi layar ponselnya yang kosong — seolah menunggu notifikasi baru yang mungkin datang.Hatinya entah kenapa ringan.Tidak ada hal besar yang terjadi… hanya sisa perasaan hangat dari percakapan malam tadi. Tapi cukup untuk membuat paginya terasa penuh semangat.Saat keluar dari kamar, aroma nasi goreng buatan ibunya langsung menyambut. Di meja makan, ayahnya sedang menyeduh kopi sambil membuka koran. Begitu melihat El keluar dengan wajah cerah, senyum sang ayah langsung muncul.“Heh, kenapa nih pagi-pagi senyum-senyum sendiri?” godanya sambil menatap anak semata wayangnya.El refleks tertawa kecil, berusaha menahan ekspresinya.“Enggaa Yah, biasa aja. Hari ini hari pertama belajar biasa, jadi semangat aja mungkin.”“Oh gitu ya…” ayahnya mengangguk, lalu dengan nada menggoda menambahkan,“Kir

  • Perjalanan Cinta dan Harapan   BAB 12 - Setelah MPLS

    Malam itu terasa berbeda.Meski lelah, dan jam sudah menunjukkan pukul 21.48, entah kenapa El tetap belum merasakan ngantuk. Ia berbaring di ranjang, lampu kamarnya sudah diredupkan, hanya cahaya layar ponsel yang memantul di matanya.Tangannya menggenggam ponsel erat—seolah menunggu sesuatu yang bahkan ia sendiri tak bisa jelaskan.Dan seolah semesta mengerti, notifikasi muncul di layar.Tiara 🕊️:“El, udah tidur?”El tersenyum kecil, mengetik pelan.“Belum. Kirain lo yang duluan tidur.”Balasan datang cepat.“Katanya boleh chat lagi, jadi yaaa... gue chat deh hehe.”El tertawa kecil tanpa suara.“Hehehe iya iya, bener juga. Lagi ngapain?”“Baru selesai nyusun buku pelajaran buat besok. Rasanya aneh ya, besok udah m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status