Share

Bab 2

Author: Ungu
Posisiku saat ini sedang bersandar di kursi dan Lusy langsung bertumpu pada tubuhku, menungging tinggi menantikan belaian Charles.

Dia gundulan kenyal itu menekan erat lenganku dan aroma tubuhnya yang menggoda terus menyerang masuk ke hidungku.

Aku tiba-tiba teringat ketika diriku tak sengaja memergoki kemesraan ayah dan ibu mertua malam itu.

Kulitnya yang mulus, lekuk pinggangnya yang indah, serta dua gundulan besar yang berayun-ayun itu.

Malam itu, Lusy mengambil kendali di atas, sementara ayah mertua hanya pasrah menikmati karena fisiknya yang tak kuat dan menyerah hanya dalam beberapa menit.

Aku sebenarnya sudah berencana untuk menaklukan Lusy, tapi tak menyangka bakal didahului oleh sahabat sendiri. Hal ini membuat amarahku menyala.

Rasanya persis seperti istri sendiri yang berselingkuh di belakangku dan diselingkuhi oleh sahabat sendiri.

“Sayang, kalau begini rasanya masih ada yang kurang. Bagaimana kalau kita pindahkan Anton ke sofa? Kamu melayaninya dengan mulut, sementara aku membelai tubuhmu, bagaimana?”

Mendengar ucapan Charles yang tiba-tiba, seketika jantungku langsung berdegup kencang.

Menyuruh Lusy melayaniku dengan mulutnya?

Sensasi hangat yang melilit area intimku pasti akan memberikan sensasi nikmat yang luar biasa.

Jika dia benar-benar melakukannya untukku sekali saja, aku bisa memaafkan pengkhianatan Charles. Apalagi kalau Lusy mau berinisiatif berhubungan denganku, itu akan jauh lebih bagus lagi.

“Kamu benar-benar nakal, baru bilang saat aku sudah hampir sampai ke puncak. Tapi hanya sekali ini saja, ya. Kalau diganti lagi, kamu nggak akan dapat apa-apa malam ini.”

Lusy benar-benar bersikap seperti wanita manja, itu pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bahkan saat dia bersama ayah mertua sekalipun.

Mereka pun memindahkan diriku ke sofa dan Charles tak sabar menyuruhnya menanggalkan celanaku.

“Charles, bagaimana kalau kita lewatkan saja langkah ini? Aku malu melakukannya. Kalau sampai dia bangun dan melihatnya, bagaimana aku bisa punya muka lagi untuk tinggal di rumah ini?”

Lusy agak ragu. Dari lubuk hatinya, dia sama sepertiku, ingin merasakan sensasi menantang itu, tapi terhalang oleh status hubungan yang membuat hal itu pantang dilakukan.

Namun, Charles yang turun tangan mengeluarkan benda milikku, lalu menekan kepala Lusy agar mendekat.

“Sayang, rugi kalau kamu melewatkan bonus sebagus ini. Benda milik Anton ini jauh lebih besar dari punyaku, kamu beruntung sekali.”

Charles memang tipe pria mesum yang sangat menyukai variasi permainan baru. Dia dan istrinya pun seperti itu, tak pernah kekurangan mainan di rumah. Dia bahkan pernah membawa istrinya ikut permainan tukar pasangan.

Setelah sempat memberontak sebentar, akhirnya Lusy menurutinya.

Merasakan sentuhan lembut dan basah itu, napasku menjadi memburu. Rasanya sungguh sulit ditahan, tapi untungnya mereka berdua juga sedang berada di puncak gairah, sehingga tak memperhatikan reaksiku.

Dengan begitu, melalui usaha dari mulut Lusy, aku pun mengeluarkan pelampiasan pertamaku.

Charles pun merasa terpuaskan, bahkan berencana merangkul Lusy kembali tidur ke kamar. Tapi, tiba-tiba istrinya meneleponnya, ingin video call dengannya.

Charles panik dan bergegas pergi, lalu menyuruh Lusy memapahku ke kamar, sekaligus membersihkan sisa-sisa jejak karena khawatir aku akan menyadarinya.

Celanaku sudah kotor tadi, jadi Lusy pun tidak memakaikannya lagi. Dia memapahku yang berjalan sempoyongan menuju kamar tidur.

Dengan tubuhku yang besar, dia cukup kesulitan untuk menopangku.

Justru karena itulah, tiba-tiba terlintas ide bagus di pikiranku untuk menaklukkannya.

Saat Lusy membaringkanku, aku berpura-pura menganggapnya sebagai istriku. Dengan satu tarikan, aku menariknya ikut rebah di atas ranjang.

“Sayang, kita sudah lama nggak bermesraan. Meski kamu memohon ampun malam ini, nggak akan ada gunanya….”

Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk menindih tubuhnya dan mengangkat kaki….

Begitu benda milikku menyentuh area miliknya yang agak hangat dan lembab, aku merasakan tubuh Lusy yang langsung menegang dan reflek mengerat.

“Jangan… Anton, coba lihat aku ini siapa. Aku bukan istrimu….”

Tubuh Lusy yang baru saja selesai beraktivitas menjadi sangat sensitif, cukup disentuh sedikit saja langsung goyah, hingga suaranya terdengar gemetar.

“Sayang, kamu masih marah? Aku juga nggak mau punya ukuran yang terlalu besar, ini bawaan lahir. Kau tinggal membiasakan diri saja.”

“Coba lihat ibu, aku rasa dia pasti sanggup menahannya. Kalau kamu nggak menghargainya, aku bakal cari ibu saja, biar dia mencoba punyaku.”

Dalam keadaan pura-pura mabuk, aku melepaskan helai pakaian terakhirnya.

“Sayang, baru beberapa hari nggak bertemu, tubuhmu semakin bagus saja. Kamu diam-diam pergi perawatan? Rasanya enak sekali, aku pasti akan melayanimu dengan baik malam ini.”

Saat aku menggesekkan benda milikku ke area intimnya, dia tak sanggup lagi menahan desahan pelan. Sementara dorongan tangannya untuk menolak terasa semakin melemah….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjalanan Kehidupan Yang Panjang   Bab 10

    “Kamu asal bicara apa, sih? Mana mungkin Anton ada di sini? Itu suara mainanku. Aku baru beli mainan baru, kamu bisa lihat sendiri kalau ke sini nanti.”Liana segera memotong pembicaraan sambil perlahan berdiri berniat berpindah posisi.Namun, begitu dia berdiri, kembali terdengar suara letupan mirip seperti tutup botol yang dibuka, “Pop!”Aku melihat area sensitifnya sampai tak sanggup merapat kembali karena sudah meregang terlalu lebar.“Aku nggak percaya, cepat tunjukkan padaku, buka kameranya!” Tentu saja Charles tak semudah itu dibodohi. Aku pun bangkit dari ranjang dan memberi isyarat pada Liana untuk membuka kameranya.Liana mengiyakan sambil mengambil sebuah mainan berukuran besar dari laci meja nakas untuk menggantikannya.“Coba lihat sendiri, ini mainan, ‘kan? Mana ada Anton di sini? Bisa-bisanya malah berhalusinasi.”Sambil berbicara, Liana memberi isyarat tangan menyuruhku berjongkok, lalu mengarahkan kameranya memutar mengelilingi ruangan untuk diperlihatkan pada Charles.

  • Perjalanan Kehidupan Yang Panjang   Bab 9

    “Kok ada yang mengetuk pintu rumahmu? Jangan-jangan Charles?” Hatiku tersentak kaget, tapi merasa agak lega karena itu bukan suara pintu yang dibuka.“Bukan Charles, dia punya kunci. Dia nggak mungkin mengetuk pintu kalau mau masuk. Mungkin petugas apartemen atau tetangga, nggak perlu dipedulikan, ayo kita lanjut saja.”Liana tak berencana keluar untuk memeriksanya. Dia malah menarikku untuk melanjutkannya.Aku merasa tidak tenang. Bagaimana kalau Charles tak membawa kunci? Kalau pintu terus-terusan diketuk, mana ada gairah untuk melanjutkannya?Aku pun menyuruhnya menelepon Charles untuk memastikan, baru lanjut lagi setelah yakin kalau orang di luar itu bukanlah Charles.Liana meneleponnya dan baru diangkat setelah beberapa saat, terdengar suara yang agak berisik di balik telepon. Hatiku pun terasa agak lega, sepertinya orang di luar memang bukan Charles. Baguslah kalau begitu.Aku memberi isyarat agar dia menutup teleponnya, tapi siapa sangka, Liana malah menajamkan senyuman nakal da

  • Perjalanan Kehidupan Yang Panjang   Bab 8

    “Sshh… agak pelan! Aku lagi menyetir, kamu mau kecelakaan?”Liana adalah tipe wanita liar dan agresif. Dia seperti ingin langsung menelannya bulat-bulat, benar-benar berbanding terbalik dengan kelembutan Lusy.Hal ini membuatku agak kewalahan, bahkan sampai hampir salah menginjak pedal rem.Barulah Liana sadar untuk menahan gairahnya sedikit. Gerakannya berganti-ganti antara sentuhan lembut dan desakan kuat. Terkadang rasanya seperti bulu halus yang menggelitik hati, terkadang seperti hantaman keras tepat di jantung.Ditambah lagi situasi sedang berada di dalam mobil dengan kendaraan berlalu lalang, rasanya sungguh menegangkan.Belum sampai di rumahnya, aku sudah tak sanggup menahannya dan meluapkannya sekali. Karena sudah terlalu lama dipendam, meski tadi sudah sempat melepaskannya bersama Lusy, jumlah yang keluar tetap saja tak sedikit.Leher dan wajah Liana bahkan sampai terkena cipratannya, membuatnya terlihat berantakan.“Kak, kamu sudah menahannya berapa hari, sih? Aku sampai ham

  • Perjalanan Kehidupan Yang Panjang   Bab 7

    Melihat foto profil yang familiar itu, aku dan Lusy sama-sama tersentak kaget.Aku langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh Lusy, lalu segera mengangkat panggilan video tersebut.“Sayang, ada apa meneleponku jam segini? Lagi nggak sibuk?” Aku hanya mengarahkan kamera ke wajahku, khawatir kalau dia sadar bahwa aku sedang tak memakai baju.“Sayang, aku harus pulang mendadak karena ada urusan, tapi malah tabrakan dengan orang di tengah jalan. Cepat ke sini, bantu aku mengurusnya. Ada urusan mendesak yang masih menungguku.”Aku melihat suasana di sekitar istriku yang tampak kacau. Di samping istriku berdiri seorang wanita, yang sepertinya adalah wanita yang bertabrakan dengannya.Kebetulan sekali, aku kenal dengan wanita itu. Dia adalah Liana, teman tidur Charles di luar. Kami pernah bertemu beberapa kali dan bahkan pernah makan bersama.Liana benar-benar wanita pemikat sejati. Waktu masih berhubungan dengan Charles, dia tak jarang diam-diam menggodaku, berniat melahap kami berdua sek

  • Perjalanan Kehidupan Yang Panjang   Bab 6

    Aku kira bakal bisa menerjang masuk dengan lancar, tapi siapa sangka malah tertahan di tengah jalan.Sepertinya Lusy benar-benar mengeluarkan modal untuk perawatan tubuhnya. Di usianya sekarang, ternyata bagian itu masih begitu rapat, hingga benda milikku tersangkut tepat di gerbang depannya.Setelah susah payah maju selangkah, aku malah terjepit di tengah jalan. Rasanya perih bercampur nikmat yang luar biasa, hingga aku tak sanggup menahannya dan melontarkan jeritan.Jeritanku berhasil membuat Lusy tersentak kaget. Karena panik, cengkeraman bagian intimnya malah semakin menjepit erat, hampir saja mematahkan benda milikku di dalam.“Ssh… agak pelan, kalau sampai patah benaran, kebahagiaanmu seterusnya bisa ikut melayang.”Karena suaraku sudah terlanjur dikenali, aku pun tak berpura-pura lagi. Aku langsung melepas masker dan berbicara padanya menggunakan suara asliku.“Kok… kok kamu bisa masuk ke sini? Kamu membuntutiku?”Lusy rasanya ingin menangis saat itu juga. Dia pasti sangat malu

  • Perjalanan Kehidupan Yang Panjang   Bab 5

    “Kak, kamu bercanda, ‘kan? Di sini benar-benar menyediakan layanan istimewa? Kamu nggak rugi kalau nggak menerima bayaran?”Meskipun tadi sudah sempat menebaknya, mendengarnya secara langsung dari mulutnya tetap saja membuatku sangat terkejut.Di tempat ini, Lusy bahkan tak perlu lagi menutup gairah dan hasratnya, dia malah dengan inisiatif menyodorkan diri untuk menggoda.“Kok kamu polos sekali? Tempat refleksi dan pijat zaman sekarang, mana ada yang murni jualan jasa urut? Semua itu ada paket terselubungnya.”“Asal kamu mau, mereka pasti punya layanan istimewa. Saat kamu dipijat, mereka akan memancing informasi pribadi, sekaligus melihat ukuran benda milikmu. Kalau kamu memenuhi kriteria, mereka akan langsung terang-terangan menawarkan layanan istimewa itu.”“Sebenarnya tarifku mahal sekali, tapi karena merasa cocok denganmu hari ini, kukasih gratis saja. Apalagi bendamu yang besar ini jadi nilai tambah tersendiri, aku suka sekali.”Tangan halus Lusy sudah mendarat di sana, mencengke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status