Short
Para Pria Bejat di Kota Kumuh

Para Pria Bejat di Kota Kumuh

By:  RichyCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
7Chapters
69views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Huuu, jangan! Punya kalian orang Gobar terlalu besar, aku nggak bakal sanggup!" Di dalam permukiman kumuh yang remang-remang, beberapa pria miskin menggendong dan mengangkut tubuhku ke udara. Empat pasang tangan kasar memisahkan kedua kaki putih mulusku secara paksa, memperlihatkan pemandangan menggoda di balik rok. "Masih aja sok suci. Kamu udah basah begini, pasti sebenarnya mau, 'kan?" Setelah itu, mereka merobek celana dalamku yang sudah basah kuyup, lalu menerjang ke arahku.

View More

Chapter 1

Bab 1

Namaku Tiara Andira, bunga kampus di kampus seni.

Sebelum lulus, aku bersiap untuk magang dan menemukan sebuah instansi pemerintah yang hanya memintaku mengantar barang-barang logistik setiap hari.

Aku mengira ini pekerjaan yang sangat santai, apalagi berada di naungan pemerintah dengan imbalan yang lumayan, jadi aku langsung menyetujuinya tanpa berpikir panjang.

Namun, setelah tiba di lokasi, aku baru tahu, aku ditugaskan mengantar alat kontrasepsi ke permukiman kumuh.

Orang-orang di sini berpikiran sederhana, tapi bertubuh sangat perkasa.

Atasanku memberikan pesan dengan makna tersirat padaku.

"Pekerjaan ini penting sekali. Kalau nggak biarkan mereka pakai pengaman dengan benar, penyakit seperti AIDS dan sifilis akan sangat mudah berkembang."

Memikirkan betapa mulianya tugas pekerjaan ini, aku pun memberanikan diri masuk ke permukiman kumuh.

Awalnya aku mengira tempat ini berisi orang-orang penting dan pejabat, jadi aku berdandan dengan sangat mencolok.

Aku mengenakan pakaian kerja dengan rok pendek kulit yang hanya menutupi panggul, membungkus kedua belah bokongku yang sangat kencang dan padat.

Ditambah lagi dengan paduan kaus kaki jaring hitam dan sepatu hak tinggi, begitu aku melangkah ke permukiman kumuh ini, pasang demi pasang mata langsung menatapku tanpa berkedip.

Tatapan itu membuat sekujur tubuhku merinding.

Aku berjalan menuju rumah penghuni pertama. Bangunan ini hanya berupa tenda sederhana, perabotan di dalamnya cuma ada satu tempat tidur, dengan kipas angin sebagai satu-satunya alat elektronik.

"Halo, apa ada orang?" Aku berdiri di depan pintu, tetapi kakiku tidak berani melangkah masuk.

Setelah beberapa saat, terdengar suara erangan dari dalam, lalu seorang pria berkata.

"Siapa, ya?"

"Aku datang untuk antar alat kontrasepsi buat kalian," teriakku dari depan pintu ke arah dalam.

"Kalau begitu, masuk aja."

Aku terpaksa memberanikan diri untuk masuk.

Namun, begitu melangkah ke dalam, aku hampir terkejut setengah mati. Pasangan suami istri miskin ini sedang bermesraan di atas tempat tidur.

Pantas atasan memintaku untuk terus mengantarkan benda seperti ini, ternyata kelompok orang miskin ini benar-benar bisa melakukannya kapan saja tanpa kenal waktu.

Begitu melihatku, pria itu bahkan tidak memakai pakaian. Dia langsung turun dari tubuh istrinya dan berjalan lurus ke hadapanku.

Ukuran milik pria Gobar ini benar-benar sangat besar. Benda itu terayun-ayun saat dia berjalan, terpampang jelas di depan mataku tanpa rasa malu sedikit pun.

Dia mengulurkan tangan untuk menerima alat kontrasepsi yang kuberikan, tapi matanya menatap lurus ke arah dadaku yang busung.

"Orang baru, ya? Lebih muda daripada yang terakhir kali."

Tatapannya membuat sekujur tubuhku merinding ketakutan, khawatir dia akan berbuat nekat padaku.

Terutama dalam kondisi seperti sekarang, kalau gairah liarnya mendadak terpancing, dia pasti akan melampiaskannya padaku tanpa ampun.

Aku pernah pacaran dengan beberapa pria, tapi tidak ada yang seunggul dia. Aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki ukuran sebesar itu, mungkin akan terasa sangat nikmat.

Selesai menyerahkan barang itu, aku bergegas meninggalkan tempat tersebut.

Bagaimanapun juga, aku masih seorang gadis polos, tidak ingin menjadi alat pemuas nafsu mereka.

Aku melanjutkan perjalanan untuk mengantar barang ke rumah penghuni berikutnya.

Namun, hal yang tidak aku duga adalah rumah ini hanya dihuni oleh seorang pria.

Saat aku tiba di rumahnya, dia sedang bersantai sambil memainkan ukurannya yang besar.

Benda itu berdiri sangat tinggi, bahkan lebih tebal dan besar dari milik pria sebelumnya!

Pemandangan itu membuat napasku tertahan. Apakah ini masih bisa disebut manusia? Ukurannya bahkan lebih besar dari milik sapi!

Begitu melihat kedatanganku, matanya langsung berbinar.

Bagaimanapun juga, wanita muda dan cantik sepertiku sangat langka di permukiman kumuh ini.

Orang-orang ini pada dasarnya sudah lama tertekan, jadi begitu melihatku, mereka sulit menahan gairah liar mereka.

Dia hampir melompat dari tempat tidur dan menerjang ke hadapanku.

"Cewek cantik, mau coba punyaku nggak? Dijamin bakal bikin kamu nikmat."

Benda menyerupai cambuk sapi miliknya hanya berjarak satu sentimeter dariku, bahkan aku bisa merasakan hawa panas yang terpancar darinya.

Hatiku sangat panik dan ketakutan.

Dengan gemetar, aku mengambil alat kontrasepsi dari dalam tas dan menyerahkannya kepada pria itu.

"A ... aku cuma mengantarkan barang buat kamu, bukan untuk melakukan hal seperti itu."

Dia mengambil alat kontrasepsi itu, membuangnya begitu saja ke lantai, lalu bergumam.

"Aku nggak punya istri, buat apa benda begini? Yang paling aku butuhkan sekarang itu wanita. Cepat kirimkan seorang wanita buat aku!"

Kakiku gemetar karena ketakutan, jadi aku bergegas menjelaskan.

"Aku cuma petugas pengantar barang, masalah itu bukan wewenangku."

Dia pun emosi, lalu tiba-tiba memelukku dan melempar tubuhku ke atas tempat tidur.

"Aku nggak peduli! Kamu itu wanita yang mereka kirimkan buat aku. Wajahmu mirip boneka, cantik banget."

Aku sangat ketakutan hingga hampir menangis, berusaha meronta dengan sekuat tenaga.

Kedua tangannya menyentak dan merobek bajuku hingga beberapa kancingnya terlepas, memperlihatkan pakaian dalam berenda yang kukenakan.

"Wah, ternyata renda hitam. Sekali lihat aja udah kelihatan kalau kamu ini wanita nakal."

Rasa takut yang sangat besar menjalar ke seluruh tubuhku, membuatku benar-benar berada di ambang tangis.

Apakah aku benar-benar akan diperkosa oleh pria ini?

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status