LOGINSetelah semuanya. Setelah pertunjukkan. Faza baru berani mengajak Ira untuk berbicara. Tepatnya saat Ira baru keluar dari toilet. “Ayo bicara sebentar.” Faza menarik tangan Ira menjauh dari toilet. Dan disinilah, di pojok—sudut lorong yang sepi. “Kau menyukainya?” tanya Faza. Ira mengernyit. “Maksudmu Brian? Tentu saja suka. Dia menyenangkan.” Faza mengerjap. “Kau ingin menjalin hubungan dengan pria seperti itu?” “Maksudmu seperti itu?” tanya Ira. “Jangan menghina orang sembarangan. Meskipun Brian terlihat playboy. Tapi dia sungguh baik—dia memperlakukanku sangat baik.” “Kau sungguh tidak mengerti!” Faza mengusap rambutnya pelan. “Kalau nanti kau menangis saat berkencan dengannya—jangan menangis dan mengeluh di hadapanku.” Ira berdecih—berdecak sebal. “Kau tidak jelas. Urus saja urusanmu!” Ira berbalik—baru saja ingin melangkah pergi. Tapi Faza mencekal tangannya. “Tunggu.” Ira menghela napas—ia berbalik. “Katakan saja apa yang ingin kau katakan. Kenapa kau tidak jelas s
Sarah berdecak. Bertatapan dengan Leya sebentar. “Dia memang menyukaimu.” Leya dan Sarah mengucapannya bersama. “Sungguh?” Ira mengernyit. Faza hanya diam—bersindekap dan bersandar. Tidak terlalu berminat dengan pesta ini. Dalam keheningan yang menyita pikiran Ira. Brian datang—lalu mengulurkan tangannya. “Bisakah kau ikut denganku?” tanya Brian. Barulah Faza membuka mata—menatap Ira yang telah berdiri dan menerima uluran tangan. “Drama mereka dimulai.” Bisik Leya pada Noel. Berada di atas panggung. Ini pertama kalinya Ira berjabat tangan dengan seorang penyanyi terkenal yang musiknya setiap hari ia dengar. Ira tersenyum. “Aku—saya penggemar anda!” “Terima kasih.” Perempuan itu memeluk Ira. Ira menatap Brian yang ada di sampingnya. Brian memberikan jempolnya. Selama penyanyi i
Gemerlap lampu langsung menyambut mereka.Brian telah menyewa seluruh area klub untuk merayakan ulang tahunnya.Ada beberapa pertujunjukkan dari penyanyi dan Dj terkenal.Sebenarnya Noel tidak terlalu penasaran, tidak teralu ingin ikut juga.Tidak ada yang menarik selain istrinya sendiri. Noel tersenyum sembari memeluk pinggang istrinya dari samping.“Happy birthday,” ucap Leya mengulurkan tangannya.“Terima kasih sudah datang. Sahabat-sahabatku…” Brian menatap Leya kemudian Noel.Menjabat tangan Leya dengan senang.Setelah itu. Memeluk Noel. Menepuk pelan bahu Noel. “Aku tidak menyangka kau datang ke ulang tahunku bersama istrimu.”Noel tertawa pelan. “Mangkanya kau harus cepat menyusul.”“Aku akan berusaha.” Brian melepaskan pelukannya. “Jangan buru-buru pulang.”Noel dan Leya sama-sama mengangguk.“Kenapa harus klub terus? Sekali-sekali coba merayakan ulang tahunmu di taman bermain,” gumam Noel menatap sekeliling.Brian mengundang banyak orang. Entah semua teman atau sekedar kenal
“Kau gila?” tanya Noel menatap Brian. “Kau mengadakan pesta ulang tahunmu di klub?”Brian memasang senyum ceria. “Yes,” jawabnya.Bagi Noel wajah Brian sangat menyebalkan.Leya menyipitkan mata. “Di klub…” lirihnya. “Kalau begitu kami tidak usah datang,” ucapnya memeluk lengan Noel.“Hei!” Brian menunjuk Leya.Noel mengerjap—segera menepis tangan Brian yang menunjuk Leya.“Kalian!” melotot menatap Noel dan Leya bergantian. Kalian harus ikut, pokoknya semua sahabatku harus datang!”Noel mengusap keningnya lelah. “Memangnya apa kami lakukan di sana? Minum-minum? Kami sudah tua.”“Kami punya anak di rumah. Untuk apa kami melakukan hal seperti itu di klub?” tanya Noel.Brian berdecih. “Tidak usah sok suci!” menunjuk Noel.“Kau tidak ingat, tahun kemarin kau juga datang dengan santai di ulang—”Belum juga selesai, mulut Brian sudah ditutup rapat oleh Noel.“Hehe…” Noel tertawa canggung. “Sayang aku—” Menatap Leya yang sudah memincingkan mata padanya.“Sayang tahun kemarin aku juga dipaksa
“Semuanya sudah ditangani oleh pihak Skyline. Mulai sekarang kita tidak perlu ke sana,” ucap satu staff.Cella mengenryit. “Apa kau bilang?”“Maksudnya aku tidak perlu ke sana lagi?”“Iya.”PLAK! PLAK!Tamparan yang keras itu akhirnya mengenai pipi pria itu.Cella mengibaskan tangannya yang terasa kebas setelah menampar bawahannya.Ia tertawa. “Jadi dia benar-benar…” lirihnya. “Baiklah aku akan menghancurkanmu!”Satu yang terlintas dari semua ini. Pasti Leya membuat Noel menyingkirkannya.Cella mengusap rambutnya dengan kesal.Menatap staff yang tadi ia tampar. “Jelaskan padaku lebih detail kenapa aku tidak perlu lagi ke sana.”“Bai-baik…” sedikit tergagap. Pria itu segera membuka dokumen lagi.Lalu membuka tablet yang berada di tangannya. “Skyline mengajukan diri untuk datang ke sini langsung. Skyline akan mengirim perwakilan, jadi untuk ke depannya. Pak Lucian tidak ikut campur lagi urusan ini.”Cella memegang meja. Menunduk—meremas kuat meja yang terbuat dari kaca tebal itu.Sedang
“Oliver?” Elise mengerjap. Ia harus memastikan bahwa yang berada di hadapannya adalahbosnya yang baru ia bicarakan bersama orang tuanya.“Oliver!” teriak Elise.Oliver hanya dia saat melihat Elise yang duduk di depan minimarket.Ia membiarkan gadis itu bingung sendiri dengan kehadirannya di sini.“Jangan teriak-teriak,” balas Oliver yang akhirnya mendekati Elise.Elise menggeleng pelan. “Kau—” menunjuk Oliver dengan gugup. “Kenapa kau di sini?!”“Aku hanya membeli minum dan roti.” Oliver mengambil duduk di samping Elise.Menaruh air mineral dan roti yang sudah ia beli di atas meja.“Kenapa kau tiba-tiba di sini? Perasaan aku sudah di sini lama tapi tidak melihatmu.” Elise yang kebingungan.“Karena kau sibuk melamun.” Oliver cuek. Ia menatap lurus ke depan—dengan kaki yang terangkat ke atas.“Benarkah…” lirih Elise menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Ia menatap Oliver dari samping.Bahkan sisi kanan pria itu saja sangat tampan.Elise bertopang dagu. Menatap Oliver seperti sedang men







