Bab 2 Dipaksa Untuk Menikah
Setelah beberapa lama menangis di makam kakeknya, Aulia akhirnya dibantu oleh seorang wanita paruh baya yang bernama Ibu Sri, seorang pengasuh Aulia sejak kecil. Ibu Sri membantu Aulia berdiri dan membersihkan tanah yang menempel di pakaian Aulia. Aulia terlihat kacau, rambut panjangnya yang biasanya terurus dengan rapi kini terlihat berantakan dan kusut. Wajah cantiknya yang biasanya berseri-seri kini terlihat pucat dan sedih, dengan mata yang merah dan bengkak karena menangis. Ibu Sri membantu Aulia membersihkan wajahnya dengan sapu tangan yang dibasahi dengan air, dan membimbingnya keluar dari makam. Sesampainya di rumah, Aulia disambut oleh beberapa pengacara kakeknya yang telah menunggu di ruang tamu. Mereka semua mengenakan pakaian formal dan serius, dan wajah mereka terlihat khawatir. "Aulia, kami sangat sedih mendengar tentang kepergian kakekmu," kata salah satu pengacara, Pak Rudi. "Kami telah menunggu kamu untuk membahas tentang wasiat kakekmu." Aulia hanya mengangguk lemah, masih belum bisa berbicara karena kesedihan yang masih menghantuinya. Ibu Sri membantu Aulia duduk di sofa, dan memberikan dia secangkir teh hangat untuk diminum. Pak Rudi memulai pembicaraan, "Aulia, kakekmu telah meninggalkan wasiat yang sangat penting untuk kamu. Dia ingin kamu menikah dengan Ryker Alvaro, seorang pengusaha muda yang sukses dan berpengaruh. Kakekmu percaya bahwa pernikahan ini akan membawa keuntungan bagi keluarga dan perusahaan." Aulia terkejut, dan masih belum bisa memproses informasi yang diberikan oleh Pak Rudi. Dia hanya bisa memikirkan tentang kakeknya dan kesedihan yang masih menghantuinya. "Apa... apa yang harus saya lakukan?" Aulia bertanya dengan suara yang lemah. Ibu Sri, wanita paruh baya yang membantu Aulia, terlihat ikut terkejut dengan kabar tentang pernikahan yang harus dilakukan oleh Aulia. Namun, dia tidak ingin Aulia terlalu terbebani dengan informasi tersebut, sehingga dia meminta izin kepada para pengacara untuk membiarkan Aulia berganti pakaian terlebih dahulu. "Maaf, Pak Rudi," kata Ibu Sri dengan sopan. "Saya rasa Aulia perlu berganti pakaian dan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum membahas tentang wasiat kakeknya. Keadaannya masih sangat sedih dan mungkin tidak siap untuk membicarakan hal ini sekarang." Pak Rudi mengangguk setuju, "Tentu, Ibu Sri. Silakan bawa Aulia ke kamarnya untuk berganti pakaian. Kami akan menunggu di sini." Ibu Sri membantu Aulia berdiri dan membimbingnya ke kamar tidur. Aulia masih terlihat kacau dan sedih, rambutnya yang panjang masih kusut dan wajahnya masih pucat. Ibu Sri membantu Aulia membuka pakaian yang kotor dan berganti dengan pakaian yang bersih dan nyaman. "Aulia, kamu harus kuat, ya," kata Ibu Sri dengan lembut. "Kakekmu pasti ingin kamu bahagia. Kita akan membahas tentang wasiatnya nanti, setelah kamu merasa lebih baik." Aulia hanya mengangguk lemah, masih belum bisa berbicara karena kesedihan yang masih menghantuinya. Ibu Sri membantu Aulia membersihkan wajahnya dengan air hangat dan menyisir rambutnya yang kusut. Setelah Aulia berganti pakaian dan membersihkan diri, Ibu Sri membimbingnya kembali ke ruang tamu. Aulia masih terlihat sedih, tapi setidaknya dia terlihat lebih nyaman dan siap untuk membicarakan tentang wasiat kakeknya. Pak Rudi, salah satu pengacara, kembali berbicara dengan serius, "Aulia, kami telah membahas tentang wasiat kakekmu sebelumnya. Dan seperti yang kami katakan sebelumnya, kakekmu ingin kamu menikah dengan Ryker Alvaro. Namun, ada satu syarat yang sangat penting dalam wasiat tersebut." Aulia menatap Pak Rudi dengan mata yang masih merah dan bengkak karena menangis. Dia masih belum bisa memproses informasi yang diberikan oleh Pak Rudi. "Syarat apa itu, Pak?" Aulia bertanya dengan suara yang lembut. Pak Rudi menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Kakekmu ingin kamu menikah dengan Ryker Alvaro dalam waktu satu minggu setelah kepergiannya. Jika kamu tidak melakukannya, maka perusahaan keluarga akan diambil alih oleh pihak lain." Aulia terkejut dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia tidak bisa menikah dengan seseorang yang tidak dikenalnya hanya dalam waktu satu minggu. "Apa... apa ini mungkin?" Aulia bertanya dengan suara yang terkejut. Pak Rudi mengangguk serius, "Ya, Aulia. Ini adalah wasiat kakekmu, dan kami harus melaksanakannya. Kami telah menghubungi Ryker Alvaro, dan dia setuju untuk menikah dengan kamu dalam waktu satu minggu." Aulia merasa seperti sedang berada dalam mimpi buruk. Dia tidak bisa menikah dengan seseorang yang tidak dikenalnya, dan dia tidak ingin kehilangan perusahaan keluarga. Dia merasa terjebak dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Aulia merasa seperti sedang berada dalam badai emosi yang tak terkendali. Baru saja dia menyelesaikan pendidikan S1 sarjana hukum dan merayakan wisudanya dengan penuh kebanggaan, tapi hari ini dia harus menghadapi dua keadaan yang membuatnya merasa seperti kehilangan arah. Kehilangan kakeknya, sosok yang begitu dia cintai dan hormati, membuat dia merasa seperti kehilangan sebagian dari dirinya sendiri. Dia masih ingat saat-saat mereka menghabiskan waktu bersama, mendengarkan cerita kakeknya tentang kehidupan dan pengalaman, dan merasakan kasih sayang yang tak terbatas. Tapi hari ini, dia harus menghadapi kenyataan bahwa kakeknya tidak ada lagi. Rasa sedih dan kehilangan memenuhi hatinya, membuatnya merasa seperti tidak bisa bernapas. Dia merasa seperti sedang berjalan di jalan yang gelap dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dan kemudian, dia mendengar kabar bahwa dia harus menikah dengan pria asing, Ryker Alvaro, dalam waktu satu minggu. Aulia merasa seperti sedang dihantam oleh ombak besar, tidak bisa berdiri tegak dan tidak tahu bagaimana cara menghadapi keadaan ini. Dia merasa seperti tidak memiliki kendali atas hidupnya sendiri, seperti sedang dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan. Rasa takut dan kecemasan memenuhi hatinya, membuatnya merasa seperti tidak bisa berpikir jernih. Tubuhnya terasa begitu sesak, seperti sedang dihimpit oleh beban yang tak terkira. Aulia merasa seperti tidak bisa bernapas, tidak bisa berpikir, dan tidak bisa bergerak. Dia hanya bisa duduk diam, merasa seperti sedang terjebak dalam mimpi buruk yang tidak bisa dia tinggalkan. "Jika aku menolak pernikahan ini?" pengacara itu nampak tersenyum, raut wajahnya penuh kasih dan kesabaran. ia sudah menjadi pengacara Keluarga Joyo Kusumo cukup lama, jadi sedikit tahu bagaimana watak cucu Kusumo ini. keras kepala, tentunya. "Semua aset yang bergerak ataupun tidak akan disumbangkan ke yayasan di seluruh Indonesia." "Ap-apa? jadi, satu sen pun aku tidak akan mendapatkan apapun jika tidak menikahi pria pilihan kakek?" Pengacara itu tersenyum dan mengangguk, membenarkan bahwa apa yang dipikirkan oleh Aulia benar.Tepat ketika Joyo Kusumo hendak melanjutkan perkataannya, pintu cafe terbuka dan seorang pria muda dengan rambut rapi dan kemeja putih memasuki ruangan. Dia membawa beberapa dokumen dalam tas kulit hitam dan langsung menuju ke arah Joyo Kusumo."Ini dokumen yang perlu Anda tandatangani, Pak," kata pria muda itu, yang kemudian diketahui bernama Adam, asisten pribadi Joyo Kusumo.Joyo Kusumo mengambil dokumen-dokumen itu dari Adam dan mulai membolak-baliknya dengan cepat. Aulia dan Ryker memperhatikan dengan rasa penasaran, sementara Leon dan Vania masih mengamati adegan itu dengan penuh minat."Baik, aku akan menandatanganinya nanti, jika Leon setuju.”kata Joyo Kusumo kepada Adam. "Kau pesanlah sesuatu dan pilih meja sendiri., aku akan memanggilmu jika sudah selesai."Adam mengangguk dan meninggalkan Joyo Kusumo, Aulia, Ryker, Leon, dan Vania. Joyo Kusumo kemudian memfokuskan perhatiannya kembali pada Aulia dan Ryker."Baiklah, mari kita bicara tentang apa yang perlu kita bicarakan," k
Leon menerima pesan dari Aulia melalui ponselnya, dan dia tidak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya. Pesan itu singkat, tapi membuatnya merasa berdebar-debar. Leon merasa penasaran, apa yang ingin dibicarakan oleh Aulia? Dia langsung membalas pesan itu dengan "Aku akan datang" dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.Sementara itu, di tempat lain, Vania menerima pesan dari Ryker yang membuatnya merasa sedikit was-was. Vania merasa sedikit bingung, apa yang ingin dibicarakan oleh Ryker? Apakah ini tentang pekerjaan atau tentang hubungan mereka? Dia tidak bisa menebak, tapi dia merasa harus pergi ke Cafe Senja untuk menemuinya.Cafe Senja adalah tempat yang nyaman dan tenang, dengan dekorasi yang sederhana tapi elegan. Dindingnya dihiasi dengan lukisan-lukisan abstrak yang menambah kesan artistik pada tempat itu. Meja-meja kayu yang berwarna coklat tua dan kursi-kursi yang empuk membuat pengunjung merasa nyaman dan betah berlama-lama di sana.Pukul 3 sore, Leon dan Vania tiba di Cafe
Aulia merasa seperti berada di alam mimpi. beberapa bulan lalu, ia melihat kakeknya yang dimasukkan kedalam galian tanah. namun hari ini, dengan kedua matanya ia bisa melihat tubuh kakeknya yang sedang duduk tenang. menghadap ke arah Ryker dan Aulia yang baru saja masuk ke ruangan serba putih itu. pria itu nampak tersenyum tipis, menyambut kedatangan keduanya. Aulia tak lantas melangkah menuju ke arah sang Kakek. ia terdiam, seperti patung Manikin yang tidak dapat berbicara."Kemarilah, cucuku..." perintah sang kakek dengan senyum tipisnya.Ryker menyentuh bahu Aulia, seperti sedang menyalurkan energi positif. untuk istrinya itu. Aulia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan-lahan. perlahan, ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah sang kakek.Joyo Kusumo, pria yang sudah terlihat tua itu nampak bangkit dari tempat duduknya. saat, Aulia berdiri dihadapannya, pria itu lantas memeluk tubuh mungil itu. Ryker tetap berada ditempatnya, ia sedang memberikan ruang d
"Kakekmu masih hidup."Mendengar pernyataan yang keluar dari bibir Ryker, membuat Aulia lantas merenggangkan pelukannya. gadis itu, langsung turun dari kasur. berdiri, menatap manik biru Ryker dengan tatapan tajam."Jangan bicara sembarangan! Kau boleh saja menggodaku dengan caramu menyentuh atau berpura-pura baik padaku. tapi, bercanda soal kakek? apa kau sudah tidak waras, Ryker?"Ryker terlihat begitu santai. pria itu perlahan turun dari kasur, lalu berdiri di hadapan Aulia. tangannya hendak terulur untuk bisa menyentuh wajah Aulia. namun, belum sempat melakukannya tangannya sudah ditepis oleh Aulia."Jangan menyentuhku!""Kakekmu, masih hidup. dan sekarang, tengah menikmati keindahan alam di Indonesia bagian Timur.""Dasar sinting!" Aulia membalikkan tubuhnya, hendak pergi meninggalkan Ryker."kau tidak percaya? apa kau yakin, pria tua tempo hari yang dimakamkan itu adalah kakekmu?"Langkah kaki Aulia terhenti, mendengar pertanyaan Ryker. walaupun berhenti, Aulia tak langsung memb
Setelah selesai menikmati seharian penuh ini di kantor. Aulia memutuskan untuk pulang ke rumah. ia tidak terlalu memperdulikan jika di rumahnya nanti, ia akan bertemu dengan Ryker. karena, tidak ada alasan baginya untuk terus menghindar terus-menerus. setibanya di rumah, Aulia gegas menuju ke kamarnya. dan hal yang tidak terduga, membuat ia sedikit syok. Ryker terlihat sedang tidur di kasur. tidurnya nampak begitu lelap sehingga pria itu tidak menyadari keberadaan Aulia yang baru saja memasuki kamar. perlahan, Aulia melangkahkan kakinya mendekat. ingin melihat lebih dekat lagi wajah suaminya yang terlihat tengah tertidur itu. dengan gerakan lambat, Aulia menggerakkan tangan kanannya ke kanan dan kiri dihadapan wajah Ryker. "Ternyata, dia benar-benar tidur." Kata Aulia sembari tersenyum tipis. sebelum Aulia sempat menurunkan tangannya, Aulia begitu terkejut. saat tangannya itu digenggam erat oleh Ryker. pria itu tidak lagi memejamkan matanya. mata indah itu sudah menatapnya, seperti
Ryker mengemudi mobilnya dengan mata yang fokus ke jalan. namun pikirannya mulai melayang kembali ke kejadian semalam.Bayangan Aulia dengan mata hijau yang lebar dan takut, leher yang ditekan oleh tangannya, kembali memenuhi kepalanya.Ryker merasakan jantungnya berdegup kencang. tangan yang memegang setir mobil mulai berkeringat. Takut kehilangan konsentrasi dan kecelakaan, Ryker segera menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Dia mematikan mesin mobil, lalu menatap ke depan dengan mata kosong. pertanyaan yang mengganggunya sejak semalam kembali terdengar di pikirannya. "Apakah aku sudah terlalu jauh dalam hal ini...?” Ryker duduk diam di dalam mobil yang sunyi.matanya masih kosong menatap ke depan. pikiran masih terjebak pada kejadian malam sebelumnya. Tiba-tiba, kesunyian mobil terganggu oleh suara dering ponselnya, suara yang lembut dan berirama, tapi terdengar seperti alarm bahaya bagi Ryker.Dia menoleh ke arah ponsel yang terletak di atas dashboard mobil. layar