LOGINMoreau menggeleng beberapa saat. Pada akhirnya memutuskan untuk mengangkat wajah. Dia hampir terkejut—tentu, karena bukan ini yang ingin ditemukan; hal kecil dari bentuk kekecewaan di wajah tampan ayah sambungnya, meski betapa pun Abihirt berusaha tidak mengungkapkan dengan ringkas setiap detil reaksi di antara mereka.
Kalung yang dititipkan kepadanya sungguh merupakan kenangan terakhir dan Moreau yakin itu sangat – sangat berharga. “Aku minta maaf.” Dia tetap tak bisa meneTidak ada keinginan murni untuk mengirimkan foto memalukan miliknya secara suka rela. Namun, Abihirt mengerti bagaimana Moreau akan marah jika dia tidak setuju. Gambar yang baru saja diambil sudah dikirim, dan sekarang merupakan momen paling menyenangkan untuk mengamati setiap detil tindakan yang Moreau lakukan.Satu bagian penting. Abihirt tidak pernah melewatkan kesempatan saat memperhatikan bagaimana pinggul itu bergerak seksi. Moreau benar – benar hampir membuatnya tak bisa menahan diri dan menjadi sedikit tidak waras.Tak bisa menyangkal bahwa pengaruh Moreau memang besar. Sesekali mereka akan melakukan kontak mata saat iris biru terang di sana dengan sengaja melirik ke arahnya. Tidak ada protes, tetapi Abihirt bisa melihat bagaimana Moreau sengaja melotot tajam.Sialnya, dia hanya tersenyum konyol. Berusaha melupakan bahasa isyarat yang melambung ke udara. Ironi. Tidak dibutuhkan waktu lebih lama untuk membuat Abihirt menyadari satu hal.Dia nyaris terpaku menyadari gelombang ba
“Kuku yang bagus, Daddy. Dari mana kau mendapatkannya?” Meski Moreau cukup keberatan melihat keberadaan Abihirt. Dia tetap tak bisa menolak satu pemandangan menggemaskan di hadapannya. Lore dapat dipastikan telah melakukan sesuatu sebelum pria itu bisa melarikan diri; sekadar memesan minum atau meminta dia duduk lebih lama di sini. Mereka berhadapan. Cara Abihirt mengamati kuku tangan sendiri tidak dapat dimungkiri. Ada rasa kesal, tetapi juga semacam suatu kebanggaan ketika pria itu berkata, “Dari little princess, dia mengaku tidak ingin tidur jika belum melakukan ini.” Sebelah alis Moreau terangkat tinggi. Bertanya – tanya tindakan apa saja yang sudah dilakukan anak – anak saat dia tidak di rumah? Mereka senang bermain. Moreau tahu. Menyimak itu sebagai proses di mana Abihirt menjadi kewalahan dan harus menunggu saat – saat paling tepat sekadar berada di sini. “Sekarang anak – anak sudah tidur?” tanyanya sambil menyelidik. Abihirt sempat memberi gestur tak acuh sebelum
“Dia mengambil sepedaku.”Suara serak dan dalam Abihirt terdengar di antara teriakan anak – anak yang berusaha mengejar Juan. Harus Moreau akui bahwa ini adalah pemandangan—nyaris tidak pernah dia dapatkan; Lore dan Arias begitu menggemaskan saat sedang tersulut keinginan mengejar posisi Juan di depan. Ntah bagaimana pria itu melihat keberadaan sepeda Abihirt dan memutuskan untuk menaikinya tanpa izin.Sambil tersenyum, Moreau menyentuh lengan pria yang masih menjulang tinggi di sampingnya. Mereka sama – sama terbangun dengan keadaan—persis terakhir kali sebelum tertidur; bertelanjang, berantakan, dan akhirnya dia harus mengambil tindakan cepat, sebelum terlambat. Sebelum Abihirt kembali meminta sesuatu yang sudah pria itu dapatkan.Dan di sini. Berada di depan pintu rumah dan menyaksikan pemandangan menenangkan di pagi hari, Moreau tak ingin Abihirt melakukan sesuatu, selain tetap bersamanya.“Juan hanya memakai sebentar. Lagi pula, dia menemani Lore dan Arias bermain. Meminjamkan se
Tubuh mereka sama – sama gemetar. Ini bukan kali pertama Abihirt mengeluarkan bagian dalam diri pria itu ke dalam tubuhnya. Ada sedikit ketakutan bahwa dia mungkin akan hamil, tetapi bagaimana Moreau bisa menolak kehadiran bayi lucu lagi ketika dia melahirkan nanti? Sebuah pertanyaan yang tanpa sadar membuat dia tersenyum konyol. Seharusnya tidak berpikir sejauh ini, karena bagaimanapun ... kesiapan harus selalu berada di kedua belah pihak. Namun, Moreau juga tidak akan memungkiri pertanyaan anak – anak beberapa waktu lalu. Sekarang cukup penasaran dengan pemikiran Abihirt. “Kau tidak takut aku hamil?” Dia tak bisa menahan diri lebih lama dan bertanya. Ada jeda beberapa saat, seolah Abihirt butuh waktu berpikir, meski akhirnya pria itu bertanya, “Hamil?” Moreau mendengkus. Sepertinya Abihirt terlalu fokus dengan kesibukan di kantor, sehingga apa pun yang menjadi kemungkinan di antara mereka nyaris tidak terpikirkan. “Yang kutahu, kau tidak melakukannya
Abihirt masih menunggu. Betapa tidak sabar pria itu, yang langsung menyusupkan jari – jari tangan sekadar menjambak rambutnya, tetapi cukup pelan; memberi Moreau petunjuk supaya melakukan sesuatu—secara tidak langsung telah mereka sepakati.Kenyataan bahwa dia pelan – pelan menyingkirkan jarak antara bibir dan permukaan perut Abihirt, membuat pria itu menggeram singkat, yang tertahan di udara ketika Moreau menjulurkan lidah sekadar menjilat tubuh seksi di hadapannya, meski tindakan yang dia lakukan menjadi kecupan – kecupan ringan.Sesekali Moreau akan menengadah hanya untuk mendapati bagaimana Abihirt menikmati setiap tindakan yang dia lakukan. Tangannya tak diam. Mulai membuka resleting celana kain di sana. Abihirt mungkin sedikit terkejut, tetapi pria itu mengerti sisanya. Prospek yang membuat Moreau sedikit ragu, meski dia benar – benar mengambil keputusan penuh tekad sekadar menggenggam bagian dari tubuh Abihirt; mengurut pria itu, sampai kejantanan di sana membengkak mantap.Ab
Hari pertama bekerja setelah menghilang selama beberapa waktu benar – benar terasa berat. Moreau baru saja menginjakkan kaki di kamarnya; merasa sangat tak ingin melakukan apa pun selain tidur. Ingatan tentang bagaimana sang manajer klub memberi peringatan masih terus bercabang di benaknya.Moreau yakin akan sulit andai dia ingin meminta izin untuk hal – hal penting tertentu. Mungkin dia perlu berusaha selama satu bulan penuh sekadar meyakinkan pria cerewet yang hanya bisa berkata pedas di balik meja kerja.Sekarang saatnya memejam. Dia sudah merasa akan segera terlelap ketika sayup – sayup ... suara dari arah jendela kamar kembali menarik apa pun tentang rasa lelah di sini, untuk mencuak ke permukaan.Kelopak mata Moreau segera terbuka. Siapa yang terduga diam – diam berusaha menyelinap? Tingkat waspada segera membentuk gumpalan tebal. Dia tak bisa terpaku lebih lama. Langsung menapakkan kaki di atas lantai, kemudian berjalan tentatif.Hal pertama yang dilakukan ada
Sayup – sayup ... setelah akhirnya terbangun dari tidur. Moreau mendengar suara tawa anak – anak yang begitu jauh. Dia dengan cepat tersentak bangun; memperhatikan di sekitar, tetapi tidak menemukan siapa pun di sini.Tidak ada perasaan bingung yang bisa digunakan untuk menjelaskan keheningan sendi
“Setelah anak – anak selesai bermain dengan Pipao, mereka akan mencariku atau mungkin akan mencarimu,” ucap Moreau, mencoba peruntungan kalau – kalau Abihirt barangkali akan mempertimbangkan kembali niat membara pria itu ... di sini.“Aku sudah mengunci pintu. Tidak perlu khawatir.”Moreau menelan
Kening Abihirt bergerak samar merasakan sentuhan ringan di rahangnya yang terus dilakukan dengan tempo serupa; benar – benar ringan dan menyenangkan, seperti tindakan yang sering kali Moreau selesaikan.Namun, dia sangat sadar kalau – kalau mereka tidak berada di ranjang yang sama, dan kemudian men
Tiba – tiba saja. Moreau bahkan belum siap jika pembahasan ini akan sangat melibatkannya ke dalam topik utama. Juan sungguh melihat perbedaan signifikan, sekalipun mereka tak benar – benar melakukan pertemuan selama beberapa bulan terakhir?“Bahagia seperti apa maksudmu?”“Berbeda saja. Kau temanku







