เข้าสู่ระบบElena terperanjat, dunianya seakan runtuh seketika. Nama sang kakak tiri berkedip-kedip bagai bom waktu yang siap meledak dan menghancurkan hidup Elena dalam sekejap.
'Aku harus bagaimana? Mana mungkin aku melakukan hal gila dengan iparku sendiri? Tapi aku sangat membutuhkan uang itu,' teriak Elena dalam hati.
"Kenapa diam, Elly? Waktumu hampir habis," desis Julian dingin. Jemari kekarnya sengaja digerakkan mendekati tombol hijau di layar.
"Kak Julian, kumohon .…" ratih Elena dengan suara tercekat.
"Pilih sekarang, Elena," potong Julian tanpa belas kasihan.
Gluk!
Elena menelan salivanya dengan susah payah. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya yang polos.
'Bisa tamat riwayatku kalau keluargaku tahu aku menjual diri. Ya sudahlah, setidaknya pria di hadapanku ini adalah Julian, bukan pria asing menjijikkan yang tidak kukenal,' gumamnya dalam hati, berusaha menenangkan badai kepanikan di dadanya.
"Baiklah ... a-aku setuju," jawab gadis itu dengan suara bergetar pasrah.
Sebelah ujung bibir Julian terangkat. Membentuk seringai kemenangan yang sangat dingin. "Pilihan yang bagus, Elly Shopia."
Julian menolak panggilan dari Veronica dengan satu ketukan jari yang santai. Ia melempar ponselnya ke atas meja, lalu berjalan mundur dan mendudukkan dirinya di atas sofa yang mewah.
Alih-alih langsung menyentuh tubuh iparnya yang sudah gemetar, ia justru bersandar dengan angkuh. Ia menatap Elena dengan tatapan yang tajam.
"Sekarang, tunjukkan padaku apakah kamu memang layak dibayar mahal," perintah Julian tenang. Namun nadanya sarat akan penghinaan.
Elena terkesiap dengan mata terbelalak. "Ma-maksud kamu apa?"
"Kamu yang datang ke sini untuk menjual diri di situs itu, bukan?" tanya Julian dengan nada mengejek.
"Jadi, kamu yang harus memulainya lebih dulu, Sayang. Ayo, puaskan aku!"
Elena terperanjat mendengar tuntutan yang begitu vulgar dari mulut kakak iparnya. "A-aku?"
"Lalu siapa lagi? Aku adalah pembeli di sini," sahut Julian dingin.
Ia menaikkan satu alisnya. Menilai penampilan Elena dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Pembeli berhak dilayani dengan maksimal." Ia mengetukkan jemarinya di sandaran sofa.
"Sebelum kamu memutuskan untuk mendaftar di situs menjijikkan itu, harusnya kamu belajar bagaimana cara memuaskan hasrat laki-laki terlebih dahulu, bukan?
Jangan bilang kamu mengira uang akan datang hanya dengan berdiri bodoh di sana."
Kata-katanya terasa seperti tamparan keras yang membakar pipi Elena dengan rasa malu yang luar biasa. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Namun ia mencengkeram jemarinya kuat-kuat.
'Aku tidak boleh terlihat semakin lemah di depan pria kaku ini,' batin Elena menguatkan niatnya.
Dengan tangan yang gemetar, ia meraih ritsleting di bagian belakang gaun hitam ketatnya.
Sret!
Elena membiarkan kain hitam tipis itu merosot jatuh ke atas lantai yang dingin. Gaun itu menumpuk di dekat kakinya. Menyisakan tubuh seksinya yang kini hanya terbalut pakaian dalam berenda hitam yang sangat minim.
Kulitnya yang putih bersih, halus, dan tanpa cela tampak begitu kontras di bawah temaramnya pencahayaan kamar hotel.
Bentuk tubuhnya yang sintal, dengan lekuk pinggang ramping dan dada yang membusung penuh akibat napas yang memburu, kini terekspos sepenuhnya di depan mata iparnya.
Julian tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Kilat di matanya seketika menggelap. Rahangnya tampak mengeras melihat keindahan yang tersaji di hadapannya.
Namun, pria itu tetap mempertahankan posisi duduknya yang santai. Menolak untuk bergerak seinci pun demi mempertahankan dominasinya.
Elena menelan saliva dengan susah payah untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Dengan langkah ragu dan dada yang bergemuruh, ia melangkah mendekati sofa.
Ia menahan napas, lalu dengan perlahan naik ke atas pangkuan kakak iparnya.
Duduk di atas paha kokoh pria itu, seketika membuat Elena bisa merasakan kehangatan tubuh Julian yang menjalar ke kulitnya. Aroma parfum kayu cedar bercampur wiski mahal yang menguar dari tubuh iparnya langsung memabukkan indra penciumannya.
Dengan gerakan yang canggung, Elena mengalungkan kedua tangannya yang dingin di leher Julian. Ia memajukan wajahnya perlahan, memejamkan mata erat-erat, dan menempelkan bibirnya ke atas bibir sang kakak ipar.
Elena berusaha mencumbu pria itu. Menggerakkan bibirnya dengan lembut dan ragu-ragu. Meniru adegan romantis yang pernah ia tonton di film.
Namun, Julian sama sekali tidak membalas. Pria itu tetap bergeming, membiarkan Elena berusaha keras sendiri di atas tubuhnya dengan bibir yang terus terkunci rapat.
Rasa frustrasi dan kebingungan mulai menyerang kepala Elena. Merasa tidak dihargai, ia akhirnya melepaskan cumbuannya dan menjauhkan wajahnya beberapa sentimeter.
Ia menatap Julian dengan napas yang terengah-engah dan mata yang berkaca-kaca. Pria itu menatapnya balik dengan sorot mata meremehkan yang sangat menusuk ulu hati.
"Hanya itu?" desis Julian sinis. "Teknikmu sangat buruk, Elena. Benar-benar sampah."
Wajah Elena seketika memerah padam karena malu dan marah yang bercampur menjadi satu.
"A-aku tidak tahu harus bagaimana lagi," aku Elena jujur dengan suara yang nyaris berbisik. Ia menundukkan kepalanya, tidak sanggup menatap mata elang Julian yang seolah bisa menembus sukmanya.
"Aku belum pernah melakukan ini dengan siapa pun," lanjut Elena lirih. "Aku belum pernah bercinta."
Julian tampak tertegun sejenak mendengar pengakuan jujur dari bibir adik iparnya.
Tatapannya turun perlahan ke arah dada Elena yang naik-turun dengan cepat. Lalu, kembali menatap wajah polos gadis itu yang tampak begitu ketakutan dan rapuh di atas pangkuannya.
Sebuah seringai tipis yang sarat akan kepuasan tersembunyi muncul di sudut bibir Julian.
"Gadis suci yang nekat," bisik Julian, suara baritonnya mendadak berubah menjadi lebih serak dan berat.
"Baiklah, kalau begitu biar aku yang mengajarimu malam ini."
Sebelum Elena sempat mencerna arti kata-kata itu, tangan besar Julian yang hangat mendadak mencengkeram pinggang rampingnya dengan sangat kuat. Mengunci tubuh mungilnya agar tidak bisa bergerak menjauh dari pangkuannya.
"Kamu harus ingat baik-baik apa yang kulakukan padamu malam ini," desis Julian tepat di depan wajah Elena, matanya kini memancarkan gelora gelap yang siap memangsa.
"Karena setelah malam ini, kamu harus bisa melakukannya sendiri untukku. Paham?"
Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan, Julian langsung memberikan serangan balik yang mengejutkan. Ia menarik tengkuk Elena dengan kasar dan posesif, lalu membungkam bibir gadis itu dengan pagutan yang menuntut dan liar.
Julian mencumbunya seperti hewan kelaparan yang menemukan mangsanya di tengah hutan.
"Eungh .…" Elena melenguh pelan di dalam pagutan mereka yang begitu dalam.
Tangannya meremas kemeja putih Julian dengan sangat erat untuk mencari pegangan. Kepalanya mendadak terasa pusing oleh hasrat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Julian yang sudah sangat lama tidak mendapatkan kepuasan biologis dari istrinya, Veronica, seolah menemukan oase yang sangat menyegarkan di tengah padang gurun yang gersang.
Keberadaan Elena yang masih suci dan polos. Namun memiliki tubuh yang begitu seksi, benar-benar meruntuhkan seluruh tembok kendali diri yang selama ini dibangun kokoh oleh sang miliarder dingin.
Dengan gerakan cepat yang sangat mendominasi, Julian membalikkan posisi mereka. Kini, Elena berbaring pasrah di atas sofa yang dingin. Sementara tubuh besar iparnya mengungkungnya dari atas.
Tanpa memberikan waktu bagi Elena untuk sekadar menghirup oksigen, Julian memindahkan kecupan panasnya ke rahangnya, lalu turun ke leher jenjang gadis itu.
Sentuhan bibir dan pagutan menuntut Julian di kulit lehernya yang sensitif membuat Elena melengkungkan tubuhnya ke atas.
"Kak ... ahh, jangan di situ," desah Elena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, suaranya terdengar sangat merdu di telinga iparnya.
Suara desahan Elena bagaikan bahan bakar yang menyiram api gelora di dalam dada Julian. Pria itu dengan tidak sabar merenggut sisa kain yang menghalangi pandangannya.
Ketika tubuh polos Elena terpampang sepenuhnya di bawah pencahayaan lampu kamar yang temaram, Julian sempat tertegun sesaat. Ia mengagumi keindahan yang ada di depannya. Gadis ini begitu sempurna, polos, dan tanpa noda.
Hasratnya sudah berada di puncak. Julian segera memosisikan tubuhnya di antara kedua kaki Elena, siap untuk mengambil mahkota suci milik adik iparnya itu malam ini juga.
Elena tertegun membeku. Ancaman mutlak dari suaminya yang posesif itu seketika meruntuhkan seluruh argumen di kepalanya. Gadis itu menghembuskan napas pasrah, menatap Julian dengan raut ketus yang menggemaskan."Dasar pemaksa," cibir Elena pelan."Tapi kamu tetap mencintai pria pemaksa ini," balas Julian menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Pria itu membungkuk singkat, mendaratkan ciuman manis di bibir istrinya sebelum membukakan pintu mobil. "Semoga sukses wawancaramu hari ini, Istriku."Elena mendengus pasrah, melangkah masuk ke dalam kabin sedan mewah tersebut. Leon dengan sigap menutup pintu rapat-rapat, lalu melesat memimpin iring-iringan kendaraan menuju kantor pusat Wardana Group.Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam kabin sedan mewah itu terasa begitu tenang namun dipenuhi ketegangan tersendiri bagi Elena. Jemarinya bergerak lincah membalikkan halaman demi halaman buku tebal b
Julian memutar otak secepat kilat. Raut wajahnya yang sempat membeku seketika mencair, digantikan senyuman tipis yang tenang dan meyakinkan. Pria itu mengusap lembut kedua bahu istrinya."Maafkan aku, Piccola," tutur Julian lembut dengan nada penuh penyesalan yang dibuat-buat. "Semalam aku sempat tidak sengaja membaca draf CV yang ada di laptopmu saat kamu sudah tidur. Di sana tertulis tujuan divisimu. Jadi, apa kamu benar-benar melamar ke divisi itu?"Elena menyipitkan mata, masih menatap suaminya dengan sisa-sisa kecurigaan. Namun, penjelasan Julian terdengar cukup masuk akal. "Iya, aku melamar ke divisi kreatif."Pria itu mengangguk-angguk paham. Ia sengaja membelokkan arah pembicaraan demi mengalihkan fokus istrinya. "Ngomong-ngomong, di Wardana Group, kadang-kadang meskipun seorang pelamar dinyatakan lolos, penempatannya tidak selalu sesuai dengan divisi tujuan awal. Apa kamu keberatan jika hal seperti itu terjadi?"Perhatian Elena seketika teralih dari tuduhan awal. Dahi gadi
Elena menatap layar ponselnya cukup lama. Rasa curiga yang menggelitik hatinya tak bisa dibiarkan begitu saja. Tanpa membuang waktu, jemarinya menekan nomor kontak suaminya.Deringan pertama baru saja berbunyi ketika suara berat Julian menjawab dari seberang sambungan."Ada apa, Piccola? Kamu merindukanku?" goda pria itu dengan nada santai yang kental akan percaya diri.Elena mendengus pelan, menolak terpancing godaan itu. "Julian, aku baru saja mendapat telepon dari Wardana Group.""Oh ya?" Pria itu pura-pura terkejut. Dia menyunggingkan senyum yang tipis. "Lalu bagaimana hasilnya?""Manajer HRD-mu, Pak Sam, meneleponku secara pribadi. Dia memintaku datang untuk wawancara kerja besok pagi jam sepuluh," terang Elena antusias."Selamat, Istriku. Langkah awal yang sangat bagus, bukan?" sahut suaminya hangat."Jangan senang dulu, Julian Wardana," ucap wanita itu dengan intonasi menuduh yang sangat
Napas Pak Sam terengah-engah sampai akhirnya ia mengembuskan napas lega saat melihat kursornya masih menggantung di atas tombol konfirmasi. Email penolakan itu belum terkirim."T-Tuhan memberkati," bisik Pak Sam sambil menepuk dadanya yang berdegup kencang. Ia menoleh pada Leon dengan raut wajah panik yang belum sepenuhnya hilang. "Pak Leon, apakah email pelamar yang ini yang dimaksud oleh Tuan Wardana?"Leon melangkah mendekat, menundukkan kepala sejenak untuk membaca nama serta dokumen terlampir di layar monitor."Ya," sahut Leon mengangguk mantap. "Itu email dari Nyonya Wardana."Pak Sam mengusap keringat dingin yang muncul di pelipisnya. Napasnya masih agak sesak. Namun dadanya terasa lega luar biasa. Pria paruh baya itu benar-benar merasa baru saja lolos dari jurang kematian karirnya.Biasanya, proses penyortiran dan penolakan lamaran bagi pelamar tanpa pengalaman kerja selalu ditangani oleh staf HRD di bawahnya. Namun, entah angin apa yang bertiup siang ini, Pak Sam justru s
Elena yang sedang bersantai di sofa penthouse terperanjat kaget mendengar nada suara suaminya yang mendadak meninggi di seberang telepon.Gadis itu menautkan alisnya, berusaha mengontrol kepanikan."Julian, aku bisa menjelaskannya," tuturnya pelan, berusaha menjelaskan posisinya secara rasional. "Aku kan baru saja lulus kuliah. Kalau aku langsung menulis status sudah menikah di dalam berkas lamaran kerja, orang-orang divisi HRD pasti akan curiga dan bertanya-tanya.""Curiga bagaimana?!" protes Julian tidak terima, suaranya terdengar sangat tegas di balik sambungan telepon. "Kamu memang sudah sah menjadi istriku! Apa yang perlu dicurigai dari sebuah kebenaran?!"Elena mengembuskan napas panjang. Berusaha memberi pengertian pada suaminya yang mulai bertindak posesif."Masalahnya, aku ini melamar sebagai staf biasa, Julian," terang wanita itu mengemukakan alasannya yang sangat masuk akal. "Jika sebuah perusahaan melihat pelamar muda baru lulus sudah menikah, mereka sering kali berpiki
Mendengar pertanyaan itu, raut ketus di wajah Elena seketika melunak. Binar antusias kembali terpancar terang dari mata beningnya, menggantikan silent treatment yang sempat membuat Julian ketar-ketir. "Rencananya hari ini aku akan menyelesaikan seluruh portofolioku," sahut Elena dengan nada suara bersemangat. "Terus, siang nanti aku langsung mengirimkan lamarannya via email,” lanjutnya. Julian menyunggingkan senyum lembutnya yang lebar. Dia lega karena taktik mogok makannya terbukti ampuh mengembalikan suara manis istrinya. "Baguslah. Tapi ingat, kirimkan lamaranmu ke Wardana Group saja, jangan ke perusahaan lain." Elena mengangguk patuh tanpa ada niat membantah sedikit pun. Ia juga menyadari posisinya sebagai istri dari pemilik tunggal Wardana Group, melamar ke perusahaan kompetitor justru bisa memicu spekulasi liar dan mencemari nama besar suaminya. Meski pernikahan mereka masih dirahasiakan. "Baik, Pak Suami," jawab gadis itu kooperatif. "Aku hanya akan melamar ke pe







