Home / Romansa / Permainan Berbahaya Kakak Ipar / Bab 32. Pengakuan Sang Predator

Share

Bab 32. Pengakuan Sang Predator

Author: Just Mommy
last update publish date: 2026-07-13 12:07:37

Napas Veronica tercekat mendengar serangan balik yang begitu menohok dari suaminya.

"Hanya istri yang baik dan setia yang pantas untuk mengatur suaminya," lanjut Julian tanpa ampun, sengaja menekankan kata 'setia' dengan nada penuh sindiran.

"Sedangkan wanita yang tidak tahu diri, tidak punya ha

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 220

    Elena yang sedang bersantai di sofa penthouse terperanjat kaget mendengar nada suara suaminya yang mendadak meninggi di seberang telepon.Gadis itu menautkan alisnya, berusaha mengontrol kepanikan."Julian, aku bisa menjelaskannya," tuturnya pelan, berusaha menjelaskan posisinya secara rasional. "Aku kan baru saja lulus kuliah. Kalau aku langsung menulis status sudah menikah di dalam berkas lamaran kerja, orang-orang divisi HRD pasti akan curiga dan bertanya-tanya.""Curiga bagaimana?!" protes Julian tidak terima, suaranya terdengar sangat tegas di balik sambungan telepon. "Kamu memang sudah sah menjadi istriku! Apa yang perlu dicurigai dari sebuah kebenaran?!"Elena mengembuskan napas panjang. Berusaha memberi pengertian pada suaminya yang mulai bertindak posesif."Masalahnya, aku ini melamar sebagai staf biasa, Julian," terang wanita itu mengemukakan alasannya yang sangat masuk akal. "Jika sebuah perusahaan melihat pelamar muda baru lulus sudah menikah, mereka sering kali berpiki

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 219

    Mendengar pertanyaan itu, raut ketus di wajah Elena seketika melunak. Binar antusias kembali terpancar terang dari mata beningnya, menggantikan silent treatment yang sempat membuat Julian ketar-ketir. "Rencananya hari ini aku akan menyelesaikan seluruh portofolioku," sahut Elena dengan nada suara bersemangat. "Terus, siang nanti aku langsung mengirimkan lamarannya via email,” lanjutnya. Julian menyunggingkan senyum lembutnya yang lebar. Dia lega karena taktik mogok makannya terbukti ampuh mengembalikan suara manis istrinya. "Baguslah. Tapi ingat, kirimkan lamaranmu ke Wardana Group saja, jangan ke perusahaan lain." Elena mengangguk patuh tanpa ada niat membantah sedikit pun. Ia juga menyadari posisinya sebagai istri dari pemilik tunggal Wardana Group, melamar ke perusahaan kompetitor justru bisa memicu spekulasi liar dan mencemari nama besar suaminya. Meski pernikahan mereka masih dirahasiakan. "Baik, Pak Suami," jawab gadis itu kooperatif. "Aku hanya akan melamar ke pe

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 218

    Dengan tangan gemetar, dia mendial nomor darurat. "Kamu harus segera di-rontgent sekarangjuga!"Menyadari situasi sudah beresiko lepas kendali dan istrinya benar-benar hendak mendatangkan armada rumah sakit ke penthouse, Julian seketika melepaskan genggaman di rusuknya. Pria itu melompat bangkit dari kasur dengan gerakan yang cepat, meraih pergelangan tangan istrinya sebelum tombol panggil tertekan."Tunggu! Jangan telepon ambulans!" ucap pria itu cepat seraya menarik ponsel itu dari genggaman istrinya.Elena terperanjat. Dia menatap suaminya dengan mata membulat sempurna. Ia menyapu pandangan pada Julian yang kini berdiri tegak tanpa ada raut kesakitan sedikit pun di wajah tampannya.“Kamu?" Napas Elena masih memburu akibat kepanikan yang belum sepenuhnya reda.Julian menyunggingkan senyumnya yang canggung. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya menatap istrinya dengan pendar rasa bersalah."Maafkan aku, Sayang. Aku cuma bercanda," aku Julian pria itu dengan suara pelan.

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 217

    Julian sempat terpaku. Lidahnya mendadak terasa kaku menatap sorot mata Elena yang menuntut penjelasan di tengah remang koridor penthouse.Pria itu sempat berniat mengarang kebohongan kecil demi menenangkan sang istri. Namun, membayangkan raut kecewa di wajah Elena jika rahasia itu terbongkar justru membuat dadanya terasa jauh lebih sesak.Julian menatap istrinya pasrah, lalu melangkah mendekat seraya menghembuskan napas pelan. "Aku baru saja bicara dengan Leon di ruang kerja, Piccola.""Bicara dengan Leon?" tegur Elena dengan nada suara yang seketika naik satu oktaf. "Tengah malam begini?! Memangnya hal itu tidak bisa ditunda sampai besok pagi?!"Wanita itu berkacak pinggang, menatap suaminya dengan raut marah yang sangat menggebu-gebu. "Kamu itu sedang sakit! Tubuhmu penuh luka lebam dan dokter bilang rusukmu bisa saja retak! Kenapa kamu bandel sekali, sih?!"Julian hendak menyela, tetapi istrinya langsung memotongnya tanpa memberi celah sedikit pun."Harusnya kamu itu tidur, isti

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 216

    "Mengenai penyerbuan brutal di Harbin kemarin sore," lanjut Leon seraya menunjukkan grafik aliran dana dan identitas kelompok penyerang. "Ternyata Atlas Rowan tidak bergerak sendirian."Julian menyunggingkan senyum miring yang teramat dingin. "Pria lemah itu rupanya benar-benar menyetorkan nyawanya padaku.""Atlas Rowan memanfaatkan koneksinya untuk menyewa jaringan mafia bayaran internasional," jelas Leon menambahkan detail penting. "Kelompok mafia yang mereka pakai adalah kelompok yang dulu pernah kalah dalam tender pengadaan jalur logistik kasino dan pelabuhan saat berhadapan dengan Wardana Group di Asia Timur."Julian terkekeh sinis, tawa serak yang meremehkan. "Pantas saja mereka mengirimkan banyak personel bersenjata berat tanpa ragu. Selain hubungan dengan Rowan, mereka memiliki dendam lama padaku.""Benar, Tuan," sahut Leon. "Dendam masa lalu itulah yang membuat mereka berani mempertaruhkan segalanya demi menghabisi Anda di tempat asing seperti Harbin.""Lalu bagaimana deng

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 215

    "Yang ada aku bisa makin sakit karena merasa tertekan dimarahi terus oleh istriku yang galak ini." Elena merona merah mendengarnya, memukul dada Julian secara pelan lalu menyembunyikan wajah malunya di ceruk leher hangat sang suami. Dia benar-benar menjalankan perannya sebagai istri yang penuh pengabdian. Begitu menyadari betapa parahnya luka lebam di tubuh Julian, wanita itu menolak membiarkan suaminya mengangkat beban berat atau banyak bergerak sendirian. Awalnya, Julian hendak menyuarakan protesnya. Pria itu merasa keterlibatannya dikurung dan diperlakukan seperti pasien ringkih sangat meruntuhkan harga dirinya. Namun, seluruh niat protes itu menguap tanpa sisa begitu istrinya mengumumkan dengan wajah serius bahwa ia sendiri yang akan membantu suaminya mandi sore itu. "Aku bisa sendiri, Elly," gumam pria itu sambil bersandar di tepi tempat tidur saat istrinya mengambil handuk. Elena menatapnya tajam sambil berkacak pinggang. "Jangan membantah! Lukamu terkena air hangat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status