LOGINKelas berakhir.
Dosen berkepala botak itu menutup bukunya dengan suara keras yang membuat beberapa mahasiswa tersentak. Dia mengucapkan beberapa kata penutup tentang tugas minggu depan, lalu keluar dari ruangan dengan langkah tenang. David bangkit dari kursinya. Mengambil tas kulit cokelat gelapnya, melemparkannya ke bahu dengan gerakan santai. Dia melangkah keluar dengan postur tegak, kepala terangkat, kepercayaan diri terpancar dari setiap langkahnya. Tatapan mengikutinya. Puluhan pasang mata. Kagum. Penasaran. Beberapa bahkan penuh hasrat yang tidak tersembunyi. "Dia benar-benar berbeda sekarang." "Aku ingin mendekatinya tapi... aku takut ditolak." "Scarlett berani banget tadi. Aku iri." "Seandainya aku yang duluan..." Bisikan-bisikan itu terdengar jelas, tapi David tidak peduli, tidak menoleh, tidak merespons. Hanya terus berjalan seperti semua perhatian itu tidak ada. Lorong kampus ramai dengan mahasiswa yang berlalu-lalang. Beberapa menoleh ketika David lewat, beberapa berbisik, tapi David terus melangkah dengan tenang, melewati mereka semua tanpa berhenti. Pintu kaca otomatis terbuka ketika dia mendekat. Udara luar menyapa wajahnya. Hangat. Cerah. Langit biru tanpa awan. Area parkir terlihat di depan. Deretan mobil terparkir rapi. Beberapa sedan mewah. Beberapa mobil sport. Ini kampus untuk anak-anak orang kaya, jadi pemandangan seperti ini biasa. Tapi di antara semua mobil itu, satu yang paling mencolok. Bugatti Veyron hitam miliknya. Berdiri megah di tempat parkir khusus. Warna hitam metaliknya berkilau di bawah sinar matahari. Dan tepat di sampingnya, berdiri seorang wanita. Vanessa Clarke. Dia berdiri dengan satu tangan di pinggul, postur yang terlihat percaya diri tapi ada sesuatu yang berbeda hari ini. Ekspresi di wajahnya tidak setenang biasanya. Ada sedikit... kegelisahan. David tersenyum puas dalam hati. Jalang ini mengambil langkah yang bijak dengan menunggu di sini. Dia tahu bahwa aku tidak akan menjemputnya di kelasnya. Bagus, bagus! Sekarang kau sudah memahami posisimu dengan baik. David melambatkan langkahnya sedikit. Tidak terburu-buru. Membiarkan Vanessa menunggunya. Membiarkan wanita itu merasakan sedikit ketidakpastian. Vanessa melihatnya mendekat. Ekspresinya berubah. Senyum muncul di wajahnya. Senyum yang biasa dia pakai untuk memanipulasi. Manis, menggoda, tapi ada sesuatu yang tidak natural di sana hari ini. "David." Suaranya terdengar lembut dan ceria, tapi sedikit terlalu ceria. Sedikit terlalu berusaha keras. Dia melangkah maju, kedua tangannya terangkat seperti ingin memeluk David. Tapi David tidak berhenti. Dia hanya berjalan melewati Vanessa, langsung menuju pintu mobil di sisi pengemudi. Tidak ada senyum balasan, bahkan tidak ada kontak mata. Vanessa membeku di tempatnya. Tangannya masih terangkat di udara, ekspresinya berubah dari senyum menjadi kesal. "Bajingan ini..." David membuka pintu mobilnya, melemparkan tasnya ke kursi belakang. Lalu dia masuk, duduk di kursi pengemudi, menutup pintu dengan bunyi yang solid. Vanessa berdiri di sana. Menunggu. Matanya menatap pintu penumpang, berharap David akan membukanya dari dalam. Atau setidaknya keluar dan membukakan pintu untuknya seperti biasa. Detik berlalu. Lima detik. Sepuluh detik. David tidak bergerak. Vanessa bisa melihatnya di dalam mobil, duduk dengan santai, tangan di kemudi, menatap lurus ke depan. Kesal semakin memenuhi dada Vanessa. Apa-apaan ini? Biasanya David akan berlari membukakan pintu untuknya. Bahkan kadang sampai tersandung kakinya sendiri karena terlalu bersemangat. Tapi sekarang? Tiba-tiba kaca jendela di sisi pengemudi turun perlahan. Wajah David muncul, menatap Vanessa dengan ekspresi datar. "Kau tidak ingin masuk? Aku bisa pergi sekarang kalau kau berubah pikiran." Suaranya tenang, santai, seperti bertanya tentang cuaca. Wajah Vanessa memerah. Bukan karena malu, tapi karena kesal. Dia menelan rasa kesalnya, memaksakan senyum lagi, lalu berjalan mengelilingi mobil menuju sisi penumpang. Tangannya membuka pintu dengan gerakan yang sedikit terlalu keras. Dia masuk, duduk di kursi penumpang yang mewah, menutup pintu dengan bunyi yang lebih keras dari seharusnya. Interior kulit yang lembut. Aroma mobil mahal yang khas. Tapi Vanessa tidak peduli dengan semua itu sekarang. David sudah menyalakan mesin. Suara gemuruh mesin yang powerful memenuhi kabin. Vanessa memasang sabuk pengaman, jari-jarinya bergerak dengan gerakan yang kaku. Matanya sesekali melirik ke arah David, mencoba membaca ekspresinya. Tapi wajah David tenang. Seperti tidak ada yang spesial tentang hari ini. Seperti ini bukan pertama kalinya mereka akan... melakukan itu. Dan itu yang membuat Vanessa semakin kesal dan kesal! Mengapa dia tidak terlihat gugup? Mengapa tidak ada keringat di dahinya? Mengapa tangannya tidak gemetar sedikit pun? Bukankah mereka akan melakukan itu? Seharusnya David gugup. Seharusnya dia gelisah. Seharusnya dia tidak bisa berhenti berbicara karena berusaha menyembunyikan itu semua. Tapi sekarang? Dia bahkan tidak mengatakan sesuatu! Apakah... apakah dia sudah terbiasa melakukan itu sebelumnya? Tidak, tidak mungkin! David yang dia kenal tidak pernah tidur dengan wanita sebelumnya. Dia masih perjaka. Vanessa yakin itu. David terlalu bodoh, terlalu canggung, terlalu pengecut untuk mendekati wanita lain. Tapi mengapa dia terlihat begitu... percaya diri? Sial! Apa yang sebenarnya terjadi pada David? Mobil meluncur keluar dari area parkir dengan mulus. David mengendarai dengan satu tangan di kemudi, tangan lainnya santai di gear shift. Posturnya rileks. Mata fokus di jalan. Vanessa duduk di sampingnya, kedua tangan dilipat di dadanya, ekspresi kesal jelas terukir di wajahnya meskipun dia berusaha menyembunyikannya. Jalanan cukup sepi. Mobil melaju dengan kecepatan konstan. Tidak terlalu cepat. Tidak terlalu lambat. Hanya... tenang. Keheningan di dalam kabin terasa berat. Tidak ada percakapan. Tidak ada musik. Hanya suara mesin dan angin. Biasanya David akan berbicara tanpa henti. Menanyakan kabarnya. Menanyakan apa yang dia makan. Menanyakan apakah dia butuh sesuatu. Memberikan pujian demi pujian yang membuat Vanessa ingin muntah tapi tetap dia terima karena itu berguna untuk manipulasi. Tapi sekarang? Diam. Hanya diam. Dan itu membuat Vanessa... gelisah. Dia melirik David lagi. Rahang tegas. Wajah tampan yang terlihat lebih... maskulin entah bagaimana. Kemeja yang sedikit ketat di bagian lengan dan dada, menampilkan tubuh yang... kapan David punya tubuh seperti itu? Vanessa menggelengkan kepalanya sedikit. Fokus. Ini bukan waktunya untuk bingung. Dia harus mengambil kembali kendali situasi. Dia yang seharusnya mengendalikan hubungan ini. Seperti biasa. Vanessa membuka mulutnya, berniat mengatakan sesuatu. Mungkin pujian. Mungkin pertanyaan. Sesuatu untuk memecah keheningan yang tidak nyaman ini. Tapi sebelum kata-kata keluar... Tangan David bergerak. Tangan yang tadinya santai di gear shift tiba-tiba berpindah. Turun. Lalu... Hinggap di paha Vanessa. Vanessa tersentak. Napasnya tertahan sebentar. Tangan besar David berada di paha kirinya. Di atas rok pendek yang dia kenakan. Hangat, berat, dengan jari-jari yang panjang dan kuat. Hanya diam di sana. Tidak bergerak.Orgasme menghantam Rylie seperti petir. Tubuhnya gemetar hebat. Kakinya hampir tidak bisa menopang. Punggung melengkung. Jari-jarinya masih bergerak di dalam tubuhnya, memperpanjang orgasme.Cairan menyembur keluar. Membasahi jari-jarinya. Membasahi celana dalamnya yang sudah basah. Bahkan menetes ke paha dalamnya."Ahh... ahh... ahh..."Desahan terus keluar. Tubuhnya masih gemetar.Tapi matanya tidak berpaling dari David.Pria itu luar biasa.Stamina yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Kekuatan yang membuat Vanessa berteriak. Batang yang... sempurna.Rylie menginginkan David, lebih dari yang pernah dia inginkan pria manapun dalam hidupnya.---Di dalam kamar, David terus bergerak. Lebih keras, lebih cepat, lebih brutal.Tubuh Vanessa sudah tidak bisa lagi melakukan apa-apa selain menerima. Tangan mencengkeram seprai dengan putus asa. Mata terbalik ke belakang kepala. Mulut terbuka dalam jeritan yang tidak ada habisnya."AHHH! DAVID! AHHH! A-AKU... AKU AKAN—"Lalu tubuh Vanessa me
David tersenyum, lalu dia menarik batangnya keluar. Perlahan, sampai hanya kepala yang tersisa.Dan menghujam kembali. Keras, cepat."AHHH!"Vanessa menjerit. Tangannya langsung kembali menutup mulutnya.David memulai ritme. Keluar, masuk. Keluar, masuk.Lambat di awal, lalu semakin cepat. Semakin keras.Kasur mulai berderit. Headboard menabrak dinding dengan bunyi yang berirama.THUMP. THUMP. THUMP."Mmph... ahh... mmph... ahh..."Desahan Vanessa tertahan oleh tangannya. Tapi tetap terdengar, tertekan, putus asa.David mencengkeram pinggul Vanessa. Keras, pasti akan meninggalkan bekas, lalu dia bergerak lebih cepat.Lebih keras, lebih dalam, menghujam dengan kekuatan penuh.Tubuh Vanessa terhentak di kasur setiap kali David menghujam. Payudaranya memantul liar. Kepalanya terlempar ke belakang."MMMMPH! AHHH! MMMMPH!"Tangannya tidak cukup lagi untuk meredam jeritan. Terlalu nikmat, terlalu besar, terlalu keras.Dan di tengah semua itu, David menyadari sesuatu.Matanya melirik ke arah
Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang pelan.Vanessa tidak membuang waktu. Tangannya langsung bergerak ke kancing blusnya. Satu per satu dibuka dengan gerakan cepat yang hampir putus asa.Blus terbuka. Dilepas. Dibuang ke lantai.Dan tubuh Vanessa terekspos.Payudara besar berukuran 36D yang dibungkus bra hitam tipis. Bentuknya bulat dan penuh, kencang. Pinggangnya yang ramping menciptakan lekukan sempurna. Bokong besar yang bulat dan kencang, dibungkus celana dalam hitam yang matching dengan bra, menonjol jelas bahkan dari depan.David merasakan sesuatu yang panas meledak di dadanya. Ia hampir kehilangan kendali. Ingin segera melahap jalang ini. Menyobek pakaian dalam yang tersisa. Mendorongnya ke kasur. Dan menghujamkan batangnya yang sudah keras maksimal.Tapi dia menahan diri. Masih ada permainan yang harus dimainkan.Vanessa melangkah maju. Mata penuh nafsu, napas cepat yang membuat payudaranya naik turun dengan ritme yang menggoda.Dia berlutut di depan David.Tangannya be
Vanessa mengambil tisu dari dashboard. Tangannya bergerak cepat, membersihkan wajahnya. Mengusap dahi, pipi, dagu. Memastikan tidak ada cairan yang tersisa.Dia tidak mungkin tampil seperti ini di depan ibunya.Walaupun dia tahu, ibunya tahu apa saja yang dia lakukan di luar. Tapi tetap saja, ada batas-batas yang harus dijaga.Vanessa keluar lebih dulu. Langkahnya sedikit tidak stabil. Napasnya masih sedikit cepat.David keluar setelahnya. Tenang, santai, seolah tidak ada yang terjadi.Dan pada titik ini, David melihat ibu Vanessa dengan lebih jelas.Rylie Clarke. 38 tahun, tapi terlihat seperti awal tiga puluhan.Tubuhnya... sempurna. MILF dalam definisi yang paling murni. Payudara besar yang masih kencang, terlihat jelas di balik blus rumahan yang sedikit ketat. Pinggang ramping yang menciptakan lekukan berbentuk jam pasir. Pinggul lebar yang feminin. Kaki jenjang yang mulus, terekspos di bawah rok selutut yang pas di tubuhnya.Wajahnya cantik dengan cara yang matang. Rambut cokelat
Sepuluh menit kemudian, tubuh David menegang. Napasnya yang tadinya tenang mulai berubah. Sedikit lebih cepat, sedikit lebih dalam.Vanessa merasakan perubahan itu. Batang di mulutnya berdenyut lebih keras, lebih cepat.Dia tahu apa yang akan terjadi.Dan entah kenapa, dia sangat menginginkannya.Vanessa bergerak lebih cepat. Lebih dalam. Mengisap lebih keras. Lidahnya menekan. Tangannya meremas bagian batang yang tidak muat di mulutnya."Mmph... mmph... mmph..."Lalu tangan David bergerak. Menyentuh kepala Vanessa. Tidak lembut kali ini. Keras. Mencengkeram rambutnya.Dan mendorong.Mendorong kepala Vanessa ke bawah. Memaksa batangnya masuk lebih dalam. Sampai ke tenggorokan."Ggghhkkk!"Vanessa tersedak keras. Air mata mengalir lebih deras. Tapi dia tidak melawan. Membiarkan David mengendalikan.David mendorong lebih dalam. Lebih keras. Pinggulnya bergerak sedikit, menyodok ke dalam mulut Vanessa.Lalu tubuhnya menegang sepenuhnya, dan dia meledak.David menarik batangnya keluar dar
David melihat semuanya. Setiap ekspresi di wajah Vanessa. Setiap perubahan warna di pipinya. Cara matanya tidak bisa berpaling dari batangnya.Senyum puas melebar di wajahnya.Tangannya bergerak. Menyentuh wajah Vanessa, lembut, jari-jarinya menelusuri garis rahangnya. Lalu naik ke pipi, mengusap dengan gerakan yang hampir... penuh kasih sayang.Kontras yang aneh dengan situasi yang sangat tidak romantis ini.Lalu suaranya keluar. Lembut tapi tegas."Lakukan sekarang dan buat aku puas."Jeda sebentar. Jari-jarinya masih mengusap pipi Vanessa."Hanya setelahnya kau layak untuk terus berada di sisiku."Vanessa menatap mata David. Mata hitam yang tenang. Percaya diri. Dominan.Dia mengangguk perlahan. Tidak bisa berbicara. Tidak percaya dia akan melakukan ini.Tangannya bergerak, gemetar, menyentuh batang besar itu untuk pertama kali.Hangat, seperti batang besi yang baru dipanaskan.Keras, sangat keras. Tidak ada bagian yang lembut. Semuanya padat, berotot, kuat, dan besar. Astaga, bah







