Compartilhar

Bab 007

last update Última atualização: 2026-01-09 08:56:37

Dia jadi bahan tertawaan. Belum pernah dalam hidupnya dipermalukan seburuk ini.

Amarah mulai mendidih di dadanya. Tangannya mengepal. Dia ingin bangkit. Ingin melontarkan pukulan di wajah David yang sombong itu. Ingin menghancurkannya.

Tapi...

David adalah putra Richard Lewis. Konglomerat real estate. Salah satu keluarga terkaya di Elmridge.

Jika Blake menyentuh David, jika dia melakukan apa pun, keluarganya akan hancur. Ayahnya yang punya bisnis kecil akan bangkrut dalam sekejap. Karirnya di kampus ini akan berakhir.

Dia tidak berani.

Jadi Blake hanya bisa memasang ekspresi pahit. Gigi-giginya terkatup rapat. Matanya menatap lantai, tidak berani menatap siapa pun.

Perlahan, dengan gerakan yang canggung dan memalukan, Blake bangkit. Mengambil tasnya, mengumpulkan barang-barangnya yang berserakan.

Dan tanpa berkata apa-apa, tanpa menatap siapa pun, dia berjalan keluar kelas dengan langkah cepat.

Pintu tertutup di belakangnya.

Hening sebentar. Lalu...

"Wow."

"David benar-benar melakukannya."

"Aku tidak pernah melihat David seperti itu."

"Blake layak mendapatkannya. Dia memang bajingan manipulatif."

"David sekarang... luar biasa."

Semua orang menatap David dengan kagum, hormat, bahkan sedikit takut.

David Lewis yang dulu ragu-ragu, mudah dimanipulasi, dan bodoh sudah hilang. Yang ada sekarang adalah pria yang penuh kepercayaan diri. Dominan. Tidak takut siapa pun.

David duduk kembali dengan santai, seolah tidak ada yang terjadi. Mengambil novelnya kembali, membaca dengan tenang.

Dan kemudian, gerakan terdengar dari belakang. Suara heels yang perlahan mendekat.

David mengangkat kepalanya.

Seorang wanita berjalan menuju mejanya. Bukan berjalan biasa. Tapi berjalan dengan gerakan yang disengaja. Pinggul bergoyang. Langkah perlahan. Mata terkunci pada David.

Scarlett Hayes.

Wanita paling cantik di kelas ini. Bisa dibilang rivalnya Vanessa.

Rambut merah panjang bergelombang jatuh sempurna di punggungnya. Bukan merah terang yang norak, tapi pirang yang dalam, merah mahogany yang terlihat natural dan mahal.

Wajahnya mencolok. Mata biru cerah yang intens, seperti langit musim panas. Tulang pipinya tinggi dan tajam, memberikan struktur yang fotogenik. Bibirnya punya bentuk sempurna, seperti busur cupid, berwarna merah muda alami dengan hint merah yang cocok dengan rambutnya.

Dan tubuhnya...

Scarlett punya tubuh yang membuat setiap pria di kampus ini mimpi basah.

Tingginya sekitar 174 cm dengan heels. Setiap sentimeter dari tubuh itu adalah kesempurnaan murni.

Payudaranya besar dan kencang. Ukuran 34DD, bentuknya bulat dan penuh, bersemangat dan tinggi. Blus hitam ketat V-neck yang dia pakai menampilkan belahan yang dalam, lembah menggoda di antara dua gundukan daging yang sempurna.

Pinggangnya ramping, menciptakan lekukan berbentuk jam pasir yang indah. Perut yang datar dan mulus terlihat di bawah blus yang pas dengan sempurna.

Dia berhenti tepat di samping meja David. Pinggulnya sedikit miring. Satu tangan di pinggul. Ekspresi menggoda jelas di wajahnya.

"David."

Suaranya rendah. Sensual.

Seluruh kelas sekarang menonton. Semua mata tertuju pada mereka.

David mengangkat kepalanya, menatap Scarlett dengan ekspresi yang tenang.

"Scarlett."

Senyum terlukis di wajah Scarlett. Dia melangkah lebih dekat. Terlalu dekat. Ruang pribadi tidak ada lagi.

Tangannya bergerak, jari-jarinya menyentuh lengan David. Menelusuri otot yang terlihat jelas di bawah kemeja.

"Aku tidak pernah menyadari betapa... besarnya kau."

Suaranya pelan tapi cukup keras untuk orang-orang di sekitar mendengar. Jari-jarinya bergerak dari lengan ke bahu, lalu turun ke dada. Menekan sedikit, merasakan otot yang keras di bawah kain.

"Kau gym di mana? Aku harus mulai gym di tempat yang sama."

Matanya menatap David dengan tatapan yang tidak menyembunyikan apa-apa. Nafsu. Keinginan. Ketertarikan.

Tidak ada malu. Tidak ada ragu. Meski semua orang menonton, Scarlett tidak peduli.

Bahkan dia menikmatinya. Menikmati fakta bahwa semua orang cemburu. Semua pria iri. Semua wanita iri.

David tidak bergerak. Hanya menatap Scarlett dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Scarlett membungkuk sedikit. Gerakan itu membuat blus-nya lebih terbuka, memberikan pemandangan yang jelas pada payudaranya.

Dia berbisik, tapi suaranya masih cukup keras untuk didengar, "Kau punya waktu luang malam ini?"

Hening.

Semua pria di kelas menatap David dengan iri yang jelas. Rahang mereka mengencang. Tangan mereka mengepal.

"Sialan... kenapa dia yang dapat Scarlett?"

"Aku benci hidup."

"Scarlett tidak pernah mendekati siapa pun. Ini pertama kali."

"David bajingan beruntung."

Tapi David... David hanya tersenyum tipis.

"Aku sudah punya janji dengan seseorang."

Ekspresi Scarlett berubah sedikit. Kecewa. Terkejut.

Tapi dia tidak menyerah.

"Besok?"

Jeda sebentar.

"Lusa?"

Matanya menatap David dengan intens.

"Aku akan menunggu."

David diam sebentar. Matanya perlahan bergerak. Menelusuri tubuh Scarlett dari atas ke bawah.

Lambat. Disengaja. Tidak berusaha menyembunyikan.

Matanya berhenti di payudara Scarlett. Lalu turun ke pinggang. Pinggul. Kaki.

Lalu kembali ke wajahnya.

"Boleh saja."

Suaranya santai. Seperti menyetujui janji temu bisnis.

"Aku akan meluangkan sedikit waktu untukmu."

Senyum langsung muncul di wajah Scarlett. Menang. Puas.

Dia tidak masalah David menatap tubuhnya seperti itu. Bahkan dia suka. Karena itu yang dia inginkan. Dia ingin David tertarik padanya.

Scarlett mengambil secarik kertas kecil dari tasnya. Menulis sesuatu dengan pulpen, lalu melipatnya dengan rapi.

Dia meletakkan kertas itu di meja David. Jari-jarinya sengaja menyentuh tangan David sebentar. Sensual.

"Nomor teleponku."

Suaranya lembut. Menggoda.

"Hubungi aku."

Lalu Scarlett berbalik. Dia berjalan kembali ke kursinya dengan langkah yang sangat disengaja. Pinggul bergoyang lebih dari biasanya. Gerakan yang pelan. Sangat menarik.

Sengaja untuk memuaskan mata David. Dan mata pria-pria lain yang menonton dengan mulut terbuka.

David menatap punggung Scarlett. Senyum puas terlukis di wajahnya.

Ketika kau kaya dan tampan, apa yang tidak bisa kau miliki?

Dia mengambil kertas kecil itu. Membuka lipatannya. Nomor telepon tertulis rapi dengan tulisan feminin.

Di bawahnya, ada pesan: "Aku milikmu kapan pun kau mau."

David melipat kertas itu lagi. Memasukkannya ke saku kemejanya.

Lalu dia kembali santai di kursinya.

Menunggu kelas dimulai.

Menunggu kelas berakhir.

Menunggu janjinya dengan Vanessa, sebelum akhirnya menghancurkan jalang itu!

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 011

    David melihat semuanya. Setiap ekspresi di wajah Vanessa. Setiap perubahan warna di pipinya. Cara matanya tidak bisa berpaling dari batangnya.Senyum puas melebar di wajahnya.Tangannya bergerak. Menyentuh wajah Vanessa, lembut, jari-jarinya menelusuri garis rahangnya. Lalu naik ke pipi, mengusap dengan gerakan yang hampir... penuh kasih sayang.Kontras yang aneh dengan situasi yang sangat tidak romantis ini.Lalu suaranya keluar. Lembut tapi tegas."Lakukan sekarang dan buat aku puas."Jeda sebentar. Jari-jarinya masih mengusap pipi Vanessa."Hanya setelahnya kau layak untuk terus berada di sisiku."Vanessa menatap mata David. Mata hitam yang tenang. Percaya diri. Dominan.Dia mengangguk perlahan. Tidak bisa berbicara. Tidak percaya dia akan melakukan ini.Tangannya bergerak, gemetar, menyentuh batang besar itu untuk pertama kali.Hangat, seperti batang besi yang baru dipanaskan.Keras, sangat keras. Tidak ada bagian yang lembut. Semuanya padat, berotot, kuat, dan besar. Astaga, bah

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 010

    Vanessa diam terpaku. Matanya menatap kosong ke depan. Mulutnya sedikit terbuka tapi tidak ada kata-kata yang keluar.Otaknya masih mencoba memproses apa yang baru saja David katakan.Giliranku? Pemanasan? Kemampuanku?Detik berlalu. Lima detik, sepuluh detik, Vanessa masih diam.David merasakan kesabarannya menipis. Dia menoleh sebentar, menatap Vanessa dengan ekspresi yang mulai kehilangan kesabaran, "Kau tidak mau melakukannya?"Suaranya datar, dingin, tapi ada ancaman tersembunyi di sana.Vanessa tersentak. Dia menoleh, menatap David dengan mata yang masih berkabut.Lalu otaknya mulai bekerja.Giliranku... pemanasan...Tunggu.Apakah dia... apakah dia meminta aku melakukan... itu?Blowjob?!Wajah Vanessa langsung memerah. Campuran antara malu, terkejut, dan... marah.Apakah dia serius?!Bagaimana mungkin dia memintaku menghisap batangnya yang kecil itu?!Vanessa pernah melihat sekilas tonjolan di celana David beberapa kali. Tidak besar, biasa saja, mungkin bahkan di bawah rata-rat

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 009

    Vanessa menatap tangan itu, lalu menatap wajah David.David bahkan tidak menoleh. Matanya masih fokus di jalan. Ekspresinya masih tenang. Santai. Seolah tangannya di paha Vanessa adalah hal yang paling natural di dunia.Sejak kapan David seberani ini?Vanessa merasakan panas merayap di pipinya. Bukan karena sentuhan itu, tapi karena keberanian David melakukannya tanpa izin. Tanpa bertanya. Tanpa gugup.Seolah dia... berhak melakukannya.Kesal muncul kembali di dada Vanessa, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya melipat kedua tangannya lebih erat di dada, menatap ke depan dengan ekspresi yang berusaha terlihat acuh.Biarkan saja. Hanya sentuhan. Dia yakin David tidak akan berani melakukan sesuatu yang lebih dari ini.Tentu saja David menginginkan hubungan intim. Tapi pada akhirnya, dia akan pasif. Gugup, canggung, dan Vanessa yang akan mengendalikan semuanya. Seperti biasa.Detik berlalu.Tangan David masih di sana. Hangat. Berat.Lalu... bergerak.Perlahan. Sangat perlahan.Jar

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 008

    Kelas berakhir.Dosen berkepala botak itu menutup bukunya dengan suara keras yang membuat beberapa mahasiswa tersentak. Dia mengucapkan beberapa kata penutup tentang tugas minggu depan, lalu keluar dari ruangan dengan langkah tenang.David bangkit dari kursinya. Mengambil tas kulit cokelat gelapnya, melemparkannya ke bahu dengan gerakan santai.Dia melangkah keluar dengan postur tegak, kepala terangkat, kepercayaan diri terpancar dari setiap langkahnya.Tatapan mengikutinya. Puluhan pasang mata. Kagum. Penasaran. Beberapa bahkan penuh hasrat yang tidak tersembunyi."Dia benar-benar berbeda sekarang.""Aku ingin mendekatinya tapi... aku takut ditolak.""Scarlett berani banget tadi. Aku iri.""Seandainya aku yang duluan..."Bisikan-bisikan itu terdengar jelas, tapi David tidak peduli, tidak menoleh, tidak merespons. Hanya terus berjalan seperti semua perhatian itu tidak ada.Lorong kampus ramai dengan mahasiswa yang berlalu-lalang. Beberapa menoleh ketika David lewat, beberapa berbisik,

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 007

    Dia jadi bahan tertawaan. Belum pernah dalam hidupnya dipermalukan seburuk ini.Amarah mulai mendidih di dadanya. Tangannya mengepal. Dia ingin bangkit. Ingin melontarkan pukulan di wajah David yang sombong itu. Ingin menghancurkannya.Tapi...David adalah putra Richard Lewis. Konglomerat real estate. Salah satu keluarga terkaya di Elmridge.Jika Blake menyentuh David, jika dia melakukan apa pun, keluarganya akan hancur. Ayahnya yang punya bisnis kecil akan bangkrut dalam sekejap. Karirnya di kampus ini akan berakhir.Dia tidak berani.Jadi Blake hanya bisa memasang ekspresi pahit. Gigi-giginya terkatup rapat. Matanya menatap lantai, tidak berani menatap siapa pun.Perlahan, dengan gerakan yang canggung dan memalukan, Blake bangkit. Mengambil tasnya, mengumpulkan barang-barangnya yang berserakan.Dan tanpa berkata apa-apa, tanpa menatap siapa pun, dia berjalan keluar kelas dengan langkah cepat.Pintu tertutup di belakangnya.Hening sebentar. Lalu..."Wow.""David benar-benar melakukan

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 006

    Pintu ruang kelas terbuka. David melangkah masuk dengan langkah santai, messenger bag di bahunya, postur tegak dan percaya diri.Percakapan di kelas yang tadinya ramai tiba-tiba berhenti. Kepala-kepala menoleh. Mata-mata mengikuti gerakan David yang berjalan menuju kursinya."Gila... lihat cowok itu.""Tampan banget.""Tubuhnya... ya Tuhan, lihat lengannya.""Itu badan atlet profesional. Dia pasti gym tiap hari.""Wajahnya juga... seperti model."Bisikan-bisikan mulai bermunculan. Pujian demi pujian. Mata-mata yang penuh kekaguman. Beberapa wanita bahkan tidak repot-repot menyembunyikan tatapan mereka yang menelusuri tubuh David dari atas ke bawah.David mendengar semuanya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya terus berjalan dengan tenang.Salah satu pria di barisan belakang menyikut temannya."Bro, siapa itu? Mahasiswa baru?""Nggak tahu. Wajahnya kayak familiar tapi..."Seorang wanita di depan memiringkan kepalanya, matanya menyipit mencoba mengenali."Tunggu... itu..."Detik b

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status