LOGINDia jadi bahan tertawaan. Belum pernah dalam hidupnya dipermalukan seburuk ini.
Amarah mulai mendidih di dadanya. Tangannya mengepal. Dia ingin bangkit. Ingin melontarkan pukulan di wajah David yang sombong itu. Ingin menghancurkannya. Tapi... David adalah putra Richard Lewis. Konglomerat real estate. Salah satu keluarga terkaya di Elmridge. Jika Blake menyentuh David, jika dia melakukan apa pun, keluarganya akan hancur. Ayahnya yang punya bisnis kecil akan bangkrut dalam sekejap. Karirnya di kampus ini akan berakhir. Dia tidak berani. Jadi Blake hanya bisa memasang ekspresi pahit. Gigi-giginya terkatup rapat. Matanya menatap lantai, tidak berani menatap siapa pun. Perlahan, dengan gerakan yang canggung dan memalukan, Blake bangkit. Mengambil tasnya, mengumpulkan barang-barangnya yang berserakan. Dan tanpa berkata apa-apa, tanpa menatap siapa pun, dia berjalan keluar kelas dengan langkah cepat. Pintu tertutup di belakangnya. Hening sebentar. Lalu... "Wow." "David benar-benar melakukannya." "Aku tidak pernah melihat David seperti itu." "Blake layak mendapatkannya. Dia memang bajingan manipulatif." "David sekarang... luar biasa." Semua orang menatap David dengan kagum, hormat, bahkan sedikit takut. David Lewis yang dulu ragu-ragu, mudah dimanipulasi, dan bodoh sudah hilang. Yang ada sekarang adalah pria yang penuh kepercayaan diri. Dominan. Tidak takut siapa pun. David duduk kembali dengan santai, seolah tidak ada yang terjadi. Mengambil novelnya kembali, membaca dengan tenang. Dan kemudian, gerakan terdengar dari belakang. Suara heels yang perlahan mendekat. David mengangkat kepalanya. Seorang wanita berjalan menuju mejanya. Bukan berjalan biasa. Tapi berjalan dengan gerakan yang disengaja. Pinggul bergoyang. Langkah perlahan. Mata terkunci pada David. Scarlett Hayes. Wanita paling cantik di kelas ini. Bisa dibilang rivalnya Vanessa. Rambut merah panjang bergelombang jatuh sempurna di punggungnya. Bukan merah terang yang norak, tapi pirang yang dalam, merah mahogany yang terlihat natural dan mahal. Wajahnya mencolok. Mata biru cerah yang intens, seperti langit musim panas. Tulang pipinya tinggi dan tajam, memberikan struktur yang fotogenik. Bibirnya punya bentuk sempurna, seperti busur cupid, berwarna merah muda alami dengan hint merah yang cocok dengan rambutnya. Dan tubuhnya... Scarlett punya tubuh yang membuat setiap pria di kampus ini mimpi basah. Tingginya sekitar 174 cm dengan heels. Setiap sentimeter dari tubuh itu adalah kesempurnaan murni. Payudaranya besar dan kencang. Ukuran 34DD, bentuknya bulat dan penuh, bersemangat dan tinggi. Blus hitam ketat V-neck yang dia pakai menampilkan belahan yang dalam, lembah menggoda di antara dua gundukan daging yang sempurna. Pinggangnya ramping, menciptakan lekukan berbentuk jam pasir yang indah. Perut yang datar dan mulus terlihat di bawah blus yang pas dengan sempurna. Dia berhenti tepat di samping meja David. Pinggulnya sedikit miring. Satu tangan di pinggul. Ekspresi menggoda jelas di wajahnya. "David." Suaranya rendah. Sensual. Seluruh kelas sekarang menonton. Semua mata tertuju pada mereka. David mengangkat kepalanya, menatap Scarlett dengan ekspresi yang tenang. "Scarlett." Senyum terlukis di wajah Scarlett. Dia melangkah lebih dekat. Terlalu dekat. Ruang pribadi tidak ada lagi. Tangannya bergerak, jari-jarinya menyentuh lengan David. Menelusuri otot yang terlihat jelas di bawah kemeja. "Aku tidak pernah menyadari betapa... besarnya kau." Suaranya pelan tapi cukup keras untuk orang-orang di sekitar mendengar. Jari-jarinya bergerak dari lengan ke bahu, lalu turun ke dada. Menekan sedikit, merasakan otot yang keras di bawah kain. "Kau gym di mana? Aku harus mulai gym di tempat yang sama." Matanya menatap David dengan tatapan yang tidak menyembunyikan apa-apa. Nafsu. Keinginan. Ketertarikan. Tidak ada malu. Tidak ada ragu. Meski semua orang menonton, Scarlett tidak peduli. Bahkan dia menikmatinya. Menikmati fakta bahwa semua orang cemburu. Semua pria iri. Semua wanita iri. David tidak bergerak. Hanya menatap Scarlett dengan ekspresi yang sulit dibaca. Scarlett membungkuk sedikit. Gerakan itu membuat blus-nya lebih terbuka, memberikan pemandangan yang jelas pada payudaranya. Dia berbisik, tapi suaranya masih cukup keras untuk didengar, "Kau punya waktu luang malam ini?" Hening. Semua pria di kelas menatap David dengan iri yang jelas. Rahang mereka mengencang. Tangan mereka mengepal. "Sialan... kenapa dia yang dapat Scarlett?" "Aku benci hidup." "Scarlett tidak pernah mendekati siapa pun. Ini pertama kali." "David bajingan beruntung." Tapi David... David hanya tersenyum tipis. "Aku sudah punya janji dengan seseorang." Ekspresi Scarlett berubah sedikit. Kecewa. Terkejut. Tapi dia tidak menyerah. "Besok?" Jeda sebentar. "Lusa?" Matanya menatap David dengan intens. "Aku akan menunggu." David diam sebentar. Matanya perlahan bergerak. Menelusuri tubuh Scarlett dari atas ke bawah. Lambat. Disengaja. Tidak berusaha menyembunyikan. Matanya berhenti di payudara Scarlett. Lalu turun ke pinggang. Pinggul. Kaki. Lalu kembali ke wajahnya. "Boleh saja." Suaranya santai. Seperti menyetujui janji temu bisnis. "Aku akan meluangkan sedikit waktu untukmu." Senyum langsung muncul di wajah Scarlett. Menang. Puas. Dia tidak masalah David menatap tubuhnya seperti itu. Bahkan dia suka. Karena itu yang dia inginkan. Dia ingin David tertarik padanya. Scarlett mengambil secarik kertas kecil dari tasnya. Menulis sesuatu dengan pulpen, lalu melipatnya dengan rapi. Dia meletakkan kertas itu di meja David. Jari-jarinya sengaja menyentuh tangan David sebentar. Sensual. "Nomor teleponku." Suaranya lembut. Menggoda. "Hubungi aku." Lalu Scarlett berbalik. Dia berjalan kembali ke kursinya dengan langkah yang sangat disengaja. Pinggul bergoyang lebih dari biasanya. Gerakan yang pelan. Sangat menarik. Sengaja untuk memuaskan mata David. Dan mata pria-pria lain yang menonton dengan mulut terbuka. David menatap punggung Scarlett. Senyum puas terlukis di wajahnya. Ketika kau kaya dan tampan, apa yang tidak bisa kau miliki? Dia mengambil kertas kecil itu. Membuka lipatannya. Nomor telepon tertulis rapi dengan tulisan feminin. Di bawahnya, ada pesan: "Aku milikmu kapan pun kau mau." David melipat kertas itu lagi. Memasukkannya ke saku kemejanya. Lalu dia kembali santai di kursinya. Menunggu kelas dimulai. Menunggu kelas berakhir. Menunggu janjinya dengan Vanessa, sebelum akhirnya menghancurkan jalang itu!Orgasme menghantam Rylie seperti petir. Tubuhnya gemetar hebat. Kakinya hampir tidak bisa menopang. Punggung melengkung. Jari-jarinya masih bergerak di dalam tubuhnya, memperpanjang orgasme.Cairan menyembur keluar. Membasahi jari-jarinya. Membasahi celana dalamnya yang sudah basah. Bahkan menetes ke paha dalamnya."Ahh... ahh... ahh..."Desahan terus keluar. Tubuhnya masih gemetar.Tapi matanya tidak berpaling dari David.Pria itu luar biasa.Stamina yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Kekuatan yang membuat Vanessa berteriak. Batang yang... sempurna.Rylie menginginkan David, lebih dari yang pernah dia inginkan pria manapun dalam hidupnya.---Di dalam kamar, David terus bergerak. Lebih keras, lebih cepat, lebih brutal.Tubuh Vanessa sudah tidak bisa lagi melakukan apa-apa selain menerima. Tangan mencengkeram seprai dengan putus asa. Mata terbalik ke belakang kepala. Mulut terbuka dalam jeritan yang tidak ada habisnya."AHHH! DAVID! AHHH! A-AKU... AKU AKAN—"Lalu tubuh Vanessa me
David tersenyum, lalu dia menarik batangnya keluar. Perlahan, sampai hanya kepala yang tersisa.Dan menghujam kembali. Keras, cepat."AHHH!"Vanessa menjerit. Tangannya langsung kembali menutup mulutnya.David memulai ritme. Keluar, masuk. Keluar, masuk.Lambat di awal, lalu semakin cepat. Semakin keras.Kasur mulai berderit. Headboard menabrak dinding dengan bunyi yang berirama.THUMP. THUMP. THUMP."Mmph... ahh... mmph... ahh..."Desahan Vanessa tertahan oleh tangannya. Tapi tetap terdengar, tertekan, putus asa.David mencengkeram pinggul Vanessa. Keras, pasti akan meninggalkan bekas, lalu dia bergerak lebih cepat.Lebih keras, lebih dalam, menghujam dengan kekuatan penuh.Tubuh Vanessa terhentak di kasur setiap kali David menghujam. Payudaranya memantul liar. Kepalanya terlempar ke belakang."MMMMPH! AHHH! MMMMPH!"Tangannya tidak cukup lagi untuk meredam jeritan. Terlalu nikmat, terlalu besar, terlalu keras.Dan di tengah semua itu, David menyadari sesuatu.Matanya melirik ke arah
Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang pelan.Vanessa tidak membuang waktu. Tangannya langsung bergerak ke kancing blusnya. Satu per satu dibuka dengan gerakan cepat yang hampir putus asa.Blus terbuka. Dilepas. Dibuang ke lantai.Dan tubuh Vanessa terekspos.Payudara besar berukuran 36D yang dibungkus bra hitam tipis. Bentuknya bulat dan penuh, kencang. Pinggangnya yang ramping menciptakan lekukan sempurna. Bokong besar yang bulat dan kencang, dibungkus celana dalam hitam yang matching dengan bra, menonjol jelas bahkan dari depan.David merasakan sesuatu yang panas meledak di dadanya. Ia hampir kehilangan kendali. Ingin segera melahap jalang ini. Menyobek pakaian dalam yang tersisa. Mendorongnya ke kasur. Dan menghujamkan batangnya yang sudah keras maksimal.Tapi dia menahan diri. Masih ada permainan yang harus dimainkan.Vanessa melangkah maju. Mata penuh nafsu, napas cepat yang membuat payudaranya naik turun dengan ritme yang menggoda.Dia berlutut di depan David.Tangannya be
Vanessa mengambil tisu dari dashboard. Tangannya bergerak cepat, membersihkan wajahnya. Mengusap dahi, pipi, dagu. Memastikan tidak ada cairan yang tersisa.Dia tidak mungkin tampil seperti ini di depan ibunya.Walaupun dia tahu, ibunya tahu apa saja yang dia lakukan di luar. Tapi tetap saja, ada batas-batas yang harus dijaga.Vanessa keluar lebih dulu. Langkahnya sedikit tidak stabil. Napasnya masih sedikit cepat.David keluar setelahnya. Tenang, santai, seolah tidak ada yang terjadi.Dan pada titik ini, David melihat ibu Vanessa dengan lebih jelas.Rylie Clarke. 38 tahun, tapi terlihat seperti awal tiga puluhan.Tubuhnya... sempurna. MILF dalam definisi yang paling murni. Payudara besar yang masih kencang, terlihat jelas di balik blus rumahan yang sedikit ketat. Pinggang ramping yang menciptakan lekukan berbentuk jam pasir. Pinggul lebar yang feminin. Kaki jenjang yang mulus, terekspos di bawah rok selutut yang pas di tubuhnya.Wajahnya cantik dengan cara yang matang. Rambut cokelat
Sepuluh menit kemudian, tubuh David menegang. Napasnya yang tadinya tenang mulai berubah. Sedikit lebih cepat, sedikit lebih dalam.Vanessa merasakan perubahan itu. Batang di mulutnya berdenyut lebih keras, lebih cepat.Dia tahu apa yang akan terjadi.Dan entah kenapa, dia sangat menginginkannya.Vanessa bergerak lebih cepat. Lebih dalam. Mengisap lebih keras. Lidahnya menekan. Tangannya meremas bagian batang yang tidak muat di mulutnya."Mmph... mmph... mmph..."Lalu tangan David bergerak. Menyentuh kepala Vanessa. Tidak lembut kali ini. Keras. Mencengkeram rambutnya.Dan mendorong.Mendorong kepala Vanessa ke bawah. Memaksa batangnya masuk lebih dalam. Sampai ke tenggorokan."Ggghhkkk!"Vanessa tersedak keras. Air mata mengalir lebih deras. Tapi dia tidak melawan. Membiarkan David mengendalikan.David mendorong lebih dalam. Lebih keras. Pinggulnya bergerak sedikit, menyodok ke dalam mulut Vanessa.Lalu tubuhnya menegang sepenuhnya, dan dia meledak.David menarik batangnya keluar dar
David melihat semuanya. Setiap ekspresi di wajah Vanessa. Setiap perubahan warna di pipinya. Cara matanya tidak bisa berpaling dari batangnya.Senyum puas melebar di wajahnya.Tangannya bergerak. Menyentuh wajah Vanessa, lembut, jari-jarinya menelusuri garis rahangnya. Lalu naik ke pipi, mengusap dengan gerakan yang hampir... penuh kasih sayang.Kontras yang aneh dengan situasi yang sangat tidak romantis ini.Lalu suaranya keluar. Lembut tapi tegas."Lakukan sekarang dan buat aku puas."Jeda sebentar. Jari-jarinya masih mengusap pipi Vanessa."Hanya setelahnya kau layak untuk terus berada di sisiku."Vanessa menatap mata David. Mata hitam yang tenang. Percaya diri. Dominan.Dia mengangguk perlahan. Tidak bisa berbicara. Tidak percaya dia akan melakukan ini.Tangannya bergerak, gemetar, menyentuh batang besar itu untuk pertama kali.Hangat, seperti batang besi yang baru dipanaskan.Keras, sangat keras. Tidak ada bagian yang lembut. Semuanya padat, berotot, kuat, dan besar. Astaga, bah







