Share

Bab 009

last update Last Updated: 2026-01-22 10:51:19

Vanessa menatap tangan itu, lalu menatap wajah David.

David bahkan tidak menoleh. Matanya masih fokus di jalan. Ekspresinya masih tenang. Santai. Seolah tangannya di paha Vanessa adalah hal yang paling natural di dunia.

Sejak kapan David seberani ini?

Vanessa merasakan panas merayap di pipinya. Bukan karena sentuhan itu, tapi karena keberanian David melakukannya tanpa izin. Tanpa bertanya. Tanpa gugup.

Seolah dia... berhak melakukannya.

Kesal muncul kembali di dada Vanessa, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya melipat kedua tangannya lebih erat di dada, menatap ke depan dengan ekspresi yang berusaha terlihat acuh.

Biarkan saja. Hanya sentuhan. Dia yakin David tidak akan berani melakukan sesuatu yang lebih dari ini.

Tentu saja David menginginkan hubungan intim. Tapi pada akhirnya, dia akan pasif. Gugup, canggung, dan Vanessa yang akan mengendalikan semuanya. Seperti biasa.

Detik berlalu.

Tangan David masih di sana. Hangat. Berat.

Lalu... bergerak.

Perlahan. Sangat perlahan.

Jari-jarinya mulai menelusuri. Dari pertengahan paha, naik sedikit. Lalu turun lagi. Naik. Turun. Gerakan yang lambat. Sensual.

Napas Vanessa sedikit berubah. Lebih cepat. Lebih dangkal.

Dia melirik David lagi, tapi wajah pria itu masih sama. Tenang, fokus di jalan, seolah tangannya bergerak sendiri tanpa pikirannya terlibat.

Tangan David naik lagi. Kali ini sedikit lebih tinggi. Jari-jarinya menyentuh kulit telanjang di atas ujung rok. Kulit paha Vanessa yang halus dan hangat.

Vanessa menggigit bibir bawahnya tanpa sadar. Tubuhnya mulai bereaksi. Panas mulai menyebar dari titik sentuhan David. Jantungnya berdetak lebih cepat.

Tidak. Tidak. Dia tidak boleh bereaksi seperti ini!

Ini hanya David. David yang bodoh. David yang tidak tahu apa-apa tentang wanita.

Tapi kenapa sentuhannya terasa begitu... percaya diri?

Tangan David bergerak lagi. Naik. Lebih tinggi. Jari-jarinya sekarang sangat dekat dengan... di sana.

Vanessa ingin merapatkan kedua kakinya. Refleks untuk melindungi diri, tapi dia memutuskan untuk tidak melakukannya.

Dia takut itu membuat David marah. Takut David akan berhenti dan menurunkannya di tengah jalan.

Tapi semakin dia membiarkan David, semakin David berani!

Sekarang, tangan David hanya berjarak beberapa sentimeter lagi dari... Miss V-nya.

Tubuh Vanessa mulai panas. Napasnya semakin cepat. Dan yang paling membuatnya frustrasi...

Dia bahkan mulai berharap David menyentuh Miss V-nya.

Vanessa terkejut dengan pikirannya sendiri. Apa yang sedang terjadi padanya?

Jari David menelusuri lagi. Sangat dekat. Sangat, sangat dekat.

Vanessa bisa merasakan panasnya. Bisa merasakan betapa basahnya celana dalamnya sekarang.

Hampir. Hanya beberapa sentimeter lagi...

Tapi kemudian tangan David mundur.

Turun lagi ke pertengahan paha.

Lalu naik lagi. Perlahan. Sangat perlahan.

Dan berhenti tepat sebelum menyentuh tempat yang paling Vanessa inginkan.

Lalu mundur lagi.

Vanessa ingin berteriak frustrasi. Apakah dia sedang menguji kesabaranku?!

Ini terjadi berulang kali. Tangan David naik, sangat dekat, lalu mundur. Naik lagi, hampir menyentuh, lalu mundur lagi.

Menggoda. Dia sedang menggoda Vanessa dengan sengaja.

Napas Vanessa sekarang pendek dan cepat. Pipinya memerah. Tubuhnya panas. Dan di antara pahanya... sangat basah.

Dia bahkan bisa merasakannya. Celana dalamnya sudah basah kuyup. Cairan hangat yang terus keluar setiap kali jari David hampir menyentuh tapi kemudian mundur.

Sial! Sial! Sial!

Vanessa menggigit bibir bawahnya keras. Tangannya mencengkeram sabuk pengaman dengan erat. Kakinya ingin terbuka lebih lebar. Memberikan akses lebih. Memohon untuk disentuh.

Tapi dia menahan diri. Tidak. Dia tidak boleh terlihat putus asa.

Tangan David naik lagi. Kali ini lebih lambat. Lebih sensual.

Jari-jarinya menelusuri kulit paha Vanessa dengan lembut. Sangat lembut. Hampir seperti bulu yang menyentuh.

Vanessa menutup matanya sebentar. Napasnya keluar sebagai desahan kecil yang hampir tidak terdengar.

Hampir. Hanya sedikit lagi...

Lalu tiba-tiba, suara David memecah keheningan.

"Di bawah sepertinya sudah sangat basah."

Suaranya tenang. Kasual. Seperti mengomentari cuaca.

Vanessa membuka matanya. Wajahnya langsung memerah padam.

David melanjutkan, masih dengan nada santai yang sama, mata masih fokus di jalan.

"Apakah kau tidak lagi mampu menahan diri?"

Pipi Vanessa terbakar. Malu. Marah. Frustrasi.

Beraninya bajingan mesum ini mengatakan itu padanya!

Tapi yang paling membuatnya marah adalah...

Dia benar.

Vanessa basah. Sangat basah. Dan dia memang tidak bisa menahan diri lagi.

Pada akhirnya, Vanessa tidak menjawab. Tidak bisa menjawab. Mulutnya terbuka sedikit, tapi tidak ada kata-kata yang keluar.

David tersenyum tipis. Masih tidak menoleh. Tangan yang di kemudi tetap stabil. Tangan yang di paha Vanessa... bergerak lagi.

Kali ini tidak mencoba menggoda, tidak perlahan.

Jari-jarinya langsung naik. Cepat, tegas, dan menyentuh.

Tepat di atas kain celana dalam Vanessa yang sudah basah kuyup.

"Ah!"

Desahan keluar dari mulut Vanessa tanpa bisa ditahan. Tubuhnya tersentak. Punggungnya melengkung sedikit dari kursi.

Jari David menekan. Tidak keras, hanya tekanan lembut, tapi cukup untuk membuat Vanessa merasakan listrik menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Lihat?" David akhirnya menoleh sebentar, menatap Vanessa dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. "Sangat basah."

Lalu matanya kembali ke jalan. Tangannya bergerak. Jari-jarinya menggosok perlahan di atas kain tipis yang memisahkan kulitnya dari Miss V Vanessa.

Naik. Turun. Dengan tekanan yang pas. Dengan ritme yang membuat Vanessa ingin berteriak.

"Ahh... D-David..."

Vanessa tidak tahu dia memanggil nama itu dengan nada memohon atau marah. Mungkin keduanya.

Tangannya mencengkeram sabuk pengaman semakin erat. Kakinya tanpa sadar terbuka sedikit lebih lebar. Memberikan akses lebih.

David tersenyum lebih lebar. Jari-jarinya bergerak lebih cepat sekarang. Menggosok. Menekan. Melingkar.

Vanessa menggigit bibir bawahnya dengan keras. Matanya tertutup. Napasnya keluar sebagai desahan-desahan pendek.

"Ahh... ahh... ahh..."

Tubuhnya panas, sangat panas, seperti terbakar dari dalam. Dan di antara pahanya... basah sekali. Cairan terus keluar, membasahi celana dalamnya, bahkan mulai membasahi jok kulit mahal di bawahnya.

Lalu tiba-tiba, jari David berhenti.

Vanessa membuka matanya. Napasnya masih cepat. Wajahnya merah padam. Tubuhnya gemetar sedikit.

Kenapa dia berhenti?!

David menarik tangannya perlahan. Mengangkatnya. Jari-jarinya basah, berkilau dengan cairan Vanessa.

Vanessa menatap dengan napas terengah-engah. Wajahnya merah. Tubuhnya masih menginginkan lebih.

Tapi David hanya meraih kotak tisu yang ada di dashboard. Menarik beberapa lembar dengan satu tangan, tangan lainnya tetap di kemudi.

Lalu dengan gerakan santai, dia membersihkan jari-jarinya. Mengusap cairan Vanessa dengan tisu. Seolah itu hanya kotoran biasa yang perlu dibersihkan.

Dingin. Acuh. Tidak ada apresiasi. Tidak ada pujian. Seolah cairan Vanessa tidak berarti apa-apa.

Vanessa merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Campuran antara malu dan... terhina.

David membuang tisu yang sudah kotor ke tempat sampah kecil di samping gear shift. Lalu kedua tangannya kembali ke kemudi, fokus sepenuhnya di jalan.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Hanya suara mesin dan napas cepat Vanessa.

Lalu David berbicara. Suaranya tenang, datar, seperti memberikan instruksi.

"Sekarang giliranmu."

Vanessa menoleh, menatap David dengan mata yang masih berkabut. "A-apa?"

David tidak menoleh. Matanya tetap di jalan.

"Kita pemanasan sebelum benar-benar melakukannya."

Jeda sebentar. Lalu senyum tipis muncul di sudut bibirnya, "Aku ingin melihat seperti apa kemampuanmu. Apakah kau sungguh layak untuk kupertahankan?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 016

    Orgasme menghantam Rylie seperti petir. Tubuhnya gemetar hebat. Kakinya hampir tidak bisa menopang. Punggung melengkung. Jari-jarinya masih bergerak di dalam tubuhnya, memperpanjang orgasme.Cairan menyembur keluar. Membasahi jari-jarinya. Membasahi celana dalamnya yang sudah basah. Bahkan menetes ke paha dalamnya."Ahh... ahh... ahh..."Desahan terus keluar. Tubuhnya masih gemetar.Tapi matanya tidak berpaling dari David.Pria itu luar biasa.Stamina yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Kekuatan yang membuat Vanessa berteriak. Batang yang... sempurna.Rylie menginginkan David, lebih dari yang pernah dia inginkan pria manapun dalam hidupnya.---Di dalam kamar, David terus bergerak. Lebih keras, lebih cepat, lebih brutal.Tubuh Vanessa sudah tidak bisa lagi melakukan apa-apa selain menerima. Tangan mencengkeram seprai dengan putus asa. Mata terbalik ke belakang kepala. Mulut terbuka dalam jeritan yang tidak ada habisnya."AHHH! DAVID! AHHH! A-AKU... AKU AKAN—"Lalu tubuh Vanessa me

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 015

    David tersenyum, lalu dia menarik batangnya keluar. Perlahan, sampai hanya kepala yang tersisa.Dan menghujam kembali. Keras, cepat."AHHH!"Vanessa menjerit. Tangannya langsung kembali menutup mulutnya.David memulai ritme. Keluar, masuk. Keluar, masuk.Lambat di awal, lalu semakin cepat. Semakin keras.Kasur mulai berderit. Headboard menabrak dinding dengan bunyi yang berirama.THUMP. THUMP. THUMP."Mmph... ahh... mmph... ahh..."Desahan Vanessa tertahan oleh tangannya. Tapi tetap terdengar, tertekan, putus asa.David mencengkeram pinggul Vanessa. Keras, pasti akan meninggalkan bekas, lalu dia bergerak lebih cepat.Lebih keras, lebih dalam, menghujam dengan kekuatan penuh.Tubuh Vanessa terhentak di kasur setiap kali David menghujam. Payudaranya memantul liar. Kepalanya terlempar ke belakang."MMMMPH! AHHH! MMMMPH!"Tangannya tidak cukup lagi untuk meredam jeritan. Terlalu nikmat, terlalu besar, terlalu keras.Dan di tengah semua itu, David menyadari sesuatu.Matanya melirik ke arah

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 014

    Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang pelan.Vanessa tidak membuang waktu. Tangannya langsung bergerak ke kancing blusnya. Satu per satu dibuka dengan gerakan cepat yang hampir putus asa.Blus terbuka. Dilepas. Dibuang ke lantai.Dan tubuh Vanessa terekspos.Payudara besar berukuran 36D yang dibungkus bra hitam tipis. Bentuknya bulat dan penuh, kencang. Pinggangnya yang ramping menciptakan lekukan sempurna. Bokong besar yang bulat dan kencang, dibungkus celana dalam hitam yang matching dengan bra, menonjol jelas bahkan dari depan.David merasakan sesuatu yang panas meledak di dadanya. Ia hampir kehilangan kendali. Ingin segera melahap jalang ini. Menyobek pakaian dalam yang tersisa. Mendorongnya ke kasur. Dan menghujamkan batangnya yang sudah keras maksimal.Tapi dia menahan diri. Masih ada permainan yang harus dimainkan.Vanessa melangkah maju. Mata penuh nafsu, napas cepat yang membuat payudaranya naik turun dengan ritme yang menggoda.Dia berlutut di depan David.Tangannya be

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 013

    Vanessa mengambil tisu dari dashboard. Tangannya bergerak cepat, membersihkan wajahnya. Mengusap dahi, pipi, dagu. Memastikan tidak ada cairan yang tersisa.Dia tidak mungkin tampil seperti ini di depan ibunya.Walaupun dia tahu, ibunya tahu apa saja yang dia lakukan di luar. Tapi tetap saja, ada batas-batas yang harus dijaga.Vanessa keluar lebih dulu. Langkahnya sedikit tidak stabil. Napasnya masih sedikit cepat.David keluar setelahnya. Tenang, santai, seolah tidak ada yang terjadi.Dan pada titik ini, David melihat ibu Vanessa dengan lebih jelas.Rylie Clarke. 38 tahun, tapi terlihat seperti awal tiga puluhan.Tubuhnya... sempurna. MILF dalam definisi yang paling murni. Payudara besar yang masih kencang, terlihat jelas di balik blus rumahan yang sedikit ketat. Pinggang ramping yang menciptakan lekukan berbentuk jam pasir. Pinggul lebar yang feminin. Kaki jenjang yang mulus, terekspos di bawah rok selutut yang pas di tubuhnya.Wajahnya cantik dengan cara yang matang. Rambut cokelat

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 012

    Sepuluh menit kemudian, tubuh David menegang. Napasnya yang tadinya tenang mulai berubah. Sedikit lebih cepat, sedikit lebih dalam.Vanessa merasakan perubahan itu. Batang di mulutnya berdenyut lebih keras, lebih cepat.Dia tahu apa yang akan terjadi.Dan entah kenapa, dia sangat menginginkannya.Vanessa bergerak lebih cepat. Lebih dalam. Mengisap lebih keras. Lidahnya menekan. Tangannya meremas bagian batang yang tidak muat di mulutnya."Mmph... mmph... mmph..."Lalu tangan David bergerak. Menyentuh kepala Vanessa. Tidak lembut kali ini. Keras. Mencengkeram rambutnya.Dan mendorong.Mendorong kepala Vanessa ke bawah. Memaksa batangnya masuk lebih dalam. Sampai ke tenggorokan."Ggghhkkk!"Vanessa tersedak keras. Air mata mengalir lebih deras. Tapi dia tidak melawan. Membiarkan David mengendalikan.David mendorong lebih dalam. Lebih keras. Pinggulnya bergerak sedikit, menyodok ke dalam mulut Vanessa.Lalu tubuhnya menegang sepenuhnya, dan dia meledak.David menarik batangnya keluar dar

  • Permainan Gila Kakak dan Ibu Tiriku   Bab 011

    David melihat semuanya. Setiap ekspresi di wajah Vanessa. Setiap perubahan warna di pipinya. Cara matanya tidak bisa berpaling dari batangnya.Senyum puas melebar di wajahnya.Tangannya bergerak. Menyentuh wajah Vanessa, lembut, jari-jarinya menelusuri garis rahangnya. Lalu naik ke pipi, mengusap dengan gerakan yang hampir... penuh kasih sayang.Kontras yang aneh dengan situasi yang sangat tidak romantis ini.Lalu suaranya keluar. Lembut tapi tegas."Lakukan sekarang dan buat aku puas."Jeda sebentar. Jari-jarinya masih mengusap pipi Vanessa."Hanya setelahnya kau layak untuk terus berada di sisiku."Vanessa menatap mata David. Mata hitam yang tenang. Percaya diri. Dominan.Dia mengangguk perlahan. Tidak bisa berbicara. Tidak percaya dia akan melakukan ini.Tangannya bergerak, gemetar, menyentuh batang besar itu untuk pertama kali.Hangat, seperti batang besi yang baru dipanaskan.Keras, sangat keras. Tidak ada bagian yang lembut. Semuanya padat, berotot, kuat, dan besar. Astaga, bah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status