FAZER LOGINVanessa menatap tangan itu, lalu menatap wajah David.
David bahkan tidak menoleh. Matanya masih fokus di jalan. Ekspresinya masih tenang. Santai. Seolah tangannya di paha Vanessa adalah hal yang paling natural di dunia. Sejak kapan David seberani ini? Vanessa merasakan panas merayap di pipinya. Bukan karena sentuhan itu, tapi karena keberanian David melakukannya tanpa izin. Tanpa bertanya. Tanpa gugup. Seolah dia... berhak melakukannya. Kesal muncul kembali di dada Vanessa, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya melipat kedua tangannya lebih erat di dada, menatap ke depan dengan ekspresi yang berusaha terlihat acuh. Biarkan saja. Hanya sentuhan. Dia yakin David tidak akan berani melakukan sesuatu yang lebih dari ini. Tentu saja David menginginkan hubungan intim. Tapi pada akhirnya, dia akan pasif. Gugup, canggung, dan Vanessa yang akan mengendalikan semuanya. Seperti biasa. Detik berlalu. Tangan David masih di sana. Hangat. Berat. Lalu... bergerak. Perlahan. Sangat perlahan. Jari-jarinya mulai menelusuri. Dari pertengahan paha, naik sedikit. Lalu turun lagi. Naik. Turun. Gerakan yang lambat. Sensual. Napas Vanessa sedikit berubah. Lebih cepat. Lebih dangkal. Dia melirik David lagi, tapi wajah pria itu masih sama. Tenang, fokus di jalan, seolah tangannya bergerak sendiri tanpa pikirannya terlibat. Tangan David naik lagi. Kali ini sedikit lebih tinggi. Jari-jarinya menyentuh kulit telanjang di atas ujung rok. Kulit paha Vanessa yang halus dan hangat. Vanessa menggigit bibir bawahnya tanpa sadar. Tubuhnya mulai bereaksi. Panas mulai menyebar dari titik sentuhan David. Jantungnya berdetak lebih cepat. Tidak. Tidak. Dia tidak boleh bereaksi seperti ini! Ini hanya David. David yang bodoh. David yang tidak tahu apa-apa tentang wanita. Tapi kenapa sentuhannya terasa begitu... percaya diri? Tangan David bergerak lagi. Naik. Lebih tinggi. Jari-jarinya sekarang sangat dekat dengan... di sana. Vanessa ingin merapatkan kedua kakinya. Refleks untuk melindungi diri, tapi dia memutuskan untuk tidak melakukannya. Dia takut itu membuat David marah. Takut David akan berhenti dan menurunkannya di tengah jalan. Tapi semakin dia membiarkan David, semakin David berani! Sekarang, tangan David hanya berjarak beberapa sentimeter lagi dari... Miss V-nya. Tubuh Vanessa mulai panas. Napasnya semakin cepat. Dan yang paling membuatnya frustrasi... Dia bahkan mulai berharap David menyentuh Miss V-nya. Vanessa terkejut dengan pikirannya sendiri. Apa yang sedang terjadi padanya? Jari David menelusuri lagi. Sangat dekat. Sangat, sangat dekat. Vanessa bisa merasakan panasnya. Bisa merasakan betapa basahnya celana dalamnya sekarang. Hampir. Hanya beberapa sentimeter lagi... Tapi kemudian tangan David mundur. Turun lagi ke pertengahan paha. Lalu naik lagi. Perlahan. Sangat perlahan. Dan berhenti tepat sebelum menyentuh tempat yang paling Vanessa inginkan. Lalu mundur lagi. Vanessa ingin berteriak frustrasi. Apakah dia sedang menguji kesabaranku?! Ini terjadi berulang kali. Tangan David naik, sangat dekat, lalu mundur. Naik lagi, hampir menyentuh, lalu mundur lagi. Menggoda. Dia sedang menggoda Vanessa dengan sengaja. Napas Vanessa sekarang pendek dan cepat. Pipinya memerah. Tubuhnya panas. Dan di antara pahanya... sangat basah. Dia bahkan bisa merasakannya. Celana dalamnya sudah basah kuyup. Cairan hangat yang terus keluar setiap kali jari David hampir menyentuh tapi kemudian mundur. Sial! Sial! Sial! Vanessa menggigit bibir bawahnya keras. Tangannya mencengkeram sabuk pengaman dengan erat. Kakinya ingin terbuka lebih lebar. Memberikan akses lebih. Memohon untuk disentuh. Tapi dia menahan diri. Tidak. Dia tidak boleh terlihat putus asa. Tangan David naik lagi. Kali ini lebih lambat. Lebih sensual. Jari-jarinya menelusuri kulit paha Vanessa dengan lembut. Sangat lembut. Hampir seperti bulu yang menyentuh. Vanessa menutup matanya sebentar. Napasnya keluar sebagai desahan kecil yang hampir tidak terdengar. Hampir. Hanya sedikit lagi... Lalu tiba-tiba, suara David memecah keheningan. "Di bawah sepertinya sudah sangat basah." Suaranya tenang. Kasual. Seperti mengomentari cuaca. Vanessa membuka matanya. Wajahnya langsung memerah padam. David melanjutkan, masih dengan nada santai yang sama, mata masih fokus di jalan. "Apakah kau tidak lagi mampu menahan diri?" Pipi Vanessa terbakar. Malu. Marah. Frustrasi. Beraninya bajingan mesum ini mengatakan itu padanya! Tapi yang paling membuatnya marah adalah... Dia benar. Vanessa basah. Sangat basah. Dan dia memang tidak bisa menahan diri lagi. Pada akhirnya, Vanessa tidak menjawab. Tidak bisa menjawab. Mulutnya terbuka sedikit, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. David tersenyum tipis. Masih tidak menoleh. Tangan yang di kemudi tetap stabil. Tangan yang di paha Vanessa... bergerak lagi. Kali ini tidak mencoba menggoda, tidak perlahan. Jari-jarinya langsung naik. Cepat, tegas, dan menyentuh. Tepat di atas kain celana dalam Vanessa yang sudah basah kuyup. "Ah!" Desahan keluar dari mulut Vanessa tanpa bisa ditahan. Tubuhnya tersentak. Punggungnya melengkung sedikit dari kursi. Jari David menekan. Tidak keras, hanya tekanan lembut, tapi cukup untuk membuat Vanessa merasakan listrik menjalar ke seluruh tubuhnya. "Lihat?" David akhirnya menoleh sebentar, menatap Vanessa dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. "Sangat basah." Lalu matanya kembali ke jalan. Tangannya bergerak. Jari-jarinya menggosok perlahan di atas kain tipis yang memisahkan kulitnya dari Miss V Vanessa. Naik. Turun. Dengan tekanan yang pas. Dengan ritme yang membuat Vanessa ingin berteriak. "Ahh... D-David..." Vanessa tidak tahu dia memanggil nama itu dengan nada memohon atau marah. Mungkin keduanya. Tangannya mencengkeram sabuk pengaman semakin erat. Kakinya tanpa sadar terbuka sedikit lebih lebar. Memberikan akses lebih. David tersenyum lebih lebar. Jari-jarinya bergerak lebih cepat sekarang. Menggosok. Menekan. Melingkar. Vanessa menggigit bibir bawahnya dengan keras. Matanya tertutup. Napasnya keluar sebagai desahan-desahan pendek. "Ahh... ahh... ahh..." Tubuhnya panas, sangat panas, seperti terbakar dari dalam. Dan di antara pahanya... basah sekali. Cairan terus keluar, membasahi celana dalamnya, bahkan mulai membasahi jok kulit mahal di bawahnya. Lalu tiba-tiba, jari David berhenti. Vanessa membuka matanya. Napasnya masih cepat. Wajahnya merah padam. Tubuhnya gemetar sedikit. Kenapa dia berhenti?! David menarik tangannya perlahan. Mengangkatnya. Jari-jarinya basah, berkilau dengan cairan Vanessa. Vanessa menatap dengan napas terengah-engah. Wajahnya merah. Tubuhnya masih menginginkan lebih. Tapi David hanya meraih kotak tisu yang ada di dashboard. Menarik beberapa lembar dengan satu tangan, tangan lainnya tetap di kemudi. Lalu dengan gerakan santai, dia membersihkan jari-jarinya. Mengusap cairan Vanessa dengan tisu. Seolah itu hanya kotoran biasa yang perlu dibersihkan. Dingin. Acuh. Tidak ada apresiasi. Tidak ada pujian. Seolah cairan Vanessa tidak berarti apa-apa. Vanessa merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Campuran antara malu dan... terhina. David membuang tisu yang sudah kotor ke tempat sampah kecil di samping gear shift. Lalu kedua tangannya kembali ke kemudi, fokus sepenuhnya di jalan. Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Hanya suara mesin dan napas cepat Vanessa. Lalu David berbicara. Suaranya tenang, datar, seperti memberikan instruksi. "Sekarang giliranmu." Vanessa menoleh, menatap David dengan mata yang masih berkabut. "A-apa?" David tidak menoleh. Matanya tetap di jalan. "Kita pemanasan sebelum benar-benar melakukannya." Jeda sebentar. Lalu senyum tipis muncul di sudut bibirnya, "Aku ingin melihat seperti apa kemampuanmu. Apakah kau sungguh layak untuk kupertahankan?"David melihat semuanya. Setiap ekspresi di wajah Vanessa. Setiap perubahan warna di pipinya. Cara matanya tidak bisa berpaling dari batangnya.Senyum puas melebar di wajahnya.Tangannya bergerak. Menyentuh wajah Vanessa, lembut, jari-jarinya menelusuri garis rahangnya. Lalu naik ke pipi, mengusap dengan gerakan yang hampir... penuh kasih sayang.Kontras yang aneh dengan situasi yang sangat tidak romantis ini.Lalu suaranya keluar. Lembut tapi tegas."Lakukan sekarang dan buat aku puas."Jeda sebentar. Jari-jarinya masih mengusap pipi Vanessa."Hanya setelahnya kau layak untuk terus berada di sisiku."Vanessa menatap mata David. Mata hitam yang tenang. Percaya diri. Dominan.Dia mengangguk perlahan. Tidak bisa berbicara. Tidak percaya dia akan melakukan ini.Tangannya bergerak, gemetar, menyentuh batang besar itu untuk pertama kali.Hangat, seperti batang besi yang baru dipanaskan.Keras, sangat keras. Tidak ada bagian yang lembut. Semuanya padat, berotot, kuat, dan besar. Astaga, bah
Vanessa diam terpaku. Matanya menatap kosong ke depan. Mulutnya sedikit terbuka tapi tidak ada kata-kata yang keluar.Otaknya masih mencoba memproses apa yang baru saja David katakan.Giliranku? Pemanasan? Kemampuanku?Detik berlalu. Lima detik, sepuluh detik, Vanessa masih diam.David merasakan kesabarannya menipis. Dia menoleh sebentar, menatap Vanessa dengan ekspresi yang mulai kehilangan kesabaran, "Kau tidak mau melakukannya?"Suaranya datar, dingin, tapi ada ancaman tersembunyi di sana.Vanessa tersentak. Dia menoleh, menatap David dengan mata yang masih berkabut.Lalu otaknya mulai bekerja.Giliranku... pemanasan...Tunggu.Apakah dia... apakah dia meminta aku melakukan... itu?Blowjob?!Wajah Vanessa langsung memerah. Campuran antara malu, terkejut, dan... marah.Apakah dia serius?!Bagaimana mungkin dia memintaku menghisap batangnya yang kecil itu?!Vanessa pernah melihat sekilas tonjolan di celana David beberapa kali. Tidak besar, biasa saja, mungkin bahkan di bawah rata-rat
Vanessa menatap tangan itu, lalu menatap wajah David.David bahkan tidak menoleh. Matanya masih fokus di jalan. Ekspresinya masih tenang. Santai. Seolah tangannya di paha Vanessa adalah hal yang paling natural di dunia.Sejak kapan David seberani ini?Vanessa merasakan panas merayap di pipinya. Bukan karena sentuhan itu, tapi karena keberanian David melakukannya tanpa izin. Tanpa bertanya. Tanpa gugup.Seolah dia... berhak melakukannya.Kesal muncul kembali di dada Vanessa, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya melipat kedua tangannya lebih erat di dada, menatap ke depan dengan ekspresi yang berusaha terlihat acuh.Biarkan saja. Hanya sentuhan. Dia yakin David tidak akan berani melakukan sesuatu yang lebih dari ini.Tentu saja David menginginkan hubungan intim. Tapi pada akhirnya, dia akan pasif. Gugup, canggung, dan Vanessa yang akan mengendalikan semuanya. Seperti biasa.Detik berlalu.Tangan David masih di sana. Hangat. Berat.Lalu... bergerak.Perlahan. Sangat perlahan.Jar
Kelas berakhir.Dosen berkepala botak itu menutup bukunya dengan suara keras yang membuat beberapa mahasiswa tersentak. Dia mengucapkan beberapa kata penutup tentang tugas minggu depan, lalu keluar dari ruangan dengan langkah tenang.David bangkit dari kursinya. Mengambil tas kulit cokelat gelapnya, melemparkannya ke bahu dengan gerakan santai.Dia melangkah keluar dengan postur tegak, kepala terangkat, kepercayaan diri terpancar dari setiap langkahnya.Tatapan mengikutinya. Puluhan pasang mata. Kagum. Penasaran. Beberapa bahkan penuh hasrat yang tidak tersembunyi."Dia benar-benar berbeda sekarang.""Aku ingin mendekatinya tapi... aku takut ditolak.""Scarlett berani banget tadi. Aku iri.""Seandainya aku yang duluan..."Bisikan-bisikan itu terdengar jelas, tapi David tidak peduli, tidak menoleh, tidak merespons. Hanya terus berjalan seperti semua perhatian itu tidak ada.Lorong kampus ramai dengan mahasiswa yang berlalu-lalang. Beberapa menoleh ketika David lewat, beberapa berbisik,
Dia jadi bahan tertawaan. Belum pernah dalam hidupnya dipermalukan seburuk ini.Amarah mulai mendidih di dadanya. Tangannya mengepal. Dia ingin bangkit. Ingin melontarkan pukulan di wajah David yang sombong itu. Ingin menghancurkannya.Tapi...David adalah putra Richard Lewis. Konglomerat real estate. Salah satu keluarga terkaya di Elmridge.Jika Blake menyentuh David, jika dia melakukan apa pun, keluarganya akan hancur. Ayahnya yang punya bisnis kecil akan bangkrut dalam sekejap. Karirnya di kampus ini akan berakhir.Dia tidak berani.Jadi Blake hanya bisa memasang ekspresi pahit. Gigi-giginya terkatup rapat. Matanya menatap lantai, tidak berani menatap siapa pun.Perlahan, dengan gerakan yang canggung dan memalukan, Blake bangkit. Mengambil tasnya, mengumpulkan barang-barangnya yang berserakan.Dan tanpa berkata apa-apa, tanpa menatap siapa pun, dia berjalan keluar kelas dengan langkah cepat.Pintu tertutup di belakangnya.Hening sebentar. Lalu..."Wow.""David benar-benar melakukan
Pintu ruang kelas terbuka. David melangkah masuk dengan langkah santai, messenger bag di bahunya, postur tegak dan percaya diri.Percakapan di kelas yang tadinya ramai tiba-tiba berhenti. Kepala-kepala menoleh. Mata-mata mengikuti gerakan David yang berjalan menuju kursinya."Gila... lihat cowok itu.""Tampan banget.""Tubuhnya... ya Tuhan, lihat lengannya.""Itu badan atlet profesional. Dia pasti gym tiap hari.""Wajahnya juga... seperti model."Bisikan-bisikan mulai bermunculan. Pujian demi pujian. Mata-mata yang penuh kekaguman. Beberapa wanita bahkan tidak repot-repot menyembunyikan tatapan mereka yang menelusuri tubuh David dari atas ke bawah.David mendengar semuanya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya terus berjalan dengan tenang.Salah satu pria di barisan belakang menyikut temannya."Bro, siapa itu? Mahasiswa baru?""Nggak tahu. Wajahnya kayak familiar tapi..."Seorang wanita di depan memiringkan kepalanya, matanya menyipit mencoba mengenali."Tunggu... itu..."Detik b







