Share

Winter Blast Concert

Penulis: agneslovely2014
last update Tanggal publikasi: 2025-12-23 15:40:47

Udara di luar gedung terasa sejuk menyengat wajah ketika Candy membuka pintu, menyaksikan lampu-lampu Paladium Times Square menyala terang seperti bintang-bintang cemerlang. Salju turun perlahan, menutupi jalan raya dengan lapisan putih yang lembut, namun kegembiraan di udara jauh lebih panas dari dingin musim dingin. “Winter Blast! Kita akhirnya sampai!” serunya sambil memegang erat tangan Josh, suaminya yang sedang menunggu Craig memarkir kendaraan.

Josh tersenyum, matanya memantulkan cahaya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (8)
goodnovel comment avatar
Marimar
wah bakal ada jodoh buat Craig
goodnovel comment avatar
ismi99
senengnya liat konser langsung sang idola
goodnovel comment avatar
Ugik Kph
senengnya bisa liburan dan nonton konser
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Permainan Panas: Obsesi Dosen Killer   Perfect Match (The End)

    "Candy, coba lihat ini!" Josh yang baru saja pulang dari kampus membawa sepucuk surat undangan berwarna merah maroon. Ada inisial RG dengan torehan tinta emas di sisi depan amplopnya."Undangan pernikahan? Dari siapa, Hubby?" balas Candy yang merasa mereka berdua tidak banyak memiliki teman dekat yang sama.Josh tertawa kecil lalu duduk di sofa kamar tidur bersama Candy. Dia membuka amplop undangan dan membacakan untuk istrinya, "Dengan segala kerendahan hati, kami yang berbahagia Randy Cakrabirawa dan Gisella Kartika mengundang Anda sekalian ke pesta resepsi pernikahan kami pada hari Sabtu, 20 Mei—" "Gila banget, aku nggak pernah mengira Randy bakalan ngejar Bu Gisella. Hmm ... dia bener-bener cowok bernyali!" ujar Candy agak terkejut."Sudah kuduga sih sejak di persidangan dulu. Remaja laki-laki itu nggak main-main dengan perasaan cintanya ke Gisella. See ... proven!" balas Josh. "Aku senang dengar mereka bersatu pada akhirnya, berarti bayi Bu Gisella yang diculik papanya Randy ju

  • Permainan Panas: Obsesi Dosen Killer   Kata Maaf Tak Pernah Terlambat

    Di lorong rumah sakit menjelang petang itu, langkah kaki berderap cepat menuju ke ruang bersalin. Seorang perawat menemui Randy lalu berkata, "Tolong ganti pakaian steril terlebih dahulu kalau Bapak ingin mendampingi persalinan!""Ini benar ruang bersalin yang ditempati Gisella Kartika 'kan, Suster?" tanya Randy memastikan."Iya, benar nama pasien memang Gisella Kartika. Silakan ikuti saya untuk berganti baju steril terlebih dahulu, Pak!" jawab Suster Vita.Maka tanpa berpikir dua kali, Randy bergegas mengikuti anjuran perawat. Dia pun berganti pakaian steril lalu bertanya lagi, "Apa anak pasien dan wanita yang mengantar pasien ada di dalam ruangan bersalin juga, Suster?""Maaf, tadi saya belum melihat mereka. Mungkin masih membereskan administrasi di lantai bawah ya, Pak!" jawab Suster Vita lalu mengantarkan Randy masuk ruang bersalin untuk menemui Gisella.Di dalam ruangan berpencahayaan terang berdinding putih itu Gisella setengah berbaring dengan posisi siap melahirkan. Dia meliha

  • Permainan Panas: Obsesi Dosen Killer   Berhenti Kucing-kucingan

    "Dasar jalang!" teriak Nyonya Vania Cakrabirawa seraya mengangkat tangan kanannya untuk menampar Gisella."PLAAKK!" Suara benturan dua permukaan kulit yang keras terdengar nyaring.Namun, yang kena tampar bukanlah Gisella. Suaminya maju menggantikannya. Pipi Randy bengkak memerah karena perbuatan mamanya."Randy, ngapain kamu belain perempuan murahan itu? Jangan terjebak tipu muslihatnya untuk kedua kalinya lagi!" hardik Nyonya Vania dengan nada tinggi."Mama salah menilai Gisella. Aku nggak akan pernah memilih wanita selain dia untuk menjadi pendamping hidupku!" bela Randy seraya merangkul bahu Gisella dengan protektif.Nathan juga ikut menghalangi neneknya. "Jangan sakiti mommy, Nek! Ada adikku di perut mommy." serunya berani.Pak Lukman terhuyung memegangi dada kirinya karena terkejut mendengar kabar bahwa Gisella sedang hamil."Papaa!" seru Nyonya Vania seraya menopang tubuh suaminya.Pak Lukman dibantu duduk di sofa oleh Randy dan mamanya. Gisella pun mengambilkan air mineral di

  • Permainan Panas: Obsesi Dosen Killer   Terpergok Mama Randy

    "Mom, ayo naik bianglala bertiga dengan aku dan daddy!" seru Nathan heboh di sebuah taman hiburan keluarga yang berada di daerah kota Seoul. Gisella mengangguk setuju lalu berlari-lari bersama Nathan untuk mengantre tiket naik bianglala. Dari belakang mereka Randy mengeluarkan dompetnya lalu menepuk bahu istrinya untuk memberikan lembaran uang Won Korea Selatan senilai tiga tiket yang tertera di sisi atas loket.Setelah diizinkan naik ke kompartemen bianglala dengan lampu hias terang warna-warni, keluarga kecil itu duduk menunggu roda raksasa tersebut berputar perlahan. Semakin tinggi posisi mereka maka pemandangan indah kota Seoul di malam hari semakin terlihat jelas."Wow, amazing!" desah takjub Nathan dari tempat duduknya sembari memandang ke luar kaca kompartemen.Randy mengecup pipi Gisella spontan, dia berbisik, "Aku nggak sabar buat segera pulang dan memulai bisnis kita, Sayang!""Hmm ... iya, kupikir kamu benar. Besok pagi saja kita pulang, kunjungan ke Pulau Jeju ditunda lai

  • Permainan Panas: Obsesi Dosen Killer   Memulai Bisnis Kosmetika

    Setelah penerbangan selama tujuh jam dari Jakarta, pesawat Cathay Pasific itu mendarat mulus di Bandara Incheon, Seoul, Korea Selatan. Gisella dan Nathan yang baru pertama kali berkunjung ke sana terkagum-kagum seperti orang udik. Namun, Randy memaklumi reaksi mereka.Dari bandara, mereka naik taksi ke hotel yang berada di kota Seoul. Pemandangan gedung pencakar langit yang bercahaya warna-warni dengan penataan kota yang rapi serta artistik membuat mereka tak bosan-bosannya menatap ke luar jendela kanan dan kiri sepanjang perjalanan.Akhirnya taksi berhenti di Hotel Ultimate City Park, sebuah hotel bintang lima. Sengaja Randy memilihnya agar besok pagi mereka berdua bisa bertemu dengan calon produsen kosmetik rekanan di lobi hotel. Ada area sofa yang disediakan untuk meeting para tamu hotel yang sifatnya gratis sebagai bagian fasilitas.Di lift naik ke kamar mereka di lantai 17, Randy berkata, "Kita mandi dan istirahat sebentar sebelum pergi dinner ke luar hotel ya.""Wow, asyik! Aku

  • Permainan Panas: Obsesi Dosen Killer   Kabar Buruk Di Tengah Malam Bergelora (21+)

    Candy sampai di rumah terlebih dahulu sore itu, dia mandi lalu menemani Jansen bermain di ruang anak bersama neneknya. Rupanya Josh agak sibuk hari itu dengan pekerjaan di kampus yang sempat tertunda karena sidang kasus pro bono tadi pagi di pengadilan.Setibanya Josh di rumah, dia juga langsung mandi karena seharian berkeringat serta bertemu banyak orang terkait pekerjaannya sebagai pengacara. Setelah itu barulah dia bergabung dengan keluarga kecilnya di ruang bermain Jansen. Ada Ariel juga yang baru saja selesai mandi pasca mengikuti les berenang privat bersama pelatih yang khusus dipanggil Kelly ke kediaman Wijaya untuk mengajari putranya."Wah ... rame ya di sini!" ucap Josh dengan senyuman ramah kepada seisi ruangan itu. "Hai, Om Joseph. Baru pulang kantor ya?" balas Ariel yang kini dekat dengan pamannya itu karena tinggal seatap selama berbulan-bulan."Iya nih, Riel. Papa mama kamu belum pulang?" balas Josh ringan seraya duduk bersila di samping Candy yang tersenyum penuh arti

  • Permainan Panas: Obsesi Dosen Killer   Aksi Nekad Josh

    "Kita mau ke mana, Don? Aku belum pulang ke rumah sejak pagi, badanku rasanya gerah karena nggak mandi!" ujar Candy resah. Sebenarnya dia hanya tak nyaman jalan berdua dengan pria yang bertunangan dengannya itu.Dari spion samping mobil, Candy melihat mobil AUDI hitam milik J

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Permainan Panas: Obsesi Dosen Killer   Dua Pria Di Cafe yang Sama

    "Ough!" Suara lenguhan perempuan terdengar lagi dari luar pintu private room Grand Canyon Cafe. Waitress dan waiter yang berlalu lalang menyajikan pesanan tamu mendadak heboh bergosip di area dapur cafe."Wah gila bener tuh tamu yang di room nomor tiga, lagi ngapain mereka di

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Permainan Panas: Obsesi Dosen Killer   Hukuman Telat Kuliah Dosen Killer

    Karena terlalu lelah kemarin, Candy bangun kesiangan. Dia reflek mematikan alarm ponsel dan tidur lagi. Niatnya hanya beberapa menit, tetapi malah kebablasan sampai pukul 07.30. Dering telepon bertubi-tubi membangunkan gadis itu."Haaloo ...?" jawab Candy dengan mata setengah

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Permainan Panas: Obsesi Dosen Killer   Hanya Ada Kita Berdua (21+)

    "Paul, antarkan aku ke Grand Canyon Cafe. Aku ada acara gathering bareng teman-teman kampus sore ini!" titah Candy ke kepala pengawalnya ketika naik ke mobil seusai kuliah sore."Baik, Nona Candy. Oya, tadi papa Anda meminta saya untuk mengingatkan kencan bersama Donny Gonzag

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status