Share

[53]

Author: Major_Canis
last update publish date: 2026-04-30 14:00:03

“Josh benar-benar tertidur. Kurasa dia lelah bermain bersama Emma dan dua sepupuku yang lain,” kata Chase sembari tersenyum lebar. Ia menutup pintu kamar Josh dengan perlahan dan penuh hati-hati.

“Ya.” Althea tertawa pelan. Ia pun menyodorkan teh hangat pada Chase. “Mau duduk dulu? Ibumu membawakan banyak makanan.”

Chase menerima cangkir itu dan membiarkan jemarinya bersentuhan sejenak dengan tangan Althea. Mata mereka saling menatap, hangat,

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [170]

    “Kali ini ulah apalagi yang akan kau lakukan, Vanessa.”Kate menyalakan TV dan tanpa perlu mengganti channel, berita mengenai persidangan akhir putranya dan Vanessa muncul sebagai headline utama. Banyak wartawan menunggu bagaimana hasil sidang yang digadang-gadang, akan menjadi topik pemberitaan yang tak akan habis dibahas untuk beberapa waktu ke depan.Tersiar kabar kalau Vanessa menuntut banyak hal dari Daven, selaku mantan suami. Mendengar tuntutan Vanessa saja, Kate sangat kesal dan marah. Bagaimana mungkin wanita itu memiliki pemikiran yang luar biasa menjengkelkan seperti itu?Ia memilih duduk sendirian di kursi empuk ruang tamu. Cangkir teh hangat mengepul di tangannya. Pandangannya terarah pada televisi besar di hadapannya. Siaran langsung sidang perceraian Daven dan Vanessa mengisi ruangan dengan suara reporter yang bersemangat memberitakan setiap detail.Rangkuman selama sidang perceraian itu berlangsung, kembali diulas dengan singka

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [169]

    “Tuan, ini berkas tambahan dari bagian keuangan,” kata Arsen yang perlahan menaruh tumpukan berkas baru di meja kerja Daven.Daven hanya melirik tanpa minat tapi kemudian fokus pada layar kerjanya. “Jam berapa kita meeting dengan bagian keuangan?”“Satu jam lagi.”Daven memberi tanggapan dengan anggukan.“Apa Anda ingin mendengarkan laporan mengenai hasil sidang perceraian yang sebentar lagi diputuskan?”Pria bermata biru itu menatap tajam asistennya. Membuat Arsen diserang gugup yang membuatnya mengambil langkah, “Ah, tidak perlu rupanya. Baiklah. Saya akan kembali ke ruangan saya. Jika ada sesuatu yang dibutuhkan, mohon segera hubungi saya.”Arsen menyeringai tipis dan segera melesat pergi meninggalkan Daven. Padahal niat Arsen baik, jadi Daven tak perlu mendengarkan laporan panjang dari tim pengacara. Tapi sepertinya CEO Callister Grup tak ingin diganggu dengan berita apa pun. Ja

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [168]

    “Apa kegiatanmu hari ini?” suara Chase terdengar renyah di seberang. Nada bicaranya santai, seolah tak ada kegiatan yang dia lakukan sejak pagi.Althea tertawa kecil, menaruh sepotong buah melon ke mulutnya. “Tidak banyak. Semua barang-barangku dan juga Josh sudah rapi di dalam koper. Jadi nanti saat waktunya pulang ke SunCity, kita tinggal berangkat saja.”“Bagus.” Terdengar helaan napas lega dari Chase. “Aku sempat khawatir kau kerepotan mengemas barang-barang. Syukurlah.”“Aku ini terbiasa mengurus semuanya sendiri, tahu,” sahut Althea, pura-pura merajuk. “Lagi pula Josh juga ikut membantu, meskipun lebih banyak berlarian daripada membereskan.”Chase tertawa lepas. “Bukankah Josh memang tak bisa diam? Aneh rasanya jika melihat anak itu diam, kan?”“Kau benar.” Althea benar-benar menikmati waktunya yang sendiri ini. “Apa kau tidak sibuk?&rd

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [167]

    “Aku tak sabar untuk memakannya, Paman Beni.”“Bersabarlah, Tuan Kecil.” Hanya itu yang bisa Beni katakan. Sedari mereka keluar dari kamar tempat menginap, sepanjang lorong, bahkan sampai di lift, Josh tak henti-hentinya bersenandung senang.Seolah membeli hotdog dan es krim sebagai camilan siang ini adalah keinginan terakhir yang sangat ingin dia rasakan. Padahal kemarin saat menghabiskan waktu bersama ayah kandungnya, bocah tujuh tahun ini tak segembira sekarang.“Ah, aku harus membelikan Daddy Chase juga. Dia pasti menyukainya. Daddy pasti lelah karena pekerjaannya. Bagaimana menurutmu, Paman Beni?”“Saya rasa bukan hal yang buruk.”Beni melangkah santai mendampingi Josh yang berjalan dengan riang, menggandeng tangannya erat. Jalanan depan hotel cukup ramai sore itu. Kedai makanan di seberang memang terkenal enak, wajar jika pengunjungnya mengular sampai ke trotoar.“Lebih baik Anda tu

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [166]

    Ruangan itu tampak remang, hanya diterangi cahaya temaram dari lampu meja di sudut. Bayangan furnitur panjang menempel di dinding, membuat atmosfer terasa dingin dan penuh tekanan. Di balik jendela besar yang kacanya setengah buram, tampak dedaunan yang mulai berguguran—melingkar perlahan diterpa angin yang berembus. Musim seolah ikut bersekongkol, menciptakan nuansa muram yang sesuai dengan hati orang yang duduk di kursi kulit hitam itu.Pria itu menyandarkan punggungnya, satu kaki disilangkan santai. Asap tipis dari cerutu yang terbakar di antara jemarinya melayang, berbaur dengan aroma tajam wine merah dalam gelas kristal yang sesekali ia teguk. Seakan waktu berhenti, ia hanya menatap lurus ke luar, menikmati tarian daun yang jatuh satu per satu. Namun di meja kecil di sampingnya, ada sebuah ponsel yang sejak tadi tergeletak. Diam, dingin, tak berbunyi, tapi jelas sedang ditunggu.Jari-jarinya mengetuk lengan kursi, ritme tak sabar menyertai keheningan. Sesekali matanya melirik lay

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [165]

    “Apa aku tak salah mendengar, Felicia?” tanya Kalina dengan suara meremehkan. “Kau? Membela Althea?”“Aku hanya mengungkapkan fakta yang memang terjadi.” Felicia mengedikkan bahu. “Tapi kau tak salah mengira, Kalina. Aku ... memang sedikit membela ‘wanita itu’.”Kate menggeleng tak percaya atas ucapan Felicia barusan. “Felicia, kau bicara seakan Althea itu wanita suci. Dia menyembunyikan anak itu dari kita bertahun-tahun. Bahkan saat aku bicara dengannya, ia sama sekali tak merasa bersalah melakukan hal ini pada keluarga kita. Bagaimana bisa kau membela tindakannya?”Felicia menghela pelan. Di pikirannya, berkecamuk banyak hal. Bayang masa lalu di mana ia adalah salah satu orang yang ikut serta membuat Althea merasa rendah diri. Semua ucapan dan tindakannya, belum bisa ia lupakan seratus persen. Ada satu waktu di mana ia dihantui rasa bersalah. Terutama saat hubungan dengan Vanessa mulai merenggang.Di saat itu juga, Felicia yang terus mengembangkan usahanya, bertemu banyak orang. Ban

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [164]

    “Mom?” Kalina menatap ibunya heran, menyadari perubahan sikap Kate yang tidak biasa.Kate hanya memindahkan sendok di piringnya, seakan butuh waktu sebelum menjawab. Felicia ikut memperhatikan dengan dahi berkerut.“Apa kau membutuhkan sesuatu yang lain?” tanya Felicia hati-hati. Saat ibunya bilang

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [163]

    “Aku harap kita bisa bertemu lagi.” Daven menyejajarkan tingginya dengan Josh. Mata birunya menatap sang putra dengan sorot tak rela. Siapa yang ingin berpisah dari anaknya sendiri?“Aku juga.” Josh tersenyum lebar. “Terima kasih sudah menunjukkan kantor Anda

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [162]

    “Kau yakin?” tanya Chase sekali lagi. Tatapannya tak bisa menyembunyikan rasa khawatir pada Althea.“Tak apa-apa, Sayang.” Althea mengusap punggung tangan Chase yang sejak tadi menggenggam tangannya. “Aku memang perlu membicarakan hal ini.”Chase

  • Permintaan Terakhir Sebelum Bercerai   [161]

    “Kurasa Josh masih menghabiskan waktu bersama Daven. Kau yakin akan menjemputnya sekarang?” tanya Chase yang baru saja menghentikan mobilnya di lobi restoran LangLay. Tempat di mana anak tiri kesayangannya ada di dalam.“Entah kenapa aku merasa gelisah. Aku ingin segera b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status