เข้าสู่ระบบMenikah muda dengan Galandra Pramarta adalah impian terbesar Namia Prissilia kala itu. Namun usia yang masih labil, ego yang tinggi, pertengkaran, serta prasangka Namia yang menganggap Galan pemalas dan tidak punya ambisi, membuat rumah tangga mereka yang baru seumur jagung berujung perceraian. . Namia memilih pergi. Ia merasa tak membutuhkan suami yang menurutnya tak mampu memberi masa depan, karena ia bisa hidup nyaman dengan harta orang tuanya. . Sepuluh tahun berlalu. Roda kehidupan berputar tanpa aba-aba. Keluarga Namia bangkrut, harta yang dulu ia banggakan lenyap, dan kehidupan mewahnya runtuh perlahan. Dalam keterpurukan itulah takdir kembali mempertemukannya dengan Galandra, kini seorang duda sukses, mapan, berwibawa, dan… menggoda. . Pertemuan demi pertemuan memantik kembali bara lama yang belum sepenuhnya padam. Namia mulai mempertanyakan keputusannya dulu. Apakah ia benar-benar sudah melupakan Galan? Atau selama ini ia hanya menutupi rasa yang belum selesai dengan gengsi dan kesombongan?
ดูเพิ่มเติมDimas semakin menekan, napas alkoholnya menusuk, membuat mual naik ke tenggorokan Namia. “Di tempat kayak gini, semua bisa dibeli. Termasuk lo.” Tangan pria itu semakin kasar, menarik lengannya tanpa izin, sementara tangannya yang lain meremas pinggang Namia. Sesuatu di dalam diri Namia berontak. “Lepaskan!” Kali ini bukan sekadar desisan. Tangannya bergerak lebih dulu dari pikirannya. Namia menyambar vas bunga keramik kecil yang menjadi hiasan di meja lorong, lalu menghantamkannya ke bahu Dimas. Saat pegangan pria itu melonggar karena terkejut dan kesakitan, sekuat tenaga Namia kabur. Ia berlari membabi buta, masuk ke pintu terdekat yang ia temui, toilet. Dengan napas tersengal-sengal, ia masuk ke salah satu ruangan paling pojok, kemudian mengunci pintunya dari dalam. Tubuhnya bergetar hebat. Ia takut sekali jika Dimas sampai memburunya ke sini, apalagi lantai VIP ini sangat sepi. Dadanya makin berdebar hebat kala mendengar langkah kaki seseorang di luar. Namia makin pias. Na
Gerakan tangan Namia yang hendak membuka tutup botol terhenti. Ia menoleh perlahan ke Nesa, lalu kembali menatap lurus ke depan dengan pandangan miris."Tahu pun sekarang nggak ada gunanya, Nes. Kami sudah selesai sepuluh tahun lalu. Lagipula, dia yang sekarang bukan Galan yang dulu. Galan yang sekarang cuma orang kaya sombong yang buta karena dendam," ucap Namia pahit."Tapi Mia, kalau dia tahu alasan sebenarnya lo minta cerai dulu, kalau dia tahu kenapa lo harus bersikap sejahat itu buat ngelepasin dia, mungkin dia nggak akan—""Cukup, Nes," potong Namia cepat. Suaranya bergetar. "Biarkan dia benci gue. Itu lebih baik daripada dia tahu yang sebenarnya dan malah merasa kasihan. Gue nggak butuh dikasihani, apalagi sama dia."Nesa menghela napas, ia mengusap lembut bahu Namia, memberi dukungan tanpa kata. Ia tahu betapa keras kepalanya Namia jika sudah menyangkut harga diri dan perlindungan terhadap orang-orang yang ia sayangi."Terus sekarang lo mau gimana? Kalau dia beneran mau
Namia terbelalak. "Uang saya sendiri? Tuan, ini ada sepuluh porsi lebih! Harganya hampir setengah dari gaji bulanan saya!"Galan tersenyum miring, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Oh, jadi sekarang kamu tahu arti nilai uang? Bukankah dulu bagimu uang orang tuamu tidak akan pernah habis? Ke mana perginya kesombonganmu itu, Namia Prissilia?"Namia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang terasa menyakitkan. Ia memaksakan sebuah senyum manis, senyum yang paling tulus yang bisa ia buat, meski matanya menyiratkan kelelahan yang luar biasa. Ia menatap tepat ke manik mata Galandra, tidak lagi menghindar."Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan Galandra yang terhormat," ucap Namia dengan nada lembut namun tertata. "Saya memohon toleransi Anda. Saya tidak memiliki uang sebanyak itu saat ini untuk mengganti semua pesanan ini. Bagi saya, setiap rupiah sangat berarti sekarang."Namia menjeda sejenak, senyumnya masih tertahan di bibir meski hatinya perih.
Pagi hari setelah menyiapkan makanan sederhana untuk Mama dan Papanya, Namia tampak keluar dari rumah petak itu. Ia mengenakan jaket dengan logo perusahaan pengantaran makanan yang sudah sedikit pudar warnanya. Meski tubuhnya masih terasa remuk akibat kerja hingga larut malam tadi, Namia tetap harus memutar gas motornya. Ia siap berjuang lagi hari ini.Saat tiba di sebuah perempatan besar, lampu lalu lintas berubah merah. Namia berhenti di barisan depan, fokus menatap aspal di depannya sambil sesekali memijat pergelangan tangannya yang pegal. Ia tidak memperhatikan sebuah mobil mewah yang berhenti tepat di sisi kanannya.Di dalam mobil itu, Galandra duduk di kursi belakang, tersembunyi di balik kaca film yang sangat gelap. Matanya yang tajam tidak sengaja menangkap sosok yang sangat ia kenal."Dia..."Galandra bergumam rendah. Rahangnya mengeras saat melihat dengan jelas logo pengantaran makanan di jaket yang dikenakan Namia. Wanita yang dulu bahkan tidak mau menyentuh piring kotor
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.