LOGINMenikah muda dengan Galandra Pramarta adalah impian terbesar Namia Prissilia kala itu. Namun usia yang masih labil, ego yang tinggi, pertengkaran, serta prasangka Namia yang menganggap Galan pemalas dan tidak punya ambisi, membuat rumah tangga mereka yang baru seumur jagung berujung perceraian. . Namia memilih pergi. Ia merasa tak membutuhkan suami yang menurutnya tak mampu memberi masa depan, karena ia bisa hidup nyaman dengan harta orang tuanya. . Sepuluh tahun berlalu. Roda kehidupan berputar tanpa aba-aba. Keluarga Namia bangkrut, harta yang dulu ia banggakan lenyap, dan kehidupan mewahnya runtuh perlahan. Dalam keterpurukan itulah takdir kembali mempertemukannya dengan Galandra, kini seorang duda sukses, mapan, berwibawa, dan… menggoda. . Pertemuan demi pertemuan memantik kembali bara lama yang belum sepenuhnya padam. Namia mulai mempertanyakan keputusannya dulu. Apakah ia benar-benar sudah melupakan Galan? Atau selama ini ia hanya menutupi rasa yang belum selesai dengan gengsi dan kesombongan?
View More"Selamat! Sudah jadi janda, Namia."
"Lo pikir ini sebuah reward buat gue? Ngapain lo kasih selamat, Brengsek?!" "Bukankah udah dari kemaren-kemaren lo ingin bebas dari gue? Makanya gue kasih selamat." "Ck, gila lo?! Harusnya lo sadar, ini semua karena lo. Jika lo ada usaha sedikit aja dengan pernikahan kita ini, ini semua gak bakal terjadi." Galan tersenyum miris, menatap perempuan yang baru beberapa bulan yang lalu ia nikahi, dan sekarang mereka resmi ketuk palu. "Semoga lo bahagia dengan keputusan ini." Begitulah perpisahan pahit sepuluh tahun lalu. Kalimat itu menjadi titik terakhir sebelum mereka benar-benar putus kontak, seolah-olah Galandra Pramarta ditelan bumi dan Namia Prissilia hanyut dalam usahanya menyambung hidup. ... "Mia... Namia?! Bangun! Itu pelanggan VIP minta dibawain pesanannya lebih cepat. Lo kenapa sih bawaannya ngantuk aja beberapa hari ini? Masih mau kerja gak sih? Kalau udah bosan, ayo sini surat pengunduran dirinya! Masih banyak di luar sana yang mau kerja di sini. Menjengkelkan banget, sih." Namia tersentak, tubuhnya refleks berdiri tegap. Jantungnya berpacu cepat saat melihat wajah ketus Manajer Ria. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kepalanya berdenyut, efek dari shift siang sebagai kurir makanan yang langsung disambung dengan shift malam di kelab eksklusif ini. Namia... Namia, tubuhmu memang diciptakan untuk jadi mesin pencari uang, ya, batinnya miris sambil membenahi seragam kerjanya yang ketat. Dengan nampan di tangan, Namia melangkah menuju ruang VIP. Ia mengatur napas, memasang senyum profesional paling tulus yang ia miliki, lalu mengetuk pintu. Di dalam sana, kepulan asap cerutu dan aroma alkohol mahal menyambut indranya. Ia melangkah mendekat ke meja utama untuk meletakkan pesanan khusus mereka tanpa berani menatap wajah-wajah pria berjas di sana. Namun, udara di sekitarnya mendadak terasa membeku. Namia merasakan sepasang mata menguliti gerak-geriknya. Di sudut sofa, seorang pria dengan setelan navy yang pas di tubuh tegapnya tampak terpaku sejenak, namun dengan cepat menyembunyikan keterkejutannya di balik ekspresi sedingin es. Saat Namia hendak mundur untuk berpamitan, suara salah satu tamu pria yang tampak sudah setengah mabuk menghentikannya. "Hai Nona, duduklah di samping saya. Temani saya minum, nanti tipnya menyesuaikan kemampuan kamu membuat saya senang," ucap pria berkacamata itu dengan senyum miring, mungkin teman atau mungkin rekan bisnis di lingkaran elit itu. Namia mengangkat kepalanya. Deg Dia... Kenapa bisa ada pria itu di ruangan ini? Namia menunduk dalam, jemarinya meremas nampan kosong dengan kuat. Ia merasa harga dirinya runtuh seketika. Rasanya ingin menghilang menembus lantai setelah menyadari siapa yang duduk tepat di seberang pria berkacamata itu. Galandra Pramarta. Mantan suaminya. Pria itu hanya diam, namun tatapannya tajam seperti elang yang siap menerkam mangsa. Namia harus mengakui, dalam balutan kedewasaan sepuluh tahun ini, Galandra terlihat jauh lebih tampan, berwibawa, dan... berbahaya. "Wah, kenapa kamu diam saja? Jadi pelayan nggak boleh sombong dong," desak pria berkacamata itu lagi sambil menjulurkan tangan, hendak meraih pergelangan tangan Namia. Namia memejamkan mata, bersiap untuk menghindar, namun sebuah suara bariton yang berat dan penuh otoritas tiba-tiba menggema di ruangan itu, menghentikan gerakan semua orang. "Duduk di samping saya, sekarang!" ucap Galandra. Nada suaranya datar, namun penuh intimidasi yang membuat bulu kuduk Namia meremang. Galandra menyesap minumannya perlahan, matanya tidak lepas dari wajah pucat Namia. "Biarkan dia melayani saya. Kamu bisa cari yang lain, Bro." Pria berkacamata itu tertawa canggung dan menarik tangannya. Sementara itu, Namia terpaku. Di antara rasa lelah yang mendera dan harga diri yang tersisa, ia dipaksa kembali ke dalam gravitasi pria yang saat perpisahan terakhir dulu ia maki sebagai "brengsek". Namia merasakan hawa yang tidak bersahabat saat duduk di sisi pria yang dulu begitu hangat dan ceria. Kali ini hanya ada hawa dingin yang menusuk pori-pori, membuatnya merinding seketika. Namia hanya diam membatu, jemarinya yang gemetar bertaut erat di atas pangkuan. Tiba-tiba, Galandra condong ke arahnya. Aroma maskulin yang mahal—campuran kayu cendana dan citrus yang tajam, menyerbu indra penciuman Namia, memicu memori lama yang seharusnya sudah mati. Galandra mendekatkan bibirnya ke telinga Namia, membiarkan embusan napas hangatnya menyapu kulit leher Namia yang menegang. "Sampai jumpa kembali... mantan istriku," bisiknya rendah, penuh penekanan pada kata terakhir. Glek*.* Namia menelan ludah dengan susah payah. Pertemuan macam apa ini? Bagaimana ia bisa membiarkan Galandra melihat sisi lemahnya sekarang? Otaknya berputar cepat, menarik kembali memori sepuluh tahun lalu saat mereka berdiri di depan pengadilan. Saat itu, Namia dengan angkuhnya berteriak bahwa ia tidak butuh suami pemalas dan tanpa obsesi macam Galandra. Ia merasa di atas angin, yakin bahwa harta orang tuanya tidak akan pernah habis tujuh turunan. Pernikahan dini yang sia-sia. Hanya karena ego yang setinggi langit dan emosi yang meledak-ledak, pertengkaran kecil berubah menjadi badai yang menghancurkan ikatan mereka hanya dalam waktu tiga bulan. Namun, roda kehidupan berputar tanpa permisi. Kebangkrutan telak menghantam perusahaan Papanya dua tahun lalu, menyapu bersih semua kemewahan yang dulu Namia banggakan. Kini, di usia 28 tahun, ia hanyalah seorang wanita yang harus pontang-panting melakoni pekerjaan halal apa pun demi biaya pengobatan sang Mama yang sakit-sakitan dan Sang Papa yang kini hanya bisa duduk di kursi roda. Ijazah sarjananya seakan tak ada arti, entah karena nasib buruk atau ada tangan tak terlihat yang menjegal, semua lamaran pekerjaannya selalu berakhir dengan penolakan. BRAK! Bunyi gelas wine yang dihentakkan keras ke meja marmer memutus lamunan Namia dengan kasar. Ia terlonjak kecil, menoleh ke samping dan mendapati Galandra sedang menatapnya dengan tatapan meremehkan. "Menuangkan minuman saja masih tidak becus?" tanya Galandra dingin, matanya melirik botol wine yang masih tertutup di depan Namia. "Saya membayar mahal untuk pelayanan, bukan untuk melihatmu melamunkan masa lalu yang sudah busuk." Teman-teman Galandra di meja itu tertawa kecil, menganggap ucapan Galandra hanyalah candaan pria berkuasa kepada pelayan. Namun bagi Namia, setiap kata itu adalah sembilu yang menyayat harga dirinya yang sudah tipis. "Maaf, Tuan," suara Namia serak. Dengan tangan gemetar, ia meraih botol itu. Saat jemarinya berusaha membuka tutup botol, tangan besar Galandra tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya. Kulit mereka bersentuhan, mengirimkan sengatan listrik yang membuat Namia ingin menarik diri, namun cengkeraman pria itu terlalu kuat. "Tanganmu kasar sekali, Namia. Ke mana perginya tangan halus putri bangsawan yang dulu hobi belanja itu?" tanya Galandra dengan seringai tipis yang mematikan.Namia mempercepat langkahnya, merapatkan jaket kulit Galan yang masih menyisakan kehangatan tubuh pria itu. Ia berharap kegelapan gang bisa menelannya bulat-bulat, menyembunyikannya dari dunia, terutama dari sepasang mata tajam yang ia tahu masih mengawasinya dari kejauhan.Namun, harapan itu hancur saat ia melihat bayangan pria bertubuh besar duduk di bangku kayu reyot depan rumahnya."Baru pulang, Cantik?" suara serak pria itu membelah sunyi malam, membuat bulu kuduk Namia meremang.Namia mematung. Ini alasan kenapa ia menolak Galan mengantarnya sampai pintu. Ia tidak sanggup jika Galan harus melihat sisa-sisa kehancurannya yang paling menjijikkan, diteror penagih utang yang tak pernah bosan mencarinya, sisa beban masa lalu keluarganya yang seolah tak berujung."Aku... aku belum ada uangnya, Bang. Aku baru mau setor besok," ucap Namia pelan, suaranya bergetar hebat.Pria itu berdiri, melangkah mendekat dengan senyum meremehkan. Ia menatap jaket kulit mahal yang tersampir di bah
Namia menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Ia merasa ini bukan waktunya untuk membongkar rahasia besar itu, rahasia tentang ayahnya yang terlilit hutang pada rentenir kejam demi menyelamatkan perusahaan, rahasia tentang ancaman yang ia terima jika tidak segera meninggalkan Galan agar pria itu tidak ikut terseret dalam kehancuran keluarganya. Ia memilih menelan itu semua sendirian sepuluh tahun lalu agar Galan bisa fokus pada masa depannya."Tidak ada gunanya dijelaskan sekarang," ucap Namia dengan suara lemas, energinya seolah terkuras habis. "Kamu sudah mendapatkan jawaban yang kamu inginkan. Kamu sukses, aku hancur. Kamu pemenang, aku pecundang. Bukankah itu yang ingin kamu dengar?"Namia mencoba mendorong Galan sekali lagi, dan kali ini pria itu membiarkannya. Namia melangkah menuju pintu apartemen dengan kaki yang terasa berat."Aku akan mengembalikan pakaianmu besok setelah dicuci. Dan tolong... jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Biarkan aku hid
"Setelah sepuluh tahun, apa ini salah satu caramu untuk mendapatkan kembali apa yang sudah kamu buang dulu? Menunjukkan sisi rapuhmu agar aku merasa kasihan?"Namia merasakan dadanya sesak. Jantungnya berpacu liar, bukan karena jatuh cinta, tapi karena rasa terhina yang kembali menggunung."Aku tidak serendah itu, Galan!" Namia berusaha menepis tangan Galan, namun pria itu justru semakin mengunci posisinya. "Aku hanya ingin mandi dan kamu antar aku pulang! Aku tidak peduli dengan hartamu atau apartemen mewahmu ini!""Benarkah?" Galandra menyeringai sinis, tatapannya turun ke bibir Namia yang sedikit terbuka. "Kalau begitu, kenapa tubuhmu bergetar? Kenapa matamu terlihat ketakutan sekaligus... menginginkan sesuatu?"Namia membuang muka ke sisi lain, berusaha menciptakan jarak meski mustahil. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan. Hembusan napas Galan yang beraroma alkohol dan maskulin terasa panas di kulit wajahnya, memicu memori yang seharusnya sudah ia kubur d
Mobil mewah yang dikemudikan Galan itu berhenti dengan mulus di basement sebuah apartemen kelas atas. Namia mencengkeram tasnya kuat-kali, matanya menatap nanar deretan mobil mahal yang terparkir rapi di sana. "Turun," perintah Galandra pendek. "Nggak. Aku gak mau di sini. Aku mau pulang, Galan. Antarkan aku ke pangkalan atau biarkan aku pesan ojek dari sini," tolak Namia tegas. Jantungnya berdegup kencang, berada di ruang tertutup dengan Galandra dalam situasi seperti ini adalah ide buruk. Galandra mematikan mesin, suasana mendadak sunyi yang mencekam. Ia menoleh, menatap Namia dengan pandangan mengintimidasi yang membuat nyali Namia ciut seketika. "Jangan membuat saya menyeret kamu keluar, Namia. Kamu tahu saya tidak suka dibantah." Namia mendesis kesal, namun akhirnya ia membuka pintu mobil dengan kasar. Dengan perasaan dongkol dan was-was, ia mengekor di belakang Galandra menuju lift. Keheningan di dalam lift terasa begitu menyesakkan. Namia hanya bisa menunduk menatap pant
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.