MasukNisya mengangguk sambil tersenyum lebar. "Baik, kamu memang baik sekali."Nora berbalik dan terus mengomel, "Besok kamu harus pergi. Mana ada nenek tua yang terus menumpang di rumah orang dan nggak mau pergi? Sudah setua ini, nggak bisa melakukan apa-apa lagi, masih ingin mencari tempat untuk menghabiskan masa tua. Di dunia ini mana ada hal seenak itu?"Nisya tetap tersenyum sepanjang waktu. Lorraine menuntunnya masuk ke kamar sebelah."Nenek Nisya, malam ini Nenek tidur di sini. Tapi besok waktu Pak Gilga datang menjemput, Nenek harus patuh dan ikut dengannya."Nisya menarik tangan Lorraine. "Tapi aku ...."Lorraine pura-pura marah. "Nenek Nisya, kalau Nenek patuh, kita tetap berteman. Kalau Nenek nggak patuh ... aku nggak mau berteman sama nenek yang nakal."Nisya mengatupkan bibir. Dengan wajah penuh keluhan, dia mengangguk. "Baik."Setelah Lorraine kembali ke kamar utama, dia lembur semalaman. Akhirnya proposal tender itu berhasil diselesaikannya.Pagi-pagi sekali, Gilga sudah data
Nora hendak membukakan pintu sendiri dengan bersemangat. "Sudah pasti Delvin yang datang, cepat ke dapur dan panaskan lagi makanannya."Lorraine hanya bisa mengikuti di belakang Nora sambil menopang tubuhnya dengan hati-hati. Nora membuka pintu. Dia langsung tercengang.Ternyata nenek menyebalkan yang ditemuinya siang tadi lagi. Hanya saja, pria muda yang berdiri di samping nenek itu benar-benar tampan.Nisya menunjuk ke arah Nora. "Itu dia.""Nek, kenapa belum masuk?" Lorraine keluar dari dapur. Saat melihat Derby, dahinya langsung dipenuhi tanda tanya.Lima menit kemudian, keempat orang itu duduk di ruang tamu. Nora juga sudah tahu bahwa Derby adalah paman Roman, sehingga sikapnya menjadi jauh lebih ramah. Derby menyampaikan permintaan maaf singkat."Maaf mengganggu kalian selarut ini. Nenekku menangis dan bersikeras ingin datang mencari kalian. Kami sempat pergi ke rumah sakit dulu, baru tahu ternyata Bu Nora sudah keluar dari rumah sakit."Nora menundukkan kepala. Dia tak bisa mena
Lorraine mengangguk terus terang. Dia memberi peringatan kepada neneknya terlebih dulu agar tidak terlalu terkejut."Benar. Tapi tetap karena masalah Vanessa. Sekarang Vanessa menjadi asisten Delvin dan aku kesal setiap kali melihatnya."Nora berkata dengan nada tidak setuju, "Kamu nggak suka sama dia, Nenek juga nggak suka. Tapi, urusan itu dan urusan ini berbeda. Kalau memang dia mendapatkan posisi asisten karena kemampuannya sendiri, masa kita harus memaksa Delvin memecatnya?"Lorraine tersenyum mengejek dirinya sendiri. "Bukankah memang seharusnya begitu? Nek, dia itu suamiku, bukan orang lain. Aku berhak meminta dia melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.""Kalau aku harus menggunakan standar yang sama seperti terhadap orang asing untuk menilai suamiku sendiri, bukankah itu terlalu konyol?"Setelah mendengar itu, Nora mengangguk setuju. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi.Setelah pengasuh yang dipekerjakan Lorraine tiba, Lorraine memberi beberapa instruksi sebelum bersiap pergi.
Gilga berlari masuk ke kamar perawatan. Keringat memenuhi dahinya. Namun, yang dilihatnya adalah Nisya yang sedang asyik makan apel.Gilga langsung menghela napas lega. Dia berjalan ke hadapan Lorraine dan berulang kali mengucapkan terima kasih. "Terima kasih, Bu Lorraine. Hari ini sebenarnya kami bawa Nyonya Besar untuk pemeriksaan. Aku hanya pergi sebentar untuk mengambilkan segelas air, tahu-tahu dia sudah menghilang."Lorraine menggeleng. "Nggak apa-apa. Kebetulan saja aku ketemu. Tapi terus terang, karena Nenek suka sekali keluar sendiri seperti ini, kalian harus lebih berhati-hati. Jalanan sekarang ramai kendaraan. Sangat berbahaya."Gilga segera mengangguk berkali-kali. "Benar, benar."Lalu dia berbalik hendak membawa Nisya pulang. Namun, Nisya langsung memeluk ranjang dengan wajah ketakutan."Aku nggak mau pulang! Kalau pulang mereka akan mengurungku di kamar gelap. Mengikatku dengan rantai. Nggak kasih aku makan, bahkan memukuliku."Lorraine langsung menatap Gilga dengan terke
Diam-diam, Nisya mengangkat bantal dan menutupi wajahnya. Penampilannya tampak begitu penakut. Derby menarik napas panjang untuk menenangkan diri, lalu berbalik dan pergi. Nisya segera menurunkan bantalnya, lalu menjulurkan lidah ke arah punggung Derby."Galak sekali, pantas nggak ada yang mau."Suara sang nenek tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan. Cukup untuk terdengar oleh Gilga dan Derby. Gilga tidak bisa menahan tawanya.Derby bertanya dengan nada dingin, "Lucu sekali?"Gilga berdeham pelan. "Barusan aku teringat sebuah lelucon. Mau kuceritakan?"....Lorraine mentransfer 10 miliar yang beberapa hari lalu dia terima dari Delvin kepada Margo. Margo meneleponnya. Namun, Lorraine tidak mengangkat telepon itu. Dia langsung memasukkan Dilla dan Margo ke dalam daftar blokir.Nora ingin pergi menjenguk Aston. Kebetulan mereka dirawat di rumah sakit yang sama. Hanya saja Aston berada di area perawatan rehabilitasi, sehingga mereka harus melewati gedung rawat jalan terlebih dahulu.
Lorraine sama sekali tidak menyangka, orang yang turun tergesa-gesa dari mobil ternyata adalah Derby dan Gilga.Byby? Derby?Tiba-tiba muncul perasaan lucu yang tidak masuk akal di dalam hati Lorraine."Pak Derby, ini anggota keluarga Bapak?"Derby menatap nenek yang masih duduk di tanah dan tidak mau bicara itu dengan ekspresi tak berdaya. Dia tampak sedikit pusing. Baru setelah beberapa saat dia mengangguk pelan."Nenek dari pihak ibuku. Dia menderita Alzheimer."Lorraine langsung mengerti. Derby membantu sang nenek berdiri. "Nenek, kita pulang."Nenek itu menatap Derby dengan pandangan kosong. Beberapa saat kemudian, dia menggelengkan kepala. "Aku mau cari Byby."Tangan Derby yang lain mengusap pelipisnya.Dengan sabar dia berkata, "Aku Byby."Sang nenek langsung menggeleng tegas. Saat itu, dia sama sekali tidak tampak seperti penderita Alzheimer."Bukan. Byby hilang."Derby melirik Gilga. Gilga segera maju dan setengah membujuk, setengah menyeret sang nenek masuk ke mobil. Nenek it







