MasukPintu didorong hingga terbuka. Lorraine langsung mengangkat kepala. Dia melihat pria tinggi besar itu berjalan selangkah demi selangkah mendekatinya.Hati Lorraine langsung mencelos. "Aku punya uang. Aku bisa kasih kalian uang. Aku bisa ambil sekarang juga."Pria tinggi itu mencibir. "Kamu kira kami berdua idiot? Kamu mau kami lepasin kamu untuk ambil uang atau untuk lapor polisi?"Lorraine menatapnya, berusaha membujuknya, "Aku janji nggak bakal lapor. Aku kasih uangnya ke kalian, lalu kalian lepaskan aku. Anggap saja masalah ini selesai."Pria tinggi itu berkacak pinggang. Dia menunduk memandangi wanita cantik yang dalam kehidupan sehari-hari bahkan tak mungkin bisa dia dekati.Melihat Lorraine memohon dengan nada menyedihkan seperti itu, senyumannya makin lebar dan tatapannya makin menjijikkan. Dia mengangkat tangan dan mengusap wajah Lorraine. "Soal uang sih nggak penting. Yang aku inginkan malam ini adalah dirimu."Darah di seluruh tubuh Lorraine seketika terasa dingin.Di bawah u
Suara sirene ambulans membelah senja, melaju kencang menuju rumah sakit. Di dalam ambulans, aroma disinfektan bercampur dengan bau darah yang pekat. Aromanya begitu kuat hingga terasa menyesakkan.Vanessa terbaring di atas tandu. Wajahnya pucat pasi seperti hantu. Rambut panjangnya berantakan dan menempel di leher, sementara di dahi masih ada bercak darah yang belum sempat dibersihkan.Yang paling membuat Delvin ketakutan adalah genangan merah kental di bawah tubuh Vanessa.Di tengah musim dingin, darah itu telah menembus pakaian tebalnya dan mewarnai mantel putihnya menjadi merah.Delvin tahu apa artinya. Dia bahkan belum sempat menerima kabar baik tentang kehamilan Vanessa, tetapi sudah lebih dahulu menerima kabar buruk ini. Kemungkinan besar anak itu tidak akan bisa diselamatkan.Darah di seluruh tubuh Delvin seakan membeku seketika.Vanessa perlahan membuka mata. Dengan gemetar, dia menjulurkan tangan.Delvin segera menggenggamnya. Vanessa mencengkeram erat jari-jari Delvin. Suaran
Orang-orang ini mau memeras Delvin?Lorraine menggertakkan gigi. Kalau begitu, kenapa mereka tidak langsung menculik Delvin saja? Bukankah uang akan lebih cepat didapat?Pria tinggi itu mengeluarkan ponsel Lorraine dari sakunya. "Kata sandinya."Lorraine tidak menjawab.Pria itu lalu mengeluarkan sebilah pisau lipat dari saku. Dengan sekali tekan, bilah tajamnya terbuka dan memantulkan cahaya dingin. Ujung pisau itu menyentuh wajah Lorraine."Aku tanya kata sandinya."Lorraine refleks menengadahkan leher ke belakang, menghindari sensasi dingin dari mata pisau."123698."Pria tinggi itu berhasil membuka kunci ponsel. Dia mencari-cari cukup lama di daftar kontak hingga menemukan nama Delvin.Sebelum menelepon, dia berjongkok di depan Lorraine. Tatapannya dipenuhi nafsu menjijikkan."Kamu pasti paling mengenal suamimu. Menurutmu, berapa banyak uang yang sebaiknya kami minta darinya?"Lorraine terdiam sejenak. "Terserah."Dia berpikir, Delvin pasti sedang membutuhkan alasan untuk membawany
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan mengabarkan kepadanya bahwa proposal tender kembang apinya telah lolos.Tinggal 20 hari lagi menuju malam Imlek. Dia harus menyelesaikan produksi kembang api dan rancangan pertunjukan kembang api dalam waktu sepuluh hari. Sisa waktunya akan digunakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta stasiun televisi daerah untuk melakukan penyesuaian.Lorraine langsung menelepon Freddy, memintanya menunda proyek kembang api bertema permen terlebih dahulu dan fokus pada proyek kembang api malam pergantian tahun.....Lorraine awalnya mengira Delvin pasti akan terburu-buru mencari cara agar dirinya pulang. Toh tender proyek ekosistem digital ramah disabilitas sudah di depan mata.Namun tak disangka, sejak Delvin datang terakhir kali, sudah tiga hari berlalu tanpa ada pergerakan apa pun.Lorraine tidak tahu apa yang sedang direncanakan pria itu. Namun, dia justru senang dengan ketenangan itu.Makin Delvin tidak mencarinya, makin baik. Kalau bisa melewati masa ini
Lorraine tersenyum sambil melambaikan tangan. "Nggak usah. Taksi yang kupesan sebentar lagi sampai. Terima kasih, Pak Derby. Kalian duluan saja."Udara sangat dingin. Saat berbicara, napasnya langsung berubah menjadi kabut putih yang melayang di depan wajahnya, membuat wajah Lorraine yang cantik tampak sedikit samar.Gilga hanya bisa berkata, "Kalau begitu kami pergi dulu. Sampai jumpa, Bu Lorraine."Lorraine menjawab dengan ceria, "Sampai jumpa, Pak Derby. Sampai jumpa, Pak Gilga."Tak lama kemudian, taksi yang dipesannya tiba. Perjalanan menuju Aurora Studio berjalan lancar tanpa hambatan. Begitu turun dari mobil, dia melihat sebuah truk bak kecil tua terparkir di depan studio. Di bak belakangnya tersusun rapi lebih dari sepuluh kardus."Bu Lorraine!""Freddy!" Lorraine segera berjalan cepat menghampiri. "Kembang apinya sudah selesai?"Freddy mengangguk dengan penuh semangat dan mengajak Lorraine memeriksa barang. "Lihat sendiri. Bahannya aku beli sendiri, pekerjanya juga aku awasi s
Lorraine termangu mendengarnya.Roman menghela napas panjang. "Aku sayang Mama, tapi aku juga sayang Nenek Buyut. Sekarang aku juga mulai sayang Om Derby. Gimana dong? Aku selingkuh! Aku anak nakal sekarang."Hati Lorraine langsung terasa sesak. Perasaan getir memenuhi dadanya. Bukan karena sedih, melainkan karena kepolosan Roman membuat hatinya luluh.Sambil menggendong anak itu menuju kamar tamu, Lorraine berkata dengan lembut, "Sayang, itu beda. Mama sayang kamu, juga sayang Nenek Buyut, itu namanya kasih sayang keluarga. Kasih sayang keluarga bisa dikasih ke banyak orang.""Tapi cinta antara pria dan wanita hanya bisa dikasih ke satu orang. Om Delvin kasih cinta itu ke orang lain, itulah yang disebut selingkuh."Roman mengangguk seolah mengerti, meskipun sebenarnya belum sepenuhnya paham. Dia menggesekkan pipinya pelan ke pipi Lorraine. "Mama, aku akan cinta Mama selamanya."Lorraine meletakkan anak itu di atas tempat tidur. "Mama juga cinta kamu."Setelah berhasil menenangkan yang
Delvin mengernyit erat. Kalau hanya pendengaran Lorraine yang pulih, itu masih tidak masalah. Namun, kalau Lorraine sebenarnya sudah bisa mendengar tetapi pura-pura tidak bisa, situasinya jadi agak buruk.Vanessa mendongak. Dengan takut-takut, dia bertanya, "Apa Kak Lorraine sudah tahu hubungan kita
Lorraine menatapnya dengan bingung. "Aku nggak dengar kamu ngomong apa. Dasar orang gila, lepasin aku!"Vanessa terkekeh-kekeh. "Kak, tadi aku lihat sendiri waktu kamu angkat telepon di luar, kamu sama sekali nggak pakai alat bantu dengar. Masih pura-pura di depanku? Sebenarnya niat busuk apa yang k
Dia menyerahkan lembar evaluasi itu kepada dokter wanita itu. "Sudah selesai."Dokter wanita itu buru-buru berbalik, lalu keluar dari ruang kerja.Erick mengambil ponselnya dengan santai, lalu menelepon seseorang. "Pak Delvin, Bu Lorraine bawa anak itu ke tempatku untuk pemeriksaan sebelum operasi i
Lorraine menggigit bibirnya kuat-kuat, air mata langsung menitik. Dengan suara tercekat, dia bertanya, "Fotonya sudah terpampang jelas, gimana aku bisa percaya sama kamu?"Delvin menggigit bibir bawahnya. "Jangan nangis, kamu tahu sendiri aku bakal sedih lihat kamu begini. Owen barusan sudah menyeli







