LOGINArlan Pradipta, putra bungsu keluarga konglomerat Pradipta Group, terpaksa menerima pernikahan kontrak demi menutupi skandal yang mengancam keluarganya. Sementara itu, Tiara Aditama, gadis pemberontak yang muak dijadikan alat tawar-menawar, tak punya pilihan selain menerima kesepakatan yang sama. Dua tahun. Satu pernikahan. Tanpa cinta. Namun semakin lama mereka hidup di bawah satu atap, semakin banyak rahasia, luka masa lalu, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh mulai mengusik. Ketika kontrak itu berakhir, mampukah mereka benar-benar pergi tanpa membawa hati yang telah terlanjur jatuh?
View MoreCuaca Jakarta terasa terik saat konvoi SUV hitam berlogo Pradipta Group itu memasuki pelataran lobi sebuah gedung apartemen mewah di kawasan SCBD. Pintu belakang terbuka, menampilkan Arlan yang turun lebih dulu, diikuti oleh Tiara. Kedatangan mereka di penthouse lantai teratas itu tidak disambut dengan kehangatan. Ketegangan yang membeku sejak dari Temanggung masih tertinggal pekat di antara mereka. Arlan melepaskan jasnya dan menyerahkannya kepada seorang staf rumah tangga yang menunduk hormat. Pria itu sudah memegang tablet yang diserahkan oleh Dimas, bersiap untuk langsung menuju kantor pusat dan membereskan krisis perusahaan yang tertunda. Namun, sebelum melangkah menuju pintu utama, Arlan memutar tubuhnya. Ia menatap Tiara yang baru saja duduk di sofa ruang tengah. "Mulai hari ini, pengamanan di penthouse dilipatgandakan," ucap Arlan datar, memecah keheningan. "Gue udah perintahkan Dimas buat nutup semua akses kartu lift selain punya gue dan staf khusus." Tiara menghentikan
Ciuman itu terputus secara sepihak saat suara petir meledak brutal tepat di atas area perkebunan. Keduanya menarik diri dengan gerakan tiba-tiba. Napas Arlan dan Tiara sama-sama terengah-engah, memburu oksigen yang terasa menipis di dalam gubuk sempit tersebut. Tiara langsung memalingkan wajahnya. Gadis itu mengeratkan kemeja kebesaran milik Arlan di bahunya, menatap kosong ke arah luar gubuk yang masih diguyur hujan badai. Kepalanya berputar cepat, setengah mati berusaha menata kembali kewarasannya dan mengumpulkan sisa gengsi yang baru saja hancur berantakan di bawah kungkungan suaminya. Di sebelahnya, Arlan mengusap wajahnya yang basah dengan telapak tangan secara kasar. Pria itu menyadari sepenuhnya bahwa ia baru saja menyeberangi batas profesional pernikahan yang ia buat sendiri sejak awal mereka sepakat mengikat janji. Hening yang sangat canggung dan tegang menyelimuti keduanya. Hanya suara hujan yang mendominasi. Arlan menoleh, menatap profil samping istrinya. Pria itu baru
BAB 20 Puing-puing pagar besi yang bengkok dan sisa pembakaran di depan area perluasan pabrik itu masih mengeluarkan bau gosong yang menyengat. Beberapa garis polisi melintang di sekitar lokasi kejadian, membatasi akses bagi siapa pun yang tidak berkepentingan. Arlan berjalan pelan menyusuri titik pusat bentrokan yang menewaskan satu nyawa tadi malam. Wajah pria itu datar, tanpa emosi, layaknya seseorang yang sedang meninjau proyek konstruksi. Dimas dan dua orang tim legal Pradipta Group berjalan mengikuti di belakangnya. "Kerusakan infrastruktur tidak separah yang gue perkirakan," ucap Arlan memecah keheningan. "Tapi pemberhentian operasional sementara ini yang bakal menguras uang perusahaan miliaran per hari." "Betul, Pak," timpal salah satu staf legal dengan cepat. "Tim kami sudah menyusun draf laporan untuk kepolisian pusat. Sesuai instruksi Bapak semalam, seluruh tanggung jawab atas insiden kekerasan fisik ini dialihkan ke perusahaan penyedia preman outsourcing. Kontrak m
Keesokan paginya, sarapan di teras belakang villa berlangsung singkat. Reynald meletakkan serbet ke atas meja, lalu menatap adiknya yang duduk berseberangan. "Acara semalam emang berantakan banget," ucap Reynald santai, memecah keheningan sarapan pagi itu. "Sampah-sampah di bawah udah lo suruh orang bersihin? Gue nggak mau lihat ada sisa kotoran pas turun nanti." Arlan menyesap kopi hitamnya dengan wajah datar. "Udah diberesin Dimas subuh tadi. Nggak ada jejak apa pun yang tersisa di area ini." Di ujung meja, Tiara meletakkan garpunya dengan anggun. Gadis itu membuka tas selempang kecil di pangkuannya. Ia mengeluarkan sebungkus rokok kretek ramping—salah satu lini premium khusus ekspor dari pabrik Pradipta—beserta sebuah pemantik emas. Cetrek. Ujung rokok menyala. Tiara menghembuskan asap tipis ke udara dengan gaya yang sangat natural. Reynald menatap Tiara, sedikit terkejut, namun sedetik kemudian pria itu tertawa kecil. "Gue lupa kalau putri tunggal keluarga Aditama punya cara
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.