Share

Bab 13

Author: Emily Hadid
Sambil menerima hadiah dari Renata, Jonas tersenyum dan berkata, "Terima kasih sudah mau datang. Lain kali nggak usah repot-repot bawa hadiah lagi."

Setelah menyapa Renata, Jonas menoleh dengan senyuman ramah dan menyapa Clara, "Clara."

Clara tersenyum lembut sambil menyerahkan hadiah di tangannya. "Selamat ulang tahun, Jonas."

Wajah Clara cantik. Sosoknya berwibawa, tetapi tetap lembut. Nada bicaranya tenang dan sopan, suaranya halus, membuat orang yang mendengarnya merasa nyaman.

Suara Jonas pun ikut melunak. "Terima kasih, Clara. Duduklah dulu, lihat menu apa yang kamu suka. Kamu sama Renata pesan saja langsung."

"Oke." Setelah mengiakan, Clara mengamati tempat duduk di ruang VIP. Di sebelah kanan Rendra masih kosong dan di sisi kirinya duduk Wilona, gadis yang katanya bisa membawa harta sesan besar saat menikah.

Clara segera mengalihkan pandangan. Dia tidak mungkin mencari masalah dengan sengaja duduk di sebelah Rendra. Lagi pula, sejak dia masuk ruangan, Rendra bahkan tidak meliha
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 176

    Pertanyaan Rendra itu membuat sikap Clara tidak lagi setajam tadi. Dia berbicara dengan pelan dan tenang, "Kedua orang tuamu sudah tahu soal ini. Kakek dan yang lain juga nggak menentang, jadi sebaiknya segera diurus."Suara Clara terdengar sangat enak didengar. Bahkan saat marah pun, orang sulit benar-benar kesal padanya.Mendengar kata-katanya, Rendra terus mengacak rambutnya dan tertawa ringan. "Orang tuaku?"Setelah tertawa, dia tidak mempermasalahkan kata-kata Clara, hanya bertanya dengan nada tidak terlalu peduli, "Bukankah kita sudah sepakat menunggu perjanjian dari bagian hukum?"Begitu Rendra selesai berbicara, ponsel yang diletakkannya di atas lemari berbunyi. Dia berbalik, mengambil ponsel itu. Telepon dari Caroline.Rendra pun melempar handuk pengering rambut ke lemari di samping, lalu berdiri di dekat jendela besar untuk menerima panggilan.Jubah tidur abu-abu melekat di tubuhnya, ikat pinggangnya diikat secara asal, bagian leher terbuka begitu saja, memperlihatkan otot ya

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 175

    Clara menatap Caroline tanpa bergerak cukup lama. Setelah itu, dia baru membuka mulut dan berkata, "Caroline, teknologi paten itu adalah proyek yang sedang diteliti StarTech. Jangan bilang produknya belum keluar, sekalipun nanti sudah dipasarkan, aku juga nggak mungkin menjelaskan detail teknisnya kepadamu. Itu merugikan kepentingan StarTech."Saat menatap Caroline secara langsung, Clara benar-benar merasa tidak masuk akal.Bagaimana Caroline bisa menanyakan hal yang sangat rahasia seperti itu kepadanya begitu saja?Mendengar penolakan itu, Caroline tidak marah. Dia tetap tersenyum dan berkata, "Clara, biaya patenmu 'kan sudah kamu terima. Jangan terlalu kaku begitu. Aku cuma ingin belajar sedikit saja. Kalau begitu aku juga bisa bayar biaya paten ke kamu, gimana? Anggap saja ini pertukaran pribadi antar teman."Dalam ingatan Caroline, Clara selalu penurut dan lembut. Selama ini, apa pun yang diminta dirinya dan Rendra, Clara akan melakukannya tanpa banyak bicara. Bahkan malam itu di h

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 174

    Clara berdiri di jarak yang sangat dekat dan menatap lurus ke mata Rendra. Dia tidak bergerak sedikit pun, lalu berkata dengan tenang kepadanya, "Kamu investasikan saja."Kata yang diucapkan Clara dengan enteng itu membuat Rendra kesal sekaligus geli. Akhirnya, dia mengambil botol obat dari tangan Clara dan meletakkannya ke samping, lalu menahan bagian belakang kepala Clara dan mencium bibirnya.Hati Clara menegang. Kedua tangannya menekan dada Rendra dan hendak mendorongnya menjauh, tetapi Rendra membalikkan tubuh dan memeluknya erat.Rambut berantakan menutupi wajahnya, kedua pergelangan tangan Clara ditahan. Dengan mata terbuka, dia menatap Rendra dan berkata, "Rendra, aku nggak suka cara membahas urusan seperti ini."Rendra tidak bangkit dari atasnya. Dia hanya menatap mata Clara dan berkata dengan suara rendah, "Segitu enggannya kamu menjalani hidup denganku?"Mendengar pertanyaan itu, Clara memalingkan wajah dan tidak menjawab. Sikapnya selalu jelas. Melihat Clara tetap diam, Ren

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 173

    "Lagian, adegan dia kemarin itu jelas-jelas trik pura-pura sengsara. Jelas sekali dia nggak mau cerai."Clara yang berjalan di samping Renata, tersenyum dan berkata, "Kalau memang nggak mau cerai, itu juga karena aku ini orangnya penurut dan mudah dimanfaatkan. Jonas sendiri sudah bilang, kalau saat ini adalah 200 tahun yan glalu, aku sudah bisa dijadikan tugu peringatan."Renata berkata, "Menurutku, kakakku sekarang sudah mulai peduli sama kamu. Kamu bisa manfaatkan ini buat ngajuin syarat ke dia. Misalnya soal kerja sama dengan Grandis, kamu minta dia jangan ikut campur. Kamu harus mikirin kepentinganmu sendiri, jangan terlalu polos.""Kalau nggak, semua keuntungan itu jatuh ke tangan perempuan lain."Saran Renata hanya dibalas Clara dengan senyum tanpa berkata apa-apa.Tak lama kemudian, mereka sampai kembali di vila. Rendra sudah tidak ada di ruang tamu. Clara masuk ke kamar tidur. Rendra ada di sana dan sedang berdiri di dekat lemari sambil memegang gelas air untuk minum obat.Dok

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 172

    Clara memang tidak pernah berpikir bisa mengubah keputusan Rendra. Dia hanya ingin memastikan apakah Rendra akan ikut bekerja sama atau tidak.Ke depannya, dia juga tidak bisa lagi bicara dengan bebas saat bersama Rendra. Tidak bisa lagi membahas terlalu banyak hal profesional dengannya, apalagi melaporkan terlalu banyak urusan pekerjaan. Meski Rendra adalah investor proyek dan pemilik modal.Pertanyaan Clara tentang pekerjaan itu membuat Rendra meliriknya sekilas. Dengan nada tenang, dia menjawab, "Masih belum ditentukan, masih dalam tahap pertimbangan."Mendengar jawaban itu, Clara hanya menanggapi datar, "Oh."Rendra sempat mengira Clara akan melanjutkan pembicaraan, mungkin mengingatkannya soal posisinya sebagai investor StarTech. Namun, ternyata Clara tidak lagi menatapnya dan tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menunduk dan makan dengan tenang.Rendra menatapnya cukup lama. Hingga ponsel yang terletak di samping laptopnya berdering, barulah dia tersadar, lalu bangkit mengambil po

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 171

    Alain berkata, "Sudah dioperasi minggu lalu. Sekarang masuk tahap pemulihan. Setiap hari dia mengeluh bosan, nggak ada yang temani bermain."Mendengarnya, Clara tersenyum dan berkata, "Kalau aku ada waktu, boleh aku menjenguk Aliyah?"Alain menjawab, "Tentu saja boleh. Kalau kamu datang, Aliyah pasti akan lebih senang."Setelah itu, mobil berhenti di area parkir terbuka di depan gedung perkantoran. Keduanya turun dan kembali ke kantor. Alain melanjutkan menggambar desain baru, sementara Clara sibuk mengerjakan urusannya sendiri di kantor.Menjelang pukul tujuh malam, pekerjaan Clara lebih dulu selesai. Dia berpamitan pada Alain lalu pulang lebih awal. Dua kali makan hari itu hanya sekadar mengganjal perut. Sekarang dia benar-benar lapar.Di perjalanan pulang, Renata meneleponnya untuk menanyakan apakah dia sudah makan dan kapan akan kembali.Clara mengatakan dia sedang dalam perjalanan pulang. Renata berkata akan menunggunya, lalu nada bicaranya berubah dan dia menambahkan, "Oh iya, Ca

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status