Share

Bab 24

Penulis: Emily Hadid
Begitu Renata selesai bicara, Rendra yang sejak tadi tidak ikut dalam pembicaraan akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Dia berhenti makan dan mengangkat kepalanya, lalu menatap Renata sambil bertanya, "Renata, kamu dengar sendiri apa yang baru saja kamu ucapkan?"

Renata menatap balik tanpa takut dan membalas dengan nada sinis, "Aku bilang apa? Memangnya apa yang aku katakan lebih parah dari hal-hal yang sudah kamu lakukan, Kak?"

Lagi pula, siapa yang setiap saat membuat Clara harus menutupi aibnya dan membereskan urusan wanita lain? Tak ada yang lebih keterlaluan dari Rendra.

Mendengar hal itu, Rendra mendadak membanting sendoknya ke meja dengan suara keras dan matanya mendelik marah. "Kamu suruh Kak Rendy ambil barang yang nggak kuinginkan?"

"Barang?"

Begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, ruang makan seketika menjadi sunyi senyap. Bahkan Renata yang biasanya paling berisik pun langsung terdiam.

Delapan pasang mata di meja makan serentak menatap ke arah Rendra. Tatapan mereka pe
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Rina Dwi
kenapa ga ngomong aja "krn rendra ga mengingin barang trsbt, bisa dong cerai..?" buat apa bertahan dgn suami yg anggap istrinya hanya sebuah barang yg tdk diinginkannya.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 180

    Belasan foto berturut-turut, semuanya adalah foto Clara menemani Alain dan putrinya makan kentang goreng dan hamburger.Di foto-foto itu, Clara tersenyum lembut. Dia bukan hanya merawat Aliyah dengan penuh perhatian, Aliyah juga sesekali menyuapi Clara dan Alain, sementara Alain pun sangat memperhatikan Clara.Orang yang tidak tahu pasti akan mengira mereka adalah keluarga.Menyusuri foto-foto itu satu per satu, semakin bahagia senyuman Clara, wajah Rendra justru semakin muram.Di sampingnya, melihat wajah Rendra menggelap, Caroline segera meletakkan sendok di tangannya, menoleh ke arahnya sambil bertanya dengan suara lembut, "Rendra, ada apa?"Rendra keluar dari WhatsApp, meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Wajahnya datar saat menyahut, "Nggak ada apa-apa."Melihat itu, Caroline segera tersenyum sambil menyendokkan makanan untuk Rendra. "Kamu tadi juga nggak makan banyak. Makan lagi sedikit ya."Menghadapi kelembutan Caroline, yang terlintas di benak Rendra justru adalah gambar

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 179

    Setibanya di restoran hamburger, mereka memilih meja di dekat jendela. Clara dan Aliyah duduk di sofa panjang, sementara Alain duduk sendiri di seberang mereka.Karena akhirnya bisa keluar sebentar, Aliyah senang bukan main. Dia makan hamburger dan kentang goreng dengan wajah berseri-seri, sesekali bahkan menyuapi kentang goreng kepada Clara dan Alain.Clara juga merawatnya dengan sangat telaten, membantu menyelipkan tisu di bagian kerah bajunya. Ketika mulut serta tangannya kotor, dia segera mengelap hingga bersih.Sambil menjaga Aliyah, Clara teringat pada ibunya. Teringat pada sedikit kasih sayang seorang ibu yang dia miliki.Jika ibunya bisa menemaninya lebih lama, masa kecilnya pasti akan jauh lebih bahagia. Jika pernikahannya dengan Rendra berjalan normal, mungkin sekarang dia juga sudah menjadi seorang ibu.Setelah makan siang, mereka mengantar Aliyah kembali ke rumah sakit. Setelah menenangkan Aliyah hingga tertidur, Alain mengantar Clara kembali ke kantor.Sambil menggenggam s

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 178

    Hari-hari Clara kembali seperti dulu, kembali menjalani kehidupan sebagai seorang lajang.Saat akhir pekan tiba, dia mengajak Renata menemaninya melihat-lihat rumah. Rumah-rumah yang mereka lihat kali ini pun lebih bagus dibanding yang sebelumnya.Soal membeli yang mana, mereka masih mendiskusikannya.....Pagi itu, baru saja Clara selesai rapat dengan Hans serta yang lainnya dan kembali ke kantor, berita di internet sudah dipenuhi kabar tentang Grup Nexus yang berhasil mengakuisisi Windsurf.Di berita, Caroline mengenakan atasan putih dan celana hitam, setelan kerja rapi, mewakili Grup Nexus dalam penandatanganan akuisisi tersebut.Dalam konferensi pers penandatanganan, Caroline tampak berseri-seri dan penuh semangat. Di antara sekian banyak pria, dia bersinar terang seperti mutiara bercahaya di malam hari.Banyak pria di lokasi yang memandangnya dengan tatapan penuh perasaan, sarat dengan kekaguman dan ketertarikan.Perempuan seunggul itu, dengan latar keluarga sebaik itu, siapa pun

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 177

    "Apa kalian semua menganggapku bodoh atau merasa aku nggak punya orang tua jadi mudah ditindas?"Mendengar kalimat Clara, Rendra segera menjawab, "Nggak ada yang menganggap begitu."Sikap bercandanya mendadak menghilang. Rendra menjawab pertanyaannya dengan sangat serius. Untuk sesaat, Clara dibuat bingung olehnya, tidak tahu harus berkata apa.Provokasi Caroline yang terjadi berulang kali memang membuatnya kesal hari ini. Awalnya dia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk benar-benar meluapkan emosi pada Rendra, bertengkar dengannya, melampiaskan semua perasaan tertekan yang dia pendam selama bertahun-tahun.Namun hari ini, Rendra tidak menanggapi sama sekali. Clara diam menatap Rendra cukup lama, lalu memalingkan wajah dan menoleh ke samping, tidak lagi menatapnya.Rendra menatap wajah samping Clara. Garis wajah dan rautnya terlihat tegas dan indah. Hidungnya mancung. Bibir, dagu, alis, serta matanya, semuanya tampak elok. Clara tetap diam, tidak menatapnya.Baru saja Clara menyingg

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 176

    Pertanyaan Rendra itu membuat sikap Clara tidak lagi setajam tadi. Dia berbicara dengan pelan dan tenang, "Kedua orang tuamu sudah tahu soal ini. Kakek dan yang lain juga nggak menentang, jadi sebaiknya segera diurus."Suara Clara terdengar sangat enak didengar. Bahkan saat marah pun, orang sulit benar-benar kesal padanya.Mendengar kata-katanya, Rendra terus mengacak rambutnya dan tertawa ringan. "Orang tuaku?"Setelah tertawa, dia tidak mempermasalahkan kata-kata Clara, hanya bertanya dengan nada tidak terlalu peduli, "Bukankah kita sudah sepakat menunggu perjanjian dari bagian hukum?"Begitu Rendra selesai berbicara, ponsel yang diletakkannya di atas lemari berbunyi. Dia berbalik, mengambil ponsel itu. Telepon dari Caroline.Rendra pun melempar handuk pengering rambut ke lemari di samping, lalu berdiri di dekat jendela besar untuk menerima panggilan.Jubah tidur abu-abu melekat di tubuhnya, ikat pinggangnya diikat secara asal, bagian leher terbuka begitu saja, memperlihatkan otot ya

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 175

    Clara menatap Caroline tanpa bergerak cukup lama. Setelah itu, dia baru membuka mulut dan berkata, "Caroline, teknologi paten itu adalah proyek yang sedang diteliti StarTech. Jangan bilang produknya belum keluar, sekalipun nanti sudah dipasarkan, aku juga nggak mungkin menjelaskan detail teknisnya kepadamu. Itu merugikan kepentingan StarTech."Saat menatap Caroline secara langsung, Clara benar-benar merasa tidak masuk akal.Bagaimana Caroline bisa menanyakan hal yang sangat rahasia seperti itu kepadanya begitu saja?Mendengar penolakan itu, Caroline tidak marah. Dia tetap tersenyum dan berkata, "Clara, biaya patenmu 'kan sudah kamu terima. Jangan terlalu kaku begitu. Aku cuma ingin belajar sedikit saja. Kalau begitu aku juga bisa bayar biaya paten ke kamu, gimana? Anggap saja ini pertukaran pribadi antar teman."Dalam ingatan Caroline, Clara selalu penurut dan lembut. Selama ini, apa pun yang diminta dirinya dan Rendra, Clara akan melakukannya tanpa banyak bicara. Bahkan malam itu di h

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status