Share

12 Bela

Penulis: Lusiana
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-18 10:30:35

Wanita itu akhirnya berhenti beberapa langkah dari mereka. Napasnya terengah-engah, rambut basah menempel di wajahnya. Payung di tangannya nyaris patah diterpa angin, tetapi matanya hanya tertuju pada satu orang.

“Mas Bara…” Suaranya bergetar, seakan tertahan oleh sesuatu yang jauh lebih berat daripada hujan deras.

Aisyah merasakan dada kirinya mencubit. Ia mengenali suara itu. Suara yang dulu hanya didengarnya dari jarak aman bukan dari tempat seperti ini,bukan dari jarak yang begitu dekat hingga udara di antara mereka terasa menegang.

Dan ini kali pertamanya Aisyah bertemu dengan Bela.

Bara terdiam kaku. Rahangnya mengeras, tetapi sorot matanya tak bisa menyembunyikan keterkejutan yang begitu jelas.

“Bela?” Dokter Aldi bergumam pelan, seolah memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.

Wanita itu,Bela,mengangguk perlahan. Pandangannya bergerak cepat, bergantian menatap Aisyah dan Arka. Ada sesuatu di matanya bukan iba… bukan kemarahan… namun sesuatu yang membuat udara seke
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pernikahan Penuh Luka   114.Bertemu Ayah 1

    **** Di rumah, Bela tampak bermalas-malasan ketika aku pulang dari kantor. Pintu kubuka pelan, berharap entah kenapa ada suara langkah atau sapaan kecil yang menyambutku. Namun yang kudapat hanya keheningan. Bela duduk di kursi ruang tengah, tubuhnya bersandar malas, matanya terpaku pada layar ponsel seolah dunia di sekitarnya tak ada. Aku melangkah masuk, meletakkan tas kerja di atas meja. Bela bahkan tidak melirik. “Kamu lagi apa, sayang?” tanyaku, berusaha terdengar santai meski lelah seharian masih menggantung di bahuku. Aku berdiri tepat di depannya. Bela akhirnya mengangkat wajah, tapi hanya sepersekian detik sebelum kembali fokus pada ponselnya. “Nggak ada,” jawabnya datar. “Lagi lihat-lihat baju bayi.” Itu saja. Tidak ada pertanyaan balik. Tidak ada, ‘Capek?’ atau ‘Gimana kerjaan hari ini?’ Nada suaranya cuek, seolah aku hanya lewat seperti bayangan. “Oh…” gumamku singkat. Aku menunggu. Mungkin dia akan menanyakan kegiatanku hari ini. Mungkin dia akan bangkit,

  • Pernikahan Penuh Luka   113.Perpisahan

    Aku menghela napas pelan. Warung kecil ini akhirnya kembali lengang. Bau masakan yang sejak pagi menempel di udara masih terasa, bercampur dengan aroma teh hangat yang mengepul samar. Tanganku terasa pegal, tapi hatiku sedikit lebih ringan. Setidaknya hari ini kami bisa makan dengan layak. Aku melirik ke arah meja sudut. Arka duduk manis di kursinya, kaki kecilnya menggantung, sementara Dokter Aldi duduk di seberangnya. Piring makan dokter Aldi sudah kosong, hanya tersisa teh hangat di gelasnya yang tinggal separuh. Arka tampak sibuk memainkan sendok, sesekali menoleh ke arahku dengan senyum kecil yang selalu berhasil menguatkanku. Aku melangkah mendekat dan tersenyum sopan. “Dokter Aldi mau nambah?” tanyaku ringan. Dokter Aldi mendongak, sedikit terkejut, lalu menggeleng sambil tersenyum tipis. “Sudah kenyang, Syah. Masakanmu memang selalu bikin susah berhenti, tapi kalau nambah nanti aku nggak bisa berdiri,” candanya. Aku tertawa kecil, lalu menarik kursi dan duduk di se

  • Pernikahan Penuh Luka   112.Harapan Yang Tumbuh

    Aroma tumisan bawang merah dan bawang putih masih menggantung di udara ketika Aisyah akhirnya meletakkan sendok kayu di atas meja dapur. Jam di dinding sudah menunjukkan lewat dari waktu subuh, dan lengannya terasa pegal setelah berkutat berjam-jam di dapur sempit kontrakan itu. Namun, rasa lelahnya sedikit terbayar ketika ia menatap deretan panci berisi masakan yang sudah matang tongkol balado yang mengilap, sayur lodeh hangat, dan nasi putih yang mengepul perlahan. Ia menghela napas panjang, lalu tersenyum kecil. “Alhamdulillah… selesai juga,semoga hari ini jualanku laris manis,tekadku sudah bulat,” gumamnya lirih, seolah berbicara pada dirinya sendiri. Tanpa menunda waktu, Aisyah segera mengangkat satu per satu panci ke warung kecil di depan kontrakan. Warung itu tak besar, hanya berupa etalase sederhana dengan meja panjang dan beberapa kursi plastik. Namun letaknya sangat strategis tepat di pinggir jalan yang ramai, tak jauh dari deretan kantor. Setiap pagi, orang-orang berl

  • Pernikahan Penuh Luka   111.Kembali Menata Hidup

    **** Di tempat lain, Aisyah mulai menata hidupnya kembali perlahan, rapuh, namun penuh tekad bersama Arka, satu-satunya alasan ia masih bertahan. Rumah kecil yang kini mereka tempati tak megah, dindingnya polos dan perabotannya sederhana. Namun bagi Aisyah, tempat itu adalah ruang aman. Di sanalah ia dan Arka belajar hidup tanpa luka yang terus diungkit, tanpa bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan. Aisyah duduk di lantai beralaskan tikar tipis, menghitung sisa bahan jualan yang ia beli sore tadi. Wajahnya terlihat lelah, matanya sembap, tetapi sorotnya tak lagi kosong. Arka duduk di sampingnya, memeluk boneka lusuh kesayangannya, menatap ibunya dengan mata polos yang membuat dada Aisyah sering kali terasa sesak. “Nak,” panggil Aisyah lembut, menghentikan hitungannya. Ia menoleh pada Arka dan tersenyum tipis. “Besok kita bisa jualan makanan di warung depan. Arka temani Ibu, ya?” Arka mengangkat wajahnya, lalu mengangguk pelan. Senyum kecil mengembang di bibirnya, senyum yang

  • Pernikahan Penuh Luka   110.Mencari Aisyah 2

    Setelah berkeliling hampir ke seluruh sudut kota, mencari Aisyah dengan sisa harapan yang terus menipis, aku akhirnya menyerah. Tidak ada jejaknya. Tidak ada bayangannya. Seakan perempuan itu benar-benar menghilang dari hidupku, pergi membawa luka yang tak sempat kuobati. Aku menghentikan mobil di pinggir jalan sejenak. Menunduk, menahan napas yang terasa berat di dada. Kepalaku penuh oleh satu pertanyaan yang terus berputar: ke mana Aisyah pergi? Tapi kota ini terlalu luas, dan aku terlalu terlambat menyadari betapa pentingnya dia. Akhirnya, aku memutuskan untuk pulang. Di dalam mobil yang melaju pelan meninggalkan pusat kota, aku melirik ponselku. Layarnya menyala menampilkan puluhan pesan masuk. Semua dari Bela. Pesan-pesan yang saling menyusul, bernada cemas, marah, sekaligus menuntut. Mas, kamu di mana? Kenapa belum pulang? Ini sudah malam. Kamu sama siapa? Mas, jawab aku! Aku menghela napas panjang lalu mematikan layar ponsel tanpa membalas satu pun pesannya. T

  • Pernikahan Penuh Luka   109.Mencari Aisyah 1

    Malam terasa semakin pekat saat aku keluar dari rumah orang tuaku. Langkah kakiku gontai, seolah seluruh tubuh kehilangan tenaga. Kata-kata ayah masih terngiang jelas di kepalaku, berulang tanpa ampun. Itu kezaliman, Bara. Aku masuk ke mobil, menutup pintu dengan keras. Tanganku gemetar saat menggenggam setir. Napasku memburu, dadaku sesak seperti dihimpit beban yang terlalu berat. “Aisyah…” gumamku lirih. Aku menyalakan mesin dan melajukan mobil tanpa tujuan pasti. Jalanan kota tampak lengang, namun pikiranku penuh sesak. Aku menelpon nomor Aisyah berkali-kali. Tidak aktif. Pesan-pesanku hanya berderet centang satu. Ke mana kamu pergi? Aku berhenti di pinggir jalan, memukul setir dengan frustasi. “Sial!” teriakku, suaraku pecah. Bayangan wajah Aisyah saat aku mengusirnya kembali terlintas. Tatapannya waktu itu bukan marah, melainkan kecewa kecewa yang dalam dan dingin. “Aku cuma lagi emosi,” kataku pada diriku sendiri, tapi suara itu terdengar kosong. Tidak ada pemb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status