Chapter: 192.Riuh di Lobi*** Pagi itu sebenarnya berjalan biasa. Aku datang lebih awal ke kantor, menyelesaikan beberapa berkas sebelum rapat mingguan. Kepalaku masih dipenuhi percakapan semalam dengan Aisyah. Pelan-pelan. Kata itu terus terngiang. Aku sedang menuang kopi ketika ponselku bergetar. Pesan dari Aisyah. Jangan lupa makan siang. Aku tersenyum kecil. Siap, partner. Baru saja aku duduk, suara gaduh terdengar dari luar ruanganku. Awalnya samar seperti bisik-bisik yang berubah jadi riuh. Lalu terdengar suara perempuan yang sangat kukenal. “Kalian semua harus tahu! Saya istrinya Bara!” Tanganku membeku. Tidak mungkin. Aku berdiri cepat dan membuka pintu ruang kerja. Di lobi kantor, Bela berdiri dengan bayi dalam gendongannya. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya memerah seperti habis menangis. Beberapa karyawan menatap dengan ekspresi campur aduk kaget, penasaran, sebagian jelas menikmati drama. “Bela?” suaraku rendah, menahan emosi. “Kamu ngapain di sini?” Ia langsung menoleh pada
Last Updated: 2026-02-16
Chapter: 191.Pelan-Pelan, Tapi Bersama**** Pagi itu datang tanpa drama. Aku bangun lebih dulu dari biasanya. Cahaya matahari menyusup lewat celah tirai, menyentuh wajah Arka yang masih terlelap di tengah kasurnya. Bara masih tertidur di sisi lain, napasnya teratur. Aku memperhatikannya beberapa detik. Dulu, melihatnya tidur seperti itu terasa biasa saja. Sekarang, ada perasaan lain bukan cinta yang meledak-ledak, tapi sesuatu yang lebih tenang. Seperti keputusan yang diulang setiap hari. Bara bergerak pelan, lalu membuka mata. “Kamu ngapain lihat-lihat aku begitu?” suaranya serak. “Aku lagi memastikan.” “Memastikan apa?” Ia menyipitkan mata. “Masih orang yang sama nggak.” Ia tersenyum kecil. “Dan?” “Masih. Cuma versi lebih sadar dosa.” Bara tertawa pelan. “Itu kemajuan.” Aku bangkit dari kasur. “Bangun. Kamu janji mau bikin sarapan.” Ia langsung duduk. “Serius kamu ingat?” “Janji investasi kepercayaan, kan?” Ia mengangkat kedua tangan. “Baik, Bu Direktur Kepercayaan.” Di dapur, Bara terlihat terlalu seriu
Last Updated: 2026-02-16
Chapter: 190.Rumah yang Dipilih*** Aku selalu percaya satu hal luka tidak hilang hanya karena seseorang berjanji. Luka butuh waktu. Butuh bukti. Mobil berhenti di depan rumah. Bara mematikan mesin, tapi tidak langsung turun. Arka sudah lebih dulu membuka pintu belakang. “Ayah cepet, nanti Arka yang buka pintu!” serunya semangat. Aku tersenyum tipis. Bara menoleh padaku. “Kamu capek?” “Enggak,” jawabku pelan. “Cuma banyak yang dipikirin.” Ia mengangguk. “Tentang tadi?” Aku menghela napas. “Tentang semuanya.” Kami turun bersama. Arka sudah berdiri di depan pintu, menunggu dengan ekspresi serius. “Ayah, sekarang kita beneran nggak berantem lagi kan?” tanyanya polos. Bara berlutut di depannya. “Ayah sama Ibu nggak berantem.” “Terus kemarin-kemarin itu apa?” Aku dan Bara saling pandang. “Itu… belajar,” jawabku akhirnya. “Belajar apa?” “Belajar supaya jadi keluarga yang lebih baik,” kata Bara lembut. Arka mengangguk seperti orang dewasa kecil. “Oh. Kalau gitu Arka juga mau belajar.” Bara tertawa pelan.
Last Updated: 2026-02-16
Chapter: 189.Janji di Atas Tanah Sunyi**** “Aku marah,” katanya jujur. “Tapi bukan ke kamu.” Aku terdiam. “Lalu ke siapa?” “Ke keadaan. Ke masa lalu yang nggak pernah benar-benar selesai,” jawab Aisyah pelan. “Dan mungkin… ke diriku sendiri yang masih harus belajar percaya lagi.” Aku berdiri di depannya, tak berani menyentuhnya dulu. “Aku nggak akan lari lagi.” Ia menatapku lama. “Aku nggak butuh kamu sempurna, Mas. Aku cuma butuh kamu konsisten.” Ketukan pelan terdengar di pintu kamar. “Iya, Bu,” jawab Aisyah. Pintu terbuka, dan Ibu masuk lebih dulu. Di belakangnya, Ayah duduk di kursi roda, tangannya bertumpu di sandaran. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam seperti biasa. “Ayah mau bicara sebentar,” katanya pelan. Aku langsung mendekat dan membantu mendorong kursi roda beliau sedikit masuk ke dalam kamar. Ibu duduk di sisi ranjang. “Besok pagi Ibu dan Ayah mau pulang.” “Cepat sekali, Bu?” tanyaku. Ayah tersenyum tipis. “Rumah juga harus ditengok. Lagipula… rasanya kalian butuh ruang tanpa
Last Updated: 2026-02-15
Chapter: 188.Ketukan yang Menguji**** Hari ketiga di rumah itu berjalan lebih tenang dari yang kuduga. Ibu masih menjaga jarak, tapi tidak lagi melempar kalimat setajam hari pertama. Ayah beberapa kali mengajak Arka bermain di ruang tengah. Aisyah mulai menata dapur kecil di lantai dua, membuat ruang itu terasa lebih hidup. Malam itu, untuk pertama kalinya kami makan bersama tanpa suasana terlalu kaku. Ibu bahkan memasak sayur kesukaan Ayah. “Aisyah, tambahkan sambalnya sedikit,” kata Ibu tiba-tiba. Aisyah menoleh, sedikit terkejut. “Baik, Bu.” Aku menangkap sorot mata istriku. Ada harapan kecil yang tumbuh. Arka berceloteh tanpa henti. “Ayah tadi ajarin aku naik sepeda kecil di halaman! Aku hampir nggak jatuh!” “Hampir?” aku mengangkat alis. “Sedikit aja,” bantahnya cepat. Ayah tertawa pelan. Ibu menggeleng tipis. Untuk beberapa menit, suasana itu terasa… normal. Lalu. Tok. Tok. Tok. Ketukan di pintu depan terdengar keras. Terlalu keras untuk jam segini. Ibu menoleh ke arah pintu.
Last Updated: 2026-02-14
Chapter: 187.Di Balik Pintu yang Sama**** Pagi kepindahan itu datang terlalu cepat. Aku terbangun sebelum alarm berbunyi. Aisyah masih tertidur di sampingku, Arka meringkuk di antara kami seperti pagar kecil yang hangat. Untuk beberapa detik, aku hanya menatap mereka. Ini alasanku. Bukan rumah. Bukan gengsi. Bukan pembuktian pada Mama. Mereka. “Ayah…” gumam Arka setengah sadar. Aku tersenyum dan mengusap rambutnya. “Iya, jagoan.” Aisyah membuka mata perlahan. “Sudah pagi?” “Iya.” Aku bangkit. “Kita mulai beres-beres.” Ia duduk, menatap sekeliling kontrakan kecil itu. Tempat yang jadi saksi kami belajar bertahan tanpa campur tangan siapa pun. Tempat yang sempit, tapi hangat. “Kamu yakin?” tanyanya lagi, entah untuk keberapa kali. Aku mendekat, mengecup keningnya. “Aku lebih takut kehilangan kamu lagi daripada menghadapi Mama.” Ia terdiam. Lalu mengangguk pelan. **** Menjelang siang, mobil pick-up sewaan sudah terisi kardus dan koper. Tidak banyak. Hidup kami memang tidak pernah penuh barang. Y
Last Updated: 2026-02-14

Mengejar Cinta Dosen Killer
Aku, Amara, gadis 20 tahun yang selalu berusaha hidup lurus-lurus saja, tidak pernah menyangka hidupku berubah hanya karena satu taruhan konyol dengan temanku. Awalnya semua hanya iseng tantangan bodoh untuk membuat Pak Rasel, dosen paling killer di kampus, setidaknya menoleh ke arahku.
Siapa sangka? Taruhan itu justru menyeretku pada perasaan yang tidak pernah kuterima sebelumnya.
Pak Rasel dikenal tegas, dingin, dan tak pernah menunjukkan sedikit pun sisi baiknya di depan mahasiswa. Tatapannya tajam seperti ingin menembus siapa pun yang berani membuat kesalahan. Dia bukan tipe laki-laki yang seharusnya kusukai. Bahkan dia tidak akan pernah membayangkan dirinya dijadikan bahan taruhan oleh mahasiswi nakal sepertiku.
Tapi semakin aku mencoba memenangkan taruhan itu, semakin aku gagal menjaga jarak. Ada sesuatu dalam dirinya entah dari caranya berbicara, atau cara dia mengarahkan pandangannya yang perlahan membuatku jatuh.
Dan tanpa kusadari… aku benar-benar menyukainya. Bukan lagi karena taruhan, tapi karena perasaan yang tumbuh diam-diam di antara tugas, tatapan, dan jarak yang seharusnya tak boleh kulanggar.
Read
Chapter: 85.Jarak yang Menggema**** Balasan revisi itu masuk keesokan paginya. Pukul 08.17. Aku sedang duduk di bangku taman depan fakultas ketika notifikasi itu muncul. Hera dan Dania belum datang. Suasana masih setengah sepi. Kubuka emailnya. File revisi terlampir. Komentarnya rapi. Objektif. Detail. Profesional. Aku membaca setiap catatan dengan pelan. Tidak ada kalimat personal. Tidak ada tambahan di luar konteks akademik. Bahkan tanda baca terasa lebih tegas. Di salah satu paragraf ia menulis: Argumentasi sudah kuat. Pertahankan struktur ini. Sederhana. Tapi entah kenapa, kalimat itu terasa seperti sesuatu yang ditahan. Aku menghembuskan napas panjang. Baik. Kalau ini format barunya, aku bisa menyesuaikan. Hera datang lima menit kemudian, langsung duduk di sampingku. “Update?” Aku menyerahkan ponsel tanpa bicara. Ia membaca cepat, lalu mengangkat alis. “Formal banget.” “Yup.” “Lo kecewa?” Aku berpikir sebentar sebelum menjawab. “Aku nggak tahu.” Dania datang sambil membawa dua roti. “Apa la
Last Updated: 2026-02-16
Chapter: 84.Garis yang Tidak Simetris**** Aku tidak menyangka malam itu aku benar-benar mengirim revisi lewat email. Biasanya aku akan menunda, mencari alasan untuk datang langsung. Mengatakan ada bagian yang lebih mudah dijelaskan tatap muka. Tapi kali ini, aku menahan diri. Kalau aku yang menawarkan jarak, maka aku juga harus konsisten. Subjek email itu terasa lebih kaku dari biasanya. Revisi Bab 3 – Final Draft Tidak ada emotikon kecil. Tidak ada tambahan, “Mohon di priksa ulang, Pak.” Hanya kalimat seperlunya. Aku menatap tombol send beberapa detik. Lalu kuklik. Selesai. Beberapa menit pertama terasa biasa saja. Aku bahkan sempat membuka catatan lain. Tapi ketika lima belas menit berlalu tanpa balasan, pikiranku mulai bergerak sendiri. Biasanya dia cepat membalas. Biasanya. Aku meletakkan ponsel di meja. Menghadap layar ke bawah. Jangan berharap. Aku yang memilih ini. Satu jam kemudian notifikasi berbunyi. Jantungku berdegup sedikit lebih keras dari yang pantas. Kubuka. Balasanny
Last Updated: 2026-02-15
Chapter: 83.Retakan yang Mereka Tunggu*** Aku tidak langsung pergi ke parkiran setelah keluar dari ruangan Pak Rassel. Kakiku justru membawaku ke taman kecil di belakang fakultas tempat Hera dan Dania biasa nongkrong kalau jam kosong. Dari jauh, aku sudah melihat mereka duduk berhadap-hadapan, dua gelas es kopi di meja, ekspresi yang terlalu siap menyambut gosip. Hera yang pertama menyadari kedatanganku. “Wajah lo kenapa?” tanyanya tanpa basa-basi. “Itu muka orang yang habis debat tapi pura-pura tenang.” Dania langsung menoleh. “Bimbingan?” Aku menjatuhkan diri ke kursi kosong. “Iya.” “Dan?” mereka berdua kompak mendekat. Aku menghembuskan napas panjang. “Pak Rassel berubah.” Hera menyipitkan mata. “Berubah gimana? Tambah dingin? Atau tambah perhatian?” “Lebih formal,” jawabku pelan. “Dingin, tapi bukan dingin marah. Lebih ke… menjaga jarak.” Dania langsung memukul meja pelan. “YES.” Aku menatapnya tajam. “Lo bisa nggak sih jangan reaksi dulu?” “Sorry, sorry,” katanya, tapi senyumnya terlalu leba
Last Updated: 2026-02-14
Chapter: 82.Ritme yang Tidak Netral**** Aku mencoba membuktikan pada diri sendiri bahwa semua ini masih terkendali. Caranya sederhana: bersikap lebih formal. Lebih tegas. Lebih dingin. Senin pagi itu, ketika Amara masuk kelas dan duduk di barisan depan seperti biasa, aku tidak menoleh ke arahnya sebelum kelas benar-benar dimulai. Biasanya, ada sepersekian detik ketika pandangan kami bertemu. Hari itu, tidak. “Ada yang mau mereview materi minggu lalu?” tanyaku datar. Beberapa mahasiswa saling pandang. Hening. Lalu tangan itu terangkat. Amara. Aku tahu tanpa harus melihat. “Iya?” kataku singkat. Ia berdiri. “Bagian tentang bias penelitian. Saya rasa beberapa contoh kemarin bisa diperjelas lagi.” Nada suaranya stabil. Profesional. Aku mengangguk. “Silakan.” Ia menjelaskan dengan runtut. Tidak berlebihan. Tidak mencari perhatian. Tepat. Kelas memperhatikannya. Dan aku memperhatikan caranya menjelaskan tanpa sekali pun mencari persetujuanku lewat tatapan. Ia menjaga jarak. Sesuai yang k
Last Updated: 2026-02-13
Chapter: 81.Tepi yang Bergeser**** Aku selalu percaya satu hal: batas itu tidak hilang begitu saja. Ia tidak runtuh dengan ledakan. Ia hanya bergeser pelan, hampir tak terasa, sampai suatu hari kau berdiri di tempat yang berbeda dan bertanya kapan kau melangkah sejauh ini. Dua hari setelah percakapan terakhir itu, aku sengaja menata ulang jadwal bimbingan. Rasional. Supaya lebih efisien. Setidaknya itu yang kukatakan pada diri sendiri. “Pak, jadwal Amara dipindah ke Kamis sore?” tanya staf administrasi saat aku menyerahkan revisi daftar. “Iya. Ada bentrok ruang,” jawabku singkat. Padahal tidak ada. Kamis sore lebih sepi. Lebih tenang. Lebih berbahaya. Hari itu datang juga. Aku sudah berada di ruang kerja lima belas menit sebelum jadwalnya. Map-map tersusun rapi. Laptop terbuka. Jendela sedikit kubuka agar udara masuk. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku memperhatikan hal sekecil itu. Ketukan terdengar. Tiga kali. Ritmenya kukenal. “Masuk.” Amara muncul dengan tas selempang dan map biru d
Last Updated: 2026-02-12
Chapter: 80.Garis yang Mulai Kabur**** Aku tidak pernah suka membawa pekerjaan pulang. Tapi malam itu, setelah rapat selesai dan kampus mulai sepi, aku tetap duduk di ruang kerja dengan map milik Amara terbuka di depan mata. Halamannya sudah kubaca dua kali. Revisi metodologinya rapi. Referensinya mulai tajam. Secara akademik, ia berkembang. Secara pribadi. Aku berhenti di sana. “Fokus,” gumamku pada diri sendiri. Ponsel di meja menyala. Notifikasi email masuk. Bukan dari dia. Tapi entah kenapa, yang terlintas justru pesan singkatnya tadi siang. Senang bisa bantu, Pak. Singkat. Netral. Tanpa embel-embel. Aku menyandarkan punggung ke kursi. Sejak kapan aku memperhatikan hal-hal sekecil itu? **** Keesokan paginya, aku datang lebih awal dari biasanya. Entah kenapa, aku ingin suasana tenang sebelum kelas dimulai. Saat membuka pintu ruang dosen, aku melihat seseorang sudah duduk di kursi luar, laptop terbuka. Amara. Ia mengangkat kepala ketika mendengar langkahku. “Pagi, Pak.” “Pagi,” jawabku oto
Last Updated: 2026-02-11