LOGINHarum selalu merasa seperti pengemis ketika meminta nafkah dari suaminya. Itu sebab Adam yang selalu memprioritaskan memberikan nafkah untuk ibu dan saudara-saudaranya. Sampai ketika anak semata wayang mereka jatuh sakit, Adam malah menelantarkan istri dan anaknya demi mengobati keponakannya yang juga sedang sakit.. Harum yang terluka tak sudi lagi menerima nafkah dari suaminya ini.. tapi, bagaimana cara Harum mencukupi kebutuhan diri dan anaknya? Sementara ia hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa.
View MoreElla POV
Today, I turned 16, But why am I not excited, well, maybe I found every year to be just like a reflection of itself. Nothing changes, being locked in the room throughout the day, that's the celebration though with chain as a gift from my parents, you might be wondering what that is for, it is to chain the demon in me and get me burn, thousands of scar have I got from the past years, so I am used to it a little.
Sincerely, I don't know why I am scared and nervous, let say because the moment is getting closer, That moment....that moment, l keep peeping through the opening space of the window, watching the smoky cloud trailing through the crescent Moon makes my heart beat supersonically, it is just past eleven, I am curious and confused, just bury my head in my lap, 'The hour is getting closer.' I whimpered.
My nervous system is changing excruciatingly, feeling dizzy with my body experience goosebumps, my eyes ached so much, I took a glimpse of the Moonlight which is now a gibbous, I can't control that desire, darn it !. What a calamity!, my fingers, craving for blood as I groaned in pain to grip on my bedspread and ripped it off.
Even if I am not in my right sense, I could recognize who my parents are, I stumbled towards the cheval glass, standing adjacently to my bed, which fell on the floor clumsily, I keep breathing in and out to quench the desire for blood, I can't imagine my ear is expanding and aching. I could hear Mom and dad lamenting downstairs, they are scared I know.
We have to get her now.'
That's my dad, he is fond of protecting me in his way which I am used to, being chained up. This isn't the child he seeks for, a child that kill the soul of happiness in him, he doesn't have a choice though but to keep me alive and safe.
There's my mom, sitting in the dinning room with her head placed on the table melting the wooding with her sweat, I could hear her weeping uncontrollably, She doesn't like when this particular hour occur, this is the worst day of all.
' I can't, I don't want to see her.' she wept.
My body changed rapidly into something I myself can't control, My eyes dazzled in the wolf costume, that's what I can classify it as to make me comfortable and not sad, howling continuously only a word echoes in my head faintly, it is My mom.
'Ella!!!'
The full moon...full moon light, no Lord, I whispered, but it was too late to lament, I screamed as my body changes into a beautiful dangerous white wolf, now I'm possessed, I bumped out of the window into the woods, you could guess what my game is, it's hunting, hunting for the dark shadow I don't know of, taking a race after a prey I can't even get in touch with, this is what happens every year, This is the calamity I faced, No my parents faced ever since I was born in that full moon light of Taurus, and I have been marked as the princess of Taurus.
Karl POV
My name is Karl Plato, I was born with the evil range of Leo flame, When I was sixteen, I killed my father after in which he got me mad by molesting my mom. Mom is scared of me hurting her, so she locked me up in the house and was nowhere to be found, I spent my whole life living alone in the dark room and until one day I found myself been taking away by a Man of my type to a college where I was told Who I am, and grow up to accept the fact. Want to know what I am. I am the Alpha of the Demon. King of Devil.
What makes me sad is the fact that I can't get in touch with my Mate, that's the only person that can eased up the demon in me whenever am possessed, but where on Earth is she?, That's the mission I have to accomplished.
"Langsung pergi, nak?" Nani jadi merasa situasi menjadi canggung."Iya. Aku permisi dulu." Ucap Rendra tanpa membalas tatapan istrinya.Sontak saja Nani dan Harum saling melirik setelah kepergian Rendra."Apa dia mendengar kita tadi?""Mungkin aja." Jawab Harum jadi merasa bersalah. Jelas Rendra mendengarkan perbincangan dua wanita ini tadi.Malam tiba, Adam mengirim pesan pada Rendra yang mengabarkan bahwa dia ingin menghabiskan waktunya satu hari dengan Shanum."Adam ngabarin aku barusan." Ucap Rendra sambil merebahkan diri di sisi Harum. "Besok dia minta izin bertemu dengan Shanum.""Nggak masalah. Besok hari libur juga." Sahut Harum datar. Dia masih menyimak isi majalahnya."Kalau kamu mau ikut silahkan."Dahi Harum mengernyit, dia menatap Rendra yang kini berbalik memunggunginya."Untuk apa juga aku ikut?""Mungkin ada yang ingin kamu tanyakan pada mantan suamimu."Oh, Harum mengerti. Rendra pasti tengah marah sekarang. Segera saja dia melipat majalahnya dan bergeser sedikit mend
Mata Harum menatap mantan suaminya dengan penuh pertanyaan. Sementara, Adam menjadi salah tingkah."Bu, Adam.. Taksi kita sudah di depan." Sahut Zulfa memecah rasa canggung ini."Kami permisi dulu. Terima kasih Rendra, Harum." Ucap Adam segera mengambil alih kursi roda ibunya."Hati-hati di jalan." Rendra menimpali."Nanti aku hubungi. Aku minta izin ingin bertemu Shanum lagi.""Boleh saja. Nggak masalah." Rendra jelas tak mau memisahkan hubungan antara ayah dan anak.Selesai berpamitan dengan suaminya. Rendra memutuskan untuk mengajak anak dan istrinya pulang. Namun, sepanjang perjalanan Harum hanya diam. Dia baru tahu jika Adam selama ini bekerja sebagai tukang ojek online."Kamu diam aja, sayang?" Rendra menegur."Nggak apa-apa." Sahut Harum segera memperbaiki sikapnya."Kamu mau ke toko atau pulang ke rumah?" Tawar Rendra. Kebetulan dia memang harus kembali praktek setelah ini."Aku mau ke rumah ibu aja. Udah lama nggak mampir.""Aku antar ke rumah ibu kalau begitu."Rendra memacu
"Kamu nggak mau besuk ibumu?""Kamu tadi sudah, kan?""Aku belum melihat. Tadi kan aku bilang cuma belikan obat." Jelas Rendra."Kamu aja, deh. Sampaikan salam kami untuk ibu Farida."Rendra menghela nafas. Ia ikut berbaring di samping istrinya."Kamu masih marah?" Rendra mengelus lengan istrinya."Marah dengan siapa?" Tanya Harum acuh."Sayang.. ibu Farida sedang kritis sekarang. Aku minta kamu mendo'akannya.""Iya. Nanti aku do'akan.""Sayang!"Terpaksa Harum meladeni suaminya, padahal dia sudah bersikap selayaknya walau rasa tak senang itu terlihat di wajahnya."Ikhlaskan semua yang terjadi di masa lalu. Maafkan seluruh kesalahan orang-orang yang menyakitimu. Aku tahu luka di hatimu belum sembuh betul. Tapi kalau kamu belum bisa mengiklaskan semuanya, luka itu akan semakin sakit jika digores.""Aku cuma masih sedikit kecewa aja." Akhirnya Harum jujur. Sudah satu tahun lebih, tapi rasa marah, dongkol, kecewa akan perbuatan mantan suami serta keluarganya masih membekas di hati Harum.
"Mbak Zulfa!" Terengah-engah Adam menghapiri Zulfa yang tengah melamun di ruang tunggu. Farida kini sudah terbaring lemah di ruang intensif."Adam!" Air mata Zulfa tumpah ruah ketika melihat adiknya datang. Sudah satu tahun, Adam tidak pulang ke kota. Selama itu juga Adam tak tahu penyakit berat apa yang menimpa Farida karena wanita itu tak mau membebani Adam yang tengah berjuang disana."Apa yang terjadi mbak?""Ibu tiba-tiba sesak tadi. Sekarang masuk ICU.""Sakit apa ibu?""Gagal ginjal..""Astaghfirullah." Kepala Adam menjadi sakit, ia seperti di hantam benda berat."Maaf, Adam.." lirih Zulfa. "Selama ini kami menyembunyikan kebenarannya darimu.""Jadi ibu sudah lama sakit begini? Kenapa baru kasih tahu aku, mbak?" Teriak Adam sedih."Kami nggak mau merepotkanmu.""Astaga! Tapi ibu itu juga ibuku. Aku berhak tahu." Adam meremas rambutnya dengan frustasi. "Jadi sekarang bagaimana kata dokter?""Ibu harus cuci darah, tapi tekanan darahnya masih rendah. Belum lagi.." Zulfa memberikan
"Apa gizinya Rum makan nasi putih gitu aja?" Adam bergidik melihat anaknya hanya diberi nasi putih yang ditumis dengan bawang itu."Shanum suka, mas." Harum mencoba sabar."Anakmu itu baru pulang dari rumah sakit. Dikasih makanan yang bergizi harusnya!"Harum hanya menatap suaminya dengan sedih. Se
"Dari mana sebenarnya kamu? Kenapa kamu bisa ketemu pria itu?" Selidik Adam."Masuk ke kamar, sayang." Pinta Harum pada anaknya. Shanum sedari tadi memegang tangan ibunya. Begitu takut melihat ayahnya yang sedang terbakar emosi.Shanum menatap ibunya. Harum mengangguk seakan mengatakan semuanya aka
Do'a Harum perlahan dijabah.Tak lama setelahnya, Rendra mengirimkan nomor ponsel ibunya dan mengabarkan kalau ibunya setuju mempekerjakan Harum sebagai admin toko online miliknya.Senang hati Harum menerimanya, ia lalu menelpon Suryani. Mengucapkan terima kasih juga meminta diajarkan bagaimana car
Sekali lagi, Harum harus menelan kekecewaan.Adam beralasan jika Farida memintanya bergantian jaga di rumah sakit. Lagi-lagi alasannya karena takut jika Gibran kejang kembali. Sedangkan Zulfa tak ingin menjaga anaknya sendirian.Ingin sekali Adam membelah badannya. Satu diberikan pada anak istrinya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews